UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
Bab 28


__ADS_3

Gua menonton film dengan nyaman. Seseorang itu tidak lagi memperhatikan gua meskipun Al sedang ke toilet. Gua merasa lega.


Gua terlalu asyik menonton film sehingga gua tidak sadar dengan Al yang pergi ke toilet. Gua mengecek jam tangan dan terkejut karena Al sudah 20 menit tidak kembali ke bioskop.


Gua mulai panik karena takut terjadi apa-apa dengan Al di toilet. Gua menunggu 5 menit lagi, jika Al tidak datang dalam 5 menit, gua akan menyusulnya di toilet.


Setelah 5 menit kemudian, Al tak kunjung datang. Gua pun langsung memakai tas lalu bergegas ke toilet. Gua menuruni tangga dengan tergesa-gesa, ruangan yang gelap membuat gua tidak bisa melihat garis tangga.


Gua terjatuh karena jalan begitu gelap. Gua bisa merasakan seseorang memperhatikan gua yang terjatuh. Ketika gua terjatuh, terdapat uluran tangan untuk membantu gua berdiri.


Gua langsung memegang erat uluran tangan tersebut untuk berdiri. Ruangan begitu gelap sehingga gua tidak melihat seseorang yang membantu gua bendiri.


"Terima kasih." ujar gua dan melanjutkan menuruni tangga dengan lebih hati-hati.


Seseorang itu pun duduk kembali di kursinya yang berada di samping tangga.


Gua segera menuju toilet pria. Gua menunggu di depan toilet pria, berharap Al keluar dari toilet. Al tidak keluar-keluar dari toilet sehingga gua panik.


Rasanya gua ingin masuk ke dalam toilet pria, tetapi gua mengurung niat karena takut melihat apa yang seharusnya gua lihat.


Terdapat tukang bersih-bersih yang hendak masuk ke dalam toilet pria. Gua mencegah tukang bersih-bersih tersebut untuk masuk toilet.


"Mas ... Mas. Gini, tadi aku kesini bareng pacarku dan dia pamit ke toilet. Dia udah lama gak balik-balik dari toilet, aku takut dia kenapa-kenapa di dalam. Tolong cek setiap yang ada di dalam ya, mas. Nih, ini fotonya." gua menunjukkan foto Al kepada tukang bersih-bersih tersebut.


"Nih, mas. Bawa aja hp aku ke dalam buat liat mukanya." gua memberikan hp gua kepada tukang bersih-bersih tersebut untuk memudahkan dia mencari Al.


Tukang bersih-bersih itu pun memandang wajah Al,


"Oh, oke mba. Mba, tunggu di sini sebentar yak."


Tukang bersih-bersih itu masuk ke dalam toilet sambil membawa hp gua.


Gua menunggu tukang bersih-bersih itu keluar dari toilet dengan gelisah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, tukang bersih-bersih itu keluar dari toilet. Gua langsung menanyakan kabar Al kepadanya.


"Gimana, mas? Dia masih ada di dalam sana?" tanya gua berharap Al masih ada di dalam toilet.


"Maaf, mba. Tidak ada yang pacar, mba di dalam toilet. Mungkin dia udah pulang." jawab tukang bersih-bersih sambil mengembalikan hp kepada gua.


"Mas nya udah cek di setiap sudut?" ulang gua memastikan.


"Udah, tidak ada orang yang ada di dalam foto itu." jawab tukang bersih-bersih yang tampak tidak berbohong.


"Makasih yak, mas."


Tukang bersih-bersih itu pamit pergi untuk membersihkan toilet pria. Gua mengangguk kepadanya. Gua semakin khawatir ketika Al tidak ada di dalam toilet.


Gua menelepon Al berharap Al mengangkatnya. Nomor Al tidak dapat dihubungi. Gua terus menelepon Al berulang kali.


Orang-orang mulai nampak berhamburan keluar dari pintu bioskop karena film nya sudah selesai.


