
Tak lama kemudian, nomor yang tidak dikenal itu menelepon gua, lalu gua menjawabnya.
"Hai." ujar seseorang di telepon.
"Maaf ini siapa ya?" jawab gua spontan.
"Ini Sifa kan?" tanya seseorang itu.
"Hah, maaf anda salah sambung!" jawab gua.
"Engga kok, gua Albert. Yang masuk ruang wawancara bareng lu, ingat kan?"
Spontan gua langsung teringat orang yang bernama Albert. Karena dia satu-satunya orang yang menurut gua mirip orang Jepang, haha.
"Oh Albert, iya gua inget. Tapi nama gua bukan Sifa tapi Syla atau Sisil."
Gua kenal sama Al baru tadi pagi di ruang wawancara sekolah. Tapi gua heran, kenapa dia punya nomor hp gua ya? kan gua dulunya bukan teman sekelas dia. Lagi pula, tidak ada teman-teman gua yang kenal dengan Al.
Gua langsung menanyakannya pada Al perihal dari mana dia dapat nomor hp gua? Dia menjawab bahwa dia mendapatkannya dari fb gua. Ternyata gua sama Al sudah berteman di Fb sejak lama, tapi gua baru kenal dia. Gua sama Al juga pernah saling chattan di mesengger membahas tentang cara-cara mengedit video.
Dia sering ngirim video di status Fb dan gua rasa video yang dia bikin itu menarik. Gua ngechatt dia di messenger dan dia membalas chatt gua. Seterusnya kami saling chattan di messenger tanpa gua tahu wajah asli Al seperti apa. Tetapi sekarang gua tau Al karena kita bakal jadi teman satu sekolah.
"Ngomong-ngomong, ada apaan lu nelpon gua?!" selidik gua.
"Gua panggil lu Sisil aja ya," ujar Al. Gua mengiyakan tanda setuju.
"Sil, gua suka sama lu sejak kita chattingan di messenger. Tadinya gua pikir gua gila karena gua suka sama orang yang enggak tau wujudnya seperti apa," lanjutnya
__ADS_1
"Tapi pas tadi pagi di ruang wawancara. Gua tau itu lu Sil. karena gua sering liat foto lu. Gua pikir lu bakal kenal sama gua. Ternyata enggak, haha."
Gua terkejut mendengar ungkapan Al yang secara mendadak. Badan gua gemetar seolah dialiri aliran listrik. Seketika gua membisu seribu bahasa. Gua berpikir, tidak jadi masalah jika gua nolak Al, kita bisa jadi teman biasa.
Tapi, kalau gua nerima Al juga bakal bagus buat gua. Kalau gua terima Al, gua bisa baikan sama Fayza. Dengan begitu dia tidak bakal cemburu lagi ke gua, karena gua sudah punya pacar.
"Sil, hey. Lu mau engga jadi pacar gua?" Al membuyarkan lamunan gua.
"Tapi gua enggak ada perasaan apapun sama lu Al. Tapi bakal gua coba sih." ungkap gua menjelaskan.
"Jadi artinya?" Al memastikan.
"Gua terima lu Al."
Al terdengar senang mendengar jawaban gua. Gua tidak tahu perasaan gua harus gimana sekarang? Gua juga tidak tahu ke depannya bakal kaya gimana hubungan ini. Karena Al adalah pacar pertama gua. Buat bikin Al bahagia, gua ikut tertawa seolah gua juga senang.
"Yaudah Al. Gua mau pergi dulu," pamit gua kepada Al.
"Iya, makasih ya Sil." ujar Al. Gua tebak, Al sedang senyum-senyum sendiri.
Gua menutup telpon dari Al. Gua berbohong kalau gua mau pergi. padahal itu cuman alasan gua untuk tidak berlama-lama teleponan sama Al. Gua juga kasian sama Al, jika kita teleponan lebih lama lagi, takutnya pulsanya habis gara-gara teleponan sama gua, haha.
Umi membuka pintu kamar gua secara tiba-tiba. Gua terkejut dan melihat ke arah umi. Gua menyembunyikan hp ke belakang dan tersenyum ke arah umi untuk tidak membuat umi penasaran.
Umi menyuruh gua makan karena umi telah selesai masak sayur. Gua mengiyakan lalu umi menutup pintu kamar gua. Gua bergegas menyimpan hp gua di laci lalu keluar kamar menuju dapur.
Gua masih tidak percaya untuk kejadian hari ini. Pertama, gua kejedot pintu di sekolah yang menyebabkan jidat gua benjol.
__ADS_1
Kedua, gua turun dari dari pagar betako yang menyebabkan gua keseleo, kemudian Bondan gendong gua lalu Fayza teman gua cemburu.
Ketiga, gua jadian sama Al tanpa perasaan hanya demi menjadikan Al sebagai alasan kepada Fayza bahwa gua tidak ada hubungan apapun selain teman biasa sama Bondan.
Gua meletakkan nasi di piring kemudian menyiramkan sayur kol di atasnya. Ditambah dengan tambahan telur dadar dan sambel. Asli mantap guys. Masakan emak emang paling juara. Hahaha, antara enak dan laper itu beda tipis. Gua membawa makanan ke ruang tengah untuk menyantapnya sambil menonton tv.
Gua menonton drama sore hari. Entah kenapa, gua baper sendiri karena menonton drama di tv sore ini. Gua senyum-senyum sendiri melihat tiap adegan romantis di tv.
Seperti saat tiba-tiba hujan di jalan, terus cowok dan ceweknya mencari tempat untuk berteduh. Kemudian ceweknya kedinginan. Si cowok memberikan jaket yang dipakainya untuk si cewek. Haha, gitu aja mampu bikin gua baper padahal settingan.
Gua terus menyuapkan makanan ke mulut sambil menonton tv tanpa berpaling. Gua menonton tv sambil ngehalu. Gua terus membayangkan berada di posisi cewek yang ada di dalam drama yang gua tonton, pasti seneng.
Gua teringat bahwa gua baru jadian sama Al. Gua berpikir, Al bakal romantis kayak cowok yang ada di drama atau sama sekali berbeda seratus persen seperti cerita dalam drama. Halu gua ketinggian deh, haha.
Lagian kan gua jadian sama Al tanpa perasaan. Emangnya gua bakal bahagia jika emang Al tipe cowok yang romantis ke ceweknya? Tapi kan perasaan pasti bakal muncul jika Al terus bersikap romantis ke gua.
Jika cewek lain saja bisa meleleh hanya karena melihat wajah Al yang tampan. Apalagi gua yang diperlakukan seperti Putri Kerajaan, bakal terbang roh gua karena sikap Al. Haha halu! Tapi berharap boleh kan?
-•-
Hari ini adalah hari minggu. Setiap hari minggu gua selalu menyempatkan waktu untuk membantu umi membereskan rumah seperti mencuci baju dan menyetrika. Setelah gua mencuci baju, gua bergegas ke rumah Fayza.
Gua biasa menyetrika baju sore hari, sambil menunggu bajunya kering, gua memilih main ke rumah Fayza
Gua melihat pintu rumah Fayza yang tertutup. Gua berpikir kalau Fayza sedang tidak berada di rumah. Tapi gua terus melanjutkan jalan menuju rumah Fayza untuk memastikan pikiran gua benar atau salah.
Gua mengetuk pintu rumah Fayza tetapi tidak ada seorang pun yang menyaut. Sampai gua mengetuk yang ketiga kalinya, gua masih belum mendengar jawaban adanya orang di rumah Fayza. Akhirnya gua memilih berhenti mengetuk pintu dan berniat pulang dari rumah Fayza.
__ADS_1