
Faris berjalan di samping gua menuju parkiran sekolah. Dia nampak terlihat santai seperti tidak mempunyai beban apapun. Gua melirik Faris sesekali untuk memperhatikan ekspresi wajahnya dan sama saja.
"Kenapa?" tanya Faris heran sambil melirik sekilas.
"Lo bikin puisinya bukan buat gua kan?" tanya gua memastikan.
"Jangan kepedean, gua gak mungkin bikin puisi buat lu." jawab Faris dingin.
Gua masih tidak percaya dengan jawaban Faris, karena tadi gua merasa Faris melirik gua sejenak pada saat membaca puisi.
"Gua gak percaya." ujar gua kepada Faris. Faris menghentikan langkahnya lalu menatap gua.
"Emangnya lu berharap banget yak gua bikin puisi buat lu?" selidik Faris.
Wajah gua memerah karena malu dengan dengan ucapan Faris seolah gua berharap kepadanya.
"Yaa, maksud gua bukan gitu." jawab gua kaku.
Faris menengadah melihat langit sambil menghela napas berat. Gua melihat Faris yang sedang melihat langit.
"Udah, kita lanjut jalan." Faris berjalan meninggalkan gua dan gua pun langsung mengikuti Faris dari belakang menuju parkiran.
Kami tiba di tempat Faris memarkirkan motornya, seperti biasa kami menunggu beberapa menit untuk menghindari kemacetan.
Seorang cewek menghampiri kami berdua yang sedang menunggu di ujung parkiran, dia berjalan sambil tersenyum kepada Bondan, tetapi tersenyum seperti terpaksa.
“Hai,” sapanya kepada Bondan.
Bondan tersenyum hangat kepadanya, “Kamu, pulang sama siapa, Sel?” tanya Bondan kepada Gisel.
“Aku pulang sendiri bawa motor.” jawab Gisel. Gua pura-pura tidak memperhatikan mereka berdua sambil memainkan hp.
“Gisel pulang sama kamu?” tanyanya kepada Bondan. Gua yang mendengar nama gua dipanggil langsung menatap Gisel.
"Oh, iya. Rumah kita deketan." jawab Bondan sambil menengok ke gua.
Gisel tersenyum tipis, "Oh, semoga aja gak lama yak--" ujar Gisel.
"Gak lama apa?" tanya Bondan penasaran, Gisel tidak menjawab.
“Hmm, kamu Sisil kan?" tanya Gisel yang beralih ke gua. “Lo masih inget gua?"
Gua menatap Gisel sambil mengingat-ngingat, "Ingat, lo pernah satu gugus kan sama gua pas MPLS?"
"Iya, ternyata lo masih inget gua. Gua pikir, lo udah lupa sama gua." jawab Gisel tersenyum.
"Hmm, sedikit. Gua cuma lupa nama lo siapa." ujar gua.
__ADS_1
Gisel berjalan menuju ke arah gua yang sedang duduk di batu besar.
"Kalo gitu kenalin, gua Gisella Maharani." ujar Gisel sambil mengulurkan tangannya.
Gua membalas uluran tangan Gisel, lalu Gisel tersenyum kepada Bondan seperti meminta izin.
"Gua pacarnya, Bondan." kata Gisel sambil tersenyum kepada gua.
Gua sedikit terkejut karena tuduhan gua benar bahwa Bondan dan Gisel pacaran, tetapi gua masih merasa ada kejanggalan pada hubungan mereka.
"Oh, sejak kapan?" tanya gua sambil melepaskan uluran tangan Gisel.
"Hmm ... kemarin." jawab Gisel yang masih tersenyum.
Gua tersenyum lalu memberikan ucapan selamat kepada Bondan dan Gisel.
"Lo udah punya pacar kan, Sel?" tanya Gisel memastikan.
"Oh, udah. Pacar gua Albert." jawab gua sambil tersenyum.
"Bagus deh, setidaknya lo bisa merasakan ke khawatiran jika cowok lu deket sama cewek lain." ujar Gisel seperti memiliki pesan tersembunyi.
Gua menatap Gisel dengan dalam, terlihat rasa cemburu dari matanya atas kedekatan gua dengan Bondan.
"Iya." jawab gua singkat. Gisel berbalik dan berjalan menuju Bondan.
