
"Gua aneh sama Al-Farisi, kenapa dia gak pernah muncul di acara apapun, atau platform manapun hanya untuk sekedar berbagi pengalaman? Padahal, penulis yang masih pemula ingin berada di acara-acara yang mengundangnya untuk menambah popularitas atau berbagi pengalaman." Sisil berbicara panjang lebar mengenai Al-Farisi.
"Mungkin dia malu udah tua, haha." Bondan menjawab Sisil asal-asalan sambil tersenyum.
Sisil mengernyit mendengar jawaban Bondan yang asal-asalan, "Lu mah gak serius, ah."
"Ya, mana gua tau lah tentang Al-Farisi. Tanyain aja ke dia lewat Ig (Instagram)nya."
"Nama Ig nya apa?" tanya Sisil penasaran.
"Kalo gak salah sih, @iruninearun." Bondan coba menebak.
"Tu orang terlalu misteri. Nama dibukunya Al-Farisi, sedangkan nama Ig nya Iruninearun."
"Yaudah, sekarang cek aja dulu."
Gua membuka tas untuk mengambil hp untuk mengecek ig penulis tersebut.
Ketika gua hendak mengecek ig penulisnya, hp gua berdering karena ada panggilan masuk. Gua menatap hp panggilan yang bertuliskan "My Dear" yang berarti Albert.
"Albert nelpon...," gua memberitahu Bondan sambil menatapnya,
"Gua angkat dulu, yak." izin gua kepada Bondan.
Gua menerima telepon dari Al. Bondan menatap dengan penasaran.
"Halo, sayang." suara Al dari balik telepon.
"Halo ... ada apa?" tanya gua penasaran. Hubungan gua dan Al sedang tidak membaik sejak 2 hari yang lalu.
"Halo sayang, aku mau jelasin semuanya." ujar Al,
"Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan cewek yang yang kamu dengar di dalam telepon." Al mencoba menjelaskan.
Gua mendengarkan setiap kata yang Al ucapkan kepada gua. Bondan memperhatikan gua dengan heran dan gua menatap Bondan seolah ingin diberi nasehat tentang hubungan gua dengan Albert.
Albert berbicara begitu panjang yang menjelaskan tentang suara cewek yang gua dengar pada saat itu.
Awalnya gua tidak percaya apa yang dikatakan Al. Namun dari cara bicaranya, Al benar-benar seperti tidak ada hubungan apapun dengan cewek di luar sana.
__ADS_1
Al terus meminta maaf dan mencoba meyakinkan kembali agar gua percaya kepadanya.
Hati gua seketika luluh dengan ucapan Al yang terus memohon agar gua memaafkan dia, dan gua pun memaafkan Al.
Hubungan gua dan Al mulai membaik. Gua tidak lagi curiga tentang cewek yang berada di dalam telepon itu.
Setelah hubungan kami membaik, Al pamit menutup telepon, lalu telepon pun di tutupnya.
Bondan memandang gua dengan penasaran
"Ada apa?" tanya Bondan kepada gua,
"Siapa yang menelepon, lu?" Bondan penasaran.
"Albert." jawab gua singkat,
"Udah lah lupakan. Tadi nama ig nya apa?"
Gua mengalihkan pertanyaan Bondan, dengan menanyakan nama instagram penulis yang kami sedang bicarakan sambil menggenggam hp untuk mencari ig tersebut.
Gua berhasil menemukan akun sosial media dari penulis terkenal, lalu gua langsung melihat-lihat setiap postingan yang dia posting dalam instagram.
Bondan masih terlihat menatap gua dengan serius. Gua keheranan melihat Bondan yang menatap gua dengan tatapan serius.
"Kenapa? gua tahu gua cantik. Gak usah lihatin gitu juga kali," ujar gua sambil terus menatap hp.
"Sil, gua mau ngomong serius sama lu. Menurut gua, Al itu bukan cowok yang baik. Dia sama sekali gak pantes sama lo, Sil." Bondan menatap gua dengan serius.
Gua terkejut mendengar Bondan yang berkata demikian. Seketika gua marah kepada Bondan, lalu gua menatap Bondan dengan tajam.
