
Mereka bertiga kembali duduk di kursi baris depan laboratorium. Aro memperhatikan mereka satu persatu.
“Latihan sekarang, kita lakukan simulasi penuh untuk VEG. Pertarungan dan pengkodingan. Coba kalian bertiga, satu persatu menghadapi skor saya di dunia VEG,” tutur Aro dengan santai.
“HAHHHH?!” jerit mereka bertiga. Tentu saja mereka terkejut, mulut Archie sampai terbuka lebar saat mendengarnya.
Mereka bertiga ditantang oleh Aro yang pernah berada di posisi tinggi. Kemampuannya cukup sulit untuk dikalahkan. Bahkan kejadian dua tahun lalu, poin Aro sebagai peringkat dua memiliki jarak poin yang jauh dari peringkat ketiga, dan poin yang tipis dengan peringkat pertama.
“Kak? Yang benar?” tanya Liam memastikan.
“Kenapa? Kalian takut? Yang lebih banyak poin dari saya, kalian menang,” Tanya Aro dengan senyuman tipisnya.
Ketiganya menimbang-nimbang. Archie terlihat takut karena ia tahu betapa sulitnya pertarungan satu lawan satu apalagi melawan orang sekuat Aro. Terakhir kali Archie bertanding seperti itu adalah saat seleksi Group, dan hasilnya sangat buruk. Itulah sebabnya mengapa ia berada di Group F.
“Saya mau kak,” jawab Liam sambil mengacungkan tangannya.
Tentu saja orang sepertinya adalah tipikal orang yang penasaran. Liam selalu mengagumi seniornya itu dari sebelum ia sendiri bergabung dengan The Waves.
Meghadapi Aro adalah kesempatan langka untuknya. Karena ia merasa belum tentu juga bisa sampai babak final untuk tahun ini. Aro tersenyum dan mengangguk saat mendengarnya.
“Baik, bagaimana dengan kalian berdua?” tanya Aro ke arah Ann dan Archie.
“Saya mau, Kak,” balas Ann.
Ann juga ingin menunjukkan kemajuan pesat dari dirinya kepada orang yang pernah satu tim dengannya dulu itu. Ia juga ingin memastikan bahwa dirinya juga mampu melangkah ke babak yang lebih tinggi di VEG nanti.
“Saya… em… belum tahu, kak,” jawab Archie pelan.
“Kamu takut? Kamu mau terus-terusan bilang ga pantas?” tanyanya dengan nada yang lebih rendah dan tatapan yang tajam.
“B…bukan, Kak,” aduh Ya Tuhan, hamba harus gimana? Batin Archie sambil berusaha menjawab.
“Saya mau lihat penampilan yang lain dulu, Kak, untuk bisa mempelajarinya,” jawab Archie berhati-hati.
Aro mengangguk pelan sambil menatapnya, tanggapan Aro seperti itu membuat Archie bisa bernapas dengan lega.
“Saya akan memulai terlebih dahulu. Kalian bisa mengamati saya di ruang monitoring.”
Lalu mereka bertiga menuju ke ruang monitoring simulasi di lantai delapan, untuk melihat Aro bertanding. Ruang yang cukup besar dengan beberapa kursi dan layar besar seperti ruangan bioskop untuk melihat apa yang terjadi di dalam dunia VEG saat pertandingan.
Tersedia layar lainnya di sebelah kanan untuk melihat berapa poin nyawa setiap pemain VEG, akan terlihat juga berapa poin yang setiap pemain kumpulkan saat kembali dari VEG dan keluar dari ruang Evopass—ruangan yang mentrasferkan tubuh ke dunia virtual.
__ADS_1
Ada beberapa cara untuk keluar dari VEG. Poin nyawa yang habis karena sering tertembak droid atau terkena serangan pihak lawan, sudah menyelesaikan misi, pertandingan selesai, atau meminta pihak penyelenggara panitia untuk keluar dari VEG.
Aro yang berada di depan ruang Evopass melihat Kartu tanda pengenal yang ia pegang. Terlihat foto avatar, tertulis nama avatarnya yang bernama Aro, dan juga The Waves dibawahnya. Melihat ruangan yang sudah lama tidak ia lihat, membuatnya merasa semakin tidak sabar masuk ke dalam VEG.
