Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Simulation (1)


__ADS_3

Laboratorium Simulasi The Waves


Hari demi hari mereka lalui. Latihan keras setiap hari, mengatur strategi, dan banyak hal lainnya yang mereka lakukan. Hanya saja, ada yang belum mereka lakukan. Latihan pengkodean.


“Hari ini kita akan latihan pengkodean. Hal ini penting untuk memasukkan data untuk menyelesaikan misi. Ann, kamu diunggulkan dalam hal ini,” ujar Aro yang dibalas anggukan oleh Ann.


“Tapi bukan berarti kalian berdua tidak melakukannya,” lanjut Aro sambil melihat ke arah Archie dan Liam.


Archie dan Liam mengangguk dengan serius.


Saat ini mereka berada di ruangan laboratorium yang berisi puluhan monitor digital di dalamnya. Sudah terdapat tiga monitor yang menyala untuk mereka bertiga dengan server dari The Waves.


Archie mendengar dari beberapa temannya bahwa Ann pernah berfokus sebulan, hanya untuk analisis taktik membongkar beberapa pertahanan di VEG. Karena biasanya pihak operator tiap peserta VEG yang melakukannya. Namun, karena tidak memiliki operator, semua dilakukan sendiri oleh setiap anggota di The Waves.


Aro dan beberapa pelatih lain mengadakan latihan ini agar mereka bisa tetap bertanding seimbang dengan peserta lain di VEG.


“Baik, kali ini dimulai dengan mode tunggal untuk membongkar celah. Kita mulai dengan simulasi kode pertahanan VEG. Silakan kalian mulai,” ucap Aro.


Ketiga orang itu memasukkan beberapa kode di dalam server. Dimulai dari beberapa simpul. Dua simpul, lima simpul, sepuluh simpul dimasukkan dengan cepat oleh Ann yang disusul oleh Liam.


Layar-layar mulai dipenuhi dengan kode yang mereka masukkan, tangan mereka tidak berhenti mengetik di keyboard, dan sesekali menyentuh layar monitor digital untuk memindahkan data atau menghapus data program.


Archie sedikit kewalahan, karena tidak pernah memasukkan kode dan program secepat ini. Sesekali ia melirik ke arah dua senior yang berada di sampingnya yang terlihat sangat serius.


“Archie jangan diam!”


Archie terkejut lalu melanjutkannya, ia mencoba menggunakan beberapa simpul untuk mengejar ketertinggalannya. Liam dan Ann sudah berpindah ke data lainnya, sedangkan Archie masih di data pertama.


Ann cukup cerdik dalam mengatasi beberapa masalah di data yang semakin sulit. Ia menggunakan mode yang dikuasainya dan sudah memecahkan lima masalah di data kedelapan. Ia lebih cepat dari kedua rekan lainnya.


Masalah-masalah lainnya muncul di layar Archie. Kepalanya terasa pusing, ia belum pernah berada di data yang lebih sulit dari sebelumnya. Archie berusaha tetap tenang lalu melanjutkannya walaupun sudah tertinggal jauh dari dua seniornya.


Archie berhasil memecahkan data kedua belasnya. Terjadi kesalahan di data kelima belasnya. Archie salah memasukkan data.


“Ya ampun, salah. Hapus dulu hapus dulu Archie yang tenang,” gerutunya sambil menyentuh layar monitor digitalnya, lalu meghapus data-data yang salah.


Liam lebih agresif, ia menyerang paksa server pertahanan simulasi VEG itu. Beberapa menit kemudian ia terdiam. Liam mengamati setiap celah data lalu melanjutkannya. Aro mengamati tiga anak didikannya itu.


Hacked. Tulisan itu muncul di layar monitor Ann. Ia sudah selesai menyerang simulasi pertahanan VEG itu. Hal itu terlihat tidak terlalu sulit untuknya. Ann menarik napas dan menghembuskannya lega. Disusul oleh Liam yang juga sudah selesai dengan penyerangan datanya.


