UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 19


__ADS_3

Permainan pun dimulai, suasana berubah menjadi heboh ketika mereka sedang memperebutkan bola untuk memasukkannya ke dalam gawang. Bondan nampak bermain dengan serius begitupun dengan yang lainnya.


Terkadang mereka juga tertawa karena tegang nya permainan.


Sudah setengah jam mereka bermain futsal, tetapi mereka sama sekali tidak kelelahan. Sesekali mereka istirahat untuk minum, setelah itu melanjutkan kembali ke dalam permainan.


Tak terasa sudah satu jam mereka bermain, waktu mereka pun habis karena mereka menyewa lapangan futsal untuk waktu 1 jam saja. Permainan pun dimenangkan oleh tim bondan.


Setelah itu mereka keluar dari lapangan futsal dan terdapat tim yang telah menyewa lapangan futsal selanjutnya.


Mereka pun beristirahat sebentar untuk mengatur nafas mereka dan ada juga yang minum karena kelelahan.


Setelah itu mereka membuka sepatu olahraga mereka termasuk juga bondan yang membuka sepatunya lalu dimasukkan ke dalam tas sepatu yang dia bawa.


Mereka sudah siap di motornya masing-masing. Bondan pun memakai jaket agar tidak kedinginan karena angin malam. Lalu mereka pun meninggalkan tempat lapangan futsal.


Di tengah jalan mereka pun berpencar karena di antara mereka ada yang mempunyai urusan lain termasuk juga Bondan yang mencari tukang jus untuk membawakan nya kepada meydita, adik satu-satunya.


Bergas tidak bertanya apa pun kepada Bondan, dia hanya terduduk manis dibonceng Bondan.


Ketika Bondan melihat tukang jus di pinggir jalan, Bondan pun memberhentikan motornya lalu segera memesan 2 jus alpukat untuk adiknya dan untuk Bondan sendiri. Bergas ikut memesan jus alpukat untuk dirinya.


Di seberang jalan terdapat tukang sate, Bondan pun berniat pula membeli sate untuk orangtuanya. Lalu Bondan menitipkan jus kepada Bergas dan memberikan uang.


Bondan menyeberang jalan menuju tukang sate. Dipesannya 20 tusuk sate dan dia menunggunya di kursi yang telah disediakan.


Ketika Bondan sedang duduk menunggu pesanannya, hp dari dalam tasnya berdering. Bondan membuka tas untuk melihat hp siapa yang berdering. Bondan melihat hp Sisil berdering karena ada panggilan masuk.


"Albert? Mau ngapain dia?" tanya Bondan lirih sembari menatap nama di layar hp Sisil.


Bondan menolak telepon dari Al, lalu Al menelepon untuk yang kedua kalinya. Bondan pun tidak punya pilihan lain selain menjawab telepon dari Al.


"Sil, kamu masih marah sama aku?" ujar Al dari telepon. Bondan tidak menjawab pertanyaan Al.


"Sayang, dia cuman temen aku di sekolah. Kamu harus percaya itu." Bondan hanya mendengarkan Al yang terus berbicara.


"Aku sama sekali gak diselingkuh. Kamu satu-satunya buat aku, Sil." suara Al parau,


"Kamu percaya kan sama aku?" Bondan mengumpat dalam hati setiap Al berbicara.


"Sayang ... jawab dong jangan diem aja." ujar Al memohon.


"Halo, sayang..." jawab Bondan sembari tersenyum.


"Ini siapa?!" Al terkejut ketika mendengar suara cowok dari balik telepon.

__ADS_1


"KEPARAT LO! SISIL MANA?" suara Al berubah seketika menjadi ganas.


"Ini Sisil kok, Sayang. Masa kamu gak kenal." Bondan menjawab dengan nada meledek kepada Al.


Bondan pun terdengar tertawa dari dari balik telepon.


Albert semakin marah setelah mendengar suara cowok dari balik telepon terdengar menghinanya.


"OYY ... LO SIAPA KEPARAT?!" ujar Al yang terdengar sangat marah.


Bondan tertawa mendengar Al yang marah-marah ditelepon.


"Ada urusan apa lagi lo, sama Sisil?" tanya Bondan dengan nada menantang.


Bondan mulai serius menanggapi percakapan.


"Lo belum puas nyakitin, Sisil? Gua tau tentang perselingkuhan lo dengan cewek lain dan gua juga tau tentang kelakuan bejat lo di luar sana! Sekarang, ada urusan apalagi lo hubungin, Sisil." Bondan berbicara dengan baik dan tegas.


