UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 6


__ADS_3

Gua tidak bisa menyuruh Bondan suka sama Fayza. Karena Bondan tuh sukanya sama gua, Sisil, bukan sama Fayza! Di sisi lain gua juga sadar bahwa hal yang gua rasain dan semua teman-teman gua rasain saat ini hanyalah CINTA MONYET! Jadi gua tidak terlalu ambil pusing.


Gua menatap Fayza sambil tersenyum. Senyuman gua seolah berkata, "Lu engga usah cemburu karena gua udah punya Albert!" andai dia bisa tahu makna senyuman gua.


Ibu tukang warung memanggil kami. Seblak yang kami pesan sudah matang. Kami pun menghampirinya.


"Bi, ini pedes ga?" ujar gua sambil mencicipi seblak milik gua ke ibu warung yang gua panggil bibi. Fayza memberikan uang yang sudah disatukan dengan uang gua ke si ibu.


"Pedes. Sama seperti yang biasa Sisil pesen." ujar si ibu sambil mencari uang kembalian dalam kaleng. Setelah itu, uang kembalian nya diberikan kepada Fayza lalu kami pamit pulang.


Gua numpang makan seblak di rumah Fayza. Fayza menyiapkan air dingin untuk kami minum. Lalu Fayza menyalakan tv untuk kami tonton sambil menyantap seblak.


Tidak ada yang bersuara antara gua dan Fayza. Masing-masing kami menikmati seblak yang rasanya enak. Setelah gua selesai menyantap seblak, gua pamit pulang.


Gua berjalan keluar rumah Fayza lalu kemudian meninggalkan Fayza. Gua berjalan melewati rumah tiap rumah yang gua lalui yang nampak sepi. Mungkin yang punya rumah lagi pada liburan atau sekadar makan di luar.


Tiba di rumah, gua langsung mengangkat semua jemuran yang tadi pagi gua cuci. Setelah itu gua bawa ke dalam kamar untuk gua setrika.


Sebelum menyetrika, gua mengambil hp terlebih dahulu untuk melihat ada pesan masuk atau tidak. Pas gua nyalain hp terdapat satu pesan masuk. Gua membukanya ternyata pesan tersebut dari Albert pacar gua!


"Sampai ketemu besok di sekolah baru, sayang😘"


Mendadak jantung gua berdegup kencang. Mungkin alasannya karena Al menyebut gua dengan panggilan "sayang". Sesekali gua menarik napas dan mengeluarkannya untuk membuat gua sedikit tenang.


Gua bingung harus bersikap apa. Apakah gua harus senang atau marah? Jika gua marah karena Al menyebut gua dengan kata "sayang", mungkin bakal jadi hal aneh untuk gua dan juga Al. Secara, gua kan sekarang sudah pacaran sama Al. Jadi bakal jadi hal wajar lah bilang sayang ke pasangan.

__ADS_1


Tapi kan gua pacaran sama Al tanpa perasaan. Jadi kata "sayang" bagi gua terbilang lebay dan berlebihan. Beda lagi kalau gua ada perasaan sama Al. Mungkin sekarang gua bakal lompat-lompat kegirangan karena di panggil "sayang".


"Oke sayang. Si yu leter😘" balas gua.


Gua tidak ada pilihan lain selain gua harus berpura-pura punya perasaan terhadap Al. Tak lama gua membalas pesan. Al langsung menelepon gua. Jantung gua berdegup kencang lagi ketika mendapat telepon dari Al. Gua langsung mengunci pintu kamar lalu menerima panggilan dari Al.


"Halo," gua membuka suara.


"Halo sayang, kamu lagi ngapain?" ujarnya dengan lembut.


Jantung gua tidak berhenti berdegup kencang. Napas gua tidak teratur. Gua terus menarik napas dari hidung kemudian di keluarkan lewat mulut.


Gua belum menjawab pertanyaan Al karena gua masih belum tenang. Gua harus meneraturkan napas gua terlebih dahulu agar tidak terdengar seperti telah di kejar Anjing tetangga di telepon.