Archie belum selesai, ia merasa terlalu buru-buru sehingga akses simulasi itu belum terbuka. Lalu ia mengulangi lagi dari awal.

__ADS_1


“Aduh gila aja aku, malu banget ini dilihat tiga orang,” gerutunya pelan.


Sekitarnya terasa hening, hanya berisi suara keyboard dari dirinya yang masih berbunyi. Beberapa saat kemudian, ia berhasil menyelesaikan simulasi itu dengan akses yang terbuka.


Archie menghembuskan napasnya lega. Rasanya seperti minum air setelah berlari. Namun setelah itu, ia tidak berani melihat sekitarnya dan Archie menunduk. Ia merasa malu karena lebih lambat dari mereka berdua.


Aro menghela napasnya lalu menghampiri Archie.


“Coba bayangkan saat VEG kamu selambat ini. Latihan seperti ini tidak ada distraksi apapun. Saat VEG, dengan keadaan mendesak pun kamu dituntut untuk bergerak cepat. Tentu saja, server pertahanannya lebih sulit dari simulasi ini,” ucap Aro.


“Maaf, Kak,” jawab Archie sambil menunduk.


“Sekarang saya tanya, apa kesulitan kamu tadi?” tanya Aro yang berniat membantu.


“Itu… sebelumnya saya juga biasa membuat program. Hanya saja belum pernah secepat ini. Saat secepat tadi saya merasa terburu-buru. Karena panik, jadinya banyak data yang salah,” jelas Archie.


Aro memandang Archie dengan tatapan yang tajam. Archie yang merasa tegang hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Coba kamu ulang dengan kecepatan yang biasanya kamu lakukan,” pinta Aro yang dijawab dengan anggukan lemah Archie.


“…dan untuk kalian berdua, kalian sudah cukup bagus. Coba lagi dengan level yang lebih sulit. Saya akan mengawasi Archie dahulu, setelah urusan dengannya selesai, saya akan melihat perkembangan kalian dengan menguji kalian lagi,” lanjut Aro.


Liam dan Ann pindah ke monitor yang terletak di bagian belakang. Archie masih di barisan depan untuk melakukan simulasi ulang pengkodean. Dari monitornya, Aro mereset ulang semua kode yang tadi ia aktifkan sebagai simulasi server pertahanan VEG.


Archie mulai bersiap melakukan pengkodingan seperti yang ia lakukan tadi. Setelah semua masalah muncul di layar monitornya, Archie mulai menyelesaikannya secepat yang ia bisa.


Berbagai simpul dan metode ia gunakan untuk meretas celah dari simulasi server pertahanan itu. Beberapa akses sudah mulai terlihat terbongkar, dan ia melanjutkan ke beberapa data lainnya. Server ini berbeda dengan yang tadi ia lakukan, hanya saja levelnya sama.


Liam dan Ann yang berada di belakang, terkadang iseng melihat mereka berdua yang berada di depan. Mereka belum memulai pengkodean, tetapi berbicang dengan suara yang kecil.


“Eh, Kak Aro beneran teliti banget ngelihat kita ya,” ujar Ann.


“Namanya juga peserta di peringkat tinggi, terus juga jadi pelatih. Wajar kalau dia teliti banget. Padahal jarak usianya sama kita juga ga jauh. Tapi levelnya yang beda jauh,” jawab Liam.


“Kalian berdua kenapa belum lanjut?” tanya Aro dari baris depan.


“Eh… anu… ini mau lanjut kak,” jawab Ann dengan gugup.


Aro mengalihkan pandangannya untuk mengawasi dan melihat pergerakan Archie dari layar monitornya. Pergerakan Archie memang terlihat lebih lambat dari Ann dan Liam. Tetapi saat Aro melihat data-data yang berusaha masuk ke dalam server simulasi itu, ia merasa Archie cukup berhati-hati agar tidak ada kode yang salah.


Bisa disimpulkan memang Archie cukup lambat tapi sangat berhati-hati. Ia juga terlihat cukup menikmati hal yang ia lakukan itu, terlihat dari kode-kode yang masuk di layar monitor Aro. Akses server simulasi pertahanan VEG itu sudah terbuka.

