
Pertandingan babak semifinal akan segera dimulai. Keempat semifinalis kini menunggu untuk melihat pengunguman dengan siapa mereka akan berhadapan, berdasarkan hasil acak.
Hal itu akan diumumkan lewat siaran langsung secara daring. Liam dan Ann menonton dari kamar asrama mereka masing-masing. Karena mereka penasaran dengan hasilnya. Sedangkan untuk Aro, ia hanya terima jadi.
Aro kini berada di ruang gym The Waves. Ia berjalan santai di atas treadmill, lalu sedikit demi sedikit menambah kecepatannya. Sampai pada akhirnya benda tersebut bergerak dengan cepat.
“Kali ini pasti bisa. Sekarang ada Archie. Sedikit lagi, Aro,” kata Aro sambil berlari di atas treadmill.
***
Siaran langsung sudah dimulai. Kini Revo dan Daniel kembali menjadi komentator untuk melihat hasil dari pengunguman undian untuk pertandingan babak semifinal.
“Selamat Datang pemirsa setia Virtual Evo Game. Kembali lagi dengan kami berdua, Revo dan Daniel dari siaran langsung Vex Studio,” kata Revo.
“Sebelum dimulainya pengunguman acak, kita pastinya akan berbincang terlebih dahulu tentang keempat peserta yang berhasil sampai ke babak semifinal,” kata Daniel.
“Ada Vinn yang memimpin di peringkat pertama, Aro di peringkat kedua, Liam di peringkat ketiga, dan juga Ann di peringkat keempat,” lanjutnya.
“Dan juga bisa dipastikan, The Waves sudah ada satu tempat untuk babak final,” tambah Revo.
“Benar sekali, Bung Revo. The Waves benar-benar memiliki tim yang hebat pada tahun ini,” balas Daniel.
Perbincangan antar mereka berdua cukup seru untuk didengarkan. Tanpa disadari, tiba waktunya untuk pengunguman.
“Plis jangan ketemu Kak Aro, dia lagi sangar banget,” doa Liam saat melihat foto-foto para semifinalis muncul di tengah-tengah siaran langsung.
Keempat foto tersebut ditampilkan lalu diacak. Ada empat deretan foto, dua di atas dan dua di bawah. Foto Liam yang pertama berhenti teracak, dan berada di deretan atas, lalu ketiga foto peserta lainnya masih teracak. Liam sudah semakin keringat dingin.
Foto Ann berhenti di deretan bawah. Tandanya Liam dipastikan tidak melawan Ann di babak semifinal. Dahi Liam mulai berkerut, ia akan berhadapan dengan kedua orang yang bergelar legenda itu.
Foto Aro dan Vinn masih teracak atas dan bawah. Lalu foto keduanya berhenti teracak. Vinn di sebelah Liam, dan Aro di sebelah Ann.
“Ya Ampun! Ga ngelawan Kak Aro, tapi langsung ngelawan Vinn,” kata Liam. Ia memegang kepalanya yang mulai terasa sangat pening.
“Ga mungkin kan?” lanjutnya. Mau melawan Aro ataupun Vinn, tentunya akan membuatnya panik.
Sementara itu dari kamarnya, Ann menutup mulutnya tak percaya dengan siapa ia akan berhadapan di babak semifinal. Ia akan melawan seniornya sendiri. Tentunya, ini tidak akan terelakkan. Mengingat, ada tiga orang dari The Waves yang sampai di babak semifinal.
“Gimana ini?” kata Ann yang mulai terlihat cukup panik.
Dari ruang gym, terlihat keringat mulai bercucuran, dan napas terengah-engah dari Aro yang baru selesai berlari di atas treadmill. Ia berlari cukup lama karena ia berusaha melatih kecepatan dalam berlarinya.
__ADS_1
Aro menyeka keringat di dahinya, lalu menyalakan ponselnya. Karena ia merasa hal penting itu sudah diumumkan. Saat membuka sosial medianya, yang langsung terlihat di berandanya adalah informasi, bahwa dirinya akan berhadapan dengan Ann.
Laki-laki itu menghembuskan napasnya, sebenarnya ia tidak ingin berhadapan dengan perempuan karena takut terkena perasaan. Karena selama ini, Aro selalu menyerang tanpa ampun dengan lawannya di semifinal.
Raut wajahnya yang selalu tidak tertebak, nampak misterius, dan wajah datarnya selalu jadi cara untuk menyembunyikan perasaannya saat bertanding di Virtual Evo Game. Ini pertama kalinya ia berhadapan dengan perempuan di babak semifinal.
***
Pertandingan semifinal menggunakan sistem pertandingan satu lawan satu. Menyerang setiap sistem pertahanan antar kedua pihak, dan saling berhadapan secara fisik. Tentunya menggunakan senjata juga diperbolehkan.
Tidak ada kecerdasan buatan berbentuk manusia seperti misi sebelumnya.
Apakah masih dengan mengelola program dan kode? Tentu saja masih, kemampuan itu juga tentunya akan digunakan untuk menyerang sistem pertahanan. Hanya saja bedanya saat ini, setiap semifinalis memiliki bala bantuan.
Bala bantuan yang dimaksud adalah, bantuan dari banyak droid. Robot dan drone yang biasanya menyerang mereka, kini menjadi kubu mereka untuk membantu menjaga sistem pertahanan setiap pemain.
Orang yang kalah dari babak ini adalah, orang yang kehabisan poin nyawa saat berhadapan langsung dengan lawannya. Baik pemain, ataupun kubunya.
