UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 3


__ADS_3

Gua membuka pembicaraan sambil terus berpegangan ke pundak Bondan. Bondan melirik Fayza sekilas, kemudian kembali menatap jalan.


"Gua tadi tuh bingung mau beli apaan. Makanya gua lama, hehe." jawab fayza sambil tersenyum.


"Kok lu bisa keseleo?" Fayza penasaran.


"Iya, tadi gua ikut manjat pagar betako yang di samping warung." jawab gua.


Fayza melirik Bondan. Tetapi Bondan tidak menghiraukannya. Sikap Bondan memang dingin ke cewek. Tidak tahu kenapa, menurut gua, sikap Bondan ke gua itu biasa aja.


Bondan terus berjalan melewati jalan yang tadi gua lewati bareng Fayza. Kemudian kami berbelok dekat rumah Fayza.


"Gua ngasihin belanjaan dulu ke mama gua." Fayza yang berhenti di rumahnya. Bondan berhenti sejenak.


"Iya." jawab gua spontan. Kemudian Bondan melanjutkan jalan.


Tidak ada yang bersuara antara gua dan Bondan. Bondan memang jarang bicara. Awal mula gua kenal Bondan. Gua kira dia gagu, padahal tidak.


"Mau pulang ke rumah atau tukang urut?" ujar Bondan membuka keheningan.


"Hmm, rumah aja lah, Dan. Entar gua kompres kaki gua pake es batu." jawab gua.


Bondan mengangguk. Tiba di rumah gua, Bondan membuka gerbang rumah kemudian masuk. Gua meminta diturunkan di teras depan rumah. Kemudian Bondan menurunkan gua secara hati-hati. Gua berdiri dengan kaki yang tidak keseleo sambil masih menahan sakit kaki yang keseleo.


"Makasih, Dan. Lu mau minum dulu gitu?" tawar gua.


"Enggak, makasih Sil. Gua mau langsung pergi nyusul anak-anak." jawab Bondan sambil tersenyum. Gua berterima kasih lagi dan Bondan mengangguk lalu pergi. Bondan menutup pintung gerbang. Tak lama, Fayza datang membuka gerbang kemudian menutupnya kembali.


Rumah sepi. Orangtua gua tidak tahu pergi kemana. Gua mengambil kunci di rak sepatu yang biasa kunci di simpan ketika orangtua gua pergi. Gua membuka kunci lalu masuk ke dalam rumah termasuk Fayza.


Gua duduk di lantai ruang tamu karena tidak ada sofa di rumah gua. Fayza berdiri sambil menatap gua yang menahan sakit.


"Fay, tolong ambilin es batu di kulkas!"

__ADS_1


Fayza kemudian berjalan menuju dapur dan mengambil es batu di kulkas. Lalu Fayza kembali dan menempelkan es batu tersebut di kaki gua.


"Sikap Bondan kalo sama lu perhatian Sil." ujar Fayza sambil tersenyum berat dengan terus menempelkan es batu.


"Karna gua temannya." jawab gua spontan. Gua menatap wajah fayza yang menyamping sambil menunduk melihat keadaan kaki gua.


"Karna lu itu cantik. Cowok akan menghargai cewek cantik." ujar Fayza sambil tersenyum tipis.


Seketika gua merasa seperti ada yang menusuk gua sampai ke hulu hati. Gua terganggu dengan ucapan Fayza yang menganggap cewek cantik itu mudah mendapatkan apapun.


Gua menatap wajah Fayza, kemudian Fayza menatap gua sambil tersenyum tipis.


"Apa?" tanya Fayza sambil tersenyum kepada gua.


Gua menganggap senyuman Fayza kali ini jahat. gua terheran dengan sikap Fayza.


"Lu kenapa Fay?" selidik gua sambil mengangkat alis sebelah yang menandakan gua terheran.


Kemudian Fayza pamit pulang. Gua mengiyakan. Setelah Fayza tidak terlihat. Gua masih tidak mengerti apa yang Fayza katakan. Gua mencoba mengingat apa yang pernah gua lakukan yang mungkin melukai Fayza. Seberapa pun gua berpikir keras, gua masih tidak tahu salah gua apa.


