
Setelah itu, gua dan hampir seluruh teman-teman gua berjalan menuju meja yang telah disiapkan anak cowok sambil membawa mangkuk baso.
Yang lain pun segera menuju meja dan duduk sesuai barisan gender. Ada juga yang duduk di barisan cewek, karena barisan cowok sudah muat.
Kulihat sekilas wajah Bondan nampak tersenyum. Rasa bahagia menempel di raut wajahnya.
Daffa berdehem seolah menghentikan pembicaraan yang tidak penting.
"Sebelum kita berdoa alangkah baiknya kita makan." Daffa yang memegang sendok makannya.
"Salah Daf!"
Kami semua tertawa kecil.
"Eh salah ya," Daffa yang tersenyum kecil, "Sebelum kita makan alangkah baiknya kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai."
Kami semua menunduk dan berdoa. Lalu, kami menyantap makanan yang berada di depan kami.
Tak ada suara. Hanya terdengar suara decitan piring dan sendok. Kami nampak tidak terlihat takut karena makan di kantin sebelum jam istirahat.
"Mang Dayat, pesen es tiga puluh orang." Arif sambil menoleh ke arah tukang es.
Kami tidak keberatan dipesenkan es, karena kami juga haus.
"Oke sip." jawab Mang Dayat.
Kami terus menyantap makanan dengan pelan. Tak lama setelah Arif memesan es, mang Dayat datang membawa gelas sedikit demi sedikit. Arif mengoper gelas tersebut, begitu juga yang lain. Gelas dioper sampai barisan ujung.
Lalu, kami meminum es. Tak butuh waktu lama kami menghabiskan es. Makanan di meja pun sudah pada habis. Setalah itu, kami mengumpulkan uang sesuai makanan yang dipesan, lalu membayarnya. Anak cowok membereskan kembali meja dan kursi.
Kami keluar dari kantin. Anak cowok berada di barisan depan dan anak cewek berada di barisan belakang.
Tiba-tiba, ada yang mendorong gua dari depan.
"Eh Syla! jangan so cantik deh lu!" ujar Rani sambil tersenyum jahat.
Sontak anak cowok berbalik ke arah gua untuk melihat keadaan. Anak cewek kaget melihat gua yang tiba-tiba dilabrak.
Rani berlalu begitu saja tanpa mendengar apapun yang keluar dari mulut gua.
"Mending Sisil cantik, dari pada lo jelek!" ledek Arif membela. Semua anak cewek dan cowok tertawa meledek Rani.
__ADS_1
Rani menghentikan langkahnya dan menatap ke golongan kelas gua.
"Di sekolah pake lipstik ... mau ngelonte lu?" ledek Bondan menatap tajam Rani.
Lalu kami berjalan kembali menjauhi Rani. Rani terlihat marah karena diledek oleh kelas gua. Temen cewek gua tersenyum menguatkan.
"WOY, ADA PA BADRI!" teriak Sintia dari belakang barisan sambil berlari ke depan.
Tanpa pikir panjang, kami lari secepat-cepatnya sebelum menoleh ke belakang untuk memastikan.
"WOY! KALIAN MAU KEMANA ...?" terdengar suara Pa Badri yang membuat kami semakin takut.
Kami tiba di dalam kelas dengan napas kelelahan. Kami tertawa seolah tadi itu hanya lelucon.
"Heh! lu mau tanggung jawab kalo kita dihukum?!" ujar Dhea kepada Revan.
"Ngapain harus tanggung jawab?" jawab Revan, "Kan kalian juga menikmati!"
"Udahlah, kalo kita dihukum, kan rame sekelas, haha." Egi yang berkata santai sambil tertawa.
Kami tertawa seolah hal ini konyol. Tidak ada yang membantah Egi. Perkataan Egi benar, jika kami dihukum, kami akan dihukum sekelas.
"Kalian semua keluar!" tegas Pak Ega.
Kami hanya duduk sambil menunduk. Tidak ada yang keluar kelas.
"KELUAR!" ulang Pak Ega.
