
Setelah kejadian itu, Liam dan Ann melanjutkan latihan. Tetapi Aro menyuruh Archie untuk beristirahat karena melihatnya sudah nampak sangat kelelahan dengan tubuh yang basah kuyup, dan tangan yang terluka. Aro hanya tidak ingin kalau rekan satu timnya nanti ada yang sakit.
Archie langsung masuk ke kamar asramanya. Setelah membereskan semua hal yang harus diselesaikan, baru Archie bisa merasa santai. Ia duduk di kursi depan monitornya sambil mengganti balutan perban ditangannya.
Sambil melihat tangannya itu, Archie teringat apa yang dikatakan Aro sewaktu latihan tadi, cari tau cara meminimalisir luka ditanganmu. Seakan ada yang menyalakan lampu dikepalanya, Archie teringat pada avatarnya. Ia menyalakan monitor untuk melihat desain avatarnya itu.
“Kayaknya harus ditambahin sarung tangan deh dibagian tangan,” gumam Archie.
Lalu ia menambahkan sarung tangan di desain avatarnya itu. Dengan sarung tangan berbahan khusus yang tentunya tidak menghambat pergerakan tangan Archie saat menggunakan busur panahnya. Terlihat cukup modis dan nyaman saat dikenakan oleh avatar Archie itu.
Archie kembali teringat dengan kejadiannya sebelum tercebur di sungai. Latihan keseimbangan. Tiba-tiba Archie bangun dari kursinya lalu mencoba membayangkan berdiri di atas tangki itu. Kakinya yang bergetar mengingatkannya dengan kejadian masa kecilnya dulu.
Saat kecil, Archie merengek meminta ayahnya untuk dibelikan sebuah skateboard. Ia menginginkannya karena sering melihat tetangga depan rumahnya menggunakan papan luncur itu untuk pergi ke sekolah.
“Gausah beli lah, ayah gaada uangnya. Coba pinjam aja,” saran ayahnya saat itu.
Lalu Archie memberanikan diri untuk meminjam skateboard itu ke tetangganya. Saat mencoba menggerakkannya, ia menaikkan kedua kakinya di atas papan itu. Kedua kaki Archie bergetar dan ia yang sudah melangkah jauh dengan skateboard tetangganya itu mulai ketakutan.
“Aduh, jalannya cepet banget. Eh…” GUBRAKKK… Archie pun terjatuh dari papan luncur itu.
Setelah mengingat semua kejadian itu, Archie menertawakan dirinya sendiri.
“Ternyata yang kayak gini udah pernah dialamin ya? Dasar Archie, jatoh terus,” gumamnya.
Dari mengingat masa kecilnya itu, ide muncul dari kepalanya. Archie langsung duduk kembali di atas kursi depan monitor hologramnya. Inspirasi datang dengan tiba-tiba. Ia langsung mengaktifkan monitor dan memasukkan banyak sekali kode di dalam sebuah server dari The Waves, lalu membentuk sebuah benda yang mulai terlihat di monitor hologramnya itu.
“HAHAHAHAH ternyata kecebur sungai juga bisa munculin inspirasi ya,” ucapnya sambil menyelesaikan sistem projek dadakannya itu.
***
Lapangan The Waves, pukul 23:00
__ADS_1
Hanya tersisa Aro seorang. Peralatan latihan masih ada di sana, bahkan terlihat lebih banyak barang dari sesi latihan untuk ketiga calon peserta lainnya. Tangki dan papan target yang belum bersih dari bekas tembakan juga masih berada di sana. Ditambah dengan beberapa peralatan simulasi.
Aro menekan tombol untuk membersihkan salah satu papan target, lalu papan target itu sudah terlihat bersih tanpa ada bekas tembakan. Aro menempelkan angka 1 di papan itu. Setelah itu, Aro berdiri di tengah lapangan dengan memegang salah satu senjata andalannya selama bertanding di VEG, yaitu pedang dan tembakan laser dari salah satu gadget yang berbentuk sarung tangan di tangan kirinya. Ia menarik napas dan menghembuskannya.
“Mulaikan,” ucapnya.
Lapangan mulai tertutup dari berbagai sisinya, lalu lampu menyala di mana-mana. Secara otomatis, sebuah layar hologram berukuran muncul di belakang tubuhnya. Bertuliskan Aro dan angka 0 dibawah tulisan itu. Beberapa robot dan drone keluar dari berbagai sudut lapangan. Ia segera bersiap dengan pedangnya, lalu robot-robot dan beberapa drone itu mulai bergerak menyerang ke arahnya.
Aro berlari dengan cepat menghindari banyak tembakan dari berbagai droid tersebut. Untuk menghindari tembakan, ia menepis semua tembakan itu dengan pedangnya yang diputar berkali-kali olehnya. Ia berlari ke salah satu robot dan membelah robot itu menjadi dua bagian dengan pedangnya.