Albert terdiam sejenak karena perkataan Bondan.


"Bondan? Lu pasti Bondan!" tebak Albert.


"Tebakan lo bener, gua emang Bondan." Bondan tersenyum jahat


Belum selesai Bondan berbicara, perkataannya sudah dipotong Albert.


"Kalo gak, apa? Lu mau ngelakuin apa hah?" tantang Albert dari telepon.


"Mau nonjok gua kayak waktu itu di sekolah? Pengecut macam apa lo yang menghajar lawannya ketika belum siap?" Albert tertawa menantang.


Bondan tersenyum jahat mendengar Albert yang menantang. Bondan bersyukur sebelum dia pindah sekolah, dia sudah menonjok Albert habis-habisan tanpa Albert tahu dengan alasan apa Bondan menghajarnya.


"Jadi, kapan lo siap?" Bondan menantang balik.


"Tunggu tanggal main nya sayang...," ujar Al tersenyum mengancam


"Oh, iya. Sebelum permainan nya dimulai, lo punya waktu untuk mengingatkan Sisil agar menjauhi gua," Albert terus tersenyum mengancam,


"Dan kita lihat, Sisil lebih percaya sama lo atau sama gua?" lanjutnya


Bondan mengepalkan tangannya dengan kuat seolah dia siap menghajar Albert tanpa ampun.


"Gua akan menghajar lo terlebih dahulu!" ujar Bondan tegas.


"Dan lo akan menyesal jika lo berani menyakiti, Sisil!" Bondan menutup telepon sebelum Albert membalas ancamannya.

__ADS_1


Tangan Bondan masih terkepal kuat karena Albert benar-benar membuatnya marah. Bondan pun memasukkan hp Sisil ke dalam tas, lalu segera mengambil pesanannya yang sudah siap.


Bondan menyeberang menuju jalan Bergas yang menunggu di tukang jus.


Bergas memberikan bungkus sate kepada Bergas untuk dipegangnya bersama jus.


Bondan mengemudikan motor dengan sangat cepat. Dia masih teringat dengan ancaman Albert yang tampak tidak main-main.


Bondan harus memikirkan cara agar Sisil bisa mempercayai perkataannya dibanding Albert. Bondan tidak siap jika harus melihat Sisil terluka karena Albert. Si Berengsek itu!


"Woy, lu kenapa?" tanya Bergas yang membuyarkan lamunan Bondan.


Bondan tidak menjawab pertanyaan Bergas dan terus melaju. Tetapi Bondan juga harus terlihat tenang agar tidak membuat orang-orang di sampingnya khawatir.


"Lu cuma beli jus buat siapa?" tanya Bondan mengalihkan pembicaraan.


"Buat gua lah." jawab Bergas singkat. Bondan tersenyum.


Bondan tiba di rumah pukul 09.00 malam. Bergas memberikan bingkisan Bondan lalu pulang ke rumahnya.


Bondan membuka pintu lalu memasukkan motor ke dalam rumah karena telah larut malam. Setelah itu dia menutup pintu kemudian menguncinya.


Ibu dan bapa Bondan terlihat masih menonton tv di ruang tengah. Bondan menyimpan bingkisan yang dibawanya di hadapan ibu dan bapanya.


"Bawa apa ini, Bang?" tanya ibu Bondan kepadanya.


"Sate sama jus." jawab Bondan sembari melepas jaketnya.


Ibunya pun melihat isi bingkisan lalu mengambil piring untuk disantapnya pakai nasi.


Bondan masuk ke dalam kamar dan terlihat Meydita sedang tertidur.


"Mey, Mey bangun. Katanya tadi mau jus." Bondan menggantung jaketnya di dinding yang sudah ditancapi paku, lalu mengecas hp Sisil dan juga hp nya.


Bondan mengganti baju karena basah karena keringat. Meydita membuka mata dan melihat abangnya yang membuka baju.


"Apa, Bang?" jawab Meydita setengah sadar.


"Katanya tadi mau jus." jawab Bondan sembari memakai baju kaos, lalu keluar kamar untuk meminum jusnya.


Meydita beranjak dari tempat tidur Bondan dan menghampiri keluarganya di ruang tengah yang sedang memakan sate.


"Mau makan, gak?" ujar ibunya.


Meydita mengangguk tanda setuju. Dia juga sedikit lapar jika malam tiba.

__ADS_1


__ADS_2