UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 16


__ADS_3

Pandangan Bondan beralih ke gua. Sepertinya dia merasakan pandangan gua. Bondan memandang gua dengan wajah heran sembari tersenyum.


"Assyla Permata," ujar Bondan tersenyum,


"gua ganteng yak." tangan Bondan berada di bawah dagunya sembari mengangguk-ngangguk kecil.


"Bentar, gua lihat dulu dari sedotan," gua yang mengambil sedotan bekas di depan batu yang gua duduki,


"hmm ... kalo dari sedotan sih, lu kelihatan ganteng banget," mata gua menyipit untuk melihat lubang sedotan dan mengarahkannya ke Bondan yang sedang duduk di atas motor,


"tapi ... kenapa lu jelek banget ya kalau gak dari sedotan?" gua menyingkirkan sedotan dari pandangan gua dan menatap Bondan langsung.


"Oh ya? Coba, sekarang gua yang liat lu dari ujung sedotan," Bondan merebut sedotan yang dipegang gua lalu dia duduk kembali di atas motor.


Bondan melakukan apa yang gua lakukan. Dia menyipitkan matanya ke lubang sedotan, lalu mengarahkannya kepada gua. Gua menatap Bondan yang sedang menyipitkan matanya.


"Hmm....," Bondan menyingkirkan sedotan dari pandangannya dan memandang gua sekejap tanpa sedotan, lalu dia mengarahkan sedotan ke arah gua lagi untuk yang kedua kalinya,


"Dari sedotan dan tanpa sedotan, lu keliatan cantik, Sil...." Bondan tersenyum di balik sedotan.


"Gua emang cantik, haha." gua tertawa bangga kepada Bondan dan Bondan pun ikut tertawa karena hal ini terasa sangat konyol.


Kami pun tertawa di tengah menunggunya kami dari kemacetan menuju luar gerbang untuk pulang ke rumah.


Gua mengambil hp dari tas, ternyata hp gua lowbat. Bondan menawarkan powerbank kepada gua. Gua pun memberikan hp kepada Bondan untuk dicas. Bondan memasukkan hp gua yang sedang dicas ke dalam tasnya.


Kami menunggu sekitar kurang lebih 15menit di parkiran. Jalan menuju luar gerbang nampak mulai longgar tidak sepadat tadi. Parkiran mulai sepi, hanya terdapat beberapa motor.


"Pulang sekarang?" tanya Bondan.


Gua beranjak dari batu dan segera naik ke atas motor Bondan sembari memegang kedua pundak Bondan dengan kedua tangan gua untuk berpegangan. Bondan meluruskan motornya dan menyampingkan standar motor, lalu menyalakan motor.


Bondan mengarahkan kedua kaca spion kanan ke belakang yang mengarah ke gua dan kaca spion kiri untuk melihat jalan.


Ketika Bondan hendak melajukan motor, tiba-tiba terdengar suara teriakan cewek yang mengarah ke arah kami,


"TUNGGU....!"


Seketika gua dan Bondan menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang mencegah kami pergi.

__ADS_1


Terlihat seorang cewek dengan rambutnya yang terurai berjalan menghampiri kami. Bondan mematikan motor untuk menunggu cewek itu.


Cewek itu berjalan sembari tersenyum kepada kami, hmm ... mungkin lebih tepatnya kepada Bondan.


"Temen kamu, Sil?" Bondan menatap gua sekejap.


"Bukan. Tapi gua kenal dia, dia pernah sekelompok bareng gua pas MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah)--"


Pandangan Bondan beralih ke depan dan tidak menghiraukan cewek itu yang tersenyum kepadanya. Gua terus tersenyum kepada cewek yang berjalan hampir dekat dengan kami.


Dia berdiri di samping Bondan sembari tersenyum. Gua penasaran, ada tujuan apa dia ke Bondan? Bondan memasang wajah heran dengan kehadiran cewek itu di sampingnya.


"Ini buat kamu," ujar cewek itu sembari memberikan Bondan secarik surat yang dilipat.


Bondan menerima surat tersebut lalu mengantonginya di saku baju. Cewek itu terus menatap Bondan sembari tersenyum senang. Cewek itu sama sekali tidak melirik ke arah gua yang berada di belakang Bondan.


"Adalagi?" jawab Bondan menatap cewek itu.