Gua semakin panik karena Al tidak ada. Gua mengikuti orang-orang yang berjalan keluar sambil terus menelepon Al. Gua juga mengirim sms kepada Al atau mengirim pesan online. Tetapi Al sedang tidak aktif.


Gua berjalan menuju parkiran lantai bawah dengan menuruni beberapa eskalator sambil terus menelepon. Orang-orang disekitar gua memperhatikan gua yang sedang gelisah.


Hingga sampai di lantai paling bawah, gua berlari menuju parkiran motor mall dan melihat tempat yang menjadi tempat Al parkir motor telah di gantikan dengan motor orang lain.


Gua terkejut melihat motor Al yang tidak ada dan malah melihat motor orang lain yang tengah terparkir di tempat Al parkir motor.


"Al, ninggalin gua?" badan gua terasa lemas mengingat Al yang tadi izin ke kamar mandi.


Gua menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya untuk menenangkan diri. Gua masih tidak percaya, kenapa Al ninggalin gua?


Gua pun mulai menangis yang hanya mengeluarkan air mata tidak dengan isakan. Orang-orang di parkiran, ada yang menyadari tangisan gua meskipun gua memakai masker, mereka menatap gua dengan heran. Dan ada juga yang tidak menyadari tangisan gua.


Gua berusaha untuk tidak menangis dan berjalan menuju luar mall. Gua teringat dengan Bondan, akhirnya gua menelepon Bondan. Tetapi Bondan tidak menjawab.

__ADS_1


"Ayo dong angkat telepon gua, Dan." gumam gua dengan berusaha agar tidak terdengar terisak-isak.


Gua seperti melihat Bondan dari seberang jalan mall, gua mengamati dengan baik untuk memastikan, tetapi tidak mungkin Bondan berada di sini. Gua tidak menghiraukan dan terus menelepon Bondan.


Sesekali gua melihat jam yang menunjukkan hari semakin sore. Gua terus berusaha menenangkan diri agar tidak menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang akibat tangisan gua.


Terdapat seorang cowok yang berjalan dengan tidak memperhatikan jalan karena fokus menatap hp nya, sehingga dia menabrak gua yang sedang berdiri di depan mall.


Gua terkejut ketika dia menabrak gua. Tubuh gua sedikit terdorong ke samping karena cowok itu menabrak gua dengan keras. Hp nya terjatuh ke bawah dan gua langsung mengambilnya lalu memberikan kepadanya tanpa melihat wajahnya.


Gua melanjutkan menelepon Bondan dan tidak menghiraukan si pejalan kaki tersebut.


Si cowok itu menatap hp nya yang tidak rusak lalu memperhatikan gua yang sedang menelepon.


"Sisil? Lo Sisil, kan?" tanya cowok itu sambil menatap gua.


Gua menoleh ketika cowok itu memanggil nama gua. Gua tidak mengenali wajah cowok itu karena dia memakai penutup wajah.


"Siapa?" tanya gua penasaran.


Cowok itu pun melepaskan masker, sehingga gua dapat mengenali cowok tersebut.


"Rian? Lo ngapain di sini?" gua terkejut melihat Rian. Di sisi lain gua merasa lega karena terdapat seseorang yang gua kenal.


"Gua lagi jalan-jalan aja. Lo sendiri ngapain, di sini? Lo sendirian? Gila, lo berani banget." puji Rian sambil tersenyum.


Rian sepertinya tidak tahu tentang gua yang berada di sini. Dan dia bersikap normal terhadap gua. Gua melepaskan masker dan topi.


"Lo sama siapa? Gua ikut lu pulang, yak." pinta gua kepada Rian.


Rian menatap wajah gua dengan heran.


"Gua kesini sendiri. Ya ... sekedar cari angin aja, sih," jawab Rian.

__ADS_1


"Lu kalo mau ikut gua ayok, gua udah selesai kok cari anginnya."


__ADS_2