
Gua langsung berdiri dan menerjang cewek itu. Dia terlihat kesakitan akibat tonjokan gua ke wajahnya.
Ketika gua akan menonjoknya sekali lagi, Al memegang tangan gua dengan keras.
"UDAH CUKUP SIL!" tegas Al sambil memegang tangan gua dengan keras.
Gua melepaskan tangan gua dari genggaman tangan Al dan Al membuang tangan gua dengan keras. Gua menatap Al dengan tajam, Al pun menatap gua dan tidak memedulikan cewek itu.
"MAKSUD LO APA, AL?!" teriak gua dengan geram, "LO SELINGKUH?!"
"LO YANG BUAT GUA HARUS SELINGKUH!" Al ikut berteriak sambil tangannya yang menunjuk ke wajah gua.
"MAKSUD LO APA?!" teriak gua dihadapan Al, "APA SALAH GUA, SEHINGGA LO SELINGKUH?!" teriak gua frustasi.
"SIL, LO GAK PERNAH MENCINTAI GUA! BAHKAN LO LEBIH MENCINTAI BONDAN DARIPADA GUA!" jelas Al, "GUA INI PACAR LO, SIL. BUKAN BONDAN!"
Gua tidak habis pikir Al berkata seperti itu. Dari mana dia dapat pikiran seperti itu?
"GUA CINTA SAMA LU ALBERT! GUA GAK PERNAH MENCINTAI SIAPAPUN KECUALI LO!" jelas gua berharap Al percaya.
"Kita enggak bisa lanjutin hubungan ini, Sil." ujar Al, "Gua cape harus membahagiakan orang yang gua cintai sedangkan dia enggak mencintai gua sedikit pun." suara Al terdengar letih.
Gua menahan tangis atas ucapan Al memutuskan gua demi cewek itu.
"LO HARUS PERCAYA GUA AL! GUA CINTA SAMA LO!" gua yang nampak begitu frustasi, "GUA HANYA CINTA SAMA LO AL! LO HARUS PERCAYA!" teriak gua dihadapan Al.
Wajah Al nampak kecewa, dia sudah membulatkan keinginannya untuk putus dari gua.
Cewek itu mendekati gua dan menampar gua. Ketika tamparannya hampir mengenai wajah gua, gua mendengar suara yang tidak tahu darimana asalnya.
Gua terkejut dan terbangun dari tidur gua. Jantung gua berdetak dengan cepat. Gua melihat umi mengantungkan seragam sekolah gua, lalu pergi.
Tangan gua memegang dada merasakan detak jantung.
"Ternyata cuma mimpi." ujar gua lirih.
Gua melihat jam ternyata sudah pukul 5.00, gua bergegas ke kamar mandi setelah itu memakai seragam dan menyiapkan pelajaran hari ini.
Pukul 5.30, gua menunggu di depan rumah menunggu abi mengantarkan gua. Umi sedang menyiram tanaman di dekat pagar rumah.
Bondan mengklakson motornya dan berhenti di depan rumah gua. Dia tersenyum ke arah umi lalu ke arah gua.
"Yuk bareng, Sil!" Bondan mengajak gua berangkat bareng.
"Bondan udah pindah ya? Sejak kapan?" tanya umi gua.
__ADS_1
"Baru kemarin umi." ujar Bondan tersenyum.
Abi mengeluarkan motor dengan pakaian rapi, siap untuk berangkat kerja, tetapi sebelum berangkat kerja, abi mengantarkan gua terlebih dahulu.
"Kamu ikut Bondan aja, Sil." ujar abi, "Lagian kan kamu satu sekolah sama dia."
"Iya, Sil. Bareng Bondan aja." umi gua setuju.
Gua mengiyakan dan salam kepada umi dan abi gua. Bondan turun dari motor dan ikut salam ke abi dan umi gua, setelah itu kami berangkat sekolah.
"Nitip Syla ya, Dan." ujar umi yang terdengar samar karena kami telah melaju.
Rian terlihat berdiri di depan rumahnya. Bondan menghentikan motor di hadapan Rian, lalu bersalaman dengan Rian.
"Woy, bro!" ujar Bondan sembari bersalaman dengan Rian.
"Woy!" lalu gua ikut bersalaman dengan Rian.
"Udah pindahnya?" tanya Rian.
"Baru kemaren gua sekolah." jawab Rian. Gua tersenyum.
"Lu lagi nungguin Gilang ya?" tanya Bondan basa-basi.
"Gua duluan yak." ujar Bondan dan di iyakan oleh Rian.
