
Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau. Al langsung melajukan motornya dengan sedikit mengebut.
Gua merasa lega karena tidak harus menjadi pusat perhatian lagi. Terkadang gua kesal karena terus menjadi pusat perhatian.
"Tadi kayaknya banyak yang liatin kamu, Al. Mungkin mereka naksir." ujar gua kepada Al yang sedang menatap jalan.
"Hmm ... kamu juga, Sil. Banyak cowok yang liatin kamu sampe gak ngedip." ujar Al membalikkan perkataan gua.
Gua tersenyum malu dan memukul pundak Al dengan pelan. Al tertawa.
"Kamu kenapa pake masker? Kan mereka mau liat kecantikan kamu, Sil." Al melucu.
"Ihh ... aku tuh malu tau, diliatin terus," gua mendengus kesal.
"Emangnya kamu gak malu apa, diliatin terus sama cewek-cewek?"
Al tertawa, "Aku sih gak malu. Malah suka," jawab Al tertawa yang sengaja membuat gua kesal,
"tapi kalo kamu gak suka aku yang diliatin, ya udah aku bakal nutupin." Al menarik topi yang dipakainya ke bawah untuk menutupi wajahnya.
Gua mendengus kesal melihat Al yang menarik topinya.
"Yaudah, kalo kamu suka diliatin cewek-cewek. Mending kamu gak usah pake topi!" jawab gua sambil melepaskan topi yang dipakai Al,
"Mending aku aja yang pake topinya." gua langsung pakai topi Al ke atas kepala gua sambil tersenyum.
Al menyisir rambutnya yang berwarna coklat dengan tangan kiri, dan tangan kanan untuk tancap gas.
Rambut Al tidak rapi-rapi karena tertiup angin. Gua pun tertawa melihat Al yang terus merapikan rambutnya dan tidak berhasil merapikannya. Lalu Al membiarkan rambutnya yang lurus tertiup angin.
Al mengarahkan kaca spion kiri kepada gua dan kaca spion kanan untuk melihat jalan. Gua menyipitkan mata tanda ketika Al mencuri pandangan di kaca spion.
Al terus melajukan motor dengan kecepatan tinggi agar tidak ketinggalan menonton bioskop.
Kami pun sampai di parkiran mall yang begitu luas. Gua turun dari motor dan berdiri di samping Al. Al merapikan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin sambil mengaca di spion motor.
Di parkiran, banyak yang memperhatikan gua dengan Al. Gua merasa lebih pede karena gua memakai penutup wajah dan topi Al.
Gua membantu Al merapikan rambut. Al membiarkan gua yang merapikan rambutnya.
__ADS_1
"Udah, cakep." ujar gua sambil tersenyum.
Al turun dari motor. Lalu kami berjalan menuju lantai atas dengan eskalator. Kami tidak berjalan dengan bergandengan tangan. Al tidak pernah menggenggam tangan gua.
Al bilang, dia tidak akan menggenggam tangan gua kecuali gua yang menggenggamnya duluan. Alhasil, gua gak pernah menggenggam tangan Al, sehingga Al tidak pernah juga menggenggam tangan gua.
Kami tiba di lantai atas tepat waktu. Film yang akan kami tonton sudah dibuka, sehingga kami langsung ke ruang bioskop yang tertera di tiket.
Al memberikan 2 tiket masuk kepada penjaga bioskop. Lalu kami pun dipersilahkan masuk.
Bioskop tampak gelap. Hanya lampu menyala lampu merah di setiap anak tangga.
Al memesan kursi paling atas agar menonton bioskop semakin nyaman. Al berjalan di samping gua. Gua berpegangan ke baju Al agar tidak terjatuh karena ruangan yang gelap.
Kami pun tiba di kursi bioskop paling atas. Al mempersilahkan gua duduk duluan, lalu kemudian dia duduk.
Kursi bioskop terisi semua, tidak ada yang kosong satupun. Sesekali penjaga mengarahkan lampu senter untuk membantu penonton yang kebingungan mencari tempat duduknya.
Bioskop sudah mau dimulai. Tidak ada satu pun lampu yang menyala, termasuk lampu tangga pun mati. Suasana menjadi hening, layar bioskop pun menyala dengan diiringi suara yang begitu keras.
