UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 7


__ADS_3

Ketika bel ganti jadwal pelajaran dinyalakan. Kelas gua dan kelas Al segera berganti baju memakai pakaian olahraga sekolah. Gua dan teman-teman kelas gua yang cewek berganti baju di toilet siswa.


Gua berjalan menuju toilet tanpa beralaskan sepatu dan kaos kaki. Gua berjalan dengan keadaan kaki telanjang bulat. Seketika gua dan teman-teman gua berlarian untuk berebut toilet.


Ketika gua hendak masuk toilet, kaki gua menendang ujung pintu dengan keras sehingga membuat pintu bergetar dan mengeluarkan suara gema pada pintu.


Gua sedikit berteriak kesakitan lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti baju. Ketika gua keluar toilet, kaki gua berdenyut-denyut. Gua merintih kesakitan. Teman-teman gua memperhatikan.


"Sil, lu gapapa?" salah seorang teman gua bertanya.


"Mata lu gapapa. Kaki gua sakit banget!" teman-teman gua tertawa.


"Lagian lu kalo jalan liat-liat." dijawab teman gua yang lain sambil tertawa.


Setelah itu gua berjalan pincang menuju kelas untuk menyimpan baju lalu memakai kaos kaki dan sepatu.


Setelah semuanya selesai, kelas gua dan kelas Al berkumpul di tengah lapangan sekolah. Kami berbaris sesuai gender dan kelas masing-masing.


"Baik, bapak absen dulu yak." ujar guru olahraga yang bernama Pa Irfan.


"Iya, Pak." kelas gua dan kelas Al menjawab bersamaan.


Sambil menunggu giliran absen. Kelas gua dan kelas Al mulai pemanasan bersama. Setelah semua murid baik kelas gua ataupun kelas Al diabsen.


Kami telah selesai pemanasan dan tinggal menunggu arahan untuk kegiatan olahraga hari ini.


"Kalian sekarang lari keliling belakang sekolah tapi di waktu." ujar Pa Irfan.


Gua terkejut. Kaki gua baru saja nendang ujung pintu yang menyebabkan gua berjalan pincang. Gau tidak bisa berlari, kaki gua terlalu sakit untuk di pakai lari.


"Dih, Pak. Jangan lari dong, Pak. Kaki Sisil lagi sakit." bantah gua.


"Iya, Pak. Kenapa enggak lari keliling lapangan sekolah aja? Lari ke belakang sekolah terlalu jauh." bantah salah seorang cewek dari kelas Al.


"Kalo kalian enggak mau yasudah enggak bapak nilai." enteng Pak Irfan.


Tiba-tiba semua cowok kelas Al bersorak.

__ADS_1


"HAYU LAH PAK, SIAP." teriak semua cowok kelas Al yang nampak semangat, kemudian semua cowok kelas gua pun ikut bersorak semangat.


"HAYU LAH! LEBAY AMAT SIH JADI CEWEK!" teriak salah seorang cowok dari kelas Al yang bernama Fadli sambil melirik ke arah gua.


Gua mendengus kesal kepada teman Al yang satu ini.


"GUA BUKAN LEBAY! TAPI KAKI GUA EMANG LAGI SAKIT!" suara gua yang meninggi ke arahnya. Lalu, teman-teman gua menyorakkan Fadli. Fadli hanya tertawa meledek.


"Yeh, lu jangan gitu ke cewek gua!" Al yang berdiri di samping Fadli membela gua sambil tersenyum kepada Fadli. Gua tidak lagi memperhatikan Fadli si rese itu.


"Oh, iya maaf bos." Fadli yang ikut tersenyum kepada Al. Seolah mereka saling mengingatkan kalau cewek itu memang lebay.


Lalu, kelas gua dan kelas Al berjalan mengikuti Pa Irfan yang menuju depan gerbang sekolah.


"PAK, BAPAK NUNGGU DI SINI?" teriak cowok dari kelas gua.


"Oh, ya iya dong." jawab Pak Irfan yang tersenyum. Lalu kelas gua dan kelas Al bersorak ke arah Pak Irfan.


Pluit ditiup Pak Irfan. Seketika kami mulai berlarian keluar gerbang sekolah. Gua berusaha berlari dengan keadaan kaki gua yang pincang. Tapi kaki gua terlalu sakit. Alhasil gua hanya berjalan sambil menahan sakit. Teman-teman gua mendahului gua.


