Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Top 15 Battle (Day 1)


__ADS_3

Sejak pengunguman peringkat hari itu, media sosial sangat ramai membicarakan VEG. Ada yang kecewa karena idolanya tidak lolos peringkat, ada yang menghujat beberapa peserta, ada juga yang mempermasalahkan posisi peringkat yang menurut mereka tidak masuk akal.


Semua berkata demikian, padahal setiap pesertanya tentu sudah menghadapi seleksi yang ketat dan mereka juga menerima hasilnya. Tidak ada yang aman dalam soal peringkat dari VEG.


Kelima belas peserta VEG esok hari akan mengikuti babak pertama yaitu Individual Battle.


Kompetisi ini adalah pertarungan antar perorangan. Tiap orang menghadapi misi dengan zona yang berbeda-beda. Sama seperti latihan di dunia simulasi, hanya saja tingkat kesulitannya lebih tinggi.


Malam sebelum pertandingan, Archie sibuk di kamarnya untuk mengerjakan sesuatu. Dirinya sibuk mengetik kode-kode di dalam programnya yang ia buat di ruangan operator saat itu.


“Akhirnya selesai, semoga aja ini bisa jadi pelengkap,” gumamnya.


Semua sudah ia persiapkan. Mulai dari avatarnya yang sudah dirombak dengan menambahkan sarung tangan, busur panah yang ia kenakan, dan juga program barunya. Sedangkan untuk program yang ia buat di hari awal latihan, belum ia selesaikan.


“Itu mah buat nanti aja lah, kalau sampai ke babak final.”


Hari sudah malam, lebih baik ia menyimpan tenaganya untuk esok hari. Sementara dari kamar Ann, terlihat ia yang sangat gelisah. Ia takut kalau terjadi kesalahan teknis lagi.


“Kenapa perasaanku ga enak ya? Semoga ga kenapa-kenapa,” gumamnya.


***


Virtual Evo Game. Individual Battle, Day 1


Semua peserta sudah bersiap di dalam Vex Building, empat jam sebelum pertandingan. Sebelum acara dimulai, kelima belas peserta sudah melihat urutan berapa mereka tampil.


Peserta dari The Waves tampil diurutan kedua untuk Liam, kesepuluh untuk Archie, kedua belas untuk Aro, dan Ann tampil terakhir diurutan kelima belas sekaligus sebagai penutup kompetisi Individu.


Peserta dari perusahaan lain tampil lebih siap dari mereka. Karena mereka memiliki operator untuk setiap peserta yang akan membantu mereka dibalik layar monitor.


Operator bukan hanya membantu untuk melihat apa yang ada di layar mereka saat mengelola kode, tetapi juga sebagai pelindung tiap peserta kalau ada hal yang tidak diinginkan.


“Mau gamau kita harus selesaikan misi lebih berat dari mereka, tapi kita juga harus buktikan kalau kita ga kalah,” ucap Aro kepada ketiga rekannya.


Ketiganya mengangguk. Mereka bukannya tidak percaya diri, tetapi sebagai peserta mau tidak mau harus menyiapkan diri kalau ada hal yang buruk terjadi.

__ADS_1


Pertandingan pun dimulai. Semua peserta menunggu di ruang tunggu masing-masing tim sampai dipanggil oleh panitia, sambil menonton peserta yang bertanding. Penonton sudah memenuhi gedung, dan komentator juga sudah bersiap.


Halfie sebagai peserta pertama sudah menyelesaikan misi dengan total 547.977 poin.


“Tinggi banget?” tanya Archie.


“Gaya pertarungannya bagus. Operatornya juga kooperatif,” komentar Aro.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari ruangan The Waves. “Untuk Liam, segera bersiap ya,” kata panitia. “Iya siap.”


Giliran Liam untuk masuk ke dalam dunia Virtual Evo Game sesungguhnya terlebih dahulu. Ia diberi semangat oleh semua rekannya dan diberi berbagai wejangan dari Aro.


“Jangan terpaku dengan poinnya Halfie. Fokus sama diri sendiri aja,” kata Aro.


“Iya, saya pergi duluan ya,” Liam langsung berlari ke arah ruang Evopass.


“Yaaa baiklah permisa setia Virtual Evo Game. Peserta yang akan tanding kali ini adalah dari The Waves, Liam!” ucap Revo sebagai komentator.


“Liam dari hasil peringkat lalu berada di posisi kelima. Posisi yang cukup tinggi ya pemirsa, mengingat Liam tahun pertandingan individu juga ikut kompetisi ini dan meraih peringkat kedelapan. Peringkatnya meningkat dengan cukup baik,” ucap rekannya yang bernama Daniel.


