UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 18


__ADS_3

Bondan melihat adiknya makan sembari tersenyum.


"Mey! Lu ngambil coklat gua, yak?" tegas Bondan kepada adik perempuannya yaitu Meydita. Meydita sekarang duduk di kelas 8 smp.


"Apaan sih, Bang. Fitnah mulu ...." jawab Meydita tanpa melihat Bondan.


"Gua bilangin mamah, kalo lu itu kemaren bolos sekolah." ancam Bondan sembari tersenyum jahat.


"Apaan sih, Bang. Lu kan udah sepakat buat jaga rahasia. Lagipula, gua gak bakal ulangin lagi kok!" tegas Meydita sembari menatap tajam Bondan.


"Mana gua tau lu bakal ulangin lagi apa enggak," Bondan masih mengancam Meydita. "jadi ... lu masih gak mau ngaku nih, makan coklat gua?"


Bondan dan Meydita memang sering bertengkar, tetapi ada saat-saat mereka akur pula.


"Mah ...." Bondan berteriak kepada ibunya.


"Iya! Gua yang makan coklat lu, Bang! Puas lo sekarang?" Meydita kesal.


"Udah, gitu aja?" Bondan menatap Meydita dengan tak percaya.


"Ck, nanti gua ganti lah. Sepuluh!" ujar Meydita dengan congkak.


"Deal. Sepuluh coklat,"


Bondan tersenyum bangga karena telah memenangkan apa yang diinginkannya.


"Gua mau coklatnya lusa. Jadi lu harus siapin sepuluh coklat untuk gua makan lusa." Bondan meninggalkan Meydita dengan bangga.


Meydita menatap kesal kakaknya yang berlalu,


"Tadi kan, gua cuman bercanda beli sepuluh coklat buat dia. Eh, dia malah nganggep serius."


Meydita merasa menyesal karena telah mengatakan akan mengganti coklat yang dimakannya menjadi sepuluh coklat.


"Ini sih namanya pemerasan."


Meydita terus berbicara kepada dirinya sendiri sembari menyuap makanan ke mulutnya dengan kasar karena kesal kepada kakaknya.


Bondan berjalan menuju kamarnya, lalu ia melewati ibunya yang sedang melipat pakaian.


"Ada apa?" tanya ibunya.


"Enggak, tadi cuma manggil aja." jawab Bondan sembari memasuki kamarnya untuk mengambil sarung.

__ADS_1


Setelah itu Bondan keluar dari kamar, lalu pamit kepada ibunya untuk melaksanakan salat magrib di masjid.


Bondan biasa menjemput Bergas yang berada di samping rumahnya untuk melaksanakan salat magrib berjamaah di masjid. Teman-teman Bondan yang lain menunggu di masjid.


Ketika Bondan keluar dari rumah, Bergas muncul sebelum Bondan menjemput. Tanpa berkata-kata, mereka berjalan menuju masjid.


Tiba di masjid, teman-teman mereka sudah berada di dalam masjid yang sedang menunggu iqomah.


Bondan dan Bergas berjalan menuju tempat wudhu terlebih dahulu sebelum memasuki masjid. Di tempat wudhu terdapat beberapa orang yang sedang mengantri wudhu.


Ketika Bondan sedang wudhu, iqomah sedang dikumandangkan. Bergas sudah terlebih dulu selesai wudhu. Tak berapa lama kemudian Bondan masuk ke masjid.


Bondan tidak ketinggalan salat berjamaah.


Salat magrib telah dilaksanakan dan masjid pun mulai sepi. Bondan dan teman-temannya keluar dari masjid.


"Futsal gak?" tanya Feri kepada yang lain.


Mereka memang biasa bermain futsal di malam hari. Biasanya mereka bermain futsal setelah salat magrib atau salat isya.


"Yuk." jawab Bondan dan teman-temannya secara bersamaan.


Tanpa berkata-kata, mereka berpencar menuju rumah masing-masing untuk mengganti pakaian, membawa uang, dan membawa motor.


Bondan berjalan bersama Bergas yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Bondan.


"Entar gua jemput." ujar Bergas yang melewati rumah Bondan.


"Yok." jawab Bondan singkat sembari memasuki rumahnya.


Bondan mengucap salam ketika masuk rumah, lalu menyalami ibu dan bapanya yang sedang menonton tv, termasuk Meydita yang menyalami Bondan.


