UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
Bab 29


__ADS_3

Rian menatap gua dengan heran,


"Lu, gak beli apa-apa Sil?" tanya Rian yang tidak melihat gua membawa jinjingan.


"Enggak. Udah jam setengah 6 sore, pulang sekarang, yuk." suara gua terdengar parau.


"Yaudah, ayok." Rian berjalan menuju parkiran motor dan gua mengikuti Rian dari belakang.


Kami keluar parkiran menuju kasir pembayaran parkir. Rian memberikan karcis kepada penjaga motor dan penjaga memeriksa karcis Rian.


Gua mengingat kembali kejadian Al yang meninggalkan gua sendirian di bioskop. Air mata gua pun mulai mengalir kembali.


Penjaga motor tak sengaja melihat gua yang menangis tanpa bersuara. Gua langsung memalingkan wajah untuk menghindari si penjaga motor.


"Itu ceweknya kenapa nangis, mas?" tanya penjaga motor kepada Rian.


Rian langsung menoleh ke belakang untuk melihat keadaan gua. Gua mengusap air mata ketika Rian melihat gua.


Penjaga motor itu memberikan uang kembalian kepada Rian, lalu membukakan plang pintu keluar. Rian melajukan motornya keluar dari lingkungan mall.


Rian mengarahkan kedua spionnya ke arah gua, sehingga dia terus melihat gua yang terus-terusan mengusap air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


Rian tidak bertanya perihal gua yang terus menerus menangis. Orang yang sedang di perjalanan pun memperhatikan gua yang menangis. Gua memakai masker dan topi kembali untuk menutupi kesedihan gua.


Rian terus melajukan motornya dengan cepat sambil terus melihat keadaan gua lewat kaca spion. Gua menengadah menatap langit agar tidak menangis, tetapi itu hanya sia-sia.


Al begitu tega meninggalkan gua sendirian. Gua sangat marah terhadap Al. Tetapi gua tidak bisa melakukan apapun. Gua mengingat tidak ada masalah apapun gua dengan Al. Kami baru saja berbaikan kemarin. Kenapa Al seperti ini?


Adzan magrib berkumandang. Jarak antara rumah gua dengan bioskop lumayan jauh. Sehingga kami masih belum sampai.


"Rian, kita salat dulu, yuk." ujar gua.


Rian mengangguk tanda setuju. Rian memberhentikan motornya di masjid yang terdapat di pinggir jalan. Gua turun dari motor, dan umi menelepon gua. Gua mengatur napas terlebih dahulu agar tidak terdengar sedih.


"Halo, Umi. Ada apa?" tanya gua kepada umi.


"Kamu masih dimana, Sil?" suara umi terdengar khawatir.


Rian berjalan menuju tempat wudhu pria.


"Sisil lagi di jalan. Sekarang lagi mau salat dulu. Sisil pulang sama, Rian. Umi gak usah khawatir." ujar gua meyakinkan umi.


"Hati-hati di jalan, yak."

__ADS_1


"Iya." umi menutup telepon dan gua langsung menuju tempat wudhu perempuan.


Gua mengaca di tempat wudhu yang telah disediakan kaca. Mata gua sembap karena menangis. Lalu gua berwudhu.


Rian sudah berada di dalam masjid dan sedang duduk menunggu iqomah. Selesai wudhu, gua langsung menuju tempat salat perempuan.


Tidak banyak perempuan yang salat di sini, hanya 2 orang perempuan dan di tambah gua jadi 3. Mereka juga sedang melakukan perjalanan gua gak tahu kemana tujuan nya.


Iqomah dikumandangkan, dan para jamaah segera salat.


Setelah selesai salat, kedua perempuan itu keluar lebih dulu. Gua belum melepas mukena. Gua berdoa yang kemudian air mata gua kembali mengalir dengan deras.


Rian mengintip ke tempat salat perempuan untuk memastikan gua ada di sana atau tidak. Gua menyadari keberadaan Rian lalu melepaskan mukena lalu melipatnya.


Gua berjalan keluar masjid bersama Rian. Halaman masjid mulai sepi. Hanya gua dan Rian yang masih berada di sini.


Rian duduk di lantai luar masjid, lalu gua duduk mengikuti Rian yang duduk.


