
Liam keluar dari mesin satu. Ia langsung mencabut kartu tanda pengenalnya dari Electronic Data Capture itu. Laki-laki itu langsung segera keluar dari ruangan Evopass tanpa menunggu Vinn terlebih dahulu.
Saat dirinya melangkahkan kaki keluar ruangan, ia melihat Aro yang sedang menyenderkan tubuhnya di dinding. Aro melirik ke arahnya dengan tatapan datar seperti biasanya.
“Kak Aro?”
“Mau keluar gedung?” tawar Aro. Lalu dibalas anggukan oleh Liam.
Mereka berdua keluar dari Vex Building, mencari udara segar. Aro menyuruh Liam untuk duduk di kursi pinggir taman. “Tunggu sini sebentar,” kata Aro. “Iya, Kak,” jawab Liam.
Aro sengaja mengajak Liam kesana. Karena saat babak lima belas besar yang lalu, Aro melihat Archie yang menyendiri di kursi pinggir taman tersebut. Dari balik dinding, Aro melihat Archie yang acap kali menyeka air matanya.
Ia ingin menyapa Archie, tetapi terlalu gengsi. Lalu ia pergi dari sana. Beberapa hari kemudiannya, Aro merasa menyesal karena tak sempat menghibur adik tingkatnya itu.
Ia tahu, hanya Archie yang tidak berhasil sampai babak semifinal dari mereka berempat. Semenjak saat itu, Archie menjadi jarang berbicara ataupun mengobrol dengan Aro.
Aro tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Ia merasa sudah cukup dekat dengan ketiga juniornya itu. Dirinya hanya tidak ingin terbagi jarak dengan orang-orang yang sudah cukup dekat dengannya.
Walaupun wajahnya terlihat datar, tetapi ada rasa peduli sebagai seorang kakak di dalam hatinya.
Aro pergi membeli beberapa softdrink di minimarket seberang gedung. Setelah membayarnya, ia menelepon Ann untuk menemuinya dan juga Liam di luar gedung itu.
Lalu Ann tiba di pinggir kursi taman itu.
“Lho? Kamu ngapain kesini?” tanya Liam.
“Disuruh sama Kak Aro,” jawab Ann. Liam hanya membalasnya sekadar ‘oh’ saja.
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Liam yang masih teringat dengan kejadiannya gagal melawan Vinn, dan juga Ann yang berpikir bagaimana cara memulai percakapan.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah benda terbang ke arah mereka. Mereka berdua langsung menangkapnya. Botol minuman, ada tulisan dari spidol di belakangnya.
Di botol minuman Liam terdapat tulisan you did really good job, dan di botol Ann tertulis goodluck for tomorrow. Keduanya langsung menebak siapa yang melempar botol-botol minuman itu.
“Kak Aro yang ngasih kah?” tanya Liam.
“Mungkin, eh tapi masa dia bisa selembut ini sih?” kata Ann.
“Orang sedingin apapun biasanya cair juga sih. Kak Aro mah aslinya orang baik banget emang, cuma ga nyangka aja. Itu pun kalo beneran dia yang ngasih,” tanggapan Liam.
Tiba-tiba ponsel mereka berdua bergetar. Aro memberi pesan lewat Group.
Aro: Udah dapet kan minumnya? Yaudah, saya masuk ke dalam gedung lagi.
Keduanya langsung membulatkan matanya. Botol itu ternyata benar-benar dari Aro. Biasanya hanya Ann dan Archie saja yang membeli minuman. Ann langsung menjerit kegirangan.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Liam.
Liam menyipitkan kedua matanya sambil memandang Ann yang sedang menyengir. Lalu beralih lagi sambil melihat botol minuman itu lagi.
“Ih sama, yaudah jangan buang botolnya. Kapan lagi kan, diperhatiin idola, hahaha,” ucap Liam yang ternyata memiliki perasaan yang sama seperti Ann.
Lalu keduanya terdiam sambil tersenyum-senyum sendiri, dan juga memandangi minuman yang diberikan seniornya itu. Ann semakin tidak sabar untuk besok melawan Aro, dan Liam menjadi sedikit lebih tenang saat membaca tulisan sederhana dari Aro itu.
“Eh, berarti kita ditinggal berdua gini dong?” tanya Ann.
“Iya juga ya? Kak Aro ninggalin nih ceritanya?” tanya Liam lagi.
Lalu ponsel mereka berdua bergetar lagi, ada pesan dari Group mereka lagi. Aro yang menulis pesan di sana.
__ADS_1
Aro: Mau biarin kalian berduaan.
Keduanya kembali terkejut. Lalu keduanya tersipu malu. Aro yang dari jauh melihat mereka berdua hanya tersenyum tipis, karena sebenarnya ia tahu kalau Liam dan Ann sudah punya hubungan khusus. Sejak pertama kali mereka dipertemukan menjadi sebuah tim.
“Pelan-pelan aja ngomongnya, pasti Kak Aro lihat kita,” bisik Ann. Liam mengangguk cepat.
Laki-laki yang esok akan bertanding itu kembali masuk ke dalam gedung. Membiarkan kedua juniornya menikmati pemandangan taman. Saat berjalan ke dalam, ponsel Aro bergetar. Pesan masuk, dirinya malah sedikit tertawa saat membacanya.
Archie: Kalian ngomongin apaan sih? Kok ga ngajak-ngajak?
***
Hari itu, Vinn dinobatkan sebagai pemenang pada pertandingan hari pertama. Lalu, malam pun tiba. Liam sudah kembali ke kamar asramanya di The Waves, sedangkan Vinn masih berada di hotel dekat Vex Building.
Vinn masih berada di hotel karena, ia harus menunggu untuk mengetahui siapa saingannya di babak final. Tentu saja Aro dan Ann masih berada di hotel. Karena mereka harus saling bertanding esok hari.
Ann masih merasa gelisah untuk esok hari. Sedangkan, Aro sudah lebih tenang dan dia memilih untuk istirahat.
Perempuan yang menginap di kamar khusus peserta VEG itu masih menggulirkan layar ponselnya. Ia hanya melihat sekilas berita-berita yang tersebar di media sosial. Lalu mulai merasa bosan dan mematikan ponselnya.
Seketika itu juga, ponselnya bergetar. Ann langsung membaca pesan, dari Liam. Perasaannya langsung membaik saat ia membaca pesannya.
Liam: Istirahat yang benar. Besok aku nonton di kursi penonton, seperti yang kamu lakuin hari ini. Semangat sayang…
Ann menjadi tersipu setelah membacanya. Pipinya sudah kemerahan. Ia merasa dirinya lebih tenang setelah berhari-hari merasa gelisah.
Dirinya kembali mengingat ucapannya sendiri saat berbicara dengan Aro, bahwa Ann tidak ingin Aro merasa canggung saat menghadapinya, karena ia perempuan.
Ia merasa harus memegang ucapannya. Karena baginya, pertandingan akan terasa lebih menyenangkan kalau menghadapinya dengan perasaan seimbang dengan lawannya.
__ADS_1
***