Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Another Surprise (Epilog Season 1)


__ADS_3

“Ada apa, Aro? Kenapa kita dipanggil?” tanya Archie.


“Saya sendiri kurang tahu kenapa. Kakakku juga pergi kesana, dia udah duluan,” ujar Aro.


Archie menjadi sedikit lebih tegang sekarang. Tetapi juga lebih tenang karena ia tidak sendirian untuk pergi ke kantor utama itu. Lalu mereka pun berjalan ke kantor utama. Langkah mereka terlihat lebih cepat, walaupun tidak sampai berlari.


Setibanya disana, Aro langsung membuka pintu kantor utama. Keduanya pun melihat Prichilla yang sedang duduk di kursi tamu dengan Kelvin, dan juga terlihat ada seorang laki-laki yang sedang melihat ke arah jendela.


“Permisi,” ucap Archie.


Prichilla dan Kelvin menoleh ke arah kedua orang itu. Kakak perempuan dari Aro itu melambaikan tangan kanannya ke arah mereka, yang dibalas senyuman canggung dari Archie. Aro langsung masuk ke dalam ruangan.


“Ada apa ya, Pak Kelvin?” tanya Aro.


“Ada yang ingin berbicara dengan kalian berdua. Tapi bukan saya,” jawabnya.


Lantas saja, Aro langsung mengedarkan pandangannya kepada seorang pria yang sedang memunggungi mereka semua sambil memandang jendela. Pria itu langsung berbalik. Alangkah terkejutnya mereka berdua.


“Pak… Zaoline?” tanya Aro.


“Iya, saya Zaoline. Selamat atas kemenanganmu, Aro,” jawab Zaoline.


“Te… terima kasih, Pak,” jawab Aro sambil menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua ditawarkan untuk duduk di kursi sofa sambil berbincang-bincang. Banyak hal yang diperbicangkan, tetapi lebih banyak berbincang santai. Sementara mulut Archie lebih banyak terkunci karena merasa percakapan mereka, masih banyak yang tidak ia mengerti.


Ya ampun, kenapa aku bisa ngobrol sama orang-orang besar ini? Jadi grogi begini, kan aku belum nyampe level mereka. Batin Archie, yang sedari tadi hanya tersenyum saat mendengar mereka berbicara.


“Archie?” panggil Zaoline.


“I… iya, Pak?”


“Saya mau berterima kasih, karena kamu sudah menghidupi kembali divisi operator. Saya tidak menyangka, kemampuanmu hebat sekali.”


Archie menjadi lebih kikuk. Ia tidak tahu ingin membalas apa. Ia hanya bisa menjawab “Terima kasih, Pak” karena terlalu grogi.


Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu di ruangan tersebut. Zaoline menjawab “masuk” dan orang tersebut masuk ke dalam ruangan. Hal tersebut membuat Archie terkejut bukan main karenanya, karena orang tersebut sangat ia kenali.


“Lho? Ayah?!” pekik Archie lalu menutup mulutnya karena sadar suaranya terlalu keras.


Aro berdiri dari kursi dan membungkuk hormat kepada pria tersebut.


“Lama tidak bertemu, Mr. Baron,” ujar Aro.


Apa? Baron? Baron yang dulu rekan satu tim Zaoline? Batin Archie.

__ADS_1


“Tunggu dulu. Ini… maksudnya apa?” tanya Archie.


Aro sebenarnya juga terkejut saat Archie mengucapkan kata ‘ayah’ saat pria tersebut masuk ke dalam ruangan. Tetapi, Aro sudah membaca situasinya. Ia kembali menghembuskan napasnya lalu melihat ke arah Kelvin, Zaoline, dan juga kakaknya.


“Jadi, Baron itu ayahnya Archie ya?” tanya Aro yang dibalas anggukan oleh Zaoline.


“HAH?!” pekik Archie yang masih terkejut.


“Lho? Ayah kok… Baron sih? Emang ayah dulu main VEG?” tanya Archie yang masih keheranan.


“Iyalah. Kalo ayah bukan pemain VEG, mana mungkin ayah minta Kelvin buat ngasih ujian kelayakan untuk kamu ikut bertanding? Walaupun ayah dulu juga main di sini, ayah gamau kalau kamu bisa bertanding karena kamu anak siapa, bukan karena kemampuan kamu,” jawab ayahnya.


Archie sudah mulai paham dengan semuanya.


Berkali-kali semenjak masuk sini, dapat kejutan terus. Batin Archie.


“Pantesan ayah dulu kayak ngedukung banget aku masuk sini. Ternyata karena dulu pernah main juga ya?” ucap Archie. Ayahnya hanya terkekeh pelan.


