
Sejak balita, Bondan sudah sangat menyayangi Meydita sebagai adik kandungnya, karena Bondan dan Meydita lahir dari rahim yang sama, hanya beda ayah.
Bondan melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Meydita yang sudah mereda. Baju Bondan basah akibat air mata Meydita.
"Kamu gak ngantuk, De?" tanya Bondan lembut.
Meydita menggelengkan kepala dengan masih terisak.
"Imey minta maaf ya, Bang" ujar Meydita.
"Iya, sayang." jawab Bondan tersenyum sambil mengelus kepala Meydita.
Bondan berjalan menuju meja belajarnya lagi untuk melanjutkan menulis naskah.
Meydita sudah tidak menangis dan membaringkan tubuhnya lagi di kasur Bondan.
"Bang, ada buku lagi, gak? Imey udah selesai baca Winter Litch" ujar Meydita memandang Bondan yang sedang serius mengetik di laptop.
"Cari aja di laci." jawab Bondan.
Meydita beranjak menuju laci lemari Bondan untuk mengambil buku. Setelah itu Meydita berbaring di kasur lalu membaca buku novel dengan serius.
***
Gua sedang membaca novel "Upaya Menyembunyikan Hati" dengan serius sambil tengkurap di kasur.
Tiba-tiba hp gua berdering dengan nada Telepon. Gua pun meraba hp di sekitar gua untuk melihat siapa yang menelepon.
Albert menelepon. Gua menandai buku lalu menutupnya, setelah itu menjawab telepon dari Al.
"Halo, Al." sapa gua membuka pembicaraan.
"Halo, Sil. Kamu lagi apa?" tanya Al.
"Kan aku lagi teleponan sama kamu, Al." jawab gua. Al tertawa dari balik telepon.
"Besok, kan libur. Kamu ada acara gak?"
"Ada. Nyuci baju, nyetrika, nyapu, ngepel, nyuci piring, pokoknya acara bersih-bersih rumah." gua menjelaskan kepada Al dengan sedetail-detailnya.
"Itu sih namanya bukan acara, tapi kegiatan." Al mengernyit.
"Oh, gitu yak...," gua ikut tertawa.
"Besok kita jalan yuk, Sil." ajak Al.
"Jalan kemana?" tanya gua.
"Nonton, mau gak? Lagi banyak film bagus, loh." Al menawarkan.
"Hmm, jam berapa?"
__ADS_1
"Jam 3 sore aja, gimana? Biar di jalannya gak panas."
"Gimana besok aja, deh. Males kemana-mana."
"Jangan gimana besok, soalnya aku mau beli tiket sekarang."
"Yaudah, iya. Kalo bisa, nonton yang genre fantasi, yak. Jangan yang cinta-cintaan."
"Kenapa?" selidik Al.
"Yak, aku lebih suka fantasi aja sih kalo nonton."
"Yaudah, besok aku jemput kamu dimana? Aku ke rumah kamu, yak!"
"Jangan ke rumah. Nanti orangtuaku tau. Mending di luar aja."
"Hmm ... kamu gak berniat ngenalin aku gitu, Sil? Kita kan udah pacaran selama 3 taun. Kita juga udah SMA, bukan SMP lagi."
"Kamu SMA, aku SMK." gua membenarkan.
"Ya pokoknya kita bukan anak kecil lagi."
"Ada saatnya nanti aku ngenalin kamu, Al. Tapi jangan sekarang, yak." pinta gua.
"Yaudalah terserah kamu. Terus, aku jemput kamunya dimana?"
"Di Nr.mart aja yak."
"Oke, sip."
"Yaudah, aku tutup ya teleponnya." ujar Al. Gua mengiyakan lalu Al menutup telepon.
Gua menyimpan hp di samping dan melanjutkan membaca buku yang belum selesai gua tamatin.
Gua merubah posisi telungkup menjadi telentang karena pegal.
Setelah beberapa jam membaca novel, akhirnya gua berhasil namatin buku tersebut. Ketika gua melihat jam, alangkah terkejutnya gua bahwa sekarang sudah pukul 1 malam.
Gua pun langsung menarik selimut ke seluruh tubuh gua agar tertutup semua.
