UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 15


__ADS_3

Gua melirik Noval sekilas. Wajah Noval tampak menyembunyikan sesuatu dari gua.


"Kenapa lu, Val?" selidik gua. Egi melirik Noval.


"Hmm ... menurut gua ... mending lu cari tahu dulu kebenarannya. Kalo misalkan lo nuduh tanpa bukti, mungkin itu masalah lo sendiri! Tapi kalo lo punya bukti, itu akan jadi masalah Al dan selingkuhannya." Noval menasihati dengan dewasa.


"Bener juga sih kata Noval. Gua sebagai sahabatnya gak bisa mastiin Al selingkuh atau enggak." jelas Egi menatap gua serius.


"Gua udah punya bukti kalo Al selingkuh!" gua berdiri sembari menggebrak meja yang mengakibatkan pandangan seisi kantin tertuju kepada gua.


Noval dan Egi terkejut melihat gua. Gua melihat sekeliling kemudian duduk kembali sembari tersenyum malu.


"Gua punya buktinya kalo Al selingkuh!" bisik gua kepada Egi dan Noval.


Noval dan Egi terdiam seolah memikirkan apa yang harus mereka ucapkan jika memang benar Al selingkuh.


"Yaudahlah ... Keputusan ada di tangan lo, Sil." pasrah Noval.


Terdengar Farah memanggil gua dari tukang bakso untuk meminta gua membawa bakso gua dan menyantapnya bersama mereka.


"Gua pergi yak." pamit gua sembari berdiri.


"Iya." jawab Noval dan Egi bersamaan.


Gua berjalan ke tukang bakso untuk mengambil pesanan gua dan bergegas ke meja Farah dan Dhea.


Kami menyantap bakso dengan lahap. Tidak ada yang bersuara diantara kami.


"Ngapain lu ke meja Egi?" Dhea membuka suara. "Sambil gebrak meja lagi. Lu ada masalah?"


Farah menatap gua sembari mengunyah bakso.


"Enggak ngapa-ngapain." jawab gua dengan santai.


Egi dan Noval melewati meja kami karena telah selesai makan.


Setelah kami selesai menyantap bakso, kami bergegas kembali ke lab. Terlihat Bondan yang sedang duduk di bawah pohon yang menghadap ke lapangan basket bersama teman cowok sekelas.

__ADS_1


Gua melihat Noval sedang berjalan di tengah lapangan basket menuju kelasnya yang berada di ujung lapangan.


"Val ... Noval!" teriak gua kepada Noval sehingga Noval membalikkan badan dan menghentikan langkahnya.


"Gua ke Noval dulu yak. Ada urusan," ujar gua, "kalian duluan aja. Entar gua nyusul." Farah dan Dhea mengangguk lalu meninggalkan gua. Gua bergegas ke tengah lapangan basket menghampiri Noval.


Noval menunggu di tengah lapangan sembari memainkan hp. Gua berjalan cepat menghampirinya.


"Woy ... lu mau kemana?" gua menepuk pundak Noval.


"Mau ke kelas lah," Noval mematikan hpnya dan menyimpannya di saku celana. "ada apaan sih lu?" Noval menatap gua. Gua mendongak menatap Noval yang tingginya kira-kira beda 5cm dengan gua. Tinggi gua 165cm dan tinggi Noval 170cm.


"Hmm ... gua masih penasaran sama kata-kata lo!" ujar gua. "Lo tahu sesuatu kan, Val, tentang Al? Please, kasih tahu gua...." selidik gua dengan nada menuduh.


Noval terdiam seolah menutupi sesuatu dari Sisil.


"Maksud lo ... gimana? Gua gak ngerti." Noval memasang wajah heran.


"Lo bilang, gua harus cari kebenarannya sendiri! Berarti bener kan, Val, Al selingkuh?!" tegas gua sembari menatap Noval.


Noval sedikit menunduk sembari mendekatkan wajahnya ke wajah gua. Wajah kami begitu dekat sampai gua bisa merasakan helaan napasnya.


Noval menatap mata gua dengan sangat serius.


"Sil ... saingan lo itu bukan cewek-cewek yang cinta sama Al ataupun cewek-cewek yang caper sama Al," mata Noval berkeliaran melihat pipi, hidung, dan bibir yang terdapat di wajah gua dan gua menatap mata Noval yang berkeliaran. "saingan lo yang sebenarnya adalah masa lalunya Albert." mata Noval kembali menatap mata gua.