__ADS_1


Archie menghembuskan napasnya lega. Ia tidak menyangka bisa lebih cepat dari sebelumnya. Walaupun sebenarnya ia masih cukup lambat dari Liam dan Ann.


“Kamu tidak buruk, hanya saja kamu terlalu berhati-hati jadinya terkesan lambat,” ujar Aro.


“Beberapa simpul yang kamu masukkan juga cukup rapih, sepertinya ada beberapa kode milikmu sendiri, benar begitu?” Lanjut Aro.


“Iya, Kak, untuk data ketujuh tadi saya isi beberapa dengan kode program milik saya,” jawab Archie.


Aro mengangguk saat mendengarnya. Ia tahu bagaimana cara melatih Archie saat ini. Sepertinya ia mulai paham mengapa Kelvin memilih Archie.


“Sekarang coba kamu ulangi lagi, tambah sedikit kecepatan kamu, kamu bisa mengukurnya dengan stopwatch yang ada di monitor. Berapapun kecepatannya, ukur saja. Setelah kamu lihat ternyata lebih cepat, ulangi lagi sampai kecepatan kamu sejajar dengan mereka berdua,” saran Aro.


Archie yang mendengarnya mengangguk cepat dan langsung melakukannya. Sementara itu dengan ponselnya, Aro memberikan pesan kepada Kelvin.


Aro: Saya mulai mulai mengerti mengapa Anda memilih Archie.


Pesan tersebut dibaca oleh Kelvin di ruangannya. Kelvin tersenyum saat membacanya.


Kelvin: Bagus, beri pelatihan yang cukup untuknya.


Lalu Kelvin menutup pesan itu dan melihat peringkat klasemen sementara. Tidak ada yang berubah dari Aro, Liam, dan Ann. Namun, peringkat Archie naik hingga peringkat 23 kali ini. Hal tersebut karena, poin hasil pertandingan internal The Waves Group F milik Archie sebelumnya, sudah keluar. Ia mendapatkan banyak poin di sana.


Pertandingan internal diselenggarakan rutin oleh tiap tim yang mengikuti Virtual Evo Game. Pertandingan itu diadakan untuk memperoleh poin sebanyak-banyaknya, dengan cara pertandingan pengetahuan oleh anggota tim yang berada pada Group E-F, pada masing-masing tim.


Kelvin yang melihatnya semakin yakin kalau ia tidak salah dalam memilih peserta. Setelah menutup ponselnya, ia berjalan ke arah jendela kantor utama itu sambil melihat beberapa anggota The Waves yang berlalu-lalang.


Kembali lagi di laboratorium.


Archie sudah mulai bisa mengimbangi kecepatan kedua seniornya itu. Liam dan Ann juga sudah selesai latihan dengan level yang lebih sulit, sehingga Aro mengijinkan mereka untuk istirahat sejenak.


Sementara Archie, ia masih berlatih dengan level-level yang lebih sulit itu. Aro yang mengamatinya merasa kalau Archie adalah orang yang memiliki kemampuan beradaptasi yang cepat. Memang ia tidak sebaik lainnya, tetapi kemampuannya meningkat cukup pesat.


Setelah selesai membuka akses simulasi itu, Archie menghembuskan napasnya lega. Ia beristirahat sejenak di luar laboratorium itu sambil merenggangkan tubuhnya. Ia melihat Aro yang sedang berlatih di tengah istirahatnya.


“Dia latihan sambil melatih orang juga ya, pasti capek banget,” tuturnya pelan.


Mereka bertiga telah kembali ke dalam laboratorium. Aro masih sibuk dengan keyboard dan monitor digitalnya. Gerakan tangannya menyentuh keyboard dan monitornya terlihat begitu cepat dan tepat. Archie kagum dengan pelatih sekaligus rekan satu timnya ini.


Kalau seandainya dua tahun lalu dia gak cedera, pasti dia jadi orang yang paling kuat dan dia pemenangnya. Batin Archie.


***

__ADS_1


__ADS_2