
Gua melihat Bondan yang sedang mengendarai motor menuju ke arah gua.
"Mau ngapain dia balik lagi?" tanya gua kepada diri sendiri dengan kesal.
Bondan berhenti di hadapan gua, tetapi gua tidak menghiraukannya. Gua terus berjalan dengan cepat meninggalkan Bondan.
Bondan menyusul gua dengan melajukan motornya dengan pelan agar bisa senada dengan gua.
"Sil, ayo naik." ajak Bondan yang terus mengikuti gua dengan motornya.
Gua tidak menjawab ajakan Bondan dan terus berjalan cepat.
"Tadi di depan sana ada orang gila yang biasa ngamuk." Bondan memandang ke arah jembatan yang biasa gua dan Bondan lewati.
Gua tidak percaya apa yang dikatakan Bondan dan gua terus berjalan menghiraukan ocehan Bondan.
"Hah, orang gila." gua menghentikan langkah ketika gua berada di jarak satu meter dari jembatan dan melihat orang gila yang sedang mengamuk di jembatan.
Bondan terus memperhatikan jalan sehingga ketika gua mengehentikan langkah, dia terus melajukan motornya dengan pelan.
Ketika Bondan melirik ke samping kiri, dia tidak mendapati gua yang berjalan cepat.
Bondan menghentikan motornya lalu menoleh ke belakang dan melihat gua yang sedang berdiri diam. Dia seperti berkata sesuatu namun gua tidak bisa mendengarnya. Bondan pun berputar arah menuju tempat berdiri.
"Kalo mau berhenti, kasih lampu merah dong." ujar Bondan kesal.
Gua tertawa mendengar ocehan Bondan yang menurut gua lucu.
"Lu yang maju terus." jawab gua sambil tersenyum menahan tawa.
"Ayok, naek. Udah sore, nih." ajak Bondan.
"Gak! Tadi lu kenapa ninggalin gua, hah?" tanya gua yang sudah tidak tersenyum.
"Siapa coba yang ninggalin lu, Sil?" ujar Bondan seperti tanpa bersalah.
"Lu, lah! Ninggalin gua di parkiran sore-sore gini, emangnya gua gak takut apa?!" jelas gua kepada Bondan.
Bondan membuka tasnya, lalu mengeluarkan sesuatu.
"Nih, kata orang-orang, kalo cewek lagi ngambek kasih aja coklat," ujar Bondan sambil memegang coklat batangan,
"Jadi tadi, gua ke Nr.mart buat beli coklat buat, lu." Bondan memberikan coklat batangan kepada gua.
__ADS_1
Gua menerima coklat yang Bondan beli untuk gua.
"Kenapa lu gak ngajak gua ke Nr.mart?"
"Lu kan tadi lagi marah, Sil. Mana ada orang lagi marah diajak kemana-mana bakal mau" Bondan menjelaskan,
"Oh iya gua lupa, cewek kan kalo diajak belanja marahnya langsung ilang." Bondan menepuk jidat seolah mengingat sesuatu yang terlupa.
Gua memukul pelan pundak Bondan sambil tersenyum malu, seolah dia tahu semua tentang yang disukai cewek.
Bondan memegang pundaknya yang tidak sakit sambil tertawa. Rasa marah gua terhadap Bondan sudah hilang sejak tadi. Mungkin karena dibelikan coklat, haha.
"Jadi sekarang, lu mau ikut gua apa tidak?" Bondan memastikan.
Gua menatap jembatan yang terdapat orang gila yang sedang mengamuk. Bondan mengikuti arah tatapan gua menuju jembatan.
"Iya, gua mau ikut, lu." jawab gua dengan suara parau.
"Ah, jawabnya terpaksa. Berarti lu gak mau ikut gua." ujar Bondan,
"Daaaah." Bondan melajukan motornya dengan pelan meninggalkan Sisil.
Gua berjalan cepat mengejar Bondan yang melajukan motornya dengan pelan.
"Bondan berenti! " pinta gua kepada Bondan sambil tertawa. Bondan tertawa melihat gua yang mengejarnya.
"BONDAN ... BERENTI...." gua berjalan cepat sambil teriak di dekat telinga Bondan.
Bondan tertawa lalu memberhentikan motornya. Gua mendengus kesal kepada Bondan yang menertawakan gua.
Gua pun segera naik di belakang motor setelah Bondan berhenti. Bondan masih menertawakan gua.
