
Seketika semua tertuju ke arah gua. Gua merasa jijik dengan Revan.
"MAAF YA REVAN. GUA NYA GA MAU SAMA LO!" nada suara gua yang ikut alay seperti Revan. Semuanya pun tertawa.
"Sabar ya, bro. Gua mau kok sama lu!" ujar Egi sambil memasang wajah melas.
Kemudian Egi memeluk Revan dan Revan memeluk Egi. Dih, homo! Semua memandang jijik sambil tertawa terhadap Egi dan Revan. Mereka selalu berhasil membuat candaan dalam kelas.
Kelas gua memang tidak bisa jika tidak heboh, tetapi suasana ini selalu membuat kangen. Bahkan kami dicap oleh para guru sebagai kelas terheboh. Di sisi lain untuk membagikan jawaban, kami sangat pelit.
Tiba-tiba Firman datang dengan tergesa-gesa sambil mendorong pintu dengan sedikit keras.
"WOY ADA GURU, ADA GURU!!" teriak Firman sambil mendorong pintu.
Semua teman-teman gua termasuk gua terkejut dengan kedatangan Firman yang secara tiba-tiba. Kami langsung duduk di tempat kami masing-masing dan mengambil posisi siap.
Firman berjalan santai menuju tempat duduknya. Kami tengah menunggu guru yang akan datang memasuki kelas kami.
Sejenak kami terdiam. Setelah beberapa saat kami menunggu, guru yang dimaksud Firman tak kunjung datang.
"Gurunya mana?" ujar Egi dengan wajah polos.
Kami duduk sambil menahan tawa karena tidak biasanya kelas hening. Ketika Egi berkata demikian dengan memasang wajah polos. Kami tertawa sekejap kemudian kembali hening.
"Iya, gurunya mana Firman?!" tegas Arif.
Firman tertawa terbahak-bahak di keheningan.
Krik krik krik
Semua memandang ke arah Firman yang tertawa.
"KAMPRET! KITA DI BOHONGIN!" teriak Revan.
Kami semua mendengus kesal terhadap Firman, tak terkecuali dengan gua yang kesal padanya.
"IIIHHHHHHH, BOHONG AJA LU JADI ORANG!" teriak anak cewel sekelas.
Anak cowok pada keluar dari tempat duduknya kemudian ngeroyok Firman dengan menjitaknya.
"WOOOO, BOHONG AJA LU KAMPRET!"
"SATU JITAKAN BUAT LU!"
"DASAR KAMPRET!"
"PALA BAPA LU BOTAK!"
"SARINEM PERGI KE PASAR!"
__ADS_1
Gua tertawa melihat kelakuan teman-teman gua yang sedang menghukum Firman, tak terkecuali dengan anak cewe sekelas yang tertawa terbahak-bahak.
"WOY, WOY! CUKUP!" teriak Firman dengan tangannya berontak. Anak cewek tidak henti-hentinya tertawa.
Pak guru masuk secara tiba-tiba. Kemudian anak cowok menghentikan hukumannya kepada Firman dan bergegas kembali ke tempat masing-masing. Seketika kelas hening. Guru yang masuk ini bernama Pak Wahid yang terkenal galak. Pak Wahid juga adalah wali kelas kami.
Pak Wahid berjalan ke depan ditemani anak cowok yang tidak kami kenal sebelumnya. Anak cowok tersebut menunduk mengikuti Pak Wahid.
"Selamat pagi." sapa Pak Wahid.
"Pagi, Pak." jawab kami serentak.
"Ternyata benar belum siang." ujar Pak Wahid yang mungkin ingin melucu.
Krik. Tidak ada yang tertawa. Malah kita hanya terheran.
Gua seperti mengenali cowok yang berada di samping Pa kWahid.
"Sekarang kalian punya teman baru di kelas. Silahkan perkenalkan diri." ujar Pak Wahid sambil duduk di kursi guru.
Cowok itu mengangkat wajahnya dan menatap ke depan. Gua terkejuy ketika dia mengangkat wajah.
"Halo semua. Perkenalkan nama saya Binda Al-Farisi. Biasa dipanggil Bondan." ujar anak baru tersebut sambil tersenyum dan melirik sekilas ke arah gua.
"HAI BONDAAAN." jawab semua anak cewek kegirangan melihat wajah Bondan yang tampan. Gua hanya tersenyum kecil dan mencoba bersikap biasa saja.