Aro mengamati percakapan Ayah dan Anak tersebut. Merasa mereka berdua memang sangat mirip.


Dahulu, Baron memang tidak pernah muncul ke media. Saat pemanggilan nama untuk pengumuman Top 15 di eranya pun, dirinya hanya diwakili oleh Zaoline. Karena memang dirinya tidak ingin dikenali saat berada di dunia nyata, kecuali oleh orang-orang yang ia percaya. Jadi, hal yang wajar jika Archie, anaknya pun tidak mengetahui hal tersebut. Karena memang Baron tidak pernah cerita.


Nama Baron pun hanya username saja, nama aslinya adalah Danny Eri.


Bahkan sampai masa pensiunnya pun, Baron tidak pernah memperlihatkan seperti apa wajahnya itu. Hanya segelintir orang yang tahu.


“Tapi kok ayah bisa satu grup sama mereka? Kan umur ayah—” Archie memang ingin bertanya soal ini. Bagaimana bisa seorang pria dengan satu anak bisa satu grup dengan yang usianya sangat jauh di bawahnya.


“Shh! Ini rahasia kita-kita aja yang tahu,” jawab Baron sambil menutup mulut Archie. Archie mengangguk tanda mengiyakan. Orang-orang lain yang berada di dalam ruangan itu pun sudah mengetahuinya.


“Alasan ayah selama ini menyembunyikan identitas, karena memang ayah memalsukan usia,” tambahnya.


Archie membulatkan matanya lebar-lebar, karena terkejut. Ayahnya memang terlihat awet muda. Archie juga teringat, kalau dahulu sewaktu ia di Sekolah Dasar, ayah dan ibunya mengantarkannya sekolah, dan banyak yang mengatakan bahwa ayahnya terlihat masih muda. Sampai dikira Archie adalah anak hasil kecelakaan.


"Kamu jangan lupa kalau ayah nikah muda," ujar Baron yang dibalas anggukan oleh Archie.


“Bukan karena ngga boleh seusia ayah masih tanding. Tapi karena pasti dipandang aneh sama orang lain. Orang-orang lebih mewajarkan pemain-pemain muda, padahal yang seusia ayah waktu itu juga ada yang masih jadi pemain. Ayah kan juga punya kamu. Ayah takut kalau kamu kenapa-kenapa nantinya,” tambah Baron yang terlihat sangat lembut mengatakannya kepada anak semata wayangnya.


“Oh begitu,” ucap Archie. Ia melihat wajah ayahnya cukup sendu saat mengatakannya. Pantas saja dahulu sering dikatakan bahwa Baron adalah pemain yang paling sabar. Karena memang dari segi usia dan perwatakan, ia lebih dewasa dibandingkan anggota lainnya. Walaupun di luar Virtual Evo Game, ia adalah seorang yang periang, tidak seperti umurnya.


Tiba-tiba pikiran lucu Archie muncul di kepalanya.


“Pantesan dulu ayah jarang pulang ke rumah. Udah gitu dulu waktu masih jadi pemain sering keliatan pengap. Ternyata karena kalah tenaga,” ucap Archie.


Prichilla atau yang biasa dikenal dengan Yellow Bunny dan Zaoline, setelah mendengarkan hal itu langsung tertawa. Sedangkan Baron mencebikkan mulutnya. Aro yang mendengarkan hal tersebut, hanya tersenyum saat melihat partnernya itu. Sepertinya karakter Archie yang seperti ini belum pernah ia temui sebelumnya.

__ADS_1


Archie menatap semua orang di dalam ruangan tersebut. Memang kurang Ezio, karena pemain tersebut memang sudah tiada sejak lima tahun yang lalu.


Semua di ruangan itu adalah legenda. Entah legenda masa lalu, atau bahkan legenda baru yang telah lahir. Ia merasa kecil, tapi disatu sisi juga merasa senang. Kapan lagi bisa merasakan dikelilingi oleh orang-orang seperti ini?


***


Setelah mereka saling berbincang, Aro dan Archie keluar dari kantor utama, dan berjalan ke arah lapangan. Archie menghembuskan napasnya karena lega. Aro hanya tertawa saat melihatnya begitu.


“Kamu kenapa?” tanya Aro.


“Saya terlalu tegang disana. Level saya belum sampai kayak kalian. Jadinya banyak yang belum mengerti apa maksudnya,” jawab Archie.


Aro hanya tertawa. Entah mengapa, setelah melewati beberapa bulan ini, ia menjadi lebih terbuka dan ramah. Bukan hanya pada Archie, tetapi juga dengan orang lain. