
Ketika gua hendak pergi, Bondan muncul dari gang samping rumah Fayza. Bondan menyapa gua dan gua tersenyum padanya.
"Kaki lu udah sembuh?" tanya Bondan sambil melihat kaki gua.
"Udah kok," jawab gua sambil tersenyum kepada Bondan, "lu mau kemana, Dan?" tanya gua pada Bondan yang kemudian menatap gua.
"Gua mau ke rumah Rian. Lu mau pulang kan? Yuk bareng!" ajak Bondan untuk pulang bareng.
Rumah Rian tidak terlalu jauh dari rumah gua. Sebelum Bondan sampai di rumah Rian, dia pasti ngelewatin rumah gua terlebih dahulu sebelum tiba di rumah Rian. Kira-kira ke tutup tiga rumah.
Gua berjalan di samping Bondan. Bondan nampak tampan dari samping. Bukan cuman dari samping, dari depan juga Bondan nampak tampan. Pantas saja banyak cewek yang naksir sama dia.
Bondan emang menarik dan juga asik. Sayangnya tidak semua orang tahu bahwa Bondan itu orangnya asik. Dia terlalu cuek untuk orang yang Bondan tidak sukai dan tidak kenal.
Bondan melirik ke arah gua sambil tersenyum. Gua membalas senyuman Bondan dan kembali menatap lurus. Gua bukan bermaksud kepedean pada sikap Bondan.
Tapi yang gua dengar dari teman-teman gua, Bondan itu suka sama gua sejak dulu. Tapi gua merasa sikap care nya terhadap gua itu hanya sikap biasa kepada teman tidak lebih. Lagi pula, Fayza sangat menyukai Bondan.
"Sil, pacar lu sekarang siapa?" tanya Bondan yang membuka percakapan di antara keheningan.
"Hmm, Albert," jawab gua sambil tersenyum.
Seketika wajah Bondan terlihat tidak suka. Gua bukan ahli membaca ekspresi seseorang, tapi yang pasti sekarang gua tahu kalau Bondan memasang wajah tidak suka.
Bondan tersenyum tipis tidak membalas. Gua bingung apa yang harus gua katakan lagi kepada Bondan. Seketika gua kepikiran Fayza.
"Dan, kayaknya Fayza suka sama lu deh." ujar gua sembari menatap serius ke arah Bondan.
"Tapi gua suka sama lu, Sil." Bondan spontan menyatakan perasaannya sambil menatap gua.
Gua bingung harus memasang wajah seperti apa. Akhirnya gua hanya tersenyum. Gua berpikir ternyata dugaan teman-teman gua benar soal Bondan suka sama gua. Cuman gua yang bodoh tidak merasakan maksud dari sikap Bondan.
"Gua udah punya Al. Kenapa lu enggak nyoba dulu pendekatan sama Fayza? Bisa jadi lu merasa nyaman sama dia." saran gua kepada Bondan.
"Bagaimana bisa gua menerima seseorang yang gua sendiri tidak ada perasaan apapun terhadap dia? Itu bukan gua banget, Sil." jelas Bondan tersenyum.
__ADS_1
Gua tersindir oleh ucapan Bondan. Gua tersindir karena gua menerima Al tanpa mempunyai perasaan sedikit pun. Gua malah berpikir jika dijalani sedikit demi sedikit pasti akan tumbuh cinta. Dan gua yakin itu! Tapi gua juga tidak bisa jamin apakah gua bisa mencintai Albert ke depannya atau tidak?
"Udahlah Sil enggak usah dipikirin. Lagian lu juga udah punya Al, jadi enggak usah mikirin gua. Dan lu jangan coba-coba jodohin gua sama Fayza! Gua ga suka itu!" Bondan yang memberi sedikit penekanan pada kalimat terakhir.
Gua tiba di rumah dan Bondan pamit melanjutkan perjalanan menuju rumah Rian. Tak lama, Fayza muncul dari arah rumah Rian bersama ibunya sambil membawa belajaan.
Fayza melihat gua dan Bondan yang berjalan berdampingan sebelum Bondan berjalan cukup jauh dari gua. Jantung gua berdegup kencang pada saat Fayza melihat kebersamaan gua dengan Bondan. Gua berusaha tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Fayza dan ibunya semakin mendekat ke arah gua. Gua menunggu Fayza di depan gerbang rumah. Pada saat mereka hampir melintasi gua, gua menyapa Fayza.
"Fay, lu dari mana?"
