
Sesekali Daffa terlihat mengatur napas agar memiliki kekuatan, dia mengangkat kedua bahunya dan menatap lurus ke depan penuh dengan percaya diri. Sepertinya dia sudah tidak gugup lagi.
Daffa mengucap salam dengan suaranya yang lantang, kami menjawab salam Dhea dan Dhea mulai membaca puisi.
Jika langit tampak mendung
Mungkinkah seseorang sedang bersedih?
Jika langit berubah hujan
Mungkinkah seseorang sedang menangis?
Sepertinya Yak!
Ketika dirimu sedang bersedih,
Seketika langit menjadi mendung
Ketika dirimu sedang menangis,
Seketika hujan turun dari langit
Jangan bersedih, Sayang
Jangan pula menangis
Aku akan selalu bersamamu
Dan menjadikan diriku tempat yang paling aman untukmu
Biarkan aku menjadi pelipur laramu
Agar langit di hatiku terasa baik-baik saja karenamu
Gua terkagum-kagum melihat penampilan Daffa yang begitu mendalami dan percaya diri. Puisi yang ditulis Daffa sangat gentle, seolah dia adalah seorang pahlawan yang siap melindungi seseorang.
Bu Hesti tersenyum melihat penampilan Daffa termasuk teman-teman gua bersorak-sorai melihat penampilan Daffa yang keren dan berceloteh kepada Daffa.
"Sumpah, puisi lu bucin banget Daf."
"Gila! Gua baru tahu kalo lu jago bikin puisi."
"Bau-bau buaya nih si Daffa."
"Iya sayang, aku gakan bersedih hahah."
"Pantesann mantan lu banyak Daf. Ternyata pake jurus ini yak?!"
Daffa tersenyum mendengar celotehan teman-temannya yang unfaedah lalu Daffa memberi salam penutup setelah itu Daffa memberikan bukunya kepada Bu Hesti dan Daffa kembali ke tempat duduknya.
"Judulnya apa, Daf?" tanya Bu Hesti kepada Daffa.
"Akulah rumahmu, Bu. Daffa lupa ngga make judul tadi heheh."
Bu Hesti menerima buku Daffa dan memanggil kembali siapa yang akan maju selanjutnya.
"Sil, cepet kerjain! Tanggung tinggal dikit lagi." Farah menyikutkan tangannya ke tangan gua.
Gua hampir lupa dengan tulisan gua yang belum selesai karena melihat penampilan Daffa, gua pun langsung menulis lagi untuk menyelesaikan tugas.
Satu per satu teman-teman gua maju ke depan untuk membacakan hasil puisi mereka. Farah mengangkat tangan untuk gilirannya maju ke depan, Bu Hesti mengizinkan lalu Farah keluar dari kursi menuju depan kelas.
Gua sudah menyelesaikan tugas puisi dan langsung menatap Farah yang tengah siap membacakan hasil puisinya.
"Ehemm, tes-tes 1 2 3." Farah berdehem mencari perhatian.
Tahu
Karya Farah Ristanti
Aku tidak tahu apa yang kamu tahu
__ADS_1
Kamu tidak tahu apa yang aku tahu
Aku coba mencari tahu
Tetapi aku tidak tahu
Maka aku putuskan untuk tidak mencari tahu
Kamu mencoba mencari tahu
Tetapi kamu tidak tahu
Lalu kenapa kamu bersikeras mencari tahu?
Aku tidak akan memberi tahumu
Karena kamu tidak memberi tahuku
Krik krik krik
Seisi kelas bingung dengan puisi Farah yang tak masuk di akal.
"Garing amat sih lo, Rah." kata Revan tak tanggung-tanggung.
"Siapa juga yang ngelawak?!" jawab Farah.
"Sudah-sudah," ujar Bu Hesti melerai, "ini karya kamu, Rah?" tanya Bu Hesti.
"Iya, bu." jawab Farah.
"Sini bukunya biar ibu nilai!" suruh Bu Hesti.
Farah memberikan buku tulisnya kepada Bu Hesti, lalu Bu Hesti menerimanya untuk dinilai. Farah kembali ke tempat duduknya yang berada di samping gua.
"Rah, serius dong lu kalo bikin puisi!" bisik gua kepada Farah.
"Sil, gua juga udah serius. Cuma kaliannya aja gak ngerti maksud gua apa." jelas Farah.
"Si-sil. Gua bukan ahli bikin puisi, jadinya ya seadanya ajalah puisinya. Lagian gua juga gua gak niat." jelas Farah.