Cewek itu menggelengkan kepalanya ke samping kanan dan samping kiri dengan pelan sembari terus menatap Bondan.


"Oke." Bondan menyalakan motor lalu meninggalkan cewek tersebut tanpa berkata-kata.


Cewek itu sama sekali terlihat tidak menyukai gua yang dibonceng Bondan. Kami melaju keluar dari gerbang sekolah dan cewek itu sudah tak terlihat.


Sudah lumayan jauh dari sekolah, Bondan berhenti dan mematikan motornya di bawah pohon rindang pinggir jalan. Gua tidak berkata apapun tentang Bondan yang memberhentikan motornya.


Lalu Bondan mengambil secarik surat yang diberikan cewek itu kepadanya dari saku baju untuk membaca surat tersebut.


Awalnya gua sama sekali tidak penasaran terhadap isi surat tersebut, dan gua malah menengadah ke atas untuk melihat pohon yang rindang.


Sesekali gua melihat wajah Bondan dari kaca spion yang tampak serius membaca surat. Akhirnya lama kelamaan gua penasaran dengan isi surat tersebut.


Gua mengintip dari samping kanan Bondan untuk bisa membacanya. Bondan melirik gua sekejap lalu menyampingkan badannya ke kiri.


Setelah itu gua pindah posisi untuk mengintip isi surat tersebut dari samping kiri. Ketika gua mengintipnya dari samping kiri, Bondan menyampingkan badannya ke kanan.


Gua menggerutu kesal dengan memukul pundak Bondan dengan pelan,


"Ih! Nyebelin banget sih."

__ADS_1


lalu gua duduk dengan posisi lurus sembari menatap kepala Bondan dari belakang. Gua berinisiatif untuk mengintipnya dari belakang. Gua menempelkan dagu gua ke pundak kanan Bondan sembari menatap surat yang dipegang Bondan.


Gua merasakan Bondan yang tersenyum, lalu dia melipat kembali surat itu dan disimpan kembali ke dalam saku bajunya. Bondan menengok ke samping kanan pundaknya yang sudah terdapat kepala gua sembari tersenyum.


"Oy ... bukan mahrom." Bondan tersenyum sembari mengacak-ngacak rambut gua dengan tangan kanannya.


Gua tersenyum dan menghentikan tangan Bondan yang berada di atas kepala gua.


Dagu gua sudah tidak menempel dari pundak Bondan, lalu gua merapikan rambut yang diacak-acak Bondan.


"Lagian ... gua mau baca, lu malah menghindar." ujar gua sembari merapikan rambut.


"Isi suratnya rahasia ... hanya orang-orang yang punya kekuatan tinggi yang bisa membacanya," Bondan tersenyum sembari menengok kepada gua.


"Gua juga punya skill tinggi....," jawab gua asal.


"Emangnya skill, lu, apa?" Bondan tersenyum.


"Gua bisa membuat lo jatuh cinta kepada gua, haha." gua tertawa meledek kepada Bondan.


"Maaf ya, itu dulu," Bondan tersenyum.


"Sekarang?" tanya gua sekejap.


"Tanyakan pada rumput yang bergoyang, haha." Bondan tertawa, lalu gua ikut tertawa. Kami tertawa beberapa saat menikmati kebersamaan kami.


Bondan menyalakan motor kembali, lalu melanjutkan perjalanan pulang. Tidak ada yang berkata sepatah pun. Dari balik pundak Bondan, gua tersenyum mengingat Bondan yang mencintai gua.


Kami pun tiba di depan rumah gua, gua turun dan berterima kasih kepada Bondan, lalu Bondan melaju meninggalkan gua.


"Kok jam segini udah pulang?" tanya umi gua sembari melihat jam dinding.


"Iya, katanya, gurunya lagi pada rapat." jawab gua sembari mencium tangan umi, lalu bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian.


"Kamu UAS (Ujian Akhir Semester) kapan, Sil?" suara umi dari ruang tv.


"Enggak tahu. Belum ada pengumuman UAS." gua mengganti pakaian di dalam kamar.


Umi tidak bertanya lagi. Gua menutup pintu kamar lalu mengambil hp gua di dalam tas sekolah. Ketika gua meraba ke dalam tas, gua sama sekali tidak menemukan hp di dalam tas. Gua mengeluarkan isi tas untuk mencari hp, ternyata tidak ada.

__ADS_1


__ADS_2