UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
Bab 34


__ADS_3

Gua berjalan menuju tempat gua yang berada di barisan ketiga. Gua merasakan Bondan terus memperhatikan gua, tetapi gua tidak menghiraukan.


"Gua kira, lu gak bisa bikin puisi." ujar Farah setelah gua duduk di kursi.


"Haha, itu gua cuma ngasal aja kali. Gua beneran gak bisa bikin puisi." jawab gua kepada Farah.


"Ayo langsung maju, Faris." suruh Bu Hesti kepada Bondan. Eh, maksudnya Faris.


Faris beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju depan kelas. Gua dan teman-teman gua menatap Faris dengan tatapan serius.


Faris terlihat pede dan tak terlihat grogi sedikit pun. Gua acungi jempol deh atas keberaniannya.


"Gua gak yakin puisi Bondan bagus. Dia kan sama sekali bukan tipe cowok romantis." gumam gua sambil menatap Faris.


Faris berdehem untuk mulai membaca hasil tulisannya. Gua dan teman-teman gua yang lain menunggu termasuk Bu Hesti.


Sayap Pelindungmu


Binda Al-Farisi


Aku mencintaimu


Hingga saat ini aku tetap mencintaimu


Memilikimu adalah sebuah ilusi


Dan aku menyukai ilusiku


Aku relakan kau bersamanya


Tapi, aku tak rela jika kau terus bersamanya


Dengarkan aku, Sayang


Bukalah mataku selebar mungkin


Aku adalah yang terbaik untukmu


Faris melirik gua sekilas, dan itu membuat gua terdiam seribu bahasa. Gua yakin, lirikan mata Faris mengarah ke gua atau mungkin itu cuma firasat gua saja.


Aku akan terus menjadi sayap pelindungmu


Jika kau terus bersamanya


Bukannya aku mencampuri urusanmu


Tetapi aku tidak ingin melihatmu rapuh karenanya


Percayalah padaku....

__ADS_1


Faris berhenti membacakan puisi. Kami terdiam melihat Faris tak berbicara lagi.


"Puisinya udahan?" tanya Reyhan penasaran.


Faris memandang Reyhan sambil tersenyum.


"Udah lah, emangnya mau sepanjang apa?" tanya Faris tersenyum.


Reyhan langsung bertepuk tangan lalu yang lainnya pun ikut bertepuk tangan. Gua masih penasaran dengan puisi Faris tersebut dan bertanya-tanya dengan lirikan mata Faris. Kami berhenti bertepuk tangan.


"Anak sma mah jago bikin puisi." puji Revan kepada Faris.


"Sekarang kan gua anak smk, Van." jawab Faris dengan santai.


"Kok puisinya kayak ngebales puisi Sisil, yak?" tanya Faras kepada Faris.


Mata gua terbelalak dan langsung menoleh ke belakang tempat Faras duduk di barisan keempat.


Faras melirik gua sekilas dan memalingkan ke arah Faris.


Faris terdiam beberapa detik mendengar pertanyaan Faras secara tiba-tiba. Gua berbalik kembali lalu menatap Faris dengan wajah penasaran. Faris tidak menghiraukan tatapan gua dan malah menatap Faras.


"Hmm, mungkin perasaan lo aja. Gua bikin puisinya juga ngasal." jawab Faris santai.


Gua masih tidak percaya dengan jawaban Faris, "Terus lirikan lo tadi itu maksudnya apa, Bambang?" gerutu gua dalam hati.


Gua merasakan tatapan seseorang dari barisan cowok, gua pun menoleh untuk mengetahui siapa yang memperhatikan gua.


"Jangan-jangan kalian jodoh?" ujar Bu Hesti kepada gua dan Faris.


Gua langsung memalingkan wajah dan memandang Bu Hesti.


"Ih, Ibu. Enggak lah, masa iya kita jodoh." sanggah gua kepada Bu Hesti.


"Bisa aja Sil, lu beneran jodoh sama Faris, haha." tambah Dhea mendukung Bu Hesti.


"Ih, Dhea. Lu jangan ikut-ikutan." tegas gua kepada Dhea. Dhea tertawa tak memedulikan.


Gua melirik Faris berharap Faris menyanggah perjodohan ini, tetapi Faris terlihat acuh tak acuh. Hah, dia memang selalu bertingkah acuh tak acuh.


Faris memberikan bukunya kepada Bu Hesti. Bu Hesti melarang Faris untuk langsung duduk dan menyuruhnya menunggu sebentar.


Bu Hesti menilai hasil kerja Faris setelah itu Bu Hesti memberikan semua buku kepada Faris untuk dikembalikan kembali kepada kami.


Faris menerima tumpukan buku dan segera membagikan buku tersebut sesuai nama yang tertera.


"Baik, pelajaran ibu sudah selesai. Kita akhiri dengan hamdalah." ujar Bu Hesti.


"Alhamdulilah." jawab kami semua.

__ADS_1


Bu Hesti keluar meninggalkan kelas gua, Faris masih sibuk membagikan buku kepada teman-teman gua dan terakhir Faris memberikan buku gua kepada gua, setelah itu Faris duduk di tempatnya.


"Aaah, Bu Hesti." rengek Farah setelah membuka bukunya untuk melihat nilai.


"Kenapa lo?" tanya gua penasaran.


"Farah, jangan harap gua mau sama lo, yak. Gua udah punya pacar," ujar Revan sedikit berteriak secara tiba-tiba.


Gua menoleh ke arah Revan untuk mengetahui apa yang dia maksud.


"Heh, Kutu Kupret! Emangnya gua mau sama lo? Amit-amit deh jangan sampe." tegas Farah membantah perkataan Revan.


Gua menoleh kembali ke arah Farah dengan bingung apa yang dibicarakan Farah dan Revan. Buku Farah tersimpan di meja dengan terbuka dan gua langsung mengambil buku Farah untuk mengetahui apa maksudnya.


Gua terkejut melihat nila puisi Farah sekaligus tulisan berwarna merah yang ditulis oleh Bu Hesti.


Gua naik ke atas kursi untuk membacakan tulisan Bu Hesti kepada teman-teman gua.


"Farah jodohnya Revan, cie cie." ujar gua sedikit berteriak.


Farah menarik baju gua dan gua pun duduk kembali, wajah Farah memerah dan gua tertawa.


Daffa merebut buku Revan dan membacakan hal yang sama. Revan dan Farah nampak malu ketika sekelas menjodohkan mereka.


Farah merampas buku gua di meja dan membukanya.


"Sisil jodohnya Faris, cie cie." balas Farah kepada gua.


Gua terkejut mendengar ucapan Farah, gua belum melihat hasil kerja gua. Gua pun merebut buku gua kembali untuk memastikan tulisan tersebut ada atau tidak.


"Hah?" gua terkejut melihat tulisan tersebut ada di buku gua. Itu tandanya di buku Faris juga terdapat tulisan seperti ini.


Teman-teman gua berbalik menjodoh-jodohkan gua dengan Faris. Wajah gua memerah tersipu malu. Sekilas gua melirik ke arah Faris, dia masih terlihat acuh tak acuh. Menyebalkan!


Gua merasakan tatapan Egi yang semakin menyelidik. Tetapi gua tidak menghiraukannya.


"Gua udah punya Albert kali," gua berusaha menjelaskan. Tetapi teman-teman masih menatap gua dengan tatapan menggoda.


"Bener nih?" goda Farah.


"Beneran." jawab gua sambil tertawa.


Setelah beberapa saat teman-teman gua berhenti menjodoh-jodohkan gua dan Faris lagi.


Sebentar lagi bel pulang, gua dan teman-teman gua memasukkan buku ke dalam tas untuk bersiap-siap pulang. Setelah itu bel pun dinyalakan dan terdengar suara-suara siswa dan siswi yang sudah keluar kelas sambil bercakap-cakap.


Gua dan teman-teman gua keluar untuk segera pulang. Gua berusaha menjaga jarak dengan Faris agar tidak berjalan berdampingan. Gua gak mau teman-teman gua berpikir gua dan Faris mempunyai hubungan spesial, tetapi Faris nampak bersikap biasa saja.


"Haduh, gua bingung harus bersikap kayak gimana." tanya gua kepada diri sendiri sambil mengernyit dan terus berjalan menuju luar kelas.

__ADS_1


-•-


__ADS_2