Ketika beberapa menit tidur, gua lupa kalau hp gua lowbat. Akhirnya gua bangun lalu mengecas hp, setelah itu gua kembali tidur.
Keesokan harinya, gua bangun pada pukul 09.00 pagi. Gua pun langsung beranjak untuk membantu umi membereskan rumah. Tugas gua di hari minggu banyak, belum lagi nyuci sepatu yang gua sangat males. Tetapi gua harus mencuci sepatu, agar tidak bau.
Setelah semua sudah gua kerjakan, minggu ini gua mau belajar masak. Jadi hari ini gua yang masak untuk abi dan umi. Umi telah menyiapkan bahan-bahan untuk permulaan masak. Umi menyiapkan bahan untuk gua menumis kangkung.
Sebelum gua mulai masak, gua ambil hp di kamar terlebih dahulu untuk melihat resep masakan.
Gua pun mulai dengan memotong bawang, cabe, bawang putih, dan bahan pelengkap lain. Lalu gua memotong kangkung sebagai bahan utama.
Gua mengikuti langkah demi langkah cara menumis kangkung. Setelah beberapa menit yang lalu, gua berhasil memasak tumis kangkung.
__ADS_1
Sebelumnya gua belum mencicipi masakan gua sendiri karena terlalu bersemangat untuk diberikan kepada umi dan abi agar mereka mencicipi masakan gua.
Sebenarnya gua sendiri tidak yakin terhadap masakan sendiri. Tapi gua yakin, masakan gua itu enak, karena gua sudah mengikuti semua langkah-langkahnya.
"Enak juga masakan kamu, Sil." puji abi setelah mencicipi masakan gua.
Gua tersenyum lebar akibat senang.
"Lumayan." puji umi.
Gua pun langsung mencicipi masakan gua, ternyata memang benar, enak. Senyum bahagia tak henti-hentinya karena gua berhasil membuat masakan yang gua masak ternyata enak.
"Permulaan yang bagus." puji gua terhadap diri sendiri.
Kami pun segera menyantap masakan gua dengan nasi.
Hari sudah mulai panas menunjukkan pukul 12.00 siang. Gua mengangkat semua jemuran dan segera melipatnya di dalam rumah. Setelah selesai, gua langsung ke kamar untuk tidur siang.
Gua teringat bahwa gua ada janji dengan Al. Gua berpikir, bagaimana caranya mencari alasan kepada umi dan abi.
"Kenapa gua gak minta bantuan, Bondan aja yak?" gumam yang senang karena mendapatkan ide.
Gua pun langsung melepaskan hp yang sedang dicas dari semalam dan sudah penuh dan langsung menelepon Bondan.
Gua menutup pintu kamar lalu menuju jendela kamar yang mengarah ke depan rumah.
Hp Bondan berdering, tetapi Bondan tidak segera mengangkat panggilan gua.
"Ih ... tuh anak kemana sih?" gumam gua kesal sambil berdiri di depan jendela.
Gua terus menelepon Bondan berulang kali, tetapi Bondan tak kunjung mengangkatnya. Di panggilan yang kelima, Bondan pun menjawab mengangkat telepon gua.
"Lu kemana aja sih? Gua nelpon dari tadi juga ...," ujar gua kesal.
"Tadi gua abis dari kamar mandi. Ada apaan, sih? Kayaknya penting amat." tanya Bondan penasaran.
"Nanti jam setengah 2, anter gua ya, ke Nr.mart." pinta gua kepada Bondan.
"Mau ngapain?" selidik Bondan.
"Mau belanja. Tapi lu gak usah nunggu gua, Dan. Lu langsung pulang aja."
"Lah, kenapa?" Bondan penasaran.
"Nanti pulangnya, gua naik ojek online." gua berusaha tidak membuat Bondan curiga.
"Yaudah, sekarang kenapa gak naik onjek online aja kalo gitu?" Bondan nampak mulai curiga kepada Sisil. "Kenapa lo gak minta abi lu aja yang nganter?" selidik Bondan.
Gua terdiam beberapa saat memikirkan cara agar Bondan tidak curiga.
"Abi gua baru pulang kerja tadi pagi. Sekarang juga dia lagi tidur. Kan kasian kalo diganggu."
__ADS_1