Yang lain mungkin sudah pada jauh. Tak terkecuali kelas Al. Tetapi, gua tidak melihat Al mendahului gua.


Gua menoleh ke belakang pun tidak ada siapa-siapa. Hanya gua sendiri di sini. Gua kembali mengarahkan pandangan ke depan dan terus berjalan.


Gua mendengar suara langkah kaki di belakang gua. Hati gua mendadak was-was. Gua menoleh sekali lagi. Ternyata itu Al. Albert Alvaro! Ketika gua melihat ke arahnya, Al tersenyum hangat kepada gua. Seketika gua merasa senang. Gua tersenyum penuh arti bahagia kepada Al.


Al berjalan mendekati gua yang sedang kesakitan. Gua tidak tahu harus berkata apa. Pastinya gua sekarang bahagia. Gua selalu merasa aman jika gua dekat Al.


"Kaki kamu beneran sakit?" tanya Al sambil menunduk melihat kaki gua.


"Iyalah, masa bohongan!" gua yang kesal bercampur bahagia.


Al terus berjalan di samping gua. Gua menahan senyum karena bahagia Al menemani gua.


"Mau aku gendong?" Al menawarkan diri sambil tersenyum.


Gua tersipu malu melihat sikap Al yang begitu manis. Hati gua seolah dibawa terbang oleh Al. Gua mencintai Al, entah sejak kapan gua mulai mencintai Al.

__ADS_1


"Apaan sih, engga usah! Malu tahu!" jawab gua yang tersenyum malu sambil memukul pelan pundak Al. Al tertawa melihat tingkah gua yang tersipu malu.


Kami terus berjalan tanpa mengobrol. Gua pikir Al bakal tega ninggalin gua sendirian. Ternyata, Al malah datang yang entah dari mana asalnya.


"Kamu duluan aja. Takutnya kamu malah engga dapat nilai, Al." suruh gua kepada Al.


Al tersenyum sejenak.


"Bagiku nilai enggak penting. Yang penting aku bahagia." ujar Al yang terus tersenyum.


Gua makin tersipu malu dengan kelakuan Al. Rasanya gua ingin seperti ini terus bersama Al. Tapi sayangnya gua tidak bisa menghentikan waktu.


Tiba-tiba, wajah Fadli muncul dari gang. Gua hampir tertawa melihat wajah Fadli yang sedikit kesal.


"AL, CEPETAN!" teriak Fadli. Al tertawa.


"Kalian duluan aja." ujar Al sembari tersenyum.


"PACARAN MULU!" teriak Fadli sekali lagi lalu menghilang. Gua dan Al tertawa.


Yang dimaksud "kalian" oleh Al itu adalah sahabat-sahabat Al di kelasnya yaitu Noval, Fadli, Rangga, dan Egi. Mereka adalah sahabat karib Al.


Mereka selalu kemana-mana bersama. Gua dan Al jarang berduaan di sekolah. Karena gua tahu Al juga mempunyai dunianya sendiri.


Paling, Al sering menghampiri gua di kelas sekadar memberikan gua jajanan kantin ketika istirahat. Setelah itu dia pergi tanpa basa-basi. Al memang orang yang cuek. Dia tidak mau memperlihatkan kalau dia romantis.


Tetapi, dengan seringnya Al memberikan gua jajanan, cewek-cewek yang melihatnya selalu merasa iri terhadap gua karena sifat romantis Al. Ada juga yang sering ngomongin keburukan gua.


"Mau-mau nya si Al sama si Syakila!"


Tapi gua sih tidak ambil pusing. Karena emang kenyataannya Al lebih memilih gua daripada salah satu dari mereka. Di sisi lain ada yang mendukung hubungan gua.


"Sisil dan Al emang cocok. Sisil nya cantik dan Al ganteng. Udah kaya film drama aja, haha."


Kami terus berjalan. Setelah kami hampir sampai di sekolah, Al pamit untuk mendahului gua. Gua mengiyakan, karena memang sekolah sudah tidak jauh. Kemudian Al berlari meninggalkan gua. Gua tersenyum melihat Al, mengingat dia yang selalu bersikap manis.


Gua tiba di sekolah dengan kaki tertatih. Semua teman sekelas gua duduk kelelahan di depan gerbang. Termasuk kelas Al yang juga duduk di depan gerbang.

__ADS_1


__ADS_2