Ia memasukkan kartunya ke dalam tempat menaruh kartu tanda pengenal di Electronic Data Capture. Lalu pintu ruangan itu pun terbuka. Aro masuk ke dalam mesin itu lalu pintunya tertutup, ia meletakkan telapak tangannya di sebuah layar hologram yang muncul dihadapannya, terlihat nama Aro disana. Lalu tubuh Aro perlahan menghilang dari mesin itu.
Tubuh Aro kini muncul di dalam dunia VEG dengan bentuk virtualnya. Turtleneck hitam dengan jaket hoodie berwarna abu-abu tua, sembilah pedang berada dibelakang punggung yang berwarna biru neon.
Ditambah mengenakan masker warna hitam, dengan headphone warna hitam menambah kesan Cyberpunk, dan tembakan laser berbentuk sarung tangan yang hanya dipakai sebelah kiri sebagai senjata tambahannya.
Liam, Ann, dan Archie yang mengamatinya di dalam ruang monitoring simulasi merasa kagum. Aro yang menggunakan avatarnya itu terlihat memiliki kharisma yang kuat.
Ya Tuhan! Kak Aro ganteng banget. Batin Archie.
“Wah, kayaknya udah lama banget ga lihat Kak Aro pakai avatarnya itu,” tutur Liam.
“Eh, desain avatarnya sedikit berubah ga sih?” tanya Ann.
“Iya, dua tahun yang lalu, jaketnya warna hitam” jawab Liam.
Memang benar, selama masa hiatusnya Aro mendesain ulang avatarnya itu. Layar di sebelah kanan terlihat gambar avatar Aro dengan jumlah poin nyawa yang ia punya dibawah fotonya itu. Ketiga anak didik Aro itu melihatnya sedang berlari di dalam dunia VEG.
***
Dunia simulasi. Arena yang dibuat oleh pihak The Waves dengan membuat dunia ilusi seolah-olah sudah berada di dalam dunia Virtual Evo Game. Ide ini dibuat oleh Kelvin untuk melatih semua anggota The Waves. Simulasi ini dibuat semirip-miripnya arena sesungguhnya dunia VEG.
Aro berdiri di tengah-tengah hutan, ia sedang terdiam mengamati layar hologram yang muncul dihadapannya. Layar itu berisikan misi yang harus Aro selesaikan. Misi kali ini adalah untuk meretas pertahanan di Zona Hutan. Posisi pertahanannya berada di sudut selatan, sedangkan Aro berada di arah barat.
Setelah membaca misi, layar hologram tersebut menghilang dari hadapannya. Tandanya ia harus segera bergerak. Aro mulai berlari ke arah selatan dan harus mencari tahu sendiri semua posisi dan cara meretas pertahanan VEG itu.
Hal tersebut tentunya tidak hanya menyulitkan Aro, tetapi untuk semua anggota The Waves yang tidak memiliki operator. Mau tidak mau hal ini harus dilakukan semua orang yang berasal dari The Waves.
“Semoga kakinya Kak Aro ga kenapa-kenapa,” ucap Archie dari bangku ruangan monitoring.
“Kalian tenang aja, kalian belum lihat secara langsung bukan latihan Kak Aro kayak gimana?” tanya Ann.
Liam dan Archie menoleh ke arah Ann. Mereka berdua mengangguk, Ann tertawa kecil melihatnya.
“Kalian pasti bakal kagum,” ucapnya.
Di tengah perjalanannya, Aro melihat banyak robot yang berkeliaran di hutan. Melihat semua itu, Aro bersembunyi dibalik salah satu pohon sambil mengawasi pergerakan semua robot. Lalu Aro mengeluarkan pedang menggunakan tangan kanannya. Melihat salah satu robot yang sendirian, Aro langsung menebas robot itu.
__ADS_1
Mendengar suara, salah satu robot berwarna kuning mulai menghampiri sumber suara itu. Saat robot itu sampai di sana, tidak ada siapapun. Tiba-tiba dari atas pohon, terlihat Aro yang langsung menembak robot itu menggunakan tembakan lasernya.
Aro menumbangkan dua robot itu, lalu kedua robot itu menghilang dari arena. Poin nyawanya masih penuh karena tidak tertembak apapun. Aro melanjutkan perjalanannya. Archie yang melihatnya itu menganga lebar. Ia tidak tahu Aro bergerak dari arah mana untuk menyerang robot yang kedua itu.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba beberapa drone terbang dari belakang tubuh Aro. Menyadari hal itu, Aro berlari cepat menghindari tembakan-tembakan yang keluar dari drone tersebut.
