
Vinn sudah di luar roket. Melihat layar jendela digital yang masih belum bisa diakses, membuatnya menjadi tidak sabar. Ia berbalik ke arah roket, melihat senjatanya yang berbentuk robot besar. Lalu lelaki itu masuk ke dalam robotnya.
Ia sudah berada di ruang kendali robot. Robot yang bernama Kuri itu mulai diaktifkan. Sambil menunggu Aro, ia mencoba menggerakkan mesin itu. Ia menekan sebuah tombol, dan mengangkat sebuah tuas. Robot tersebut pun mengeluarkan asap, dan terlihat beberapa tembakan di punggungnya.
Archie menahan nafas, ia bergidik ngeri saat melihat robot tersebut. Walaupun sudah menyiapkan banyak senjata untuk Aro, tetap saja ada perasaan takut yang menyelimutinya. Tiba-tiba terdengar suara lantang dari seseorang, yang membuat Archie melepas headsetnya karena terkejut.
“KELUAR KAU ARO!” teriak seseorang. Itu suara Vinn.
Archie memasang headsetnya lagi. Memang, operator seharusnya tidak bisa mendengar perkataan yang keluar dari lawan pemainnya. Tetapi, suara Vinn yang memanggil Aro itu terdengar sangat jelas. Penonton pun bisa mendengarnya. Sepertinya, Vinn sengaja menggunakan program milik Eon untuk melakukan provokasi.
“Archie, saya sudah di luar roket,” ucap Aro.
“Hah? Sejak kapan? Di layar gaada tanda-tanda kamu sudah di luar,” jawab Archie.
“Saya menonaktifkan sistem GPS, sengaja agar tidak terlacak Eon. Saya sedang berada di punggung robot Vinn. Langsung kirim senjata saja, saya butuh pedang kembali.”
Archie mengiyakan, lalu memasukkan kode-kode pemograman senjata dan langsung dikirimkan kepada Aro. Pedang tersebut sudah di upgrade agar lebih kuat saat menyerang. Senjata tersebut tiba-tiba muncul di selongsong pedang milik Aro.
“Hai kawan, aku merindukanmu,” ujar Aro. Lalu ia memegang senjatanya itu, dan memanjat lebih tinggi di badan robot milik Vinn.
Sebenarnya, dia lagi ngapain sih? Batin Archie dengan dahi yang sudah mengerut.
Ia hanya mengamati gerak-gerik Aro yang masih memanjat secara perlahan. Hoverboard yang Archie berikan pun juga diletakkan oleh Aro di punggungnya, tidak digunakan. Seketika itu Archie paham apa maksudnya.
Aro tiba di belakang bahu robot tersebut. Laki-laki itu mengangkat kakinya untuk bisa menginjak bahu robot, lalu berdiri di atasnya. Ia berkata, “Hai, mesin besar!”
Vinn menoleh ke arah suara itu. Ia terkejut seakan mengatakan, sejak kapan ia ada di sana?
CTAR! Aro langsung menebas bahu robot tersebut dengan pedangnya yang mengeluarkan kilatan biru seperti tembakan cahaya. Ia melompat dari bahu robot yang tinggi itu, dan melayang di udara. Aro langsung mengambil hoverboard dan menginjak kendaraannya itu.
Kini Aro terbang dengan papan luncurnya. Lalu berhenti untuk melihat daya ledak, dari senjatanya yang telah di upgrade oleh Archie. Ia berdecak ‘waw’ sambil melihat kepulan asap yang muncul dari robot milik Vinn itu.
“Daya ledaknya lumayan juga,” ujar Aro.
“Tapi Aro, sepertinya efeknya tidak terlalu berpengaruh,” jawab Archie. Dahi Aro mengernyit saat mendengarnya. Ia berkata, “Kok bisa?”
Archie mendeteksi efek dari tebasan pedang milik Aro itu, dan komputernya hanya mendapati bahwa Vinn hanya berkurang sedikit poin nyawa. Lebih sedikit daripada armor yang digunakannya sewaktu berhadapan langsung dengan Aro.
