
Waktu telah menunjukkan pukul 17.30 dan suara azan berkumandang di masjid belakang rumah gua.
Gua bergegas bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk wudhu, kemudian shalat magrib.
Setelah salat, gua menyalakan tv untuk menonton drama kesukaan gua. Sejenak gua melupakan masalah gua dengan Al, hati gua sudah membaik.
Gua mendengar suara motor dari luar, mungkin itu abi dan umi gua. Tetapi, terdengar suara motor satunya lagi yang gua tidak tahu siapa.
Gua tetap menonton tv dengan santai. Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Gua melihat sejenak apa yang terjadi, tiba-tiba suasana rumah berubah menjadi ramai.
Umi gua masuk diikuti laki-laki di belakangnya. Laki-laki yang berada di belakang umi adalah paman gua. Umi mempersilahkan paman duduk dan langsung menuju dapur membawa kue dan air minum. Abi gua masuk setelah paman gua.
Paman gua terlihat gelisah dan gundah. Gua tersenyum kepadanya seolah tidak tahu-menahu.
"Sil, masuk kamar gih!" suruh abi, gua mematikan tv dan bergegas menuju kamar.
Gua menutup pintu kamar dan membaringkan tubuh ke kasur. Gua beranjak lagi untuk mengambil headphone dan hp dari laci agar tidak menguping percakapan antara orangtua gua dan paman.
Satu lagu telah gua putar. Gua penasaran dengan percakapan mereka. Akhirnya gua mematikan lagu dengan keadaan headphone yang masih menempel di kepala gua. Gua sengaja tidak melepasnya untuk berjaga-jaga.
"..., TERUS KENAPA ADA POLISI SEGALA?!" umi gua terdengar begitu gelisah.
Gua terkejut mendengar suara umi gua yang sedikit meninggi. Abi gua mencoba menenangkan umi agar suaranya lebih di kecilkan.
"Enggak tau, teh ...." suara paman gua terdengar pilu.
Paman gua memanggil umi gua dengan sebutan teteh, dan paman memanggil abi gua dengan sebutan aa.
Hati gua mendadak gelisah mendengar percakapan mereka. Gua tidak tahu apa yang membuat hati gua gelisah. Apa mungkin karena paman gua menabrak anak kecil?
Lantas apa hubungannya dengan polisi? Apa mungkin paman tidak bertanggung jawab? Tapi paman bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Atau bisa jadi anak kecil itu meninggal dan orangtuanya tidak menerima, akhirnya memutuskan untuk memenjarakan paman?
Pikiran gua penuh tanda tanya. Penasaran. Itulah gua sekarang.
"Kamu punya SIM?" tanya umi gua yang yang telah menenang.
"Punya, teh."
__ADS_1
"Yaudah, teteh sama aa mau bantu kamu." ujar abi.
"Iya, A. harus!" suara paman mulai membaik seolah mendapat petunjuk.
Seketika sudah tidak terdengar suara mereka lagi. Gua heran, kenapa tiba-tiba mereka berhenti mengobrol? Gua mengintip dari balik jendela kamar untuk melihat keluar rumah. Paman dan umi gua sudah berada di luar yang entah akan kemana.
Tiba-tiba abi membuka pintu kamar gua. Gua terkejut dan langsung beralih ke abi, gua belum sempat berlagak seolah mendengarkan musik. Abi gua sudah terlanjur tahu kalau gua menguping pembicaraan mereka.
"Ngapain kamu?" tanya abi gua.
Gua tersenyum seolah tidak tahu maksud abi gua.
"Abi mau ke kantor polisi dulu yak. Pintu kunci aja," kata abi. "Abi mungkin pulang jam 12, kamu hati-hati ya di rumah."
"Siap, Bi." gua yang tersenyum sembari hormat kepada abi.
Abi menggeleng dan menutup pintu kamar.
"Awas kupingnya copot ...." suara abi terdengar dari balik pintu.
Gua tersenyum menahan tawa karena abi berkata begitu. Gua tahu maksud abi. Mungkin ada penambahan kalimat di belakangnya.
