UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 8


__ADS_3

Semua mata tertuju ke arah gua tanpa berkata-kata. Gua tersenyum sambil mencari keberadaan Al. Al tengah duduk di belakang bersama keempat sahabatnya sambil tersenyum.


"Berapa menit, Pak?" gua yang menghampiri Pak Irfan.


"Wuihh, rekor paling lama. Dua puluh lima menit." Pak Irfan dengan nada meledek. Gua tersenyum malu.


"Kan lagi sakit kaki, Pak, hehe. Biasanya kan Sisil paling pertama." Pak Irfan mengangguk kemudian gua menghampiri teman-teman sekelas gua.


"Terima kasih untuk hari ini. Waktu tinggal sepuluh menit lagi. Mau beberes silahkan atau mau jajan dulu silahkan. Jangan lupa ganti baju kalian karena pelajaran bapak sudah selesai." Pak Irfan yang menutup kelas olahraga hari ini.


"Mau pulang ini pak. Ga usah ganti lah pak." ujar Egi sahabat Al.


"Iya terserah," jawah Pak Irfan,


"Yasudah, kalian boleh pergi sekarang."


"Iya Pak." jawab kelas gua dan kelas Al secara bersamaan, yang kemudian berdiri lalu meninggalkan Pa Irfan.


Gua dan teman-teman gua berjalan menuju kelas. Tak lama, bel pulang berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas karena waktu belajar telah selesai.


Gua berjalan pelan ke arah kelas untuk mengambil tas. Al datang menghampiri gua dengan memakai tas yang hanya di gendongnya sebelah tangan.


"Kamu tunggu aja di sini, biar aku yang ngambil tas." gua menurut apa kata Al.


Al menaiki tangga kelas gua yang berada di lantai dua. Gua melihatnya berjalan menyusuri lorong kelas. Lalu, Al masuk ke dalam kelas gua. Setelah itu dia turun menghampiri gua.


"Pulang bareng?" Ajak Al.


Gua berpikir bagaimana bisa Al mengajak gua pulang bareng padahal rumahnya jauh dari rumah gua dan tidak searah.


"Rumah kamu jauh dari rumah gua, Albert." ujar gua yang tertawa ke arah Al.


"Dih, ngomongnya lu gua." Al yang tertawa sambil mengelus kepala gua. Lalu, Putri datang menghampiri kami.


"Aku pulang bareng Putri." gua yang menunjukan Putri sambil tersenyum kepada Al.

__ADS_1


Al menghentikan elusan tangannya di kepala gua sembari tersenyum. Al melirik sekilas ke arah Putri dan mengembalikan pandangannya ke arah gua. Lalu, Al pamit kemudian berjalan meninggalkan gua.


Gua mengalihkan pandangan ke arah Putri yang sedang membuang muka.


"Yuk." ajak gua.


"Udah pacarannya?" ujar Putri ketus. Gua tersenyum seolah tanpa dosa.


"Menurut lo?" jawab gua sembari tersenyum ke arah Putri.


Putri menggeleng sambil tersenyum tipis. Kemudian kami berjalan pulang. Kaki gua sudah tidak berjalan pincang seperti tadi, cuman masih terasa berdenyut-denyut.


Rumah gua dan rumah Putri hanya beda dusun. Maka dari itu gua selalu pulang sekolah berjalan kaki dengan Putri.


Jika berangkat sekolah kami selalu diantar orangtua kami masing-masing menggunakan motor. Gua pertama kali mengenal Putri di smp.


"Lu suka banget ya sama Al?" Putri yang membuka pembicaraan selama perjalanan pulang. Gua tersenyum jika mengingat sikap Al yang manis terhadap gua.


"Iyalah, Al selalu buat gua melting dengan sikapnya." gua yang sembari mengingat Al.


"Tau ga? dulu gua pernah satu sekolah sama Al." Putri yang menceritakan kejadian masa lalu.


"Hah? Serius? Kok lu enggak pernah cerita?!" suara gua yang setengah meninggi karena kaget.


"Dulu Al pernah sekelas sama gua dari kelas satu sampe kelas 4 sd." Putri yang mencoba menjelaskan.