Angka di layar besar tersebut berubah menjadi angka 1. Aro tidak memperdulikannya, ia terus berusaha menghindari berbagai tembakan yang mengarah kepadanya. Ia melompat tinggi ke arah salah satu drone dan menembaknya dengan laser yang keluar dari sarung tangannya itu.
Waktu terus berjalan, dan hari semakin malam tetapi Aro masih terus berusaha menyerang. Belasan droid sudah ia lumpuhkan, hanya tersisa dua lagi. Aro menyimpan pedangnya itu di selongsong tempat menyimpan pedang di belakang punggungnya.
Ia ingin menghancurkan kedua droid itu dengan tangan kirinya. Setelah menghembuskan napasnya, ia mulai berlari ke arah kedua benda yang bergerak itu. Robot itu menembak, tetapi Aro kembali berhasil menghindar.
Lalu ia melompat tinggi dan mengarahkan tangan kirinya ke arah drone, lalu menembaknya. Setelah drone itu hancur, Aro jatuh di atas bahu robot yang berdiri itu, lalu mengeluarkan tembakan lagi ke robot itu.
Pedang itu langsung tertancap di tulisan angka 1 yang berada di tengah papan target digital itu.
Aro mengatur napasnya berkali-kali, seluruh tubuhnya berkeringat. Syukurlah kakinya tidak mengalami cedera apa pun. Ia terduduk di tengah lapangan yang berubah menjadi arena simulasi itu.
“Syukurlah masih bisa lari cepat,” gumamnya.
Aro yang mengira hanya dirinya sendiri di dalam arena itu, tidak menyadari ada Archie di belakangnya yang melihat dirinya dengan
perasaan kagum.
Sebelumnya…
Archie yang tengah sibuk dengan projek dadakannya itu mulai merasa sedikit lapar.
__ADS_1
“Laper ih, makan ah. Eh tapi diet. Ah udah lah biarin, itung-itung self reward abis bikin projek dadakan,” ujarnya.
Namun, saat perjalanannya menuju ke kantin, langkahnya terhenti di kaca jendela koridor lantai dua yang dekat dengan kamarnya itu. Ia melihat masih ada Aro di sana.
“Itu orang kenapa masih di sana? Emang kak Liam sama kak Ann masih latihan jam segini?” tanyanya.
Niat awalnya yang ingin pergi ke kantin, mendadak dibatalkan karena tiba-tiba ia melihat lapangan yang mulai tertutup membentuk arena simulasi. Archie langsung bergegas turun ke lantai bawah menggunakan lift.
Sesampainya di lantai bawah, lapangan sudah benar-benar berubah menjadi arena simulasi, dan tempat itu menjadi tertutup. Archie yang melihat ada pintu, langsung membukanya dan melihat apa yang terjadi di belakang pintu itu.
Ia terkejut dengan semua yang dilihatnya. Belasan droid menyerang Aro dengan tampilan layar hologram besar memperlihatkan jumlah robot dan drone yang berhasil Aro kalahkan. Hal yang membuatnya lebih terkejut adalah kemampuan Aro menyerang semua itu.
Mendadak ia merasa terpesona dengan langkah Aro yang gesit dan juga cermat. Keseriusan terlihat dari wajahnya yang menyerang semua droid itu.
“Emang pantas ada di peringkat 2, lebih pantas lagi kalau ada di peringkat 1,” gumamnya saat itu.
Archie tidak bisa menyembunyikan perasaan kagumnya dengan Aro. Ia bertepuk tangan dengan suara kecil di belakang pintu. Melihat Aro melakukan semua itu membuat Archie berpikir dirinya semakin tidak pantas untuk mengikuti VEG tahun ini.
Setelah itu, Archie menutup pintu arena dan berdiri menghadap danau. Mendengar ada suara dari luar, Aro berjalan menuju pintu.
“Gimana dia bisa ngelakuin semua itu waktu tanding bahkan tanpa operator?” gumam pelan Archie di balik pintu itu.
Melihat Archie yang sedang menghadap danau di depan arena dengan mengatakan itu, Aro menanggapinya.
“Selain latihan, apalagi yang harus saya lakukan?” jawab Aro.
Archie terkejut bukan main, ternyata pertanyaannya terdengar dari orangnya langsung. Melihat Aro yang saat ini berada di sebelahnya langsung, ia merasa malu.
“Bukan hanya saya yang tidak punya operator, tapi kita semua tidak punya operator. Kita semua harus berusaha keras agar bisa sebanding dengan peserta lain yang punya operator, dan bisa mendapatkan hal-hal yang orang lain bisa dapatkan tanpa kerja keras sedikit pun,” lanjut Aro.
Archie mengamati setiap perkataan Aro. Memang benar, selain berusaha keras, apalagi yang harus dilakukan? Bukan iri atau merasa hebat dari peserta lain karena berjuang sendiri. Tetapi, bagaimana caranya agar bisa seimbang dengan orang-orang yang lebih terlatih.
__ADS_1
***