Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Final Stage (Part 1)


__ADS_3

Hari babak final pun tiba. Vex Building menjadi lebih ramai dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Antusiasme yang membludak, membuat banyak penonton yang menyaksikan pertandingan di layar depan gedung.


Semalam sebelum pertandingan, Archie kurang tidur karena terlalu gelisah. Ini pertama kalinya ia berperan sebagai operator di pertandingan sesungguhnya. Saat ini, dirinya sudah berada di ruangan operator.


Aro sudah sangat siap di ruang Evopass untuk menunggu Vinn di sana. Seakan sudah bersiap untuk membalas dendam beberapa tahun lalu, yang membuatnya tidak bisa bertanding menghadapinya.


Lalu Vinn memasuki ruangan itu. Terlihat raut wajahnya yang terlihat senang saat melihat wajah Aro yang ambisius saat menatapnya.


“Ini kesekian kalinya kita bertemu di babak final, right?” tanya Vinn dan dibalas anggukan oleh Aro.


“Dan mungkin, ini akan menjadi yang terakhir kalinya,” lanjut Vinn, Aro terkejut saat mendengarnya.


“Maksudnya?” tanya Aro dengan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya.


“Setelah pertandingan hari ini, saya akan pensiun. Karena saya merasa sudah cukup di dunia VEG ini.”


“Tapi, kondisi Anda masih cukup prima. Apakah Anda benar-benar akan pensiun seperti yang Zaoline lakukan? Bertanding di beberapa tahun sebelumnya, dan pertandingan terakhirnya di babak final juga menghadapi Anda,” mendegar pertanyaan Aro itu membuat Vinn mengangguk.


“Iya, sebenarnya saya juga sudah cukup lelah. Kelihatannya saja masih cukup prima dan terus bertengger di nomor satu,” ujar Vinn sembari terkekeh.


“Tetapi walaupun seperti itu, saya tidak akan mengalah. Saya mau kamu merebut posisi saya, bukan saya yang menyerahkannya,” lanjut Vinn dengan nada yang sangat serius.


Aro tersenyum dengan wajahnya yang terlihat sudah sangat siap untuk bertanding. Ia mengetahui perasaan Vinn, dan ia ingin membuat pertandingan ini menjadi sangat menarik.


Dirinya ingin memenangkan pertandingan, bukan karena posisi pertama yang diserahkan kepada dirinya, tetapi karena posisi pertama yang ingin ia raih dengan usahanya sendiri.


“Saya ada disini karena harus dan ingin menjadi pemenang. Itu sebabnya, saya bisa berada disini. Untuk kali ini saya berjanji, Anda akan melihat saya sebagai orang yang pantas berada di posisi itu,” jawab Aro sambil menatap Vinn dengan wajah yang serius.


Vinn mengangguk dengan mantap. Ia juga berjanji tidak akan mengalah di pertandingan final dan juga pertandingan terakhirnya itu.


***


Virtual Evo Game, Space Zone, Final Stage.


Kali ini, Aro dan Vinn muncul di Zona Angkasa. Zona baru yang dibuat khusus untuk babak final VEG tahun ini. Mereka berada di dalam sebuah roket dengan keadaan tubuh yang tidak melayang di udara.


Tubuh mereka tidak melayang karena gravitasinya disesuaikan dengan yang ada di bumi, sehingga mereka bisa bergerak bebas untuk menjalankan misi. Kedua pemain itu muncul di dalam roket yang sama, hanya saja di posisi yang berbeda.


Seperti biasanya, layar jendela digital muncul dihadapan kedua pemain. Informasi misi bisa dibaca langsung oleh setiap operator.


Misinya adalah hanya menyerang semua lawan yang ada. Baik robot, drone ataupun yang lainnya. Meretas setiap sudut pertahanan dalam roket, namun bedanya kali ini adalah, peretasan sistem bisa menambah poin nyawa.


Pertarungan dengan lawan tidak dibatasi tempat. Mereka diperbolehkan untuk keluar roket saat bertarung. Zona Angkasa kali ini berada di sebuah planet yang diberi nama Penne.