Gua mengintip ke jendela dan abi keluar sambil membawa kunci motor. Lalu mereka berangkat. Paman gua mengendarai motor sendirian. Sedangkan abi gua dengan umi.
Gua masih tak kuasa menahan tawa akibat ucapan abi. Abi emang paling bisa membuat suasana kembali ceria.
"Yakali kuping gua copot, haha." gua tertawa sambil memegang kuping gua. Kemudian gua beranjak dari tempat tidur untuk mengunci pintu rumah.
-•-
Tok ... Tok ... Tok ....
Terdengar bunyi ketukan pintu. Gua masih tertidur lelap dan menganggap itu hanyalah mimpi. Suara ketukan pintu terdengar lagi dari luar.
"Sil ... Abi udah pulang." suara abi memanggil nama gua sembari mengetuk pintu.
Gua membuka mata dan melihat jam dinding ternyata ini sudah pukul 2.00 dini hari. Gua beranjak dari tempat tidur dan segera membuka pintu rumah.
__ADS_1
Umi masuk dan Abi mengikutinya sambil memasukkan motor.
Umi membawa jinjingan plastik berwarna putih dan aromanya sangat harum. Jinjingan tersebut disimpan di ruang tengah dan umi ke dapur untuk membawa piring.
Gua membuka isi plastik dan ternyata di dalamnya terdapat martabak telor dan sate. Gua ambil martabak telor satu lalu memakannya sambil menyalakan tv.
Umi membawa piring dari dapur, abi duduk di sebelah gua.
"Paman gimana, Bi? Urusannya udah kelar?" gua bertanya kepada abi dengan terus menonton tv.
"Alhamdulilah kelar." jawab abi yang mengambil martabak telor.
"Abi kamu kan mantan pengacara, Sil. Jadi udah biasa ngurusin hal kaya gini." tambah umi sambil memindahkan sate ke piring.
"Pengacara dari Hongkong." jawab abi.
Gua tersenyum melihat abi dan umi gua bercanda.
Abi gua cerita saat mereka di kantor polisi. Gua mendengarkan sembari menonton tv. Abi gua bilang, kejadian ini bukan salah paman, karena paman sudah berkendara dengan kecepatan standar dan juga memiliki surat izin mengemudi.
Kata abi, ibunya si anak itu diam tidak bisa berkata-kata. Dia juga tidak bisa menyangkal bahwa itu adalah salah dirinya yang tidak mengawasi anaknya, tetapi tetap saja ibunya tidak terima anaknya meninggal.
Gua penasaran dengan kejadian setelah ditabrak. Kata abi, paman sudah benar membawanya ke rumah sakit dan bertanggung jawab. Pada saat dibawa ke rumah sakit dan membiayai perawatannya.
Jika gua berada diposisi ibu itu, gua juga pasti tidak terima. Tapi jangan bertindak bodoh juga melaporkan ke polisi tanpa menyadari kesalahan sendiri, kan jadi malu sendiri.
Gua sudah memakan 5 tusuk sate. Abi menyuruh gua tidur karena besok gua sekolah. Gua berjalan ke kamar dan melanjutkan tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 2.30, dan gua terlelap kembali.
-•-
Gua berjalan-jalan di lingkungan smk yang tidak tahu tempatnya dimana. Tiba di lapangan basket, gua melihat Al sedang bermain basket dengan seorang cewek. Mereka hanya bermain basket berdua sambil tertawa. Mereka tampak bermain basket dengan mesra.
"AL," wajah gua mulai memanas melihat mereka berdua bermesraan.
Al dan cewek itu menghentikan permainan dan melihat ke arah gua. Cewek itu mendekati Al. Gua berjalan cepat menghampiri mereka, dengan tangan dikepal.
"MAKSUD KAMU APA?!" gua menonjok wajah Al dan wajah Al terkesiap ke kiri.
__ADS_1
Cewek itu memegang pundak Al dengan khawatir.
"MAKSUD LO APA, HAH?" cewek itu membalik ke arah gua dan mendorong tubuh gua ke belakang, sehingga gua terjatuh.