UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 11


__ADS_3

Gua mengerti keadaan Bondan. Lalu pandangan gua lurus ke depan melihat motor dan mobil yang menerobos hujan.


"Kenapa lu pindah sekolah?" gua sembari menatap Bondan.


"Pacar lu Albert ya, Sil?" Bondan yang mengalihkan pembicaraan.


Gua tidak menjawab.


"Al, orangnya gimana sih?" tanya Bondan sekali lagi.


"Baik, setia dan banyak lagi." akhirnya gua menjawab.


"Suka main perempuan?"


"Ga. Dia itu orangnya setia!" tegas gua, "Lu tau Al dari mana?" selidik gua.


Bondan tersenyum penuh arti. Gua penasaran apa yang dimaksud Bondan.


"Gua sekelas sama dia pas semester satu kelas sepuluh," jawabnya, "Gua cuma mau ngingetin, jangan terlalu ngebucin sama Al, takutnya lu jadi sakit hati." Bondan tersenyum menatap gua.


Gua yakin, Al bukan orang yang dapat mengecewakan gua. Gua percaya Al dibandingkan dengan Bondan. Tapi gua tidak bisa marah sama Bondan. Gua rasa, itu hanya nasihat bukan penegasan.


"Makasih atas nasihatnya. Tapi gua percaya kok sama Al." gua membalas senyuman Bondan.


Bondan tersenyum lalu menatap jalanan. Dia tidak lagi menjawab perkataan gua. Gua dan Bondan membisu. Keheningan menghampiri kami.


Hujan sudah reda. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Setelah beberapa menit di perjalanan, Bondan tiba di depan gerbang rumah gua. Gua turun dari motor.


Gua berterima kasih kepada Bondan. Bondan hanya tersenyum kecil. Lalu dia pamit untuk pulang.


Gua membuka gerbang dan masuk ke dalam rumah. Terdengar suara decitan piring dan sendok di dapur. Gua langsung berjalan ke dapur. Terlihat umi dan abi gua sedang makan sambil duduk di lantai dapur.


"Pulang sama siapa?" tanya abi.


"Pulang sama pacarnya lah." lanjut umi.


Gua tersenyum malu sambil menahan kesal.

__ADS_1


"Yey, tadi pulang sama Bondan." gua berjalan masuk kamar mandi untuk menyimpan baju seragam gua yang basah karena hujan di tempat cucian baju.


Gua mandi untuk mengguyur badan gua karena hujan. Kata umi, kalau habis hujan-hujanan harus mandi, biar tidak sakit.


Gua keluar kamar mandi menuju kamar gua hanya memakai handuk. Abi dan umi sudah selesai makan lalu umi mencuci piring.


Gua memakai baju kaos dan celana training. Lalu keluar menuju dapur karena lapar. Gua mengambil nasi dan lauknya, setelah itu gua bawa ke ruang tengah untuk di santap sembari menonton tv.


Ketika gua duduk dan menyetel tv, tiba-tiba umi masuk.


"Kak, kamu udah sholat ashar?" tanya umi sambil berlalu melewati gua menuju kamarnya.


"Udah." jawab gua sembari mengunyah makanan dan menonton tv.


Umi keluar kamar begitu tergesa-gesa. Abi gua sudah menunggu umi di depan rumah sembari menyalakan motor.


"Umi sama abi mau kemana? Kok buru-buru amat?" gua yang penasaran.


"Paman kamu nabrak anak kecil," ujarnya. "Umi paling pulang malem sama abi. Kamu di rumah aja ya." umi menuju pintu tanpa menatap gua. Lalu, mereka pergi dan gua tidak tahu mereka akan pergi kemana.


Gua terkejut mendengar paman gua menabrak anak kecil. Pikiran gua bertanya-tanya penasaran. "Kok bisa nabrak? Sekarang di rumah sakit apa rumah paman?" gua melanjutkan makan.


Gua mematikan tv dan bergegas menuju dapur. Makanan gua sudah habis dan langsung gua cuci tempat makannya. Setelah itu gua bergegas ke kamar.


Gua mengambil buku novel yang berjudul "Upaya Menyembunyikan Hati" di meja belajar gua. Kemudian membaringkan badan di kasur untuk membacanya.


Gua menikmati alur cerita dari novel tersebut. Setelah sekitar 20 menit gua membaca, hp gua berdering. Gua bangun dan langsung mengambil hp gua dari dalam laci.