"Lo tau apa tentang Albert? Lo sama sekali nggak punya hak untuk menentukan siapa yang pantas untuk gua! Gua tahu lu cinta sama gua ... tapi bukan dengan cara menjelek-jelekkan Al untuk lu, bisa mendapatkan gua," gua berbicara dengan marah kepada Bondan sambil berdiri dari tempat gua duduk.
Bondan terdiam mendengar gua yang membela Albert. Gua masih berdiri dengan kedua tangan terkepal, sambil menatap bondan dengan marah.
"Jangan kepedean, gua udah nggak suka lagi sama lo. Gua hanya kasihan melihat lo yang menyedihkan," Bondan berbicara dengan tegas. Dia masih terduduk di atas motornya.
Gua terdiam mendengar perkataan Bondan yang begitu menyakitkan. Gua terkejut seolah tidak percaya dengan perkataan Bondan barusan.
Bondan bilang gua menyedihkan, tetapi gua tidak merasa semenyedihkan seperti yang dia pikirkan.
__ADS_1
Suasana berubah menjadi menegangkan. Sebelumnya, gua tidak pernah berpikir akan berantem dengan Bondan hanya karena masalah Albert.
Parkiran mulai sepi. Semua siswa dan siswi sudah tidak terlihat di parkiran. Hanya tinggal gua berdua dengan Bondan yang masih berada di parkiran.
Bondan menatap sekeliling parkiran yang telah sepi, lalu dia mengajak gua pulang.
"Mau tetep di sini atau pulang?" Ujar Bondan sambil menyalakan motor.
Bondan telah bersiap melajukan motornya. Bondan melirik ke arah gua yang masih berdiri sambil menatapnya dengan marah.
Gua masih terdiam tidak menanggapi ajakan Bondan, lalu Bondan melajukan motornya dan meninggalkan gua.
"IIHH ... BONDAN! LU BIKIN GUA KESEL TAU GAK?" teriak gua kepada Bondan yang sedang melajukan motornya.
Suara gua menggema di sepanjang parkiran. Mustahil jika Bondan tidak mendengarkan apa yang gua teriakan.
Bondan sudah terlihat jauh dari parkiran dan menuju luar gerbang sekolah menggunakan motor dengan ngebut.
Gua menunggu beberapa saat setelah Bondan meninggalkan gua di parkiran, berharap Bondan akan kembali menjemput dan meminta maaf. Setelah beberapa menit menunggu, Bondan tak kunjung datang menjemput atau untuk sekedar minta maaf.
Gua pun tidak ada pilihan lain selain berjalan, karena Bondan benar-benar meninggalkan gua di parkiran atau mungkin di sekolah. Gua terus berjalan dengan kesal menuju gerbang sekolah sambil mengumpat-ngumpat kepada Bondan.
Hari sudah semakin sore. Parkiran sangat sepi dan hanya angin sore yang menemani gua berjalan di tengah luasnya parkiran sekolah.
Banyaknya pohon di parkiran sekolah membuat suasana berubah menjadi merinding setiap angin menggerakkan daun-daun dari setiap pohon. Daun-daun itu bergerak sesuai dengan arah mata angin.
Gua terus menatap lurus dan tidak menghiraukan daun-daun yang bergerak oleh angin. Sepanjang jalan parkiran, gua terus berusaha memberanikan diri agar tidak membuat diri gua semakin takut karena suasana yang begitu horor.
Sesekali gua menarik napas, lalu mengeluarkannya dari hidung, untuk menenangkan diri dari rasa takut.
"Gua berani! Gua udah smk dan gua harus berani!" gumam gua dengan tegas kepada diri sendiri sambil mengepalkan kedua tangan dengan kuat.
"Bondan bener-bener keterlaluan, ninggalin gua di parkiran!" gumam gua kesal dengan napas yang keluar dengan tegas.
Gua berhasil memberanikan diri gua dari rasa takut, lalu gua berjalan menuju gerbang sekolah untuk keluar dari lingkungan sekolah dan hendak pulang.
Gua sudah berada di luar sekolah sambil terus berjalan mengikuti arah jalanan yang diaspal.
__ADS_1