"SIRIK AJA LU!" bantah Dhea.
"Sekarang kalian yang mengenalkan diri kalian ke Bondan. Sambil berdiri di tempat masing-masing." suruh Pa Wahid.
"Dari mana dulu pak?" tanya Arif.
"Dari situ." Pak Wahid yang menunjuk ke arah barisan cowok paling depan.
Satu-persatu anak cowok memperkenalkan diri masing-masing. Tiba giliran Revan yang terdapat di barisan kedua.
"Woy, Dan! Nama gua Revan Pratama. Biasa dipanggil si ganteng." ujar Revan sembari tersenyum kepada Bondan.
Anak cewek mengeluarkan suara seolah mau muntah.
"Oke ganteng." jawab Bondan membalas senyuman Revan.
Anak cewek terheran dengan sikap Bondan dan Revan. Seolah mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
Setelah anak cowok selesai memperkenalkan diri, dilanjut anak cewel dari barisan kiri paling belakang. Gua berada di barisan ketiga. Setelah barisan belakang selesai, dilanjut dengan gua.
"Namaku Assyla Permata." gua sambil tersenyum malu.
"Pacar gua, pacar gua." Revan yang berbicara dengan Bondan sambil menepuk-nepuk dadanya dengan sebelah tangan.
__ADS_1
"Siap, siap." Bondan membalas.
Gua duduk sambil menahan senyum malu. Kemudian dilanjut ke barisan seterusnya hingga barisan depan.
Setelah semua selesai mengenalkan diri masing-masing. Pak Wahid menyuruh Bondan duduk di kursi yang kosong di belakang samping Reyhan, lalu Bondan berjalan menuju tempat duduknya.
"Sekarang bapak lagi ada urusan. Kalian pelajari tentang pelajaran minggu kemaren tentang gerbang logika." Pak Wahid memberitahukan di depan kelas kami.
"Iya Pa, siap." Mila menjawab sembari tersenyum. Kemudian Pak Wahid keluar kelas.
Serentak kami tersenyum bahagia karena jam kosong.
"WOY KANTIN GA?" teriak Egi.
"YUK AH KE KANTIN SEKELAS!" lanjut Revan.
Awalnya kami berpikir sejenak. Semua anak cowok keluar kelas termasuk Bondan menuju kantin. Lalu, anak cewek mengikuti mereka dari belakang.
"Ini kalo ketauan guru gimana?" Gua yang berada di tengah anak cewek.
"Ga tau Sil. Tapi kapan lagi coba makan sekelas di kantin?" Farah yang menatap ke arah gua.
Kami tiba di kantin. Anak cowok tiba duluan di kantin.
"BU, MEJANYA KAMI SATUIN SEMUA YA. SOALNYA MAU MAKAN-MAKAN SEKELAS." Revan yang meminta izin.
"Iya, asal bekasnya beresin lagi."
Semua meja dan kursi kantin disatukan oleh anak cowok. Anak cewek hanya berdiri sambil menonton anak cowok yang sedang menyatukan kursi dan meja kantin.
"WOY, ENAK AJA LO CUMA LIATIN AJA!" sentak Egi.
"Ya terus, kita harus ngapain Egi?" balas Dhea.
"Pesenin makanan lah!" tegas Egi.
Kami pun berjalan menuju barisan pedagang kantin. Makanan di kantin sangat bervariasi ada soto, baso, kupat tahu, nasi uduk, mi instan, dan tukang es. Kami ke masing-masing pedagang dan seolah mempromosikan dagangan mereka ke anak cowok kelas gua.
"Yang pesen baso siapa aja?" gua yang berdiri di samping tukang baso.
"Sil, gua baso." Revan yang mengangkat kursi.
Begitu pun dengan teman cewek gua yang lain, mereka mempromosikan dagangan yang mereka singgahi.
Total anak cewek sekelas ada sepuluh orang, sedangkan anak cowoknya ada dua puluh sembilan. Ditambah Bondan jadi pas genap tiga puluh.
Anak cowok telah selesai menyatukan meja dan kursi, lalu mereka menuju anak cewek yang berada di beberapa pedagang.
Makanan yang mereka pesan pun sudah siap. Revan dan lima teman gua yang lain berjalan mendekat ke arah gua yang berada di tukang baso. Dia dan yang lain mendekat untuk mengatur rasa pedas sesuai selera masing-masing.
__ADS_1