
Hari pertama semifinal Virtual Evo Game tahun ini telah tiba. Liam dan Vinn akan berhadapan terlebih dahulu. Pemenang diantara mereka berdua, akan berhadapan dengan pemenang pada pertandingan di hari kedua di babak final.
Tentunya Aro dan Ann akan berhadapan di hari kedua. Keempatnya saat ini sudah kembali lagi di Vex Building untuk bertanding. Para penonton sudah memenuhi gedung tersebut.
Vinn yang akan berhadapan dengan Liam terlihat sudah cukup siap. Walaupun ia berada di peringkat pertama, tidak pernah ia meremehkan lawan-lawannya. Namun, laki-laki itu nampak cukup percaya diri untuk bertanding.
"Bagaimana semua perlengkapannya?” ujar Vinn.
“Untuk perlengkapan semuanya sudah siap, Vinn,” jawab Eon, operatornya.
“Bagaimana dengan hasil analisis datamu? Apakah ada kemungkinan Liam akan menang?”
Eon menatap Vinn, lalu menunjukkan layar tabletnya. “Ada kemungkinan sekitar 30% untuk ia menang. Jumlah yang cukup sedikit.”
Vinn mengamati tablet operatornya itu. Kenapa lebih rendah dari yang aku kira? Bukankah ini jadi sedikit tidak adil? Batin pemain peringkat satu itu.
“Ok,” jawab Vinn.
Sementara itu di ruangan yang berbeda…
Terlihat Liam yang sedang memejamkan mata, ia sedang sendirian di ruangannya. Berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya itu.
“Masuk,” ujarnya.
Ternyata Aro dan Ann yang mengetuk pintu, lalu mereka masuk ke dalam. Terlihat Liam yang terasa senang karena ada yang meperdulikannya. Ann membawakan air putih dan beberapa kudapan yang disukai Liam.
“Gimana? Mulai tenang?” tanya Aro.
“Iya, Kak. Lumayan, soalnya ada yang nyamperin. Hehe,” jawab Liam.
“Nih, dimakan sama minum dulu. Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi,” kata Ann. “Oh iya, makasih ya,” balas Liam.
Mereka saling mengobrol di dalam ruangan. Sedikit berbincang untuk mengurangi ketegangan Liam hari ini. Ternyata malah Aro dan Ann yang lebih tegang daripada Liam yang hari ini bertanding.
“Oh iya, Kak Aro. Mau nanya,” kata Ann yang membuka percakapan. Aro yang sedang minum air mineral menatapnya hanya mengangkat alis sebelah kirinya. Seakan memberikan isyarat ‘apa?’
“Archie di mana?”
Seketika Aro tersedak saat sedang menenggak air mineralnya. Liam dan Ann memandang Aro, menunggu jawaban darinya.
“Kalian belum tahu?” tanya Aro. Ia cukup terkejut kalau Kelvin belum memberitahu mereka. Kedua adik tingkatnya itu mengangguk bersamaan.
“Nanti kalian bakal tahu,” jawab Aro.
“Yah, kok gitu sih, kak? Jangan buat saya penasaran atuh kak, mau tanding nih,” jawab Liam.
__ADS_1
Aro hanya tersenyum tipis sambil menunduk, lalu menenggak air mineralnya lagi. Selang beberapa menit setelahnya, pintu ruangan itu kembali diketuk. Lalu seseorang dari panitia memanggil nama Liam.
Tandanya, ia akan segera bertanding. Pemain dengan peringkat ketiga itu menghembuskan napasnya. Waktunya untuk bertanding sudah tiba. Antusias, namun diselingi dengan dadanya yang berdegup kencang.
“Kita bakal nonton kamu di bangku penonton bareng anggota tim yang lain,” ucap Aro.
“Hah? Beneran kak?” tanya Liam.
“Iya Liam, lebih seru euforianya kalau lihat di bangku penonton,” tambah Ann.
Liam mengangguk dengan semangat.
“Aku berangkat dulu ya, Kak Aro, Ann,” ucap Liam.
“Semangat ya,” kata Ann sambil menunjukkan kedua jempol tangannya. Liam hanya mengangguk.
Aro paham kalau Liam masih cukup tegang. Melihatnya seperti itu, sebenarnya cukup mengingatkannya saat bertanding melawan Vinn untuk pertama kalinya. Laki-laki itu menepuk bahu Liam.
“Do your bes**t**! Sekecil apapun peluang kamu untuk menang, manfaatkan semuanya,” nasihat Aro.
“Iya, Kak, makasih buat semua bimbingannya selama ini,” jawab Liam yang dibalas anggukan kecil dari Aro.
Aro melepas tangannya dari bahu Liam, lalu laki-laki yang akan segera bertanding itu membuka pintu. Lalu langkahnya terhenti sebelum keluar dari ruangan. Liam berbalik ke arah mereka, ingin mengatakan sesuatu.
“Kalian juga besok semangat ya! Soalnya aku gatau mau dukung siapa,” tuturnya lalu berlari keluar ruangan.
***
Kini Liam sudah berada di depan ruangan Evopass. Sudah sebulan ia tidak bertemu ruangan ini. Liam harus menunggu Vinn terlebih dahulu, karena mereka berdua akan masuk dunia Virtual Evo Game bersama.
Tiba-tiba, ada derap langkah kaki yang didengar oleh Liam. Laki-laki itu menengok ke belakang. Lalu tersenyum karena melihat orang yang akan menjadi lawannya hari ini. Vinn datang ke ruang Evopass, dan juga membalas senyuman Liam itu.