Mulai sekarang gua harus menyesuaikan diri untuk tidak berkata gua elu kepada Al melainkan aku kamu. Drama banget kan ya? Dan gua juga harus berdrama layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai satu sama lain.


"Aku lagi mau nyetrika sayang." jawab gua dengan napas yang sudah teratur.


Al terdengar seperti tersenyum bahagia karena gua manggil dia "sayang". Kenapa gua bisa tahu? Yak karena napas Al terdengar dari telepon seperti sedang senyum bahagia, bukan karena gua itu seorang peramal.


"Duh, rajin banget calon istri ku," Al memuji.


Seketika gua merasa jijik dengan semua obrolan ini. Mungkin alasannya karena gua tidak ada perasaan sama dia. Tapi gua harus tetap drama.


"Hehe, iya dong sayang," jawab gua sembari tertawa terpaksa.

__ADS_1


"Yaudah, aku tutup ya teleponnya. Dadah sayang." ujar Al.


Gua langsung menutup telepon tanpa membalas kalimat Al yang terakhir. Kemudian gua membuka kunci kamar lalu mulai menyetrika.


Gua menyetrika sambil senyum-senyum sendiri.


"Kok bisa ya gua berkata hal bodoh seperti tadi? Haha." gumam gua kepada diri sendiri sambil tersenyum bodoh dan terus melanjutkan menyetrika.


Setelah semua telah disetrika. Gua bergegas menyimpan pakaian gua ke lemari dan sebagian pakaian orangtua gua, gua simpan di ranjang. Setelah itu gua bergegas mandi karena hari sudah semakin sore.


Gua masih kepikiran perihal Al. Pacar pertama gua. Sebenarnya, gua dilarang orangtua gua untuk berpacaran. Menurut mereka, pacaran bukan kelakuan yang baik.


Tapi gua melanggar larangan orangtua gua. Gua berpikir, gua pacaran sama Al adalah pacaran yang sehat. Tidak akan terjadi apa-apa sama gua. Lagi pula, gua pacaran tanpa perasaan kepada Al. Jadi, gua tidak menganggap serius pacaran ini.


Itulah cerita awal mula gua jadian dengan Albert. Gua tahu, mungkin lu pada bakal berpikir jijik kepada dua bocah yang sedang jatuh cinta ini. Dulu gua tidak jatuh cinta kepada Al, jadi lu tidak usah merasa jijik atas gua pacaran dengan Al, haha.


Sekarang gua sudah menjadi anak smk dan gua masih berstatus sebagai pacar Al. Gua sama Al memilih sekolah yang berbeda. Gua jamin, di sekolah barunya mungkin bakal banyak cewek yang mendekati Al dan mencari-cari perhatian padanya.


Kalau dulu gua bisa melototin cewek yang mencuri pandang kepada Al, sekarang gua tidak bisa melakukan itu lagi.


Kalau dihitung, gua banyak melototin cewek yang caper kepada Al. Tapi gua kagum kepada Al. Dia termasuk orang yang setia, romantis, pengertian, dan lemah lembut terhadap gua.


Disaat banyak cowok yang ngedeketin gua, Al hanya tersenyum. Gua tahu kalau dia cemburu, tapi dia percaya dengan gua.


Entah kenapa, selama gua menjalani hubungan dengan Al. Gua merasa bahagia. Memang awalnya gua tidak mempunyai perasaan terhadap dia. Mungkin karena setiap harinya Al bersikap baik dan romantis, jadi hati gua sedikit demi sedikit meleleh dan mulai jatuh cinta kepada Al.

__ADS_1


Momen yang menurut gua paling romantis itu pada saat gua kelas 8 smp yang hari itu terdapat pelajaran olahraga di jam keempat. Kelas gua dan kelas Al mempunyai jadwal olahraga yang sama dengan guru olahraga yang sama, yaitu Pa Irfan.


__ADS_2