"Sil, gua gak tau, lu lagi ada masalah apa? Cuma, lu gak bisa pulang kalo lu terus-terusan nangis. Gua jamin, lu tadi berangkat dengan riang kan? Nah, masa iya lu pulang dalam keadaan sedih? Lu harus nenangin diri lu dulu sebelum ditanya-tanya orang tua lu di rumah. Apa yang gua bisa lakuin biar lu gak sedih lagi? Setidaknya biar lu tenang, gitu?" ujar Riang menenangkan.


Perkataan Rian memang benar, gua gak bisa pulang dengan keadaan gua yang menyedihkan.


"Yaudah, Yan. Kita makan dulu aja. Gua mau makan sate." jawab gua mencoba tersenyum.


"Nah, gitu dong senyum. Lu keliatan jelek kalo lagi sedih. Sumpah, gua gak bohong."


Rian mengangkat tangannya yang mengacungkan 2 jari, yaitu telunjuk dan tengah.


Gua tertawa melihat kelakuan Rian. Rasanya Rian telah meringankan beban yang terasa sakit.


Kami pun meninggalkan masjid. Gua menghela napas dalam-dalam lalu tersenyum, menghilangkan beban dan melupakan kejadian hari ini.


"Sil, hari ini cuaca cerah. Lu jangan sedih. Nanti bisa-bisa, langit berubah jadi mendung terus hujan." Rian mencoba menggombal kepada gua.


Gua tertawa mendengar gombalan Rian yang receh. Gua memukul pundak Rian dengan pelan karena malu.


"Sejak kapan lu bisa gombal?" tanya gua sambil tertawa.


Rian tertawa karena gua yang tersipu malu.


"Lu gak tau sih. Gua itu di sekolah adalah raja gombal." Rian membanggakan diri.


Gua mengernyit tidak percaya sambil tertawa.

__ADS_1


"Lu mau dengerin gombalan gua yang lain ga?" Rian menawarkan gombalan sambil terus melajukan motornya.


"Hmm ... boleh."


"Ketika aku menutup mata. Semuanya gelap, tetapi hatiku selalu cerah. Kamu tau alasannya kenapa?"


"Gak tau ... emangnya kenapa?" gua penasaran.


"Karena di hatiku ada kamu yang selalu membuat duniaku menjadi cerah. Aciat ciat ciat." jawab Rian dengan cepat.


Gua tertawa mendengar gombalan Rian, yang mungkin mampu membuat cewek lain luluh karena gombalannya.


"Ih ... gombalan macam apa itu." gua dan Rian tertawa.


"Sil, bapak kamu tukang ikan, yak?" Rian yang mencoba menggombal lagi.


"Bukan. Bapak gua karyawan negeri." jawab gua sambil tertawa.


"Kok tau, gitu!" suruh Rian.


"Ulang! Sil, bapak kamu tukang ikan, yak?"


"Kok tau?" jawab gua menuruti perintah Rian.


"Pantesan bau amis, haha." Rian tertawa terbahak-bahak.


Gua mendengus kesal lalu tertawa.


"Itu bukan gombalan kampret!" jawab gua kesal.


Rian terus tertawa, akhirnya gua ikut tertawa. Gua sudah melupakan masalah gua saat ini.


Rian menghentikan motor di depan tukang sate. Karena gua meyuruhnya untuk berhenti di tukang sate. Kami pun memesan sate beserta nasi untuk kami santap.


Kami pun duduk di tempat yang sudah disediakan. Asap dari daging yang dipanggang sangatlah beraroma sedap.


Tempat sate ini lumayan ramai oleh orang yang sedang singgah dari perjalanan. Gua dan Rian memilih duduk di barisan depan sambil menghadap jalanan.


Si ibu tukang sate menghampiri meja kami sambil membawa pesanan gua dan Rian. Lalu ibu itu beranjak meninggalkan gua dan Rian. Setelah itu, si ibu datang lagi sambil menyuguhkan minum kepada kami.


"Duh, mas nya ganteng, mba nya cantik. Pasangan yang cocok." puji si ibu sambil menaruh minum di meja. Gua dan Rian bertatapan sambil tersenyum.


Setelah itu kami pun menyantap sate dengan nasi karena gua dan Rian sudah merasa lapar.

__ADS_1


-•-


__ADS_2