Revan keluar dari bangkunya, kemudian kami mengikuti. Kami keluar dan berjalan menuju tengah lapangan. Sekarang pukul sebelas, jika kami dihukum berjemur, sekarang waktu yang pas karena hari sedang panas-panasnya.
Kami berbaris tanpa panduan Pak Badri dan Pak Ega. Seolah kami tahu, kami akan dihukum hormat ke bendera merah putih.
"Kalian hormat sampai jam dua siang!" tegas Pak Badri.
Dugaan kami benar, kami dihukum hormat ke bendera. Lalu Pak Badri dan Pak Ega meninggalkan kami.
"Dasar si Badri!" dengus Faras yang berada di samping gua.
Gua tersenyum. Hampir semua teman kelas gua bergumam marah-marah. Tanpa alasan yang jelas, kami tertawa. Entah apa yang kami tertawakan. Mungkin kebodohan kami yang berani makan di kantin sebelum jam istirahat.
Hari semakin panas. Matahari berada tepat di atas kepala kami. Kami bergerak-gerak sedikit untuk menahan diri agar tidak roboh.
__ADS_1
Hingga tepat jam dua siang, kami dipersilahkan duduk di tempat masing-masing dan mendengar nasihat singkat yang kami sebut ceramah.
-•-
Waktu telah menunjukkan pukul 15.30, itu artinya sudah tidak ada pelajaran. Gua berjalan keluar gerbang sekolah. Rumah gua cukup jauh dari sekolah, biasanya pulang sekolah gua nunggu orangtua gua jemput.
Gua berdiri di bawah pohon depan gerbang sekolah. Tiba-tiba Bondan menghampiri gua dengan motornya.
Bondan mengajak gua pulang bareng. Gua dan Bondan memang sekampung. Rumah Bondan tidak berdekatan dengan rumah gua, tetapi meskipun begitu kami searah.
Sejenak gua berpikir untuk menerima tawaran Bondan atau tidak. Tiba-tiba cuaca berubah menjadi gelap lalu hujan. Bondan turun dari motornya untuk meneduh di bawah pohon tempat gua menunggu jemputan.
Semua siswa dan siswi sudah tidak ada yang menunggu jemputan. Mereka semua sudah pulang. Hanya gua dan Bondan yang belum pulang.
"Sil, mending pulang bareng gua aja," ujar Bondan, "Udah ga ada siapa-siapa juga. Lagian hujan gini emangnya abi lu mau jemput? kasian kan dia." lanjut Bondan.
Gua membenarkan perkataan Bondan. Mungkin abi gua belum berangkat dari rumah karena hujan.
"Yaudah Dan, gua ikut lu aja. Nunggu hujannya reda atau langsung tancap gas?" gua yang menatap Bondan.
"Tancap gas aja, gua bawa jas hujan." Bondan membuka jok motornya lalu dia memakai jas hujan.
Gua berlindung di belakang jas hujan Bondan. Jas hujannya besar, jadi gua hanya menutupkan jas hujan tersebut di atas gua.
"Udah siap, Sil?" tanya Bondan.
"Iya, ayo jalan." gua yang berlindung di belakang Bondan.
Gua menempelkan jidat gua ke punggung Bondan dan tangan gua tersimpan di dada. Tubuh Bondan tidak beraroma, termasuk bajunya, tetapi gua merasa nyaman berada dekat Bondan.
Bondan terus menyetir dengan pelan, gua tidak melihat jalanan karena tertutup jas hujan. Jalanan jika sedang hujan akan licin, jadi lebih baik jangan ngebut, bahaya.
Rok gua basah kuyup. Jas hujan Bondan tidak begitu lebar, tapi tidak masalah.
Bondan menghentikan motornya di dekat warung yang tutup. Lalu dia turun dan bergegas berlindung di depan warung. Jas hujan Bondan terlepas, gua langsung diguyur hujan dari atas. Kemudian gua turun dan mendekati Bondan.
"Ada apa? kok berhenti?" ujar gua penasaran karena Bondan langsung berhenti tanpa berbicara kepada gua.
"Hujannya makin deras, Sil. Mata gua sakit ga bisa melawan hujan," jawabnya,
"Kita neduh di sini dulu aja." lanjutnya
__ADS_1