Aro menghembuskan nafasnya. Ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan. Apalagi setelah melihat bahwa robot yang digunakan oleh Vinn, hanya rusak sedikit dibagian bahunya.
Aro mengamati robot tersebut yang mulai berdiri, memikirkan strategi apa yang harus ia lakukan. Ia merasa kalau robot tersebut nampaknya cukup kuat.
Ia berkata, “Archie, tolong kirim senjata yang waktu itu kamu tujukkan,” ujarnya. Archie langsung melaksanakan tugasnya, sementara Aro mengalihkan perhatiannya untuk memberikan Archie waktu.
Setelah robotnya itu telah berdiri sepenuhnya, Vinn langsung menekan tombol merah di dekat kursi kendali.
Vinn meluncurkan serangan peluru yang muncul dari punggung robotnya. Puluhan rudal roket mengarah pada Aro, ia langsung terbang menghindari serangan besar itu. Aro gesit menghindari tembakan dan muncul di belakang robot tersebut.
Aro menggenggam kuat pedangnya yang mulai mengeluarkan kilatan cahaya biru. CTAR. Robot itu berbalik ke arahnya, tetapi Aro sudah menghilang dan muncul di belakang punggung robotnya.
“Eon, di mana dia?” tanya Vinn.
__ADS_1
Eon mencari titik koordinat di mana Vinn berada, tetapi ia tidak bisa menemukannya. Rencana Aro menonaktifkan GPS untuk mengecoh operator Vinn itu nampaknya cukup berhasil.
“Maaf Vinn, di layarku tidak bisa ditemukan.”
***
Aro kembali memanjat mesin raksasa itu, persis di tempat tembakan robot itu berasal, ia menggenggam pedangnya. Ia membelah besi-besi tempat keluarnya amunisi tadi. Lalu melompat ke arah kendaraannya.
“Aro, senjata sudah terkirim. Kamu bisa pakai sekarang,” ucap Archie dari ruang operator.
Lelaki itu langsung mengganti senjatanya menjadi yang lain. Sebuah bazoka, kini senjata itu sudah berada di pundak Aro. Ia menekan pelatuknya. BOOM! Tembakan senjata itu mengenai tepat di punggung robot.
Dari dalam robot, terdengar sirine peringatan. Vinn mencari tahu apa yang terjadi, dan ia melihat semuanya. Bagian punggung robot tersebut telah dirusak oleh Aro. Ia melihat layar kecil di dalam robotnya, terlihat dirinya berkurang 20 poin nyawa, dan kini tersisa 50 poin nyawa lagi.
Vinn mengerang, baru kali ini ia terlihat marah dalam bertanding. Ia mulai terlihat brutal dengan mengeluarkan tinjuan dari robotnya ke arah Aro. Tinjuan tersebut keluar bertubi-tubi mengarah pada Aro. Tetapi, Aro terlihat lebih gesit dalam menghindarinya.
Vinn tidak kehilangan cara, ia kembali melancarkan serangan dengan melepas tangan-tangan robotnya itu. Dan mesin-mesin berbentuk tangan tersebut terbang mengejar Aro yang melayang di udara. Aro terkena banyak pukulan, dan poin nyawanya juga mulai banyak yang berkurang.
Tetapi Aro tetap tidak kalah cerdas, ia melompat ke arah salah satu tangan robot, tanpa kendaraannya. Dengan cepat, ia mengganti kembali senjatanya menggunakan pedang. Lalu langsung menusuk tangan besi tersebut, hingga terbelah menjadi dua bagian.
Ledakan terjadi di udara. Archie mengamati bahwa poin nyawa Vinn berkurang setelah Aro menyerang bagian-bagian robot itu. Ia bisa menarik kesimpulan baru, dan langsung mengabari Aro dengan cepat.
Aro mengerti dengan apa yang Archie maksud. Ia kembali terbang dengan papan yang kini menjadi alat favoritnya itu. Tangan besi tersebut mulai oleng kehilangan arah. Lalu dengan cepat, Aro langsung menebasnya.
Bagian robot Vinn sudah banyak yang rusak. Dengan sisa poin nyawa yang lebih sedikit, ia kembali meminta Eon untuk menyiapkan senjata barunya.
