
Bondan mengernyit mendengar penjelasan gua yang memutarbalikkan fakta, lalu Bondan tertawa.
"Lo harusnya berterima kasih sama punggung gua, karena punggung gua ada disaat lo takut. Lagipula, bukan salah gua, punggung gua ada di depan lo. Gua kan lagi bawa motor." Bondan menjelaskan dengan sangat detail.
Gua tertawa mendengar penjelasan Bondan yang begitu detail. Kami pun tertawa sambil menikmati langit sore.
Setelah itu, Bondan tiba di depan gerbang rumah gua. Gua pun turun dari motor lalu berterima kasih kepada Bondan sambil tersenyum.
Bondan mengangguk sambil tersenyum dan meninggalkan gua. Gua pun segera masuk ke dalam rumah.
-•-
Bondan sedang menulis novel di malam hari. Dia berniat menghabiskan waktu semalaman untuk menulis beberapa bab pada novel keduanya.
Menulis adalah hobi Bondan disaat sedang bosan atau ketika dia mempunyai bahan cerita untuk dia tulis di novelnya.
Meydita masuk ke kamar tanpa permisi. Dia menghampiri Bondan yang sedang duduk di kursi meja belajar sambil menulis menggunakan laptop. Bondan tidak menghiraukan Meydita yang masuk ke kamarnya.
"Bang, aku cuma punya 7 coklat." ujar Meydita sambil mengulurkan tujuh batang coklat kepada Bondan.
"Gak." jawab Bondan dengan singkat, Bondan menulis dengan serius sambil memakai kacamata anti radiasi.
Meydita menyimpan 7 coklat tersebut di dekat laptop Bondan.
Meydita berjalan menuju tempat tidur Bondan sambil menghela napas keluh. Lalu Meydita membaringkan badan di kasur sambil menatap langit-langit kamar.
"Bang, aku beli itu juga dari hasil tabunganku, tau," Meydita dengan suara parau sambil menatap langit-langit.
"Terus?" jawab Bondan acuh tak acuh sambil terus menatap laptopnya.
"Aku cuma bisa membeli 7 coklat, bukan 10," Meydita terus mengeluh.
"Oh...,"
"Tujuh aja boleh kan?" pinta Meydita.
"Gak!"
"Aku gak punya uang lagi, Bang. Tabunganku udah abis semua buat beli 7 coklat,"
"Oh...,"
__ADS_1
"Jadi boleh ya, hanya tiga coklat juga," Meydita meminta mohon. "Segitu juga, aku udah nepatin janji." keluh Meydita.
"Gak." Bondan terus tidak mengacuhkan apa yang Meydita bicarakan dan malah terus fokus pada laptopnya.
Meydita terdiam beberapa saat sambil menatap langit-langit kamar Bondan. Meydita sedang memikirkan bagaimana cara agar abangnya menerima coklat yang hanya bisa dia belikan 7 coklat untuk menepati janji sekaligus mengganti coklat milik Bondan yang dimakannya waktu itu.
"Yaudah, entar aku minta uang ke mamah." Meydita memikirkan cara agar bisa meminta uang ke ibunya untuk membeli 3 coklat lagi.
"Gak boleh," Bondan menjawab dengan cepat. "yang makan coklat abang itu, kamu, bukan mamah." tegas Bondan.
Meydita menghela napas dengan berat.
"Berarti harus nunggu aku buat ngumpulin tabungan lagi," jelas Meydita.
"kasih waktu seminggu buat aku, dapetin 3 coklat lagi. Harga 1 coklatnya kan 29 ribu. Jadi, kalo besok mah gak bisa." ujar Meydita menjelaskan.
"Gak," Bondan masih acuh tak acuh pada Meydita.
"Pokoknya, besok harus ada 10 coklat! Perjanjiannya kan lusa, bukan minggu depan!" Bondan mengingatkan waktu perjanjian.
"Aku juga beli 7 coklat gak harus nunggu lusa!" Meydita kesal terhadap Bondan yang berkeras hati untuk mendapatkan 10 coklat.
"Orang lain mah, abangnya yang ngasih coklat, bukan memeras coklat ke adiknya."
"Dari tadi jawabnya cuma 'Oh, Gak,' atau 'Gak, Oh.' doang!" jawab Meydita kesal.
"Hmm...," Bondan tersenyum kecil sambil menatap laptop.