Archie memberitahu setiap titik kordinat kepada Aro. Begitu pula yang dilakukan oleh operator Vinn kepada pemainnya itu. Dan semua pemain itupun memulai perjalanannya menyelesaikan misi.


Lalu saat kedua pemain tengah belari di sekeliling roket, mereka merasakan ada yang kurang. Persenjataan. Aro meraba bagian selongsong pedangnya, dan ternyata kosong. Ia juga berusaha membidik objek dengan sarung tangannya, tetapi lasernya tidak keluar.


Keduanya kehilangan senjatanya secara tiba-tiba, karena Vinn juga mengalami hal yang sama.


“Archie, tolong kirim saya senjata apa saja,” ujar Aro. Tetapi, saat sedang berusaha mengirimkan Aro program senjatanya, ternyata tidak bisa terkirim.


“Aro, kita dalam masalah,” jawab Archie.


“Hah? Masalah apa?” jawab Aro yang lanjut berlari menuju sudut sistem pertahanan.


Archie membacakan tulisan yang muncul di layar komputernya. Ada misi tambahan untuk mereka. Setiap pemain harus mencari senjata sendiri di sekitar roket. Para operator tidak diberikan akses untuk memberikan persenjataan kepada pihak pemain selama berada di dalam roket.


Operator tetap bisa membantu para pemain untuk memberi informasi kordinat dan peretasan. Selain itu, mereka juga bisa mengirimkan program lainnya selain senjata. Setelah membaca itu, Archie merasa kecewa.


Ia baru saja menyelesaikan programnya dalam persenjataan, dan ternyata tidak terpakai untuk babak final kali ini. Aro berhenti berlari dan berusaha berpikir dengan jernih, laki-laki itu memikirkan cara bertanding tanpa senjata.


“Archie, apa kamu punya program pengembangan lainnya? Terkhususnya untuk tangan dan kaki saya,” tanya Aro.


Archie berpikir sejenak. Lalu ia merasa pikirannya kembali jernih. Ia memiliki ide untuk menggunakan salah satu programnya. Ia mengunakan program kendaraan yang waktu itu dirancang setelah mendapatkan ide saat tecebur di danau.


Akhirnya, kepakai juga. Batin Archie.


“Iya, saya punya. Sebentar, saya kirim dahulu.”


Archie mengetik-ngetik keyboardnya, lalu menekan tombol enter. Sebuah papan berwarna biru yang melayang, dihiasi dengan lampu neon muncul di sebelah Aro. Papan itu adalah sebuah hoverboard yang dapat terbang saat digunakan.


Aro berdecak kagum saat melihatnya.

__ADS_1


“Bagaimana, Aro? Bisa dipakai tidak disitu?” tanya Archie dengan harap-harap cemas.


Lalu Aro mencoba untuk menggunakan papan itu. Dirinya menginjak papan dan perlahan tubuhnya melayang diudara, dan papan itu bergerak sesuai dengan keinginannya.


“Tenang Archie, bisa dipakai. Terima kasih, saya akan belajar dengan cepat,” jawabnya lalu melesat menuju kordinat yang Archie berikan.


Saat Aro tengah melanjutkan perjalanannya, Archie mengolah program lainnya dengan cepat. Untungnya, ia mempunyai program cadangan yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari.


Sementara dari sisi lain, Vinn tengah menunggu program yang dijalankan oleh Eon, operatornya.


Terlihat pakaian avatarnya yang menggunakan kemeja abu-abu dengan dasi hitam, dan juga mengenakan jubah jas berwarna hitam. Biasanya dengan tambahan pistolnya, membuatnya terlihat seperti seorang mafia.


Tetapi rupanya jas yang tengah dipakainya itu menjadi terlihat lebih canggih karena program dari Eon. Ia mengubahnya menjadi sebuah jas armor untuk lebih melindungi Vinn.


“Terlihat bagus,” ujar Vinn. Lalu ia mulai melanjutkan perjalanannya dengan berlari.


***


Aro menemukan sebuah kotak yang terlihat seperti koper. Sambil mengendalikan hoverboardnya, ia menuju kotak tersebut. Ternyata kotak persenjataan, ia langsung membukanya. Kotak itu berisi softgun seperti yang dimiliki oleh Liam.