Gua mengingat wajah Fayza yang melihat gua digendong Bondan. Gua melihat seperti dia sedang cemburu. Memangnya Fayza suka sama bondan? Setelah itu, gua teringat perkataan teman gua yang bilang kalo Fayza suka sama Bondan. Gua sempat tidak percaya. Tapi kejadian ini memang menujukkan Fayza suka sama Bondan.


"Emangnya gua tau Fayza suka sama bondan?" gumam gua dengan nada kesal.


Meskipun gua kesal. Tapi gua merasa bersalah karena membuat Fayza cemburu. Pertemanan gua sama Fayza bisa hancur jika gua tidak minta maaf. Gua tidak menyusul Fayza yang mungkin sudah sampai rumah. Kaki gua sakit, gua harus menyembuhkan ini buat lusa sekolah jalan kaki.


Terdengar suara motor di halaman rumah. Kemudian, abi gua masuk ke dalam rumah membawa belanja bulanan. Abi sedikit kaget melihat kaki gua yang dikompres es batu.


"Kaki kamu kenapa Sil?" ujar abi sambil melewati gua dan menuju dapur untuk menyimpan belanjaan.


"Keseleo," jawab gua.


" Umi kemana bi?" tanya gua kepada abi yang berada di dapur.

__ADS_1


Gua menyalakan tv dan menontonnya. Kemudian abi menghampiri dan langsung duduk di hadapan kaki gua. Abi menatap kaki gua yang sedikit bengkak. Lalu memegangnya kemudian diurut. gua mengernyit menahan sakit.


"Kenapa bisa keseleo?" selidik abi.


"Engga tau," jawab gua.


"Kok bisa jalan?" ujar abi yang masih penasaran.


Gua berpikir untuk tidak memberi tahunya kalau gua bisa sampai rumah karena di gendong Bondan.


"Tadi dituntun Fayza." jawab gua yang berusaha untuk tidak mencurigakan. Abi nampaknya percaya perkataan gua.


Gua terus melihat ke arah kaki gua yang diurut abi. Ada rasa bersalah yang menghantui gua karena telah membohonginya. Tapi gua tetap tidak mau cerita apa adanya. Abi memang baik, tapi gua tidak berani.


Tak lama umi gua datang dan melihat gua sedang diurut abi. Umi tidak menanyakan keadaan gua. Judes amat, haha. Umi melewati gua dan menuju ke dapur. Abi melepaskan tangannya dan berhenti mengurut. Nampaknya kaki gua juga sudah tidak terasa sakit banget kaya tadi siang. Setelah itu abi pamit keluar untuk beli pelet alias pakan ikan.


Gua matikan tv lalu menghampiri umi di dapur. Gua lihat umi sedang motong-motong kol. Kayanya umi mau nyayur deh. Gua duduk di samping umi dan menawarkan diri untuk membantunya. Umi memberikan gua pisau untuk mengupas bawang lalu mengirisnya.


"Kaki kamu kenapa?" tanya umi membuka suara.


"Keseleo." jawab gua spontan.


"Halah lebay!" ledek umi ketus.


Gua tersenyum kepada umi. Umi gua itu orangnya ketus dan menurut gua itu umi cuek juga judes. Paket komplit deh buat bikin lu pada jantungan. Tapi umi gua itu penyayang dan perhatian, cuman tidak terlalu nunjukin sih. Mungkin itu alasan abi gua cinta mati sama umi, haha.


Setelah selesai mengiris bawang, gua memberikannya pada umi. Lalu, gua bergegas ke kamar untuk sekedar rebahan sebentar.


Gua mengambil hp gua di laci lemari. Ketika gua nyalain hp, terdapat satu pesan masuk. Gua tidak mengenali nomor hp nya.


"Hai," isi pesan yang masuk di hp gua. gua sempat berpikir untuk mengabaikan pesan tersebut tapi gua mengurung niat gua.


"Hai juga," jawab gua membalas pesan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2