Gua mengernyitkan dahi karena perkataan Gisel yang penuh dengan penekanan terhadap gua.
Gua menatap Bondan dengan heran sedangkan Bondan memperhatikan Gisel yang sudah terlihat melajukan motoronya, setelah itu Bondan menatap gua dengan heran.
“Kenapa lo?” tanya Bondan.
“Lo beneran pacaran sama Gisel?” tanya gua memastikan.
"Iya, kenapa? Ada masalah?" jawab Bondan dengan heran.
"Emangnya ... lo suka sama dia?" selidik gua.
Bondan mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan gua yang kepo.
"Bukan urusan lo!" jawab Bondan singkat sambil memalingkan wajah.
Gua mengernyitkan dahi atas jawaban Bondan yang membuat gua semakin penasaran.
Bondan mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menulis sesuatu yang gua tidak tahu. Gua penasaran apa yang ditulis Bondan, lalu gua memutuskan untuk bertanya kepadanya.
“Dan, lo nulis apaan sih? Perasaan gua sering banget liat lo ngetik di hp." tanya gua penasaran.
__ADS_1
"Kepo lu, ah." jawab Bondan singkat.
Gua semakin penasaran dengan apa yang ditulisnya, lalu gua beranjak dari batu mendekati Bondan secara diam-diam. Tanpa pikir panjang, gua langsung merampas ponsel Bondan dengan cepat lalu berlari menjauh darinya. Bondan mengejar gua untuk merebut kembali ponselnya.
Gua melihat sebuah cerita yang diketik oleh Bondan di Notes ponselnya dan gua melihat puluhan bab telah ditulis oleh Bondan. Gua sama sekali tidak menyangka bahwa Bondan adalah seorang penulis.
Tanpa gua sadari, Bondan dengan cepat merebut kembali ponselnya dari genggaman gua, gua terkejut dengan ketika ponsel tersebut direbutnya kembali lalu, Bondan berjalan kembali ke arah motornya.
Gua mengikuti Bondan di belakang sambil melontarkan beberapa pertanyaan kepada Bondan.
“Dan, lo penulis? Sejak kapan?" tanya gua sambil berjalan cepat mengikuti Bondan.
"Lo udah terbitin buku apa aja?" lanjut gua. Bondan sama sekali tidak menghiraukan gua.
"Yang lo tulis sekarang naskah yang ke berapa?" tanya gua lagi.
Bondan menaiki motornya lalu menyalakan mesin motor. Gua berdiri di samping Bondan.
"Ayo naik!" suruh Bondan dingin.
"Jawab dulu pertanyaan gua." pinta gua.
"Yang mana?" tanya Bondan.
"Lo dari tadi gak ngedengerin pertanyaan gua?" tanya gua.
"Enggak," jawabnya singkat. "cepet naik! Mau gua tinggalin lo di sini?" ancam Bondan.
Gua langsung naik motor sambil mendengus kesal. Gua melihat Bondan di kaca spion sedang tersenyum tipis.
"Gak usah senyum ga ada yang lucu!" tegas gua.
Bondan menyadari gua yang melihatnya di kaca spion lalu gua langsung memalingkan wajah dan tidak lagi melihat kaca spion.
"Bagi gua ada yang lucu." jawab Bondan seperti meledek.
"Udah jalan aja!" desak gua lalu Bondan melajukan motornya untuk kami segera pulang ke rumah.
Kami tidak berbicara selama perjalanan, gua tidak lagi marah kepada Bondan, tetapi gua masih cemberut untuk menghukum Bondan.
"Awas aja, besok gua cuekin lo Bondan!" ujar gua dalam hati sambil tersenyum tipis.
Bondan berhenti di depan rumah gua lalu gua turun dari motor Bondan. Setelah itu gua langsung masuk ke dalam rumah tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Bondan.
"Sil, gua ..." ujar Bondan, tetapi gua sudah terlanjur masuk ke dalam rumah sehingga dia tidak melanjutkan ucapannya.
Gua menutup pintu rumah lalu mengintip di jendela, Bondan langsung pergi dengan motornya. Gua tersenyum tipis melihat Bondan yang sudah tipis.
__ADS_1
"Ini baru permulaan." gumam gua sambil tersenyu. Setelah itu gua langsung ke kamar untuk mengganti baju.
-•-