Ia mencoba membidik salah satu objek, tetapi tidak mengeluarkan tembakan. Karena Aro tidak menekan pelatuknya.


“Archie, apa senjata ini ada isinya?”


Archie langsung mencari informasi seputar senjata tersebut. Senjata itu memiliki jarak tembakan yang cukup jauh, dan juga memiliki jumlah amunisi yang banyak. Aro langsung menyimpannya.


“Senjata yang bagus,” ujar Aro. Ia langsung melanjutkan perjalanannya mencari sistem pertahanan yang harus diretas.


Aro sudah semakin mahir dalam mengendalikan kendaraannya. Melihat Aro yang sudah paham cara menggunakannya, Archie mulai menambah kecepatan pada papan itu. Aro tersentak saat mengendalikannya, karena kendaraan itu mengeluarkan suara mesinnya.


Hoverboard itu mulai melaju dengan cepat, Aro yang menyadarinya berusaha mengendalikan kecepatan tersebut. Sebuah sistem pertahanan ditemukan di salah satu sudut ruangan.


Dengan cepat, Aro mengelola semua kode yang berada di layar jendela digital seperti sebelumnya. Setelah selesai, komputer Archie menampilkan jumlah poin nyawa Aro yang bertambah 10 poin.


Aro terus melanjutkan pencarian sistemnya. Tetapi ia malah bertemu dengan banyak orang penjaga disana. Mereka bersenjata dan mengenakan topeng, lalu semuanya mengarahkan tembakan kepada Aro.


Dengan cepat, Aro langsung mengangkat papan, lalu kendaraan itu mengeluarkan udara dari bawah untuk mendorong dirinya terbang lebih tinggi. Ia menembak orang-orang itu dari atas. Beberapa dari mereka terkena tembakannya.


Aro menekuk pergelangan kaki, lalu memindahkan berat tubuhnya untuk berbelok dan berputar mengelilingi orang-orang itu. Tembakan ia keluarkan secara beruntun dari atas, dan jumlah mereka mulai terlihat sedikit.


Archie berdecak kagum lalu berkata sambil menutup mikrofon headsetnya, “Perasaan dulu pas aku main skateboard jatuh-jatuh terus, ini orang sekali nyoba malah udah keliatan pro banget.”


Orang-orang bertopeng itu sudah diatasi sepenuhnya oleh Aro. Ia mengatur napas, lalu melanjutkan perjalanannya.


Ia menemukan sebuah pertahanan dan melihat ada seseorang disana. Vinn, ia sedang berusaha meretas sistem tersebut. Lalu Aro memilih untuk bersembunyi di balik tembok. Dirinya mengangkat senjata dan membidik Vinn dari jauh.


“DOR!” suara tembakan terdengar sangat jelas. Tembakan tersebut mengenai lengan Vinn. Menyadari dirinya terkena tembakan, Vinn langsung menoleh ke belakang. Tidak ada siapapun.


“Apa ada orang disini?” tanya Vinn.


“Di layarku tidak ada siapapun, Vin,” jawab operatornya.


Archie mengamati satu hal yang aneh. Vinn memang terkena tembakan di tangannya, tetapi nyawanya hanya berkurang lima poin. Ia langsung mencari tahu apa yang terjadi, sedangkan Aro masih menunggu waktu yang tepat kapan ia harus muncul.


“Aro,” panggil Archie. “Ada apa?” tanya Aro.


“Sekarang Vinn pakai armor di sekitar jasnya, kayaknya itu program dari operatornya.”


“Apa keunggulannya?” tanya Aro yang makin serius mendengarkan dan mengamati Vinn.


“Armornya kuat, sekali tembak atau kena serang, hanya berkurang lima poin nyawa. Semacam perisai.”


Dahi Aro mengeryit. Armor tersebut membawa keuntungan untuk Vinn. Mau tidak mau, ia harus menghadapinya dengan lebih sulit lagi. Ia berpikir, harus berapa tembakan yang dikeluarkan untuk membuat poin nyawa Vinn berkurang banyak.


Tapi dia sendiri juga lagi meretas sistem buat nambah poin nyawanya. Batin Aro.


“Archie? Apa kamu punya cara untuk meningkatkan daya tembak dari senjata ini?”


