
Gua duduk bersama Revan, Egi, Farah, dan Bondan. Kami semua duduk siap menunggu Bu Weni, guru bengkel kelas gua untuk mengajar. Lalu Bu Weni masuk dengan mengucap salam. Kami semua menjawab salam Bu Weni.
Terlihat Bu Weni membawa alat-alat elektronika, seperti 10 obeng min, 10 tang potong, 10 obeng serbaguna dan 2 isolasi berwarna hitam.
"Sekarang kita praktek intalasi listrik 3 lampu dan 1 saklar." ujar Bu Weni,
"Kalian udah gambar rangkaian instalasinya kan?"
Serentak kami mengiyakan dan membuka buku pelajaran hari ini untuk melihat gambar rangkaian tersebut.
"Di sini ada yang belum ngerti baca gambar?" tanya Bu Weni.
Tidak ada yang menjawab karena sudah paham. Bondan melihat gambar Bondan dan kebingungan tidak mengerti maksud dari gambar tersebut.
"Bu, ada anak baru yang belum ngerti." ujar Revan.
"Oh, iya. Namanya Bondan kan? Kamu belajar aja sama Revan atau siapa aja." ujar Bu Weni,
"Yang lain jika ingin praktek, kita pindah ke ruang praktek."
Banyak yang keluar lab menuju ruang praktek termasuk Bu Weni. Mereka berebut untuk praktek sesi pertama. Praktek instalasi terbagi menjadi tiga sesi dan setiap sesi berjumlah sepuluh orang.
Kelompok gua memilih sesi tiga karena Bondan ikut serta dalam kelompok gua. Gua dan teman-teman sekelompok gua harus mengajarkan Bondan terlebih dahulu sebelum praktek.
"NIH, JADI GINI!" ujar Farah bersemangat sembari menyimpan bukunya di hadapan Bondan.
Farah duduk di samping Bondan, sedangkan gua dan Egi duduk di meja yang menghadap mereka.
Gua melihat Farah menjelaskan gambar di bukunya. Bondan mendengarkan dan mencoba memahami.
"Kayanya kalian cocok." ujar gua tersenyum.
Bondan menatap gua tidak suka.
"Aku udah ngerti kok, Farah." ujar Bondan dingin kepada Farah.
Farah menutup bukunya dan Bondan berbohong, padahal ia belum mengerti.
Setelah itu kelompok kami keluar untuk melihat praktek sesi 2. Gua keluar paling akhir dari lab. Bondan berdiri di luar pintu dengan tangan terlipat di dada. Ketika gua hendak menuju ruang praktek, gua melihat Bondan dan melewatinya.
"Kenapa? Cemburu?" ujar Bondan ketika gua melewatinya.
"Cemburu? Maksud lo?" gua yang menghentikan langkah gua dihadapan Bondan.
"Jangan jodoh-jodohin gua, Sil. Perasaan gua tetep sama kaya dulu." Bondan nampak santai.
__ADS_1
"Hmm ... Oke" gua sambil mengangkat bahu gua.
Lalu gua dan Bondan berjalan masuk ke ruang praktek.
"Kalo lo ga bisa, mending jangan praktek. Takut kesetrum." ledek gua kepada Bondan.
"Heh, gua bisa lebih jago dari lu!" Bondan tersenyum.
Sesi 3 sudah dimulai. Gua dan yang lainnya sibuk dengan alat yang dipegang masing-masing.
Gua berada di panel nomor 8 dan Bondan berada di panel nomor10. Bondan terlihat santai meski gua tahu dia kebingungan.
Suasana hening. Sesi pertama dan kedua kembali ke lab karena telah selesai praktek.
Teman-teman gua nampak berjalan-jalan untuk bergantian isolasi yang tidak tentu tempatnya.
Gua selesai paling awal dan teman-teman gua sedikit demi sedikit selesai. Lalu Bu Weni melihat hasil kerja kami untuk menilainya. Setelah itu kami diperbolehkan kembali ke dalam lab.
Kami semua telah selesai, hanya tinggal Bondan yang belum selesai menyelesaikan prakteknya.
-•-
Gua mengampiri Bondan yang hampir selesai. Bondan hendak menyalakan mcb dan gua segera menangkisnya. Bondan terkejut melihat gua berada di sampingnya.
"Lu gak liat gua mau nyalain mcb tadi?" katanya, "Lu kenapa nangkis tangan gua?"
Hasil kerja Bondan nampak berantakan, gua maklumi karena mungkin dia belum terbiasa. Banyak sambungan yang belum Bondan isolasi dan banyak kabel yang salah sambung.
"Heh! Itu sambungannya belum lo isolasi semua, lu mau kesetrum?" tegas gua, "Ini juga, masa kabel ini kesini?" gua yang menunjuk aliran kabel yang tidak tentu arah.
Bondan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus yang benernya gimana Sisil....?"
Gua menyuruh Bondan melepaskan sambungan kabel dari connector. Gua membantu Bondan membuka sambungan yang lain menggunakan obeng gua. Lalu gua mengarahkan jalur kabel yang harus disambung kepada Bondan.
Bondan melakukan apa yang gua suruh dan dia berhasil. Lalu Bondan mengisolasi sambungan terbuka, setelah itu dia menyalakan mcb.
Ketika Bondan menyalakan saklar, 3 lampu yang dipasangnya menyala. Bondan nampak bangga dengan hasilnya. Dia tersenyum. Gua melihat kehangatan disenyuman Bondan. Lalu gua dan Bondan kembali ke lab dan Bu Weni masih menilai panel yang lain.
Teman-teman gua nampak sedang bercanda di dalam lab. Gua berjalan di samping Bondan.
"Inget ya ... gua bisa lebih jago dari lu," kata Bondan, "Tapi untuk sekarang gua izinin lo paling jago dari gua."
"Enggak berterima kasih gitu?"
__ADS_1
"Terima kasih," ujarnya, "Mulai sekarang kita adalah Rival." Bondan mengulurkan tangannya.
Gua tersenyum karena merasa tertantang untuk menjadi lebih baik.
Gua membalas uluran tangan Bondan dan kami pun bersalaman, "Setuju" ujar gua.
Gua masuk bersama Bondan ke ruang lab. Tak lama kemudian Bu Weni masuk dan kami pun terdiam. Bu Weni memberi apresiasi karena hasil praktik kami memuaskan dan hasil kerja Bondan tidak terlalu buruk untuk seorang pemula. Bel istirahat telah dinyalakan. Sebagian meninggalkan ruangan lab dan sebagian lainnya keluar lab.
Gua, Farah, dan Dhea keluar lab menuju kantin.
"Sil, kok lu bisa deket banget sih sama Bondan?" tanya Dhea penasaran.
"Jadi, gua dan Bondan tinggal sekampung. Dia itu temen gua dari kecil." gua menjelaskan.
"Pantesan...." Farah yang tidak melanjutkan.
"Hmm ... Gua masih heran sama kejadian yang waktu lo dilabrak Rani. Itu gimana sih ceritanya?" Farah dengan wajah heran.
"Jadi, Rani itu suka sama Al. Dia ngejar-ngejar Al terus pas di smp. Tapi Al lebih memilih gua daripada dia."
"Terus?"
"Si Rani itu selalu nganggep kalo Al milih gua karena gua itu cantik. Padahal, gua dan Al udah jadian sebelum dia kenal Al...."
"Emang dasar ya ... itu orang hobinya bikin kesel mulu. Gua udah gak suka sama dia sejak MPLS." geram Dhea.
Kami tiba di kantin dan menghentikan obrolan. Gua melihat Bondan duduk di bawah pohon depan kantin bersama semua teman cowok sekelas.
Egi dan Noval terlihat sedang menyantap mi instan di tempat duduk paling pojok. Kemudian Egi memanggil gua yang berada di tukang bakso.
"Sil...." tangan melambai kepada gua. Gua mengerti maksud Egi untuk menghampirinya.
Gua pamit sebentar kepada Farah dan Dhea untuk menghampiri Egi, lalu berjalan ke tempat duduk Egi.
"Ada apa?" gua langsung duduk di samping Noval.
"Lu ada masalah apa sama Al?" Noval melirik ke arah gua sembari meminum es di dalam gelas.
Egi terus menyantap mi sembari ingin mendengar jawaban gua.
"Gini ... Kalian berdua pasti dikasih tahu sama Al kan? Kenapa kalian gak nanya sama Al!" tegas gua kepada Egi dan Noval.
"Sil, gua tahu lo cemburu. Tapi coba pikir deh, masa iya Al selingkuh?" jelas Egi.
"Ya ... bisa aja dia selingkuh?" gua mengangkat kedua bahu gua.
__ADS_1