“Tapi Vinn, senjata itu terlalu berbahaya. Kalau seandainya kita pakai, akan ada efek samping dari lawannya nanti,” ujar Eon.
“Aku tidak peduli, keluarkan sekarang!” perintah Vinn.
Sambil menunggu datangnya senjata besar itu, Vinn masih memiliki satu tembakan yang tersisa, kini berada di tangannya. Ia keluar, lalu naik di atas pundak robotnya itu. Dengan tenaganya yang tersisa, ia melihat Aro dari jarak kejauhan.
“Untuk masa pensiunku, aku harus menang, Aro. Untuk pembalasan karena Zaoline menang di pertandingan terakhirnya. Harga diriku runtuh karena juara 1 digantikan olehku, bukan karena aku memenangkan pertandingan.
“Tapi karena Zaoline pensiun. Biar kamu rasakan sendiri, apa yang orang katakan. Kamu di peringkat pertama, karena lawanmu pensiun, bukan karena kemenanganmu,” ujar Vinn, yang ternyata terlihat lebih brutal karena alasan ini.
Ia membidik Aro dari jauh. Tidak, Vinn bukan membidiknya, melainkan membidik kakinya dan juga kendaraan Aro. Melihat ada yang aneh, Archie langsung berteriak.
“ARO!”
Aro langsung menyadari sesuatu.
“DOR!”
Terlambat, kakinya terkena tembakan Vinn. Ia terpelanting dengan keadaan kakinya yang kesakitan. Kendaraannya rusak, sehingga tidak bisa menangkapnya. Aro mengerang kesakitan dari cedera kakinya, yang juga tertembak oleh Vinn.
Tetapi, Aro tetap Aro. Ia kembali berusaha berdiri walaupun dengan pelindung kakinya yang sudah rusak. Wajahnya ikut babak belur akibat tembakan itu. Baru saja Aro berdiri, tiba-tiba ada sinyal aneh yang tertangkap di layar Archie.
Archie tidak langsung menanyakan kabar Aro, tetapi ia langsung memasukkan satu kode pemograman. Dengan cepat, ia menekan tombol Enter.
“Aku mohon! Cepat keluar!” ujar Archie.
__ADS_1
Matanya terbelalak, Aro juga mengalami hal yang sama. Sebuah tembakan dari langit mengarah padanya. Dengan langkah tertatih, Aro berusaha berlari menghindari tembakan itu.
“BAM!”
Dentum ledakan dari tembakan satelit, bergemuruh dengan keras. Archie menyaksikan kejadian tersebut sambil menutup kedua matanya menggunakan tangan. Perlahan, ia membuka penglihatannya itu. Lalu ia menghembuskan nafasnya lega karena rencananya berhasil.
“Aro?” tanyanya pelan.
Aro masih mendengar suara Archie dari dunia virtual. Ia terkejut, karena masih berada di dalam VEG. Dengan sebuah bola perisai berwarna biru yang melindunginya, gadget yang sama sewaktu digunakan saat Demo Stage. Hanya saja kini, ia berada di dalam bola tersebut. Aro melihat sekeliling lalu mengerjap berkali-kali.
***
“Saya tidak tahu kamu buat ini kapan, tapi ini keren,” ujar Aro dengan perasaan kagumnya. Ia belum pernah merasa kagum seperti ini. Archie tak bisa menahan tawanya, ia tergelak melihat wajah polos Aro yang jarang ia temui.
“Ini bola yang sama sewaktu di demo stage kan, Archie?” tanya Aro yang masih tertegun.
“Iya, Aro. Syukurlah tepat waktu. Hehe,” jawab Archie diakhiri dengan kekehannya.
Aro senang mendengarnya. Ia akan memuji dan berterima kasih pada Archie berkali-kali nanti. Archie menghilangkan perisai itu agar Aro bisa keluar dari bola perisainya. Laki-laki itu berjalan tertatih, lalu melihat ke arah robot itu lagi. Melihat Vinn yang mendengus kecewa, karena ia tidak berhasil mengalahkan Aro dengan senjata pamungkasnya.