Meydita tidak melihat Bondan tersenyum, karena Meydita terus menatap langit-langit kamar Bondan dan tidak memperhatikan Bondan.
"Gak, bersyukur amat sih jadi orang!" dengus Meydita kesal.
"Harusnya bersyukur dong punya adik yang nepatin janji buat beli coklat. Yak, meskipun kurang 3, sih ... tapi kan, 7 coklat aja udah banyak!" Meydita menjelaskan.
"Kalo masih kurang, berarti belum nepatin janji. Kan perjanjiannya 10 coklat, bukan 7 atau 5 atau 9 coklat," jelas Bondan,
"Apa yang harus disyukurin? Punya adek yang gak bisa nepatin janji atau punya adek yang gak tau minta maaf? Mana tukang bolos lagi kalo sekolah." jelas Bondan.
Meydita terdiam mendengar perkataan Bondan yang menyudutkannya.
"Aku kan cuma makan coklat 1, Bang, bukan sepuluh!" tegas Meydita.
__ADS_1
"Tapi aku ikhlas beli 10 buat ngeganti coklat yang aku makan!"
Bondan tersenyum mendengar suara Meydita yang mulai meninggi.
"Kan, kamu sendiri yang ngomong mau ganti 10 coklat, yak abang sih gak bisa nolak." ledek Bondan.
"Tapi kan, ini gak adil bang!" ujar Meydita kesal.
"Lagian, kamu sendiri kenapa gak bilang dulu ke abang kalo kamu mau coklat punya abang? Kalo kamu bilangkan, abang bisa aja ngasih kamu, bukan malah jadi pencuri kecil, cita-cita kamu mau jadi pencuri, Mey?" jelas Bondan serius.
"Sejak kapan kamu kalo punya salah sama orang gak minta maaf? Malah sombong seolah bisa ngeganti dengan yang lebih banyak?" Bondan melirik Meydita yang menatap langit-langit kamar.
Meydita merasakan tatapan Bondan dari meja belajar, Meydita pun menatap Bondan.
"Yang abang mau, kamu itu ngaku, terus minta maaf! Bukan malah merasa paling bisa ngeganti sama yang lebih! Diajarin sama siapa kamu kayak gitu?" sorot mata Bondan tajam menatap Meydita.
Mata Meydita berkaca-kaca mendengar perkataan Bondan yang menyudutkannya.
"Coba abang tanya, kamu merasa udah minta maaf belum ke abang?" tanya Bondan dengan menatap Meydita serius.
Meydita mengubah posisinya menjadi duduk di tepi kasur. Mata Meydita berpaling dan menatap lantai kamar Bondan sambil menunduk.
Meydita pun menangis karena dia merasa, apa yang dikatakan Bondan benar.
"Aku minta maaf, Bang." ujar Meydita terisak.
Bondan memandang Meydita yang menunduk sambil mengeluarkan air mata.
"Kalo kamu mau, kamu tinggal bilang, abang juga bakal ngasih, terus abang juga bisa beli yang baru, kalo abang mau. Toh, abang udah punya penghasilan sendiri, gak minta ke mamah bapa. Tapi, abang gak mau punya adik pencuri, gak tau terima kasih dan minta maaf." jelas Bondan.
Meydita mendengarkan Bondan yang memarahinya sambil terisak. Meydita berpikir, memang benar abangnya sudah mempunyai penghasilan sendiri, bahkan Meydita jarang melihat Bondan meminta uang kepada ibu dan ayahnya, malahan Bondan yang memberi uang. Biaya sekolah Bondan pun hasil dari pekerjaannya, bukan dari ibu dan ayahnya.
"Janji gak bakal gitu lagi?" tanya Bondan kepada Meydita.
Meydita mengangguk.
Bondan beranjak dari kursinya, lalu memeluk Meydita, adiknya. Meydita pun menangis semakin terisak-isak sambil memeluk Bondan dengan erat. Bondan mengelus kepala Meydita dengan lembut.
"Jangan gitu lagi, yak. Jangan lupa minta maaf kalo kamu ngelakuin kesalahan, ke siapa pun itu." ujar Bondan lembut sambil mengelus rambut Meydita.
"Iya, janji." Meydita menjawab dengan suara parau.
__ADS_1
Meskipun Meydita adalah adik tiri Bondan, tetapi Bondan sangat menyayangi Meydita. Terlebih lagi, umur Meydita hanya berbeda 2 tahun dengan Bondan.