UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 21


__ADS_3

Gua menyimpan tas gua di kursi sebelum menjawab pertanyaan Disty.


"Iya, tadi kena macet." jawab gua yang bergabung dengan teman-teman cewek sekelas.


"Dihukum gak?" tanya Dhea.


"Enggak. Gerbangnya masih kebuka lebar," jawab gua. "Tadinya gua pikir juga bakal kena hukum, tapi gua masih beruntung ga dihukum."


Bel masuk berbunyi dengan sangat keras. Kami pun segera duduk di kursi masing-masing untuk mengikuti pelajaran, tak lama kemudian masuklah seorang guru ke kelas kami. Pelajaran pun dimulai.


***


Teman-teman gua pada keluar kelas setelah jam istirahat. Gua memutuskan untuk tidak kemana pun selain tidur di kelas sehingga hanya gua yang berada di dalam kelas sendirian.


Teman-teman gua mengajak makan di kantin untuk memakan sesuatu atau sekedar jajan terus nongkrong di bawah pohon, tetapi gua menolak. Gua lebih memilih tinggal di kelas.


Gua tidur di atas lantai menggunakan tas sebagai bantal untuk menopang kepala. Suasana kelas begitu hening karena kelas yang sepi. Hanya terdengar suara siswa dan siswi dari kelas lain yang melawati kelas gua sambil mengobrol kemudian suara tersebut hilang dari luar.


Hari ini gua merasa sangat mengantuk, setiap menit di jam istirahat sangatlah berharga untuk dipakai tidur.


Tadi malam gua menghabiskan waktu dengan membaca novel, gua terlalu asyik membaca sehingga gua tidak sadar bahwa gua membacanya hingga larut malam. Novel yang gua baca pun belum tamat dibaca.


Sesekali teman gua masuk ke dalam kelas hanya untuk mengambil sesuatu, gua tidak memedulikan siapa pun yang masuk dan terus menikmati tidur di jam istirahat.


Gua masih bisa mendengar pintu kelas yang tertutup dan terbuka. Ada seseorang yang membuka pintu lalu masuk ke dalam kelas, setelah itu gua mendapati dirinya yang ikut tertidur di samping gua. Gua pun berbalik posisi tidur untuk melihat siapa yang tidur di sampingnya.


Ketika gua membuka mata, terdapat Dhea yang ikut tertidur dengan gua di kelas tanpa berkata-kata. Gua pun menutup mata gua kembali untuk melanjutkan tidur.


Tak lama setelah itu, pintu terbuka kembali diiringi suara gerombolan cowok sekelas yang memasuki kelas dengan heboh. Biasanya memang mereka langsung ke kelas jika sudah selesai makan dari kantin.


"Sahur ... Sahur." suara yang sedikit berteriak untuk mengganggu gua dan Dhea.


Gua sama sekali tidak menghiraukan mereka, tetapi Dhea terbangun begitu mereka mengganggu kami. Dhea mengubah posisinya menjadi duduk dengan posisi kaki lurus.


"Berisik dong, lu!" tegas Dhea kepada segerombolan anak cowok sekelas dengan tampak kesal.


"Syutt ... Syutt,"


Revan mengeluarkan suara desisan dengan menutup bibirnya menggunakan jari telunjuk sebagai tanda jangan berisik kepada anak-anak cowok yang lain.


Anak cowok kelas gua pun mengikuti Revan yang berdesis kemudian tidak terdengar suara dari mereka lagi.

__ADS_1


Dhea tertawa melihat kelakuan anak-anak cowok sekelasnya. Gua tersenyum sambil tertidur mendengar suara desisan anak cowok.


"Yeh, lu malah ngeledek gua." ujar Dhea setengah tertawa kepada Revan dan anak cowok yang lain.


"Katanya tadi gak boleh berisik," jawab Revan setengah tertawa.


"Giliran diem juga salah." Revan tertawa.


"Kaum cowok emang selalu salah di mata cewek." lanjut Firman tersenyum.


"Ah, lu mah!" Dhea kehabisan kata-kata dan membaringkan tubuh di samping gua lagi lalu tertidur.


Sebagian anak cowok ada yang tertidur di barisan cowok, dan sebagian lainnya sibuk bermain game online.


Kelas menjadi hening kembali. Gua bisa melanjutkan mimpi dalam tidur. Beberapa menit kemudian anak-anak cewek masuk ke kelas dengan mendobrak diiringi suara heboh seperti yang dilakukan anak cowok tadi.


"Woy, berisik! Udah kayak ngajak tawuran aja." ujar Daffa sambil memainkan gamenya.


"Gua telpon lu, Daf!" ancam Dita sambil memegang hpnya.


"Ih, jangan, Dit. Gua lagi push rank, nih." jawab Daffa yang tengah serius menatap hp. Dita tertawa.


Anak-anak cewek duduk di kursi siapapun dengan membawa jajanan. Gua dan Dhea tetap tertidur.


"5 menit lagi bel masuk." tambah Dita mengingatkan. Gua dan Dhea tidak menggubris.


Setelah 5 menit kemudian bel dinyalakan. Farah membangunkan gua dan Dhea, lalu kami pun terbangun.


Gua duduk untuk mengumpulkan nyawa terlebih dahulu sebelum duduk di atas kursi gua. Dhea sudah duduk di kursinya, gua bangkit dan duduk di kursi milik gua.


"Lu dari tadi tidur, Sil?" tanya Farah yang berada di samping kursi gua yang gua jawab dengan anggukan kepala.


Gua masih menguap setelah bangun tidur. Sebenarnya gua tidak benar-benar tertidur karena suara berisik yang sesekali mengganggu tidur gua.


"Lu gak laper gitu?" Farah bertanya lagi.


"Enggak." jawab gua singkat.


Terdapat guru yang masuk ke kelas untuk memulai pelajaran. Kami kembali hening.


-•-

__ADS_1


Tidak lagi ada mata pelajaran yang harus kami pelajari. Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 sore. Bel pulang pun sudah dinyalakan.


Gua berjalan keluar kelas dengan Bondan menuju parkiran motor. Seperti biasa, kami menunggu terlebih dahulu sebelum pulang. Gua duduk di batu lagi dan Bondan duduk di atas motornya.


"Hp gua mana?" tanya gua kepada Bondan.


Bondan membuka tasnya lalu mengeluarkan hp milik gua. Gua menerima hp yang gua titip ke Bondan.


"Makasih, yak." ujar gua.


Bondan mengangguk sambil mengetik sesuatu dengan serius di hpnya. Gua memasukkan hp ke dalam tas tanpa mengecek apapun dari hp yang gua titip kepada Bondan.


Pandangan gua tertuju kepada pintu gerbang yang macet dan Bondan yang mengetik.


"Lu lagi nulis apaan, sih?" tanya gua penasaran.


"Bukan apa-apa," jawab Bondan yang menyimpan hpnya di saku baju seragam,


"Emangnya, lu sering tidur di kelas yak, Sil?" tanya Bondan penasaran.


"Enggak. Gua tadi ngantuk aja karena tadi malem." jawab gua menatap Bondan.


"Emangnya tadi malem lu ngapain aja? Sampe kesiangan pula."


"Tadi malem gua keasyikan baca novel. Pas gua liat jam, eh, udah tengah malem."


"Emangnya yang lo baca novel apaan?"


"Upaya Menyembunyikan Hati," jawab gua.


"Gua belum selesai baca novelnya, makanya tadi malem dikebut buat namatin, tapi tadi malem juga gua gak berhasil namatin soalnya keburu ngantuk."


"Emangnya gak bisa baca lain kali aja gitu? Kan sayang kalo lu kesiangan lagi cuma gara-gara baca novel." Bondan menasihati.


"Hmm ... gua bisa aja sih baca di waktu lain. Tapi novel itu tuh beneran rame, Dan."


"Iya, gua tau." jawab Bondan,


"Itukan novel best seller yang lagi banyak diomongin banyak orang. Penulisnya Al-Farisi, kan?"


"Iya, gua penasaran deh sama Al-Farisi. Pokoknya gua ngefans sama dia," Sisil bercerita kepada Bondan.

__ADS_1


"Kira-kira dia orangnya gimana, yak? Masih muda atau udah tua? Dia cowok atau cewek? Gua pengen ketemu sama dia." Sisil bertanya kepada Bondan sambil menghayal sosok Al-Farisi.


"Biasanya kalo udah terkenal sih, makin susah buat ketemu sama dia." jawab Bondan menatap Sisil.


__ADS_2