Setelah itu, Bondan melajukan motornya.
Ketika akan melewati jembatan tempat orang gila mengamuk. Bondan mengklakson orang gila tersebut dan mengarahkan orang gila tersebut agar kepinggir dengan tangan kirinya.
Awalnya gua heran dengan isyarat yang diberikan Bondan kepada orang gila tersebut dan meremehkan Bondan dengan berpikir, orang gila itu tidak akan mengerti isyaratnya.
Setelah Bondan mengklakson dan mengarahkan tangannya, orang gila tersebut pun berhenti mengamuk dan berdiri di pinggir jembatan seolah memberikan jalan.
Jantung gua berdebar kencang ketika kami hendak melewatinya. Orang gila itu terus menatap gua.
Gua berpegangan dengan erat kepada Bondan seperti memberikan isyarat agar dirinya ngebut, tapi jalan di jembatan ini bergelombang sehingga Bondan tidak bisa ngebut di jembatan ini. Jika Bondan memaksa ngebut, besar kemungkinan kami akan terjatuh dari motor.
__ADS_1
Bondan melajukan motornya dengan pelan dan hati-hati. Pegangan gua semakin erat ketika hampir melewati orang gila tersebut. Ketika kami melewati orang gila, gua berusaha tidak memandangnya.
Orang gila itu mencolek lengan gua dengan jari telunjuk, sehingga membuat gua berteriak seketika sambil menutup wajah gua dengan kedua tangan dan menelungkupkan di punggung Bondan.
Ketika gua berteriak, orang gila itu pun berlari berlawan arah dengan terbirit-birit. Bondan terkejut ketika mendengar gua yang berteriak sambil menelungkupkan wajah gua yang ditopang oleh tangan di punggung Bondan.
"Sil, kenapa?" tanya Bondan dengan khawatir sambil menatap lurus ke arah jalan.
Kami sudah tak lagi berada di jembatan. Dan sekarang kami sedang melaju di jalan raya.
Gua tidak menjawab pertanyaan Bondan.
"Sil, kenapa?" ulang Bondan.
Gua membuka mata dan melihat jalan yang tidak lagi berada di jembatan.
"Tadi tangan gua dicolek sama orang gila." jawab gua lega karena tidak lagi di jembatan.
"Hah? Tangan lu dicolek orang gila?" Bondan memastikan.
"Iya." jawab gua dengan ketus.
Bondan tertawa terbahak-bahak mendengar gua yang dicolek orang gila. Seolah cerita gua adalah guyonan bagi Bondan.
"Kenapa, lu ketawa?" tanya gua kesal.
"Yak ... Lucu aja dengernya." jawab Bondan sambil terus tertawa.
"Gua aneh aja, kenapa orang gila itu nyolek tangan lo? Kenapa dia gak nyolek tangan gua?" tanya Bondan.
Bondan bertanya seolah dia ingin dicolek oleh orang gila di jembatan. Gua mengernyit mendengar pertanyaan Bondan yang begitu konyol, karena orang gila pun bisa membedakan antara yang cowok dan cewek. Gua masih tidak habis pikir terhadap Bondan.
"Kalo dia nyolek, lu. Lu mau ngapain, hah?" tanya gua memastikan.
"Gua mau berterima kasih padanya karena yang dia colek itu gua, bukan lu...," Bondan menjelaskan.
"Emangnya kalo gua yang dia colek kenapa?" tanya gua.
"Justru itu ... karena dia nyoleknya ke lu. Jadinya lu malah ngambil kesempatan dalam kesempitan." jelas Bondan.
"Maksudnya ngambil kesempatan dalam kesempitan, gimana? sumpah gua gak ngerti." tanya gua yang tidak mengerti apa yang dimaksud Bondan.
"Ya itu tadi. Lu jadi malah nemplok-nemplok ke punggung gua. Itu kan namanya ngambil kesempatan dalam kesempitan." Bondan menjelaskan sambil tertawa.
__ADS_1
"Idih! Siapa juga yang mau nemplok-nemplok sama lu? Tadi itu gua beneran takut," gua menjelaskan kepada Bondan.
"Ada juga lu yang ngambil kesempatan sama gua, punggung lu ngapain ada di depan gua? Itukan namanya ngambil kesempatan dalam kesempitan!" gua yang memutarbalikkan fakta yang ada.