Aro terlihat lincah menghindari semua tembakan itu. Drone-drone itu mulai terbang di atas dan menembaknya. Aro langsung menepis semua tembakan itu dengan pedangnya. Ia melompat ke arah drone lalu berputar sambil mengulurkan pedangnya itu. Semua drone itu pun terjatuh dan menghilang.
“Gila, dia kayak ga pernah hiatus!” seru Liam yang kagum dengan pergerakan Aro itu.
Ann tersenyum melihatnya, seakan merasa bangga pernah satu tim dengan Aro, siapa sangka kalau tahun ini ia juga akan satu tim dengan senior yang paling diperhitungkan di The Waves itu.
Aro melanjutkan perjalanannya, banyak rintangan yang ia hadapi. Salah satunya adalah jembatan pohon yang tiba-tiba roboh saat ia berusaha melewatinya. Beruntung Aro bisa berlari lebih cepat sehingga sebelum jembatan tersebut sepenuhnya menghilang, ia sudah sampai di seberangnya.
“Sumpah jadi jantungan,” ujar Liam saat itu.
Perjalanannya sampai di tempat inti. Tempat ini adalah titik untuk meretas pertahanan dengan menggunakan kemampuan pengelolaan data. Ada jendela digital – sebuah layar seperti induk dari Virtual Evo Game – dihadapannya, Aro langsung memasukkan data-data untuk meretas pertahanan. Tangan-tangannya menyentuh layar jendela digital yang penuh dengan kode itu.
Kode-kode itu juga muncul di layar sebelah kanan arena monitoring, sehingga bisa dilihat juga oleh Liam, Ann, dan juga Archie.
Beberapa simpul kode ia masukkan. Hampir gagal, namun berhasil ia tangani. Archie yang berada di ruang monitoring mengamati setiap gerak-gerik setiap kode yang dikerjakan seniornya itu. Terlihat dahi avatar Aro yang berkerut saat melihat ada kode yang tidak pernah ia lihat.
Ann yang duduk di sebelah Archie tersentak karena ia pernah melihat kode itu. Ia ingin memberitahukan Aro namun mengurungkan niatnya karena sudah ditangani dengan cepat oleh Aro.
Layar menunjukkan tulisan Hacking Progress, lalu Aro meletakkan telapak tangan di jendela digital itu. Terlihat aksesnya sudah terbuka, Aro berhasil meretas pertahanan dunia simulasi di zona hutan itu.
Mereka bertiga terlalu bersemangat saat melihat kemampuan senior, pelatih, sekaligus rekan satu tim mereka itu. Setelah aksesnya terbuka, terlihat Aro yang tersenyum tipis merasa ternyata ia masih mampu melakukan semua itu.
Lalu jendela digital itu menghilang dan sebuah portal muncul dihadapannya. Aro berjalan ke arah portal lalu tubuhnya menghilang dari dunia simulasi VEG itu.
Tubuh Aro perlahan muncul di dalam ruangan Evopass, lalu setelah dirinya berada di dalam ruangan itu sepenuhnya, Aro membuka pintu ruangan dan mengambil Kartu tanda pengenalnya yang masih menempel di Electronic Data Capture.
Ia memasuki arena monitoring di lantai delapan. Terlihat mereka bertiga yang melihat Aro dengan perasaan kagum. Tidak ada yang tidak terpesona dengan Aro saat itu. Layar hologram sebelah kanan mulai menunjukkan jumlah poin yang Aro raih. Terlihat angka sebesar 578.962 poin yang Aro raih dari perjalanannya di dunia simulasi tadi. Papan klasemen sementara di arena monitoring VEG menunjukkan dirinya berada di nomor satu.
"Poinnya tinggi banget. Lebih tinggi dari rekor simulasi VEG dia sebelumnya,” bisik Ann kepada kedua orang di sebelahnya itu, dan dibalas anggukan kecil dari Liam.
“Bagaimana? Sekarang giliran kalian,” tutur Aro sambil memandangi ketiga orang itu.
Liam tersenyum percaya diri untuk melakukannya. Ann mengepalkan kedua tangannya karena tidak sabar untuk mencobanya. Tantangan dari Aro itu terlihat menegangkan untuk Archie.
“Siap kak, saya juga mau membuktikan kalau saya mampu,” jawab Liam dengan suaranya yang lantang. Terlihat Aro yang tersenyum bangga saat melihat Liam.
__ADS_1
Bagaimana caranya agar bisa sejajar dengan orang ini? Batin Archie sambil memandang Aro yang ada di depannya.
***