
Sekejap gua panik dan mengingat-ngingat kapan terakhir kali gua memainkan hp.
"Tadi kan hp gua dicas di tasnya Bondan." gua menepuk jidat karena lupa mengambil hp dari tas Bondan.
"Yaudah lah ... besok juga ketemu lagi disekolah." ujar gua lirih sembari menutup badan dengan selimut untuk menikmati tidur siang, karena setiap harinya gua pulang sekolah sore.
-•-
Bondan menuju kamarnya untuk menyimpan tas dan mengganti baju. Lalu Bondan merebahkan badannya di atas kasur sembari mengeluarkan hp dari dalam saku celananya.
"Sisil lagi ngapain, yak?" gumam Bondan bertanya kepada dirinya sendiri,
"Ah, gua telepon aja lah ...." Bondan mencari nama Sisil dari kontaknya, lalu menelepon Sisil.
Bondan mendengar suara hp yang terdengar kecil berasal dari dalam tasnya. Dia tidak menghiraukan suara tersebut, mungkin Bondan salah dengar.
Bondan terus menelepon Sisil, tetapi Sisil tak kunjung mengangkatnya. Suara tersebut terus terdengar di dalam tas Bondan. Akhirnya dia mengambil tas yang digantungnya di lemari untuk memastikan suara tersebut.
Bondan membuka tasnya, terlihat nyala hp dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan hp yang tengah dicas di powerbank dari dalam tas untuk memastikan hp siapa yang berada di dalam tasnya. Hp tersebut sudah terisi 50%, lalu Bondan menyabut kabel casan dari hp tersebut.
"Loh, ini kan, hp Sisil," Bondan menatap hp yang dipegangnya.
"kok dia bisa lupa sih? Mana gua juga lupa,"
Bondan berbicara kepada dirinya sendiri sembari membaringkan tubuhnya lagi.
"Pasti dia lagi panik deh, hpnya enggak ada, tapi ... gua inepin dulu di rumah gua, boleh kali, yak? Gua juga penasaran isi dari hpnya Sisil." Bondan tersenyum sembari memandang hp Sisil.
Bondan membuka layar kunci hp Sisil yang hanya tinggal digeser. Sisil tidak mengunci hpnya dengan kode ataupun sandi, sehingga memudahkan Bondan untuk melihat-lihat isi hp Sisil.
Pertama, Bondan membuka riwayat panggilan. Di sana terdapat banyak panggilan masuk dari Albert, pacarnya Sisil. Sisil sama sekali tidak menghapus riwayat panggilannya, sehingga Bondan menemukan riwayat panggilan tersebut penuh dengan nama Albert yang bertuliskan "My Dear."
"Dia ngomongin apa aja sama, Al? Sampe penuh gini riwayat panggilannya,"
Bondan menyeret setiap riwayat panggilan ke atas dengan jarinya karena hp Sisil layar sentuh.
__ADS_1
"Gila ... ini riwayat dari tahun berapa masih ada sampe sekarang?!" Bondan terkagum dengan tahun yang terdapat di riwayat tersebut.
"Ini sih tahun pas gua smp kelas 7! Ni anak ... apa coba faedahnya nyimpen ini semua?"
Bondan masih tidak percaya terhadap Sisil yang sama sekali tidak menghapus riwayat panggilan tersebut yang sudah dari 3 tahun yang lalu.
Bondan merasa bosan melihat riwayat panggilan Sisil yang penuh dengan Al, lalu mengembalikannya ke menu utama.
Kedua, Bondan membuka pesan. Sebenarnya Bondan sudah mengira isi dari riwayat pesan Sisil pasti sama seperti riwayat panggilan, namun ia tetap membukanya.
"Kayaknya gua bakal nemu harta karun, nih, di riwayat pesan, Sisil! Haha ...."
Bondan tertawa sembari menyeret pesan ke atas layar untuk membaca pesan paling bawah. Bondan harus sedikit bersabar untuk melihat isi pesan yang dari 3 tahun yang lalu.
"Nah, ketemu ...." Bondan tersenyum memandang pesan paling bawah dari Al.
Bondan segera membuka isi pesan tersebut untuk membacanya. Ia tampak serius membaca awal mula Sisil yang mulai saling mengirim pesan dengan Albert.
Bondan membaca dengan sangat detail setiap pesan antar Sisil dan Albert. Perasaan Bondan nampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kenapa Sisil lakuin itu? Apa alasan dia sampe mau nerima Albert sebagai pacarnya?"
