UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 20


__ADS_3

Ibunya menyiapkan nasi ke piring untuk Meydita. Bondan hanya menonton bola di tv sambil meminum jus.


"Lain kali bawa sop, Dan," ujar ayah Bondan.


"Tadi sop nya habis, Pak." jawab Bondan tanpa melihat bapanya.


"Kamu maen futsal dimana sih?" tanya ayahnya lagi sambil makan.


"Di Planet Futsal" jawab Bondan singkat.


Suasana pun hening dan hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling beradu. Bondan sangat serius menonton pertandingan bola yang ditayangkan secara live di tv. Ibu dan bapa nya pun sibuk menyantap makanan yang Bondan bawa.


Meydita terlihat sedang menyantap makanan sambil menahan kantuk.


"Besok ada PR (Pekerjaan Rumah) gak, Mey?" tanya Bondan tanpa memandang adiknya.


"Gak ada, Bang. Kalo ada juga pasti ngerjain kok." jawab Meydita.


Bondan tidak membalas.


"Pak, mau beli baju dong." pinta Meydita kepada ayahnya.


"Baju apa?" jawab ayahnya.


"Baju kamu banyak juga...," ujar Bondan dengan terus serius menatap tv,


"jangan lupa sepuluh."


Meydita tidak menjawab perkataan Bondan. Lalu Bondan masuk ke dalam kamarnya untuk tidur. Meydita juga masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk tidur agar besok tidak kesiangan.


-•-


Terdengar suara yang memanggil nama gua dari luar kamar. Awalnya gua rasa itu hanyalah mimpi, namun suara tersebut terdengar nyata.


"Sil..." suara tersebut nampak semakin jelas.


Terdengar suara pintu kamar yang dibuka lalu kemudian pintu tersebut digedor-gedor dengan sangat keras.


"Sil ... bangun udah siang ... udah siang, oy."


Gua terperanjat mendengar suara berisik dari pintu yang digedor disertai suara yang begitu bawel.

__ADS_1


Seketika gua terbangun dan melihat abi gua yang sedang berdiri di depan pintu sambil menggedor pintu.


"Astagfirullah ... Abi ... pagi-pagi udah berisik." ujar gua terkejut melihat abi yang menggedor pintu kamarnya.


Abi tertawa melihat gua yang bangun dengan terkejut. Abi menunjuk ke atas pintu yang terdapat jam dinding di atasnya.


Gua pun melihat dengan mengikuti arahan tangan abi yang menunjuk ke atas,


"Argh ... Jam 5.40." gua segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mandi.


Umi tersenyum melihat gua yang histeris karena kesiangan. Gua mandi dengan terburu-buru karena 20 menit lagi dia harus sudah berangkat sekolah.


Gua pun berjalan dengan sedikit berlari menuju kamar untuk memakai seragam dan menyiapkan pelajaran hari ini.


"Kamu mau sama, Abi, atau sama Bondan lagi?" tanya abi dari luar kamar.


Abi gua sudah rapi memakai seragam kerjanya dan dia hendak berangkat kerja.


"Sama Bondan aja, Bi. Sisil sama Bondan sekelas." jawab gua dari dalam kamar yang sedang mengepang rambut sendiri.


Abi pun pamit berangkat kerja kepada umi, lalu abi berangkat. Gua juga sudah siap berangkat sekolah. Bondan terlihat sudah menunggu gua di halaman rumah.


Bondan menyalakan motornya dan gua segera naik di belakang.


"Cepet, Dan. Udah siang." ujar gua sambil menepuk pundak Bondan dengan kedua tangan.


Bondan melajukan motornya dengan sedikit ngebut untuk mengejar waktu agar tidak telat sampai di sekolah.


Diperjalanan, kami terjebak macet karena memang biasanya pada jam-jam sekarang jalan raya sedang ramai-ramainya.


Hati gua gelisah karena mengalami kemacetan di jalan.


"Duh ... lu bisa nyalip gak, Dan? Kita bakal telat nih kalo kayak gini." gerutu gua kepada Bondan sambil terus melihat jam tangan.


