UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
Bab 32


__ADS_3

Bel masuk telah dibunyikan, semua teman-teman gua satu per satu masuk ke dalam kelas. Gua sedang berkumpul di dalam kelas bersama teman-teman gua yang cewek di samping pintu sambil main bola bekel. Gua mendapatkan giliran ketiga dari 7 orang.


Bondan masuk ke dalam kelas dengan santai. Gua memperhatikan Bondan dengan heran. Lalu Bondan duduk di kursinya kemudian mengeluarkan hp dari dalam saku celana.


Bondan menyadari tatapan gua, lalu dia menoleh ke belakang untuk memastikan. Ketika Bondan menoleh, gua terdiam dan malah terus menatapnya. Bondan menatap gua dengan memasang wajah heran.


Bondan mengangkat dagunya sedikit ke atas sebagai isyarat keheranan. Gua menggeleng sambil tersenyum kepada Bondan. Bondan memalingkan wajah dan menatap hp nya sambil mengetik sesuatu.


Gua masih memperhatikan Bondan dengan heran meski Bondan tak lagi menatap gua.


"Sil, giliran lu yang main." ujar Faras mengagetkan lamunan gua.


Gua pun langsung memalingkan wajah dan hendak memainkan bola bekel karena giliran gua. Desi memberikan bola bekel dan cangkang siput laut kepada gua.


Ketika gua hendak memainkan bekel, secara tiba-tiba seorang guru masuk ke dalam kelas. Kami yang sedang duduk di samping pintu kelas terkejut segera beranjak dan bergegas duduk di tempat masing-masing.


Tangan gua masih memegang bola bekel dan kerang. Gua dan teman-teman berlari ke tempat masing-masing meski sudah terlambat untuk guru tidak melihatnya.


Tiba-tiba kerang yang gua pegang terlepas dari genggaman dan berhamburan kemana-mana. Gua panik dan mengambil kerang-kerang yang berhamburan terlebih dahulu sebelum duduk di kursi.


Farah membantu gua mengambil kerang yang berhamburan kemana-mana, setelah itu kami duduk di tempat kami dan guru mata pelajaran jam ini sudah duduk di kursinya.


Arif menyiapkan untuk berdoa, setelah berdoa kami berdiri lalu memberi salam. Guru pun menjawab salam kami, setelah itu kami duduk kembali.


Sekarang sudah memasuki pelajaran ketiga. Guru yang masuk ke dalam kelas kami adalah guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, namanya Bu Hesti.


Bu Hesti adalah guru yang baik dan tidak galak. Seharusnya kami gak usah merasa panik ketika Bu Hesti masuk secara tiba-tiba, karena Bu Hesti tidak pernah menghukum siswa atau siswi. Tetapi kami menghormati guru.


Kami semua mengeluarkan buku pelajaran Bahasa Indonesia kemudian membukanya untuk melihat materi minggu lalu.


"Kemarin materinya nyampe mana?" tanya Bu Hesti sambil membolak-balikan buku paket bahasa Indonesia.


"Mendalami puisi, Bu." jawab gua setelah melihat materi minggu lalu.


"Udah ditulis semua kan materi puisi?" kata Bu Hesti memastikan sambil melihat gua.

__ADS_1


"Udah, Bu. Materinya udah ditulis semua." jawab gua tersenyum sambil menatap Bu Hesti.


Bu Henti beranjak dari tempat duduk lalu menulis di papan tulis.


"Bu-at-lah, pu-i-si ber-te-ma be-bas. La-lu prak-tekan di-depan!" Revan mengeja tulisan yang ditulis Bu Hesti.


"Buatlah puisi bertema bebas. Lalu praktekan di depan!" ujar Revan dengan lancar.


"Nah, sekarang kalian buat puisi temanya terserah kalian. Kalo udah bikin puisi praktekan di depan nanti ibu nilai." ujar Bu Hesti menjelaskan.


"Berapa baris, Bu?" tanya Revan kepada Bu Hesti.


"Terserah, asal jangan kependekan," jawab Bu Hesti, "Ada yang mau ditanyakan lagi?"


"Cukup, Bu." jawab gua.


"Nah, selamat mengerjakan!" Bu Hesti duduk kembali ke kursinya.


Gua bingung harus membuat puisi apa? Secara, gua bukan seorang yang puitis. Gua menengok kanan kiri hanya untuk mengetahui apa yang teman gua buat. Sepertinya mereka sudah punya gambaran puisi yang akan ditulis.


Gua memperhatikan Bondan diam-diam untuk melihatnya mengerjakan tugas. Gua pikir Bondan bakal kebingungan, tapi Bondan malah terlihat santai seolah menulis puisi adalah hal yang mudah.


Gua menengadah ke langit-langit kelas untuk mencari inspirasi menulis puisi.


"Menulis puisi itu harus menggunakan perasaan agar tercipta puisi yang membawa seseorang mengerti akan perasaan yang ditulis ke dalam puisi." gumam gua sambil terus menatap langit-langit.


"Hah?" suara Farah yang dari samping tempat duduk gua.


Gua menoleh sekejap ke arah Farah yang tempat duduknya berada di samping gua, "Apa?" tanya gua heran kepada Farah.


Farah menatap gua dengan heran,


"Tadi lu bilang apa, Sil?" tanya Farah sambil mendekatkan telinganya kepada gua.


"Gua gak bilang apa-apa, udah sana jauh-jauh!" gua menjauhkan kepala Farah dari samping gua dengan menggunakan tangan kanan.

__ADS_1


Farah merampas buku gua dari meja dan melihat buku yang masih kosong,


"Astaga ... lu belum nulis juga?" tanya Farah yang suaranya sedikit keras sambil melihat buku gua.


Bu Hesti dan teman-teman gua langsung menoleh ke barisan gua karena suara Farah yang terdengar di satu ruangan.


Gua merampas buku gua dari genggaman Farah lalu menutupi sebagian wajah gua yang hanya terlihat mata dengan buku.


"Farah, lu udah bangunin macan lagi tidur." bisik gua kepada Farah.


Bu Hesti dan teman-teman gua sudah tidak lagi memandang ke arah gua. Teman-teman gua melanjutkan menulis puisi.


"Apa?" tanya Farah kepada gua.


"Gua punya temen kok idoy banget sih?" gumam gua dengan sabar.


"Enggak." jawab gua kepada Farah.


Farah melanjutkan menulis puisi. Gua meletakkan buku di meja lalu mulai menulis puisi. Awalnya gua menulis kalimat pertama dengan asal, tetapi setelah menulis kalimat pertama sepertinya gua tahu apa yang harus gua tulis meski tidak mewakili perasaan sendiri.


Gua mencoba menjadi orang lain agar gua bisa tahu apa yang harus gua tulis, setidaknya puisi ini mewakili perasaan seseorang meski tidak mewakili diri sendiri.


"Waktunya tinggal 5 menit lagi. Jika sudah ada yang selesai boleh maju ke depan secara bergantian."


"Aku, Bu." Daffa mengajukan dirinya untuk maju ke depan terlebih dahulu.


"Iya sini, Daf. Bawa bukunya yak." jawab Bu Hesti yang mengizinkan Daffa untuk maju terlebih dahulu.


Gua memperhatikan Daffa terlebih dahulu sebelum menyelesaikan tulisan gua.


Daffa beranjak dari tempat duduknya untuk membacakan hasil puisinya. Ketika tiba di depan, Daffa memberikan buku tulisnya kepada Bu Hesti.


"Baca dulu, Daf. Setelah itu bukunya kasih ke ibu." ujar Bu Hesti kepada Daffa.


Daffa mengangguk tanda mengerti dan dia terlihat sedang mempersiapkan diri untuk membacakan puisi. Daffa terlihat gugup ketika melihat gua dan teman-teman yang lain memperhatikannya di depan kelas.

__ADS_1


"Woy, Daf. Cepetan!" ujar Egi kepada Daffa. Daffa terlihat makin gugup.


Daffa tersenyum tipis kepada Egi dan mencoba menenangkan diri agar tidak gugup.


__ADS_2