UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 2


__ADS_3

Setelah itu gua dan Fayza tiba di warung. Fayza masuk ke dalam dan gua menunggunya di luar. Gua menunggu cukup lama, mungkin banyak barang yang dibeli Fayza.


Gua menunggu Fayza sembari duduk di bawah pohon jambu air yang terdapat bale di samping warung. Ketika gua mendongak ke atas untuk melihat pohon jambu, gua mendengar suara gaduh. Suaranya terdengar jelas di samping kanan warung. Akhirnya gua melihat apa yang sedang terjadi.


Gua melihat sekumpulan anak cowok yang berjumlah sembilan orang sedang bermain panjat pagar betako yang berada di depannya. Satu persatu anak lompat ke atas pagar betako yang lumayan tinggi dan anak yang sudah berada di atas pagar berusaha menarik tangan anak lain yang sudah menyentuh ujung pagar.


"Mereka ngapain manjat-manjat gak jelas?" gumam gua sembari melihat kelakuan sekumpulan anak cowok.


Gua menghampiri mereka. Tiba di hadapan salah seorang dari mereka yang belum manjat, gua mendongak ke atas melihat seseorang yang telah berada di puncak pagar sembari memasang wajah heran.


"Sil, ayo ikut manjat!" terlihat Bergas yang berada di puncak pagar.


Sekumpulan cowok itu adalah teman-teman gua di kampung. Seangkatan pula pas sd. Cuman sekarang kita masuk smp yang berbeda. Tidak ada satupun teman di kampung yang se-smp bareng gua.


"Ngapain gua ikut-ikutan manjat kayak kalian?" gua yang masih memasang wajah heran sembari mendongak ke puncak pagar.


"Seru tau! Kalo lu ga percaya, sini naik!" jawab Rizal.


Gua memandang ke arah warung, Fayza belum juga selesai belanja. Itu artinya, gua bisa ikut manjat bareng mereka sambil menunggu Fayza selesai belanja. Tidak ada salahnya kan gua nyoba manjat-manjat pagar? Semua cowok sudah berada di puncak pagar, hanya tersisa gua di bawah.


"Yaudah gua ikut. Tapi tarik gua biar nyampe atas." ujar Gua.


Gua bersiap untuk manjat pagar ini. Gua menaikkan celana jins yang berukuran sampai lutut ke atas memastikan agar tidak melorot. Kemudian gua melipat lengan baju gua yang panjang. Gua bersiap melompat dengan aba-aba dari dalam diri gua sendiri.


"Satu, Dua, Tig... " gua melompat kemudian tangan gua tiba di ujung pagar. Teman-teman gua menarik tangan gua dari atas pagar. Gua berusaha untuk mengangkat tubuh gua agar tiba di puncak.


"Ayo, Sil! Lu pasti bisa!" ucap seseorang yang berada di barisan paling depan sembari melihat ke arah gua.


Tak lama kemudian gua tiba di puncak dengan usaha gua dan bantuan kedua teman gua. Setelah itu, gua berdiri dan berusaha menyeimbangkan diri agar tidak terjatuh ke bawah. Gua merentangkan tangan lebar-lebar agar gua seimbang. Kemudian gua bisa menyeimbangkannya.

__ADS_1


"Udah semua kan? Yuk kita jalan!" ujar barisan yang paling depan.


Kami pun berjalan menyusuri panjang ujung pagar. Pagar ini memisahkan antara jalan kecil dan sebuah kebun mangga milik Pak Sofyan. Gua berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terjatuh. Rasa senang mengaliri tubuh gua seolah tubuh gua mendapatkan energi listrik dari alam. Setiap gua melangkah, gua tidak berhenti tersenyum untuk menikmati perjalanan menyusuri panjang pagar ini. Sesampainya kami di ujung pagar, kami berhenti.


"Kita lompat bareng ya!" ajak barisan paling depan.