"Bisa, tapi lu ga liat jalanan padet kayak gini? Lu mau nyalip ke sebelah mana, Sil?" jawab Bondan santai,


"Udahlah, mau nyalip gimana pun kalo takdirnya kesiangan yak terima aja." Bondan yang berusaha menenangkan gua.


Gua pun melihat setiap sudut jalanan yang padat, tidak gua temukan sudut yang menurut gua lancar. Tidak ada harapan untuk tidak kesiangan, gua pun menunggu motor yang sedikit demi sedikit maju.


"Gua punya ide biar lu gak kesiangan," ujar Bondan. Gua mendengarkan Bondan yang memberi ide dan penasaran terhadap ide apa yang akan Bondan berikan.

__ADS_1


"Mending lu berubah jadi semut aja biar gak kesiangan. Kan enak tuh, lu bisa ambil jalan semut di bawah tanah biar bisa cepet di sekolah." Bondan berbicara seolah memberikan ide yang cemerlang.


Gua mengernyit mendengar ide Bondan yang penuh imajinasi itu. Tetapi gua juga termasuk orang yang senang berimajinasi, sehingga gua melanjutkan imajinasi yang Bondan telah buat duluan.


"Tapi gua lebih suka berubah jadi burung biar bisa terbang ke sekolah." jawab gua tersenyum.


Bondan menanggapi imajinasi gua dengan tersenyum. Disaat seperti ini memang harus dibawa enjoy, jika tidak dibawa enjoy bakal bikin gerah hati dan gerah bodi.


"Gua lupa bawa tongkat ajaib. Terus gimana? Gua gak bisa merubah lo jadi burung tanpa tongkat ajaib." Bondan tersenyum sambil terus memandang lurus untuk melajukan motornya yang sedikit demi sedikit maju.


"Terus, kenapa lu bisa merubah gua jadi semut? Kan tongkat ajaib lu ketinggalan." tanya gua.


"Hmm ... gua pikir lu bisa merubah diri lu sendiri tanpa bantuan orang lain!" keluh Bondan.


"Gua gak punya alasan untuk mengubah diri gua sendiri. Terus gimana dong?" tanya gua meminta saran,


"Tanpa, lu. Gua bisa sakit." keluh gua.


Bondan terdiam mendengar kalimat "Tanpa, lu. Gua bisa sakit." dari mulut Sisil. Bondan teringat akan Albert yang hanya mempermainkan Sisil layaknya seorang Boneka.


Bondan tidak bisa membayangkan bagaimana melihat hati Sisil yang pecah berkeping-keping.


"Jika tanpa gua, lu bisa sakit. Lu mau gak nurutin apa kata gua?" Bondan mencoba berbicara dengan normal agar Sisil tidak tahu bahwa dia sedang serius.


"Gua siap nurutin apa ... pun dari lo," jawab Sisil tersenyum sambil membuka tangannya lebar-lebar.


"Lu sekarang tepuk tangan, maka kita akan nyampe." suruh Bondan.


Gua pun bertepuk tangan dengan riang sesuai yang Bondan pinta. Ketika gua bertepuk tangan, kami tiba di sekolah.


Sebenarnya kami memang sudah dekat sekolah, tepukan tangan itu hanyalah imajinasi kami agar tidak membosankan.


Kami tiba di sekolah pukul 7.00 pagi. Gerbang masih terbuka dengan lebar. Biasanya pada saat pukul segini gerbang sudah ditutup rapat, tapi mungkin ini adalah keberuntungan kami sehingga kami masih bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah tanpa harus dihukum terlebih dahulu karena telat.


Seperti biasa, kami menuju parkiran terlebih dahulu untuk memarkirkan motor. Setelah itu kami bergegas menuju kelas.


Tidak terlihat teman-teman cewek sekelas gua yang biasa nongkrong di depan kelas. Gua berjalan berdampingan bersama Bondan menuju kelas.


Bondan masuk pertama ke dalam kelas lalu masuk setelah Bondan. Teman-teman gua nampak sedang mengobrol.


"Sil, kok lu datangnya siang sih?" tanya Disty.

__ADS_1


__ADS_2