Jika pemain tersebut sudah kehabisan poin nyawa tetapi, sistem pertahanannya masih lebih banyak dari kubu lawannya, ia tetap dianggap kalah. Karena kembali lagi, semua bergantung terhadap pemainnya.
***
Aro keluar dari ruang gym dan berjalan menuju kamarnya. Saat ia melewati ruang tunggu, laki-laki berwajah datar itu melihat Ann yang duduk di sana. Rupanya perempuan itu menyadari langkah kaki Aro, ia langsung berdiri dan menghampirinya.
“Kak Aro, aku mau bicara,” ucap Ann dengan sedikit nada gugup yang terdengar saat ia berbicara.
“Kenapa?” tanya Aro dengan datar.
“Kita bakal jadi lawan di semifinal nanti.”
“Iya. Saya tahu.”
Ann menarik napas lalu menghembuskannya. “Aku harap Kak Aro gak usah pedulikan kalau aku perempuan. Bagaimana pun, aku tetap lawan kakak nanti,” ucapnya.
Aro sedikit terkejut saat mendengarnya. Ann tidak meminta belas kasih dari Aro untuk babak semifinal nanti. Karena Ann juga tahu, seniornya ini ragu untuk berhadapan dengan perempuan, karena masalah takut melukai perasaan jika mengalahkannya.
Karena ia sendiri pun perempuan. Ann tahu kalau perempuan punya hati yang kalau tergores sedikit, ada luka di dalamnya. Ia juga tahu perasaan Archie saat mengetahui bahwa adik tingkatnya itu adalah satu-satunya peserta dari The Waves yang tidak lolos ke babak semifinal.
“Karena aku juga gamau kalah sama kakak di semifinal nanti,” ucapnya dengan tegas.
Mendengar kata-kata terakhir itu membuat Aro merasa senang, ada senyum tipis yang terlihat di wajahnya. Semangat bertanding yang ia tanamkan kepada ketiga adik tingkatnya itu, ternyata sudah cukup melekat pada diri mereka.
__ADS_1
“Ok, as you want. Tunjukkan sekuat apa dirimu saat bertanding, saya menantikannya,” jawab Aro sambil mengulurkan tangannya. Mengajak Ann untuk berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan.
Ann melihat uluran tangan Aro, ia menatap laki-laki itu lalu membalas uluran tangannya.
***
Dari sebuah kamar, terlihat Liam yang mulai gelisah. Ia akan berhadapan langsung dengan lawan yang sangat kuat. Laki-laki penghuni kamar 091 itu merasa belum yakin bisa menghadapi Vinn, si juara bertahan.
Ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Saat keluar, terlihat Aro membuka pintu kamarnya yang terletak di sebelah kanan ruangan Liam. Mereka berdua saling bertatapan. Terlihat Liam yang menyapa Aro terlebih dahulu.
Lelaki yang disapa itu hanya menatapnya datar, beberapa detik kemudian menawarkan Liam untuk masuk ke dalam ruangannya. Liam mengangguk sopan lalu masuk kedalam kamar seniornya yang saat ini berada di peringkat kedua itu.
Liam ditawari untuk duduk di sebuah kursi beanbag. Ia menuruti kakak tingkatnya itu. Sedangkan Aro duduk di kursi beanbag sebelah Liam. Keduanya terdiam.
“Saya tahu apa yang kamu pikirkan sekarang, tentang Vinn bukan?” kata Aro sambil menatap lantai kamarnya.
Liam sedikit terkejut. Lalu menormalkan kembali dirinya. “Iya, Kak.”
“Saya sedikit gelisah karena harus berhadapan dengan orang kuat seperti dirinya,” lanjut Liam.
“Terus? Kamu merasa kalau kamu ga kuat?” Pertanyaan itu cukup menyinggung Liam. “B… bukan begitu, Kak,” jawab Liam.
“Kalau kamu tidak ada kepercayaan diri saat kompetisi, orang bisa menghabisimu dengan mudah,” tutur Aro.
Aro mengeluarkan kata-kata itu seperti tanpa ampun. Bukan karena ia selalu nampak kuat seperti yang dilihat orang lain, terkadang ia juga merasa lemah. Terkadang juga merasa takut dengan semua yang akan dihadapinya. Apalagi sejak mengalami cedera.
Tetapi, baginya sendiri, jika tidak ingin tenggelam, maka harus bisa memperlihatkan diri di permukaan. Dengan hal itu, akan ada orang yang tidak rela melepaskanmu untuk tenggelam, walaupun hanya satu orang. Walaupun hanya akan dilihat saja.
Mendengar kata-kata Aro itu, membuat Liam kembali merenung. Lalu ia merasa pundaknya disentuh oleh orang disebelahnya itu. “Kapan lagi ada kesempatan melawan orang sehebat Vinn?” ucap Aro sambil menatap Liam dengan senyum tipisnya.
Liam mengangguk, ia merasa yang dikatakan Aro ada benarnya. Meskipun cukup menohok dirinya.
“Satu hal yang harus kamu tau Liam,” ujar Aro.
Hal tersebut menarik perhatian Liam. “Kenapa, Kak?”
“Kamu tahun lalu jadi ketua untuk pertandingan beregu, kan?” tanya Aro yang dibalas anggukan oleh Liam.
“Dipikiran saya dan Pak Kelvin, hanya kamu yang layak mendapatkan peran itu,” ujar Aro. Jawaban yang tidak pernah Liam ketahui sedikitpun.
Bahwa orang yang disebelahnya itulah dan juga pemimpinnya, orang yang menyarankan dirinya untuk mengemban tugas sebagai ketua pada saat itu.
__ADS_1
***