Sebelum film dimulai, terdapat tampilan peraturan di layar bioskop. Setelah itu, film pun dimulai.
"Sil, minum tadi dimana?" bisik Al kepada gua.
Gua pun memberikan Al minuman yang gua beli sebelum kami berangkat. Al meneguk air sambil menatap film. Lalu Al menggenggam minuman itu.
Gua merasa seperti sedang diperhatikan seseorang dari kursi yang barisannya sebaris dengan gua. Seseorang yang memperhatikan gua berada tidak terlalu jauh dari gua dan hanya tertutup oleh 5 orang yang berada di samping gua.
Gua pun menoleh ke samping untuk melihat siapa yang memperhatikan gua. Ketika gua menoleh, dia menyamakan duduknya dengan penonton lain sehingga gua tidak bisa melihatnya.
Gua menatap Al yang sedang asyik menonton film. Tadinya gua mau memberi tahu Al tentang gua yang sedang diperhatikan, tetapi Al tampak sedang menikmati film sehingga gua mengurung niat untuk memberi tahunya. Lalu pandangan gua kembali ke film dan mengganggap tidak ada yang memperhatikan gua.
Ketika gua menonton film, seseorang tersebut kembali memperhatikan gua. Gua mulai merasa takut akan seseorang itu dan mencoba memberi tahu Al.
Gua mencolek pundak Al dan Al mendekatkan telinganya kepada gua sambil terus menatap film.
"Al, kayaknya ada yang ngeliatin aku terus, deh." bisik gua kepada Al.
Al menoleh ke samping gua untuk memastikan.
__ADS_1
"Siapa? Gak ada yang ngeliatin kamu, Sil." jawab Al sambil menyandarkan kembali ke kursi.
"Ihh ... beneran Al, dari tadi barisan dia ngeliatin terus." kesal gua kepada Al. Gua mulai merasa ketakutan.
Al memandang wajah gua yang terlihat samar-samar dan terlihat ketakutan.
"Kita tukeran kursi aja." Al berdiri dari kursinya. Gua langsung duduk di kursi Al dan Al duduk di kursi gua.
Seketika gua merasa aman karena Al menjaga gua dari seseorang itu.
"Sekarang lebih baik?" tanya Al tenang.
"Sekarang jangan takut, yak. Ada aku di sini." Al tersenyum menenangkan.
"Makasih, Al." jawab gua yang mulai tenang.
"Kamu pake terus masker sama topinya." Al menasihati.
"Kalo kamu masih takut. Kamu nyender aja di pundakku."
Gua mengangguk lalu membuka minuman untuk meminumnya. Al melanjutkan menonton film. Setelah gua minum, gua kembali melanjutkan menonton film.
Setelah gua bertukar kursi dengan Al, seseorang itu tidak lagi memperhatikan gua. Gua pun merasa lega karena tidak merasa terancam lagi. Ada Al yang yang siap melindungi gua.
Kami menikmati film yang disajikan. Terkadang terdapat adegan yang menegangkan dari film tersebut sehingga gua menggerutu sendiri akibat kesal.
Setelah satu jam kemudian, Al izin untuk pergi ke toilet sebentar. Gua tidak membolehkan Al pergi karena takut seseorang itu akan mengancam gua lagi dengan memperhatikan gua.
Al meyakinkan gua bahwa orang tersebut tidak akan memperhatikan gua lagi jika gua tidak memperhatikan dia.
Gua mengotot agar Al tetap tinggal dan tidak ke toilet meski sebentar.
"Yaudah, aku ikut kamu ke toilet." ujar gua kepada Al.
Al mengernyit ketika gua mau ikut dengannya ke toilet. Mungkin Al salah sangka.
"Maksudnya, kamu ke toilet pria dan aku ke toilet wanita." ulang gua membenarkan.
Al tersenyum, "Toilet bioskop itu sepi, Sil. Kalo kamu ada apa-apa di toilet? Siapa yang mau nolong kamu? Kalo kamu di sini kan aman, di sini rame, jadi kalo kamu diganggu, kamu tinggal teriak dan orang-orang akan menolong kamu." Al menjelaskan.
__ADS_1
Gua membenarkan perkataan Al dan menurut untuk tetap tinggal sedangkan Al pergi ke toilet. Lalu gua memperhatikan Al yang berjalan menuruni tangga menuju toilet pria.