"Terus?" gua yang masih penasaran.


"Kalo ga salah pas kelas 4 semester 2, dia pindah ke Jepang." Putri yang terus menjelaskan.


"Ke Jepang? Mau ngapain dia ke Jepang?" selidik gua.


"Katanya mau nguli, haha." Putri tertawa dan mulai tidak serius. Gua mendorong Putri dengan pelan. Putri terus tertawa.


"Masa lu pacarnya enggak tau apa-apa tentang pacar lu itu?" ledek Putri.

__ADS_1


"Ya gua enggak tau. Al enggak pernah cerita apapun tentang dia." keluh gua.


"Berarti lu nya juga yang enggak mau tau apa-apa tentang Al. Lu ga pernah kan nyari tau tentang kehidupan Al?" wajah Putri yang memastikan.


Gua terdiam karena yang Putri bicarakan itu memang benar. Gua tidak pernah mencari tahu tentang kehidupan Al. Tetapi gua seperti itu karena gua menghargai privasi orang, siapapun itu.


"Udahlah gausah dipikirin, gak penting juga buat lu tau, Sil." ujar Putri. Gua terdiam sejenak.


"Tapi Alvaro romantis kan?" Putri yang meledek sambil tersenyum kepada gua.


Seketika gua kembali mengingat Al yang begitu bersikap manis terhadap gua. Tapi untuk sikap Al yang menemani gua itu. Menurut gua sangat romantis di banding drama korea. Dan gua tidak bisa melupakan kejadian tersebut.


Sebenarnya terdapat banyak sikap romantis Al kepada gua, tetapi mungkin sikap Al yang menemani gua ketika smp yang tidak bakal gua lupakan.


Itulah sekilas masa-masa ketika gua smp dan sekarang gua sudah smk. Banyak dari alumni smp gua memilih smk yang gua pilih. Termasuk sahabat Al yang bernama Egi dan Noval, tetapi teman sekelas gua tidak ada satupun yang se-smk dengan gua.


Gua memilih jurusan elektro seperti Egi. Sedangkan Noval memilih jurusan pemesinan. Gua sekelas bareng Egi setelah menerima hasil psikotes. Gua tidak membayangkan bagaimana jadinya gua sekelas dengan sahabat Al.


Sebenarnya tidak jadi masalah jika gua sekelas dengan Egi, tapi gua sering kesel sama Egi dan Fadli yang selalu rese di smp, tetapi setelah gua kenal dia, ternyata Egi itu menyenangkan. Saat ini kami telah memasuki semester dua.


-•-


"Eh, katanya mau ada murid baru loh di kelas kita." ujar teman sekelas gua, Dita.


Semua teman-teman gua heboh penasaran setelah mendengar kabar tersebut.


"Cewek apa cowok, Dit?" tanya teman gua yang lain. Gua hanya menyimak dan tidak begitu tertarik mencari tahu meskipun terdapat sedikit rasa penasaran.


"SEMOGA CEWEK YA TUHAAANN!" teriak salah satu cowok yaitu Revan.


"HUUH." sorak semua cewek termasuk gua menyorakkan perkataan Revan.


"GUA TAU KALIAN CEMBURU! TAPI PLIS, GUA GA MAU SAMA KALIAN SEMUA!. KALIAN BUKAN LEVEL GUA!" teriak Revan yang menjelaskan dengan nada alay dan tangannya menunjuk ke arah barisan cewek di kelas gua.


"AMIT LO REVAN! SIAPA JUGA YANG MAU SAMA LO!" teriak Farah.

__ADS_1


Semua tertawa dengan perkataan Revan yang kemudian dibalas oleh Farah. Farah memang sering adu mulut dengan Revan. Revan yang konyol dengan Farah yang dingin. Pokoknya mereka seperti Kucing dan Anjing.


"OH JADI FARAH GA MAU SAMA GUA? OKE GAPAPA. GUA MASIH PUNYA SISIL, KOK. IYA GA SIL?!" nada Revan yang sedikit merendah lalu melirik ke arah gua sambil mengangguk-ngangguk tidak jelas.


__ADS_2