“Ini pertama kalinya saya bertemu Anda di babak semifinal, tetapi saya tidak akan kalah,” ucap Liam sambil menatap Vinn dengan berani.
Vinn tersenyum seringai. “Ok, saya juga tidak akan mengalah,” jawab Vinn.
“Mari kita buat pertandingan ini menjadi lebih menarik,” lanjut Vinn. Liam mengangguk. Lalu keduanya bersiap dan berlari ke dalam ruang evopass.
Sementara itu dari kursi penonton, Aro dan Ann berjalan ke arah kursi anggota The Waves, untuk mencari kursi di sana. Lalu melihat Alpha yang mencegat mereka.
“Kalian kenapa ke sini? Kenapa ga bilang saya dulu kalau mau nonton di kursi penonton?” kata Alpha.
“Biar seru, Pak. Makanya mau nonton disini,” jawab Ann. “Aduh jadinya kan saya gatau mau kasih kalian duduk di mana,” ucap Alpha yang terlihat gelisah. Karena bagaimana pun, mereka berdua adalah orang pilihan Kelvin, bosnya.
“Yaudah, kita cari sendiri aja, Pak,” jawab Ann.
__ADS_1
“Beneran nih, kalian mau cari sendiri? Saya takut dimarahin Pak Kelvin soalnya.”
“Santai aja, Pak. Nanti kita yang bilang ke Pak Kelvin, kalau mau nyari sendiri,” jawab Ann. Dibalas anggukan oleh Aro.
“Yaudah deh, kalian cari sendiri. Tapi ingat, jangan di bangku penonton area penggemar ya,” nasihat Alpha. “Iya, Pak,” jawab Aro.
Lalu mereka berdua mencari-cari kursi yang kosong. Mereka sengaja mengenakan masker agar tidak terlalu terlihat mencolok, mereka takut orang merasa segan dan memberikan kursi, padahal kursi tersebut sudah orang lain pakai.
Aro menyenggol sikut Ann lalu menunjuk salah satu kursi yang kosong. Di sebelah tiga orang dekat pojokan. Lalu keduanya pergi menuju kursi itu.
Ketiga orang yang dimaksud adalah Zack, Joyce, dan juga Delaney. Ketiganya sedang berbincang asik tentang babak 15 besar lalu, dan juga prediksi mereka di babak semifinal ini.
“Walaupun banyak orang yang memprediksi Vinn yang bakal menang, tapi masih pengen berharap Kak Liam menang, terus masuk Final,” kata Zack kepada Joyce dan Delaney yang keduanya berada di samping kirinya.
“Kita semua juga pasti berharap, kalau Liam yang menang. Biar bisa jadi, All The Waves’ Final,” jawab seseorang.
Mata Zack membulat, karena terkejut dengan suara yang ia dengar di samping kanannya. Joyce dan Delaney melihat siapa orang yang menjawab kata-kata Zack, menutup mulut mereka, Lalu Zack menoleh perlahan.
“Kak Ann? Lho? Ada Kak Aro juga?”
Aro yang duduk di sebelahnya melihat datar ke depan sambil melipat tangannya, tidak menatap atau membalas Zack. Lalu Ann yang duduk di sebelahnya melambaikan tangan ke arah mereka bertiga.
Zack dengan kikuk, membalas lambaian tangan Ann. Begitu juga dengan Delaney dan Joyce.
“Lama ngga ketemu ya kita, Zack. Hehe,” kata Ann sambil tersenyum ramah.
Zack menahan napasnya. “Hehe, iya kak,” jawabnya malu-malu. Ya ampun, Kak Ann masih inget aku? Batin Zack yang tersipu.
Ketiganya menjadi diam membisu, karena merasa canggung dengan dua orang senior di samping mereka. “Kenapa? Kok kalian diem?” tanya Aro dengan datar sambil sedikit melirik mereka.
“Eh… engga apa-apa kak,” jawab Joyce.
“Santai aja kali, kayak sama siapa aja,” tambah Ann.
Aro menoleh ke arah Delaney. Perempuan yang ia lihat itu, mengalihkan pandangannya ke depan dengan canggung saat dilihat olehnya. Aro berbisik kepada Zack.
“Bisa kamu pindah ke tempat saya? Bilang juga ke temen sebelah kamu untuk pindah ke kursimu. Saya mau bicara dengan Delaney,” bisik Aro.
“Oh iya kak, sebentar,” lalu Zack bilang ke Joyce untuk pindah. Delaney terlihat lebih canggung lagi karena Aro duduk disebelahnya. Kakinya gemetar.
“Kamu Delaney, bukan? Saya yakin kamu sudah tahu tentang Archie,” ucapnya yang memulai percakapan. Delaney menghembuskan napasnya lega. Rupanya Aro hanya ingin mengobrol tentang Archie. Syukurlah pikiran buruknya menghilang. “Iya, Kak, saya tahu tentang Archie.”
“Jangan beri tahu siapapun tentang itu. Baru kamu, saya, dan Pak Kelvin yang tahu tentang itu,” bisik Aro dengan suara seraknya. Delaney mengangguk saat mendengar permintaan Aro itu. Beberapa menit kemudian, mereka semua melihat Liam yang sudah muncul di dunia VEG bersama Vinn dari layar besar.
Aro sudah kembali ke kursi sebelumnya. Zack yang sedang berbincang dengan Ann lalu berpamitan untuk pindah ke kursi asalnya.
__ADS_1
***