Archie berpikir sejenak. Lalu teringat dengan materi daya ledak yang ia pelajari di Sierra Academy. Perempuan itu meminta waktu untuk memproses programnya dengan cepat. Sementara Aro, ia langsung keluar untuk menyerang Vinn dengan kendaraannya.


Ia harus mengalihkan perhatian Vinn dan operatornya, agar Archie bisa memiliki waktu untuk menyelesaikan programnya. Vinn hendak meletakkan telapak tangannya, yang ternyata lagi-lagi tertembak oleh Aro.


Vinn menoleh. Aro terlihat jauh dari pandangannya. Ia melihat Aro melaju dengan cepat ke arahnya menggunakan kendaraan, lalu melepaskan tembakan secara beruntun. Vinn menghindar dari tembakan tersebut, dan Aro melompat dari hoverboard.

__ADS_1


Salah satu tembakan Aro mengenai dirinya. Vinn menjauh dari sistem. Aro malah mendekati layar jendela digital di sistem itu, lalu meletakkan telapak tangannya. Poin nyawa Aro bertambah 10 poin lagi.


Archie yang mengamatinya sambil memproses program, hanya menggelengkan kepalanya karena bingung dengan partnernya itu. “Bisa-bisanya dia manfaatin kesempatan.”


***


Keduanya kini masih berada di tempat yang sama. Aro membidik senjatanya di hadapan Vinn yang berjarak puluhan kaki dari tempat ia berdiri. Terlihat Vinn yang berposisi sama dengannya.


Archie berhasil meningkatkan daya ledak dari senjata yang saat ini digunakan oleh Aro. Sementara itu dari posisinya, Aro menajamkan matanya seakan mengisyaratkan sesuatu.


“DOR!” Vinn menembak Aro terlebih dahulu. Tetapi Aro sudah menghindar lebih cepat darinya. Ia melompat ke arah hoverboard yang bergerak ke arahnya, seperti hewan peliharaan yang menghampiri majikannya.


Aro yang sudah berdiri di atas papan itu, melepas headsetnya, lalu melemparnya ke samping. Seakan memberi pertanda kalau ia benar-benar sudah tidak ragu untuk menyerang Vinn. Ia langsung melepaskan tembakan berkali-kali untuk merobohkan Vinn.


Tetapi beberapa amunisi membanjiri, membalas tembakan dari Aro dan mengenai bahu kirinya sebanyak dua kali. Deru amunisi mendesingi roket besar tersebut. Banyak peluru yang mengenai dinding roket.


Walaupun diserang Vinn dengan dihujani peluru, Aro tidak kalah garang. Empat amunisi mengenai kaki Vinn. Orang yang diserang Aro itu mulai menggeram marah dengan tubuh yang terkulai. Sementara itu dari komputernya, Archie mendapatkan informasi baru.


“Aro, tubuh bagian bawah Vinn tidak dilindungi armornya. Empat tembakan yang kamu keluarkan tadi sudah menghabiskan 40 poin nyawa Vinn, ditambah 10 poin nyawa yang berkurang dari tangannya sewaktu tadi kamu tembak,” ujar Archie.


“Berapa poin nyawa yang dia punya?”


“Dia masih punya 70 poin nyawa. Karena tadi, dia sudah meretas beberapa sistem pertahanan juga.”


Aro yang melihat Vinn itu, menghembuskan napasnya keras-keras. Ia juga harus meretas beberapa sistem lagi agar memiliki cadangan poin nyawa yang cukup. Kedudukan saat ini, 100 poin nyawa untuk Aro dan 70 poin nyawa untuk Vinn.


Walaupun masih tergolong aman, ia tetap harus berhati-hati. Melihat Vinn yang masih terkulai, membuat Aro memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Dirinya melesat cepat menggunakan kendaraannya itu.


Setelah Aro menjauh darinya, Vinn berusaha untuk kembali berdiri. Baik Aro ataupun Vinn, keduanya selalu menyerang tanpa ampun. Vinn yang sudah berdiri, menatap Aro yang sudah mulai terlihat jauh.


“Kirimkan saya program itu. Simpan di luar roket,” ujar Vinn.