"Duluan, Yan." ujar gua dan Bondan langsung mengemudikan motornya.
Di perjalanan tidak ada yang berbicara. Hening. Bondan fokus ke depan memperhatikan jalan sembari mengemudikan motor. Gua menikmati perjalanan.
Kami memasuki gerbang sekolah dan menuju ke parkiran sekolah yang telah disiapkan oleh sekolah untuk para murid.
Siswa dan siswi yang tengah nongkrong di parkiran sekolah seketika pandangannya ke arah gua dan Bondan. Gua menutup wajah dengan tangan karena malu.
Sebagian siswi ada yang kegirangan melihat wajah Bondan yang tampan dan ada yang keheranan melihat Bondan.
Bondan memarkirkan motor paling ujung, jadi gua dan Bondan menjadi pusat perhatian mereka.
Bondan mematikan motornya, lalu gua turun dari motor. Setelah itu Bondan turun.
"Rambut lu berantakan, Sil." ujar Bondan sembari merapikan rambut gua.
Gua membiarkan Bondan merapikan rambut gua dan gua tersipu malu karena sikap Bondan.
"Nah, udah." Bondan tersenyum sembari menatap gua.
__ADS_1
Gua membalas senyuman Bondan, lalu kami berjalan melewati para siswa dan siswi yang sedang nongkrong.
Tinggi badan gua dan Bondan adalah 165, jadi tinggi badan kami sama. Gua tidak terlihat pendek dan Bondan tidak terlihat tinggi, karena tinggi kami sama.
Bondan berjalan tanpa memedulikan mata yang sedang memperhatikan kami. Dia terlihat kalem dan dingin. Sesekali gua melihat wajah Bondan, dan Bondan tersenyum kepada gua.
Ketika kami hendak sampai kelas. Terlihat sebagian teman-teman sekelas gua yang cewek sedang duduk di teras depan kelas dan pandangannya berubah ke arah gua dan Bondan.
Gua tersenyum ke arah mereka dan mereka juga tersenyum. Bondan masuk kedalam karena cowok lagi di dalam kelas dan gua gabung dengan teman cewek gua yang berada di depan kelas.
"Kok lu bisa bareng sama Bondan?" tanya Farah.
"Iya, tadi gua ngebegal Bondan di jalan." jawab gua tersenyum.
Teman-teman gua terlihat heran.
"Ga serius lu kampret!" ketus Dhea. Gua tertawa.
Terdengar bunyi bel apel masuk yang begitu keras. Seluruh siswa dan siswi berkumpul di tengah lapangan untuk mengikuti apel.
Gua dan teman-teman sekelas gua berjalan menuju lapangan utama. Dan segera baris menurut kelas masing-masing. Satu kelas terbagi menjadi tiga baris. Akhirnya cowok kelas gua menjadi 2 barisan dan cewek 1 barisan.
Seluruh murid berdiri mengikuti panduan guru untuk merapikan barisan. Setelah semua telah rapi, kami semua dipersilahkan duduk.
Kepala sekolah berdiri di depan dan mengumumkan siswa-siswi yang mendapatkan beasiswa bebas spp selama satu semester karena mendapatkan peringkat 1 di kelasnya.
Bondan berada di barisan yang sejajar dengan gua dan dia duduk di samping gua. Dia melirik sekilas ke arah gua, ketika gua menyadari tatapan Bondan, dia memalingkan wajah ke depan.
Setiap siswa atau siswi yang peringkat 1 dipanggil ke depan di mulai dari jurusan pemesinan. Tiba jurusan elektro, kepala sekolah memanggil nama gua, gua pun berdiri segera maju ke depan.
Gua melihat Bondan dari depan dan dia menatap gua dengan wajah bangga.
Semua siswa mendengarkan sedikit nasehat kepala sekolah, kemudian gua dan siswa-siswi yang berada di depan diberi penghargaan. Setelah itu kami duduk kembali ke barisan kelas masing-masing.
"Gua gak nyangka lu pinter." ujar Bondan bangga.
Gua tersenyum malu. Lalu, apel dibubarkan untuk memulai pelajaran di kelas masing-masing.
Gua dan teman-teman sekelas gua berjalan menuju bengkel elektro, karena sekarang seharian full di bengkel.
"Pengap banget nih, bengkel." ujar Bondan lirih. Gua tersenyum.
"Lo harus terbiasa, karena ini smk bukan sma." jawab gua tersenyum.
Kami memasuki ruangan lab bengkel elektro yang terdapat banyak komputer dengan kursi dan meja yang hanya muat lima orang.
__ADS_1