"Dari pasar." ketus Fayza.
Kemudian gua mengikutinya sampai ke rumahnya. Fayza terlihat tidak menyukai gua mengikutinya. Gua tidak bertanya apapun pada Fayza. Termasuk Fayza tidak mengajak gua untuk sekadar mengobrol.
Tiba di rumah Fayza. Fayza menaruh belanjaannya di dalam. Gua menunggunya di luar. Setelah menaruh belanjaan, Fayza kemudian keluar menemui gua.
"Ada apaan?" Fayza yang berdiri di depan pintu.
Fayza mengangguk tanda setuju. Dia menutup pintu dan kemudian berjalan menuju gang di samping rumahnya.
"Gua baru jadian, Fay," gua sengaja memberi tahu Fayza.
Fayza memasang wajah tidak suka. Mungkin dia berpikir gua jadian dengan Bondan.
"Gua baru jadian sama Albert," lanjut gua sembari tersenyum.
Fayza terheran dan melirik ke arah gua.
"Albert?" Fayza terkejut.
Gua tersenyum mengiyakan. Seketika wajah Fayza tersenyum lega karena nama yang disebut sebagai pacar gua itu Albert bukan Bondan.
"Bukannya Bondan itu cakep?" selidik Fayza sembari tersenyum.
__ADS_1
"Lu enggak tau Albert sih, Fay! Al juga enggak kalah cakep dari Bondan. Menurut gua, Al lebih cakep daripada Bondan!"
gua yang sengaja membangga-banggakan Albert di depan Fayza.
Fayza terlihat tersenyum lega. Tapi nampaknya dia masih penarasan terhadap cerita gua yang tiba-tiba jadian sama Al. Gua tidak menceritakan apapun selain gua baru jadian.
Kami tiba di tukang seblak dekat warung yang kemarin Fayza belanja. Gua memesan seblak siomay yang biasa gua beli dan Fayza memesan seblak ceker. Sambil menunggu seblaknya mateng. Gua dan Fayza duduk di bale tempat gua duduk kemarin. Fayza menatap jidat gua.
"Kayaknya jidat lu udah enggak benjol, Sil." Fayza menatap jidat gua.
"Iya dari kemarin kayaknya. Soalnya enggak ada yang nyadar kalo gua kemarin benjol." jawab gua sambil memegang jidat.
"Besok hari pertama kita masuk sekolah pake baju putih biru ya?" ujarnya.
"Iya, gua enggak sabar buat besok dapet temen baru." gua sembari tersenyum.
Fayza menatap gua dengan tatapan meledek. "Mau ketemu pacar ya?" ujarnya sembari tersenyum meledek.
Gua tersenyum malu. Dalam hati, gua tidak kepikiran bagaimana gua besok bertemu Al di sekolah. Gua sama Fayza berbeda sekolah.
Fayza masuk smp swasta dan gua masuk smp negeri. Teman-teman seangkatan gua pas sd tidak ada yang se-smp bareng gua. Jadi gua masuk smp negeri sendirian.
Terdengar suara gaduh di dekat pagar betako. Bondan dengan teman-temannya berjalan menghampiri kami. Ketika mereka hampir melewati kami. Bondan terlihat seperti lebih dingin dari biasanya.
"CIE YANG KEMAREN DI GENDONG BONDAN." teriak bergas dengan nada meledek. Gua tersenyum malu. Kemudian yang lainnya ikut mencie-ciekan gua dengan Bondan.
"Kaki lu udah sembuh, Sil?" tanya Rian sebelum melewati gua, dia melihat kaki gua terlebih dahulu.
"Udah kok, Yan." jawab gua sambil tersenyum. Kemudian mereka berjalan melewati gua dan Fayza.
Sekilas tadi gua melihat wajah Bondan yang memerah menahan senyum malu. Mungkin dia baper alias bawa perasaan. Tapi dia tampak tidak tersenyum. Gua melirik ke arah Fayza. Wajah fayza tersenyum kecut seolah berteriak,
"STOP JANGAN BICARA ITU LAGI!" Tapi itu hanya dugaan gua sih, hehe.
Gua merasa tidak enak sama Fayza. Terlebih lagi gua baru tahu kalau Fayza suka sama Bondan sejak lama dan Bondan tidak menghiraukan Fayza mentah-mentah. Pasti rasanya sakit di posisi Fayza. Tapi gua juga tidak tahu apa yang harus gua perbuat.
__ADS_1