Liam menghembuskan napasnya dan berusaha menenangkan dirinya. Ia ingin berhasil sampai ke babak final kali ini. Dilihat Kartu tanda pengenal keanggotaan The Waves yang sudah menjadi sebagian hidupnya.


“Mulaikan semuanya dengan baik, Liam,” gumam Liam.


Dirinya berlari ke dalam ruangan dan langsung meletakkan kartu tanda pengenal di Electronic Data Capture untuk membuka pintu Evopass. Ia pun masuk ke dalam mesin dan perlahan tubuhnya menghilang dari sana.


***


Virtual Evo Game, Sahara Zone


Tubuh Liam muncul dari sebuah portal dengan avatarnya yang mengenakan coat tipis berwarna biru dongker sepinggang, dengan kaus berkerah yang berwarna putih, lalu mengenakan celana warna abu-abu.


Dirinya muncul di zona sahara yang sekitarnya hanya ada gurun pasir.


“Baiklah pemirsa, sekarang Liam sudah terlihat berada di Zona Sahara. Zona yang bisa dikatakan cukup menantang,” kata Revo.

__ADS_1


“Pastinya akan menyulitkan pemain karena suhu panas dari sinar matahari yang sangat terik ya, Bung Revo,” tambah Daniel.


“Iya benar sekali, sepertinya Liam sudah terlihat sangat siap menerima misi apa yang akan ia tempuh?”


Dihadapan Liam sudah terlihat layar hologram yang berisikan misi yang harus ia tempuh. Tentunya akan lebih sulit dari simulasi yang biasanya ia hadapi.


“Temui Olivier di daerah Hutan Kaktus, pecahkan teka-teki di sana, dan pergi ke arah Tenggara untuk meretas pertahanan Virtual Evo Game di Zona Sahara,” ucap Liam saat membaca tulisan di layar hologram.


“Hutan Kaktus? Bukannya itu tempat berbahaya banget ya?” ucap Ann dari ruang tunggu.


“Berbahaya atau ngga, semua bergantung dari Liam sendiri. Saya harap sih dia gapapa,” jawab Aro.


Layar hologram menghilang dari hadapan Liam, yang artinya ia harus segera memulai petualangannya di dunia Virtual Evo Game sesungguhnya. Liam langsung berlari ke arah Hutan Kaktus untuk menemui Olivier.


“Sepertinya belum ada masalah untuk Liam, tetapi seperti yang dikatakan oleh banyak orang. Harus tetap berhati-hati, karena bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan yang menimpa siapapun,” ucap Daniel.


Saat Liam sedang berlari, ia merasakan ada yang mengikutinya. Sebuah drone terbang ke arahnya dengan tembakan-tembakan yang beruntun.


“Baiklah pemirsa, ada serangan dari drone jenis K8 yang menyerang Liam. Tetapi Liam masih terlihat tenang untuk berlari menghindari tembakan-tembakan itu,” kata Revo.


Liam tidak melihat apapun selain jalanan pasir di depannya. Ia terus berlari sambil sesekali menghadap ke belakang untuk menembak drone K8 yang hanya saja, tidak ada yang mengenai drone tersebut.


“Tembakan Liam semuanya meleset,” ucap Ann yang terlihat khawatir.


Langkah kaki Liam masih belum berhenti, ia terus berlari lurus ke depan hingga drone mulai menyerangnya dari depan. Ia terus menghindari tembakan-tembakan yang mengarah kepadanya.


Liam sudah cukup kelelahan. Ia melompat dan berputar lalu menendang drone tersebut dengan keras hingga benda itu terpelanting cukup jauh. Ia mengeluarkan softgunnya, mencoba menepatkan sasaran, dan menembak drone itu hingga tidak bergerak lagi.


Penonton banyak yang terkesima saat melihatnya. Aro, Ann, dan Archie menghembuskan napas lega.


“Waw… gerakan yang cukup baik dari Liam. Kita sudah lihat tadi sekeras apa tendangannya hingga membuat drone itu terjatuh ya, Bung Daniel,” ucap Revo dengan antusias.


“Benar sekali, Bung Revo. Dia langsung mengeluarkan softgun saat drone mulai terjatuh, dan menembaknya dari jarak yang cukup jauh. Bisa dikatakan, Liam sebagai penembak jarak jauh yang cukup potensial.”


Liam mengatur pernapasannya. “Ini masih belum selesai, Liam,” ucapnya.

__ADS_1


***


__ADS_2