Setelah gua buka, terlihat nama Al sedang memanggil gua. Gua langsung angkat telepon dari Al.


"Hahah ...." terdengar suara perempuan yang tertawa di balik telepon.


Gua kaget, kenapa bisa panggilannya suara perempuan? Al tidak mempunyai adik atau kakak perempuan. Gua mencoba berpikir positif untuk tidak mencurigai Al.


"Halo, Al?" gua memastikan sekali lagi. Barangkali, gua salah mendengar.


"Halo, Syla. Hehe." ujarnya sembari tertawa.

__ADS_1


Ternyata gua tidak salah dengar, itu memang suara perempuan.


"H-halo." jawab gua gugup sambil memasang wajah penasaran, "Ini siapa ya? Al nya mana?"


"Lagi beli batagor. Tuh, Al dateng. Mau ngobrol?" jelasnya sambil tertawa.


Gua masih bingung kenapa perempuan itu yang menelepon? Gua mencoba tenang dan berpikir jernih. Terdengar suara Al dari balik telepon seolah-olah sedang merebut ponselnya. Suara di telepon pun berubah menjadi tidak jelas.


"Halo, Sil? Maaf, tadi temen cewek aku yang ngangkat," ujar Al dari balik telepon. "Kamu mau ngapain nelpon?" tanyanya.


"Gua enggak nelpon lu!" tegas gua yang sedikit memanas. "Mungkin cewek yang lo sebut temen itu yang sengaja nelpon gua!" Nada suara gua sedikit meninggi.


"Kok kamu ngomongnya lu, gua?" nada suara Al tetap tenang. "Kamu cemburu ya, sayang?" lanjutnya.


"Sayang-sayang matu lu peang!" cibir gua.


Gua tidak bisa menenangkan diri. Pikiran gua sudah kacau tidak bisa berpikir positif, yang sekarang ada di pikiran gua hanyalah pikiran negatif tentang Al dan cewek itu.


"Sayang, aku enggak ada apa-apa kok sama dia. Dia itu temen aku," Al menjelaskan, "Dia orangnya emang iseng, sayang."


"IYA CUMA ISENG, HAHAH." teriak cewek itu sembari tertawa.


Hati gua makin memanas. Tanpa bicara lagi, gua langsung menutup telepon dan membantingkan hp ke kasur.


Gua membantingkan tubuh dengan posisi telungkup. Gua harus menenangkan diri dan berpikir jernih. Berusaha meyakinkan diri bahwa Al itu orang setia. Tetapi itu sia-sia, pikiran gua beterbangan kemana-mana.


Al bisa saja selingkuh karena sekarang Al tidak satu sekolah dengan gua. Al juga memiliki wajah tampan, pasti banyak cewek yang merayunya.


Di saat gua satu sekolah dengan Al, gua banyak memelototi cewek-cewek yang ganjen terhadap Al. Tetapi sekarang? Gua tidak bisa lagi menjaga Al dari cewek manapun.


Setetes demi setetes air mata membasahi bantal yang di pakai untuk menutupi wajah gua. Gua menangis tidak sampai terisak-isak dan gua berpikir, untuk pertama kalinya gua menangis perihal cowok. Gua mengubah posisi telungkup menjadi duduk dengan kaki menyilang.


"DASAR BRENGSEK!" teriak gua dengan suara yang tidak terlalu tinggi.


Gua masih mempunyai akal sehat, jika gua berteriak dengan keras. Teriakan gua akan mengundang tetangga-tetangga dari depan dan samping rumah gua datang ke rumah untuk memastikan keadaan gua.


Mereka mungkin khawatir jika gua depresi berat terus gua suicide di tempat, kan tidak lucu kalo mereka datang terus liat gua yang mau gantung diri lalu mereka menahan gua bunuh diri, setelah itu mengintrogasi gua kenapa gua mau suicide dan gua jawab karena pacar gua selingkuh!

__ADS_1


Sumpah tidak lucu! Setelah itu mungkin mereka bakal menjawab gua bodoh karena mau gantung diri hanya karena diselingkuhin.


Lalu wajah gua terpampang di berbagai media cetak dan media sosial dengan kasus "Remaja Cantik Hampir Bunuh Diri Akibat Diselingkuhi Pacar." maka dari itu gua memilih untuk tidak berteriak terlalu keras.


__ADS_2