Bondan masuk ke dalam kamar lalu mengganti baju kokonya dengan baju futsal yang dibelinya bersama teman-teman Bondan yang lain.


Bondan memakai baju futsal dilapisi jaket agar tidak kedinginan pada saat pulang futsal. Dibukanya lemari baju untuk mengambil uang untuk patungan menyewa lapangan futsal.


Bondan membawa tas kecil berisi sepatu dan handuk kecil yang dia silangkan di tubuhnya, lalu Bondan membuka pintu sembari menggenggam kunci motor miliknya.


Dari luar kamar Meydita juga membuka pintu kamar Bondan sehingga pada saat Bondan hendak keluar, Meydita berada dihadapan Bondan. Bondan sedikit terkejut dengan Meydita yang berada di depan pintu. Mereka pun saling bertatapan dengan tatapan heran.


"Mau kemana?" tanya Meydita yang berdiri di depan pintu.


"Futsal." jawab Bondan singkat.

__ADS_1


Meydita berjalan masuk ke dalam kamar Bondan dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur milik Bondan.


Bondan menggerutu kesal melihat adiknya yang masuk kamar tanpa izin.


"Keluar. Abang mau pergi." tegas Bondan sembari menatap Meydita di kasur.


Meydita bangun dan mengubah poisinya menjadi duduk di atas kasur sembari menatap Bondan yang masih berdiri di dekat pintu.


"Pulangnya nitip jus alpukat ya, Bang." Meydita tersenyum kepada abangnya.


"Uangnya mana?" kata Bondan.


Meydita tersenyum merayu, "Uang abang, hehe."


Bondan menghela napas menahan kesal kepada adiknya yang menyebalkan.


"Keluar sana." usir Bondan.


"Abang kalo mau pergi, ya pergi aja. Aku masih mau disini." jawab Meydita.


Bondan mengambil hp Sisil dari dalam lemarinya agar tidak dimainkan oleh Meydita.


Meydita melihat kakaknya yang mengambil sesuatu dari dalam lemari, tetapi dia tidak tahu apa yang diambil kakaknya.


Bondan keluar kamar meninggalkan Meydita sendirian di kamarnya lalu menutup pintu kamar, ketika pintu sudah tertutup. Bondan membuka pintu kembali untuk berbicara kepada Meydita.


"Jangan lupa sepuluh." ujar Bondan yang hanya terlihat kepalanya saja dari luar kamar, lalu pintu tertutup kembali.


Meydita tersenyum geli melihat abangnya yang kadang berkelakuan kocak. Di sisi lain Meydita juga berpikir cara mengembalikan coklat milik abangnya.


"Aku mau futsal dulu, Mah." pamit Bondan sembari berlalu.


Bondan menaiki motornya dan hendak berangkat. Ketika motor dinyalakan, Bergas menunggu di depan gerbang Bondan untuk menebeng ke tempat futsal.


Bondan melajukan motornya menuju pos satpam yang menjadi tempat berkumpulnya bersama teman-temannya yang lain.


Ketika semuanya telah berkumpul, Rian meminta uang dari setiap orang untuk membayar lapangan futsal. Setelah Rian mengumpulkan uang untuk membayar lapangan futsal, mereka pergi menuju penyewaan lapangan futsal yang tidak terlalu jauh dari kampungnya.


Mereka menuju tempat futsal dengan menggunakan motor masing-masing. Ada juga yang berboncengan dan ada juga yang memakai motor sendirian.


Kira-kira terdapat 6 motor untuk menuju lapangan futsal dan terdapat 11 pemain.


Setelah mereka sampai di lapangan futsal. Rian menuju tempat registrasi penyewaan lapangan futsal sedangkan yang lainnya menunggu di depan lapangan futsal yang terbungkus oleh jaring dan terdapat tempat duduk untuk suporter.

__ADS_1


Rian telah selesai menyewa lapangan futsal dalam waktu 1 jam. Mereka pun bersiap memakai sepatu olahraga masing-masing dan Bondan membuka jaketnya yang didalamnya telah dia pakai baju futsal sejak dari rumah.


Setelah semuanya selesai memakai sepatu olahraga masing-masing. Mereka pun memasuki lapangan futsal untuk segera bermain futsal. sebelum bermain futsal, mereka dibagi menjadi dua kelompok sebagai lawan untuk tim mereka.


__ADS_2