***


Aro sudah mengumpulkan banyak poin nyawa, hasil dari peretasan sistem. Total sudah ada 150 poin nyawa yang ia dapatkan. Tentu saja, walaupun memiliki banyak cadangan nyawa, siapapun harus berhati-hati di Virtual Evo Game.


Laki-laki itu melihat jendela dalam roket. Seperti ada persiapan untuk sesuatu yang tidak Aro ketahui untuk apa. Ia meminta Archie untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sambil menunggu informasi lebih lanjut dari Archie, Aro menuju luar roket.


Archie menyadari ada yang aneh di luar roket. Dirinya mendeteksi adanya pergerakan mesin dari program seseorang yang ukurannya cukup besar. Ia merasa tidak asing dengan kode pemograman yang muncul di layar komputernya.


Ia menghela napasnya, dugaannya benar. Program tersebut dibuat oleh Eon. Operator dari Vinn. Archie itu terus berusaha mencari tahu apa yang terjadi, karena ia juga melihat Vinn yang keluar dari roket.


Kenapa dia buat senjata? Batin Archie. Dirinya mulai menyadari sesuatu, lalu segera mengabarkannya kepada Aro yang masih berusaha keluar dari roket. Namun ternyata, ia malah dihalangi oleh beberapa robot.


Tetapi dengan cepat, Aro berhasil mengatasinya. Lalu ia mendapat panggilan dari Archie. “Ada apa?” tanya Aro. Terdengar suara Archie yang ragu saat ingin menyampaikannya.


“Aro, aku bisa buat dua kesimpulan. Pertama, Vinn buat senjata di luar roket. Kedua, aku juga dapat informasi kalau pemain, bisa pakai senjata sendiri di luar roket. Misi di dalam roket ternyata hanya untuk nambah poin nyawa,” ujar Archie.


“Dengan kata lain, pertandingan sesungguhnya ada di luar roket?” tanya Aro.


“Iya, dan layar jendela digital untuk sistem peretasan terakhir bisa diakses, ketika salah satu pemain sudah dikalahkan,” jawab Archie dengan setengah bergetar. Ia merasa sudah banyak membuang tenaga Aro sedari tadi.


Lagi-lagi, perasaan menjadi orang yang tidak berguna itu, muncul kembali. Setelah diingat kembali, operator tidak diberikan akses persenjataan, hanya saat berada di dalam roket. Bukannya tidak diberikan akses sama sekali.


Archie terkena jebakan misi di babak final. Ia marah pada dirinya sendiri. Saking marahnya, Archie hanya ingin menangis. Perempuan itu merasa, perihal kurang telitinya masih melekat dalam dirinya, bahkan setelah mendapatkan lisensi sebagai operator.


Aro memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri.


“Maaf, Aro. Aku operator yang buruk—”


“Archie, dengar,” potong Aro, ia memejamkan matanya.


“Setelah kembali dari hiatus, saya sadar, sistem pertandingan Virtual Evo Game banyak yang berubah berbanding dengan dulu. Para pemainnya pun semakin banyak yang ahli, sehingga peringkat saya bisa jatuh. Kalaupun saya masih berjuang sendirian seperti dulu, mungkin saya tidak bisa sampai ke final,” lanjutnya.


Aro menarik napas, lalu membuka matanya.


“Semua informasi yang didapat secara cepat, gadget baru ini, tidak akan saya rasakan kalau kamu tidak mengajukan diri menjadi operator saya. Dan saya sangat berterimakasih untuk itu.”


Archie merasa matanya berkaca-kaca. Di tengah pertandingan seperti ini pun, emosi antar sesama memang sangat mempengaruhi performa. Operator Aro itu pun merasa lebih percaya diri saat ini.


“Ayo kita mulai lagi, mohon bantuannya,” ujar Aro.


Archie mengangguk dengan cepat, lalu mempersiapkan semua hal yang sangat diperlukan. Ia mengirim senjata rancangannya di luar roket. Sementara Aro, ia berlari cepat ke pintu keluar roket. Pertarungan di Zona Angkasa dunia Virtual Evo Game, akan segera mencapai ujungnya.

__ADS_1


***


__ADS_2