"Yaudahlah terserah lu aja." gua kembali menatap ke arah papan tulis.
Bu Hesti menyimpan dan menanyakan kembali giliran selanjutnya. Teman-teman gua pada angkat tangan untuk praktik selanjutnya.
Setelah beberapa menit kemudian, teman-teman gua semua telah selesai membaca puisi dan hanya tersisa gua dan Bondan.
"Ayo, tinggal Bin-Binda Al-Farisi sama Sisil yang belum." kata Bu Hesti sambil melihat daftar absen.
"Binda Al-Farisi anak baru yak?" tanya Bu Hesti sambil melihat ke barisan depan untuk memastikan.
"Iya, Bu." jawab semua dengan kompak.
"Yang mana orangnya?" tanya Bu Hesti lagi.
"Itu, Bu. Yang duduk di samping Reyhan." jawab Dita sambil menengok barisan belakang cowok.
"Oh, itu. Nama panggilan kamu siapa Binda?" tanya Bu Hesti sambil menatap Bondan.
"Bondan, Bu." jawab Bondan sambil tersenyum tipis.
"Loh, kok jauh banget dari nama asli?" tanya Bu Hesti dengan heran.
Gua dan teman-teman gua menatap Bondan yang tengah duduk di kursinya sambil menjawab pertanyaan Bu Hesti.
"Iya, jauh banget nama panggilan lu, Dan?" tambah Revan yanh ikut penasaran terhadap nama panggilan Bondan.
"Ga tau, Bu. Itu temen-temen di kampung aku yang ngasih nama panggilan." jawab Bondan tersenyum kikuk.
"Yaudah, Ibu panggil kamu Faris aja yak. Gapapa kan?"
"Gapapa, Bu." Bondan tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Yuk, ah. Jangan panggil Bondan sekarang mah, panggilnya Faris aja." ajak Reyhan kepada kami.
"Yuk." jawab semua cowok dan cewek.
"Sil, maju Sil. Biar Faris sebagai penutup." panggil Bu Hesti kepada gua sambil memalingkan wajahnya ke barisan gua.
Gua pun beranjak dari duduk lalu berjalan ke depan kelas sambil membawa buku.
Gua berdiri di tengah-tengah teman-teman gua sekelas. Rasanya lumayan grogi ketika teman-teman gua mulai menatap gua.
"Puisinya jelek, Bu." ujar gua kepada Bu Hesti sambil menutup wajah dengan buku.
"Iya, gapapa." jawab Bu Hesti sambil menatap gua.
Sang Pahlawan
Karya Assyla Permata
Aku terbutakan oleh cinta
Cinta yang penuh dengan kepalsuan
Tanpa belas kasihan,
Dia terus menyakitiku secara perlahan
Bukan fisik
Melainkan hati
Yang lukanya tidak tahu sampai kapan kan pulih
Hingga takkan terasa lagi
Bodohnya aku ....
Masih menginginkan dia yang telah menyakitiku
Hingga aku tak sadar dia telah berbahagia atas kepedihanku
Seseorang....
Bantulah aku
Selamatkan aku dari rasa sakit ini
Sebelum akhirnya aku terjatuh lebih dalam lagi
Wahai pahlawanku
Aku membutuhkanmu
Cepatlah kau datang untuk bebaskan aku di sini
Agar aku bisa terbang menembus cakrawala
"Sekian dari dari saya, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." kata gua sambil setengah membungkuk.
Teman-teman gua bertepuk tangan atas penampilan gua dan gua tersenyum lebar melihat tepukan tangan dari teman-teman gua.
"Bagus kan, bagus kan?" tanya gua yang masih berdiri di hadapan teman-teman gua.
"Tukang bucin mah paling jago bikin puisi." jawab Daffa sambil tersenyum.
"Hellow, gua gak bucin kali. Yakali gua bucin." jawab gua sambil tersenyum.
"Bucin ke si Albert." tambah Egi.
"Sssssttt, berisik Egi." tegur gua kepada Egi sambil menutip bibir gua dengan satu jari dan Egi hanya tertawa tak menjawab.
Tidak terdengar lagi suara tepukan tangan, teman-teman gua berhenti bertepuk tangan.
__ADS_1
Gua langsung berjalan sedikit ke arah meja Bu Hesti yang berada di samping papan board untuk memberikan buku tulis gua kepadanya setelah itu gua kembali ke tempat.