Pikiran Bondan dipenuhi tanda tanya tentang rasa ingin tahunya terhadap Sisil yang menerima Albert.
"Sekarang ... perasaan Sisil terhadap Al, gimana yak?"
Bondan seolah memiliki harapan untuk memiliki Sisil setelah tahu bahwa Sisil tidak mempunyai perasaan terhadap Al. Disisi lain, Bondan merasa khawatir jika perasaan Sisil sudah berubah terhadap Al.
Bondan mematikan hp Sisil dan tidak lagi membaca pesan dari hp Sisil. Dia memutar lagu dari hpnya kemudian tertidur.
Hari sudah semakin sore, tetapi Bondan masih menikmati tidurnya setelah pulang dari sekolah tadi siang. Bondan pun terbangun karena teriakan mamahnya dari luar yang sedang mengangkat jemuran.
Perlahan Bondan membuka mata dan melihat ke arah jam dinding untuk melihat pukul berapa sekarang. Bondan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Bondan melanjutkan menulis novel di laptopnya yang sudah lama dia tulis dari beberapa bulan sebelumnya. Bondan memiliki satu novel yang telah rilis, tetapi tidak ada yang mengetahui tentang hal itu kecuali ibunya.
__ADS_1
Bondan memang suka menulis, cerita yang ditulisnya hanya fiktif belaka. Bondan mulai menulis karya pertamanya sejak kelas 5 sd dan dia berhasil menamatkan novel pertamanya sebelum naik ke kelas 6 sd.
Dia sangat memperhatikan tanda baca pada naskah yang dibuatnya untuk menghasilkan novel yang berkualitas.
Awalnya Bondan tidak berniat untuk mengirimkan naskahnya kepada penerbit. Namun pada saat novel itu telah berhasil dia tamatkan, Bondan langsung mengirimkannya kepada 2 penerbit.
Dari dua penerbit, akhirnya terdapat satu penerbit yang bersedia untuk menerbitkan karya Bondan yang pertama. Tidak tanggung-tanggung, naskah Bondan diterbitkan oleh penerbit pemilik toko buku terbesar di Indonesia.
Novel yang Bondan tulis sudah tersebar di Indonesia. Bukunya pun laris manis sampai sekarang, hingga telah dicap "Best Seller" karena banyak peminatnya. Bondan tidak pernah cerita apapun tentang hobi menulisnya atau bahkan tentang karyanya yang best seller.
Bondan pun tidak mencantumkan namanya di naskah tersebut, Bondan hanya memakai nama samaran untuk dinamai di novelnya. Sekarang, dia sedang menulis novel kedua.
"Bondan ...." ujar ibunya Bondan dari luar kamar.
"Iya, mah. Ada apa?" jawab Bondan.
"Besok mamah mau ke kuburan bapa kamu. Kamu mau ikut gak?" ibu Bondan membuka pintu kamar untuk berbicara kepada Bondan.
Ayah Bondan sudah meninggal sejak Bondan kelas masih bayi. Ibunya pun menikah lagi setelah satu tahun meninggal ayahnya. Bondan memiliki adik, dan adiknya adalah hasil dari pernikahan ibunya dengan bapa tirinya. Umur Bondan dengan adiknya hanya berbeda 2 tahun.
"Jam berapa? Besok Bondan gak tau pulang jam berapa." jawab Bondan sembari terus menulis di laptopnya.
"Gimana besok aja, lah. Kamu udah mandi?" tanya ibu Bondan.
"Udah," jawab Bondan sembari mematikan laptopnya karena telah menyelesaikan satu bab.
Ibu Bondan keluar dari kamar Bondan, lalu melipat pakaian.
"Makan, gih!" ujar ibunya sembari melipat pakaian.
Bondan beranjak dari meja belajarnya menuju dapur untuk mengambil sesuatu. Tiba di dapur, terlihat adik Bondan yang sedang menata makanan di atas piring. Bondan membuka kulkas untuk mengambil coklat yang dibelinya kemarin malam.
Ketika Bondan melihat isi kulkas, coklat yang dibelinya kemarin malam tidak ada.
"Mah ... coklat yang kemarin Bondan beli dimana?" ujar Bondan kepada ibunya. Adik Bondan sedang asyik makan di meja makan.
__ADS_1
"Mamah gak tau." jawab ibu Bondan.