Jantung gua berdegup kencang ketika Noval berkata dengan suara yang pelan dan hati-hati.


Gua mendorong Noval dengan pelan agar wajahnya menjauh dari wajah gua.


Noval menatap ke belakang gua sembari tersenyum.


"Maksud lo ...? Mantan Albert?" gua terkejut apa yang dikatakan Noval. Noval kembali menatap gua sembari tersenyum.


"Kayaknya, lo punya banyak penggemar, Sil." Noval tersenyum.


Gua tidak tahu apa yang dikatakan Noval. Gua terus menatap Noval mencari jawaban.

__ADS_1


"Hah?" gua yang heran dengan maksud Al.


Noval melihat ke belakang gua, lalu gua membalikkan badan untuk mengetahui apa yang dimaksud Noval. Ketika gua berbalik, terdapat seorang pria yang berdiri tepat di belakang gua. Tangan gua langsung menutup wajah gua agar tidak menabrak wajah pria itu. Gua dan pria itu berhadapan sangat dekat.


Gua menurunkan tangan dari wajah, lalu membuka mata untuk mengetahui siapa pria yang berdiri di hadapan gua.


"Bondan....!" gua terkejut dengan adanya Bondan di hadapan gua. Mata Bondan terus menatap Noval dengan sinis.


Gua melirik ke arah Noval. Angin membuat rambut gua menutupi wajah dan segera gua kait ke telinga. Noval terlihat tersenyum jahat menatap Bondan.


"Kenapa?" Noval membuka keheningan sembari tersenyum jahat kepada Bondan. Pandangan gua kembali beralih ke arah Bondan. Tatapan Bondan masih terlihat sinis.


"Apa dia melakukan sesuatu kepada kamu, Sil?" pandangan Bondan beralih ke gua dengan hangat.


"Enggak ...." ujar gua singkat. Pandangan Bondan beralih lagi kepada Noval. Gua menatap Bondan dengan heran.


"Yuk, sebentar lagi bel masuk!" Bondan berbalik dan menarik tangan gua dengan kuat meninggalkan Noval. Bondan menatap lurus tanpa melirik ke arah gua.


Gua melirik ke belakang tempat Noval berdiri. Noval tersenyum kepada gua dan gua pamit kepada dia. Noval tersenyum tanda setuju dan menuju kelasnya yang berada di seberang lapangan basket.


Tangan Bondan masih menggenggam tangan gua dengan erat. Gua mengikuti Bondan yang menarik tangan gua.


"Ada apa?" ujar gua heran. Bondan melepaskan genggamannya dari tangan gua dan berhenti sejenak kemudian menatap gua. Gua ikut berhenti karena Bondan berhenti.


"Enggak ada apa-apa kok." Bondan tersenyum hangat menatap gua, kemudian kami melanjutkan menuju lab elektro.


Kami memasuki lab yang di dalamnya sudah terdapat teman-teman sekelas yang sedang bersenda gurau.


Kami duduk di tempat semula menunggu bel masuk. Tak lama, bel masuk tela berbunyi. Kami siap melanjutkan pelajaran.


Selang 20menit, Bu Weni tak kunjung datang. Bel pun berbunyi 3 kali sebagai tanda jam pulang. Seketika kami pun bersorak untuk pulang. Teman-teman gua mulai menggendong tas mereka lalu keluar lab.


Gua dan Bondan berjalan menuju parkiran motor. Motor Bondan terdapat paling ujung. Tidak ada yang memperhatikan seperti tadi pagi.


Kami tiba di tempat Bondan memarkir motor yang di sampingnya terdapat batu besar. Bondan menaiki motornya dan gua ikut naik. Bondan belum juga menyalakan motornya, dia melihat jalan menuju gerbang sekolah sangat macet dengan kendaraan para siswa dan siswi.


"Macet ... tunggu dulu aja yak." Wajah Bondan menyamping untuk memberitahu, gua mengiyakan.

__ADS_1


Gua turun dari motor lalu duduk di batu besar samping motor. Kami menatap siswa dan siswi yang rela bermacet-macetan menuju luar gerbang sekolah.


Sesekali gua memandang Bondan yang menatap kemacetan, dia terlihat sangat tampan dengan rambut bergaya cepak, hidung mancung, dan alis tebal yang membuat gua tersenyum melihatnya.


__ADS_2