Aro justru terkejut dengan apa yang terjadi dengannya. Pertandingan ini seperti melihat dirinya menjadi buronan yang sedang berusaha dimusnahkan, karena dirasa merugikan orang lain.
Laki-laki itu tidak menyangka bahwa Vinn bisa sebrutal itu saat pertandingan. Senjata tersebut belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Menyerang pihak lawan dengan tembakan satelit? Itu hal paling gila yang pernah Aro rasakan selama hidupnya.
Tiba-tiba Aro merasa kakinya menjadi lebih pulih, ia meraba kakinya. Archie memberikan program pereda rasa sakit pada desain avatar Aro sewaktu laki-laki itu masih berada di dalam bola perisai. Program itu hanya bisa digunakan sekali untuk satu kali pertandingan. Dan Archie rasa, itu adalah waktu yang tepat.
Archie juga sudah meningkatkan kemampuan pedang milik Aro untuk kedua kalinya. Ia berjaga-jaga agar Aro bisa bertarung dengan lebih kuat.
Melihat hoverboard-nya yang rusak, dengan pijakan tanah Planet Penne yang terbentuk seperti kawah karena bekas tembakan satelit, membuat Aro mengepalkan kedua tangannya. Ia langsung berlari cepat ke arah Vinn dengan membawa pedangnya, dan membenarkan posisi sarung tangannya.
“Archie, tolong pasangkan program teleportasi,” ucap Aro sambil terus berlari.
Vinn juga melakukan hal yang sama, ia berlari sambil melepaskan jubahnya, lalu mengeluarkan senapannya yang sudah diisi amunisi oleh Eon.
“AAARRGGHH,” ia melontarkan tembakan berkali-kali ke arah Aro sambil berteriak, sedangkan Aro memutar-mutarkan pedangnya untuk menangkis semua peluru yang mengarah padanya.
Aro melompat ke arah Vinn, lalu mengeluarkan kilatan cahaya biru lagi dari pedangnya. Tetapi Vinn juga menghindar dengan cara melompat. Vinn langsung mengeluarkan tembakan saat tubuhnya melayang di udara. Tetapi, tiba-tiba Aro menghilang dari hadapannya, lalu muncul di belakang tubuhnya.
Kilatan cahaya biru muncul lagi dan mengenai tubuh Vinn. Archie kembali mengamati. Poin nyawa Vinn berkurang drastis.
Pertarungan semakin sengit, poin nyawa mereka semakin berkurang banyak dan kejar-kejaran. Mereka kini berada di atas tanah. Aro menendang keras senjata milik Vinn yang berasa di tangannya, lalu mengarahkan pedang ke arah pistol, lalu membelah senjata itu menjadi dua bagian. Membuat Vinn terkejut dibuatnya.
Aro menarik napasnya, lalu menghunus pedangnya tepat ke arah dada lawannya itu. Vinn terjatuh, dan tubuhnya menghilang di sana. Lalu terlihat tubuh Vinn yang muncul di ruang Evopass, tengah terduduk dan terbatuk-batuk. Vinn berteriak, seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
***
Archie mengerjap berkali-kali, berusaha menetralkan dirinya sendiri setelah melihat kejadian itu. Aro mengatur pernapasannya, lalu menarik pedangnya dan disimpan. Ia melihat sistem pertahanan yang bercahaya itu, sudah dapat diakses dan berjalan pelan ke arahnya.
Dengan langkahnya yang mulai memperlihatkan bahwa dirinya cukup kelelahan, ia tiba di tempat sistem pertahanan itu. Aro mulai melakukan pengkodean di layar jendela digital itu, dengan bantuan beberapa simpul kode modifikasi dari Archie, sehingga membuat beberapa permasalahan dapat teratasi dengan lebih cepat. Aro berusaha membuat dirinya tetap stabil berdiri saat misi peretasan itu.
Sedikit lagi Aro, sedikit lagi. Batin Aro dengan wajah yang terlihat kelelahan. Lalu, ia meletakkan telapak tangannya.
__ADS_1
Hacked.
***