Seketika tubuh gua terasa linu mendengar ucapan kami semua akan lompat ke bawah. Memang tingginya tidak seberapa, tapi bisa saja gua nyusruk di bawah. Gua memandang ke bawah untuk gua mendarat. Jantung gua berdegup lebih kencang dari biasanya. Harusnya jika gua tidak mampu melompat, gua bisa saja bilang kalau gua tidak berani, tapi gua tidak mau bilang karena tidak mau kalah dan pasti bisa.


"SATUUU ...." teriak semua cowok.


Gua tersenyum dan melupakan ketakutan gua. Rasanya gua harus lakukan ini.


"DUAAA ...." teriak semua cowok dan juga gua ikut menghitung.


"TIGAAA ...." kami berteriak kemudian melompat.


Semuanya tertawa bahagia, termasuk gua. Gua berhasil mendarat dengan baik untuk seorang pemula. Pada saat gua tiba di bawah, kaki gua keseleo yang kemudian gua terjatuh ke tanah sambil berteriak nyeri. Gua benar-benar berasa ngilu banget karena kaki kanan gua keseleo. Semua teman-teman gua melirik ke arah gua.


"Argh, gua keseleo ...." jawab gua yang menahan tangis sambil tertawa.


Semua teman-teman gua tertawa karena gua tertawa. Tetapi gua tertawa bukan karena ada hal lucu, gua tertawa karena gua kesakitan. Bergas berdiri kemudian berjalan ke arah gua, dia duduk di hadapan gua lalu memegang kaki gua.


"Heh, lu kalo ga bisa ngurut jangan pegang kaki gua!" sentak gua sedikit teriak sambil menangkis tangan Bergas.


"Diem aja lu, ah!" tangan Bergas memijat kaki kanan gua. Gua membiarkan bergas memijat kaki gua.


"AWW ... SAKIT!!!" teriak gua. Kemudian teman-teman gua yang lain ikut berteriak dengan nada suara seperti banci. Seketika gua tertawa dan menahan sakit.


"Coba lu berdiri!" Bergas yang berdiri sambil mengulurkan kedua tangannya. Gua memegang kedua tangan Bergas dengan sangat kuat sambil menahan nyeri. Gua tidak bisa berjalan, kaki gua terlalu sakit untuk dipakai jalan.

__ADS_1


"Yuk, Sil. Naik ke punggung gua, gua bakal gendong lu sampe rumah." ujar Bondan yang berjongkok di samping gua sambil menepuk pundaknya sendiri.


"Iya, digendong aja sama Bondan biar gak sakit!" suruh Bergas.


Kemudian gua naik ke punggung Bondan dan Bondan mencoba berdiri mengangkat gua.


"CIEE ...." goda semua teman-teman kepada gua dan Bondan. Bondan tersenyum malu termasuk juga gua.


"Gua nganterin Sisil pulang dulu ya!" pamit Bondan.


"Iya sana, sekalian ke tukang urut!" jawab Bergas yang diiyakan oleh semua teman-teman gua yang lain. Bondan mulai berjalan meninggalkan teman-teman gua di belakang.


"Sil, lu berat banget sih!" ledek Bondan.


"Enak aja gua disebut berat!" ujar gua sembari memukul pelan pundak Bondan.


Gua menatap ke depan kemudian melihat Fayza keluar dari warung. Fayza menatap ke arah gua dan Bondan. Gua tersenyum malu kepada Fayza. Bondan terus berjalan hingga tepat di hadapan Fayza.


Fayza terus menatap gua sambil memasang wajah heran.


"Lu kenapa?" Fayza penasaran.


"Keseleo, hehe." jawab gua sambil tersenyum.


Bondan melanjutkan jalan dan Fayza mengikutinya. Setelah gua pikir-pikir, Fayza belanja di warung lamat banget.


Gua kira dia sudah pulang duluan karena gua tidak ada di bale dan malah ikut manjat pagar.


Tapi ternyata gua salah, dia malah baru keluar setelah gua dan Bondan berjalan menuju warung.

__ADS_1


"Lu belanja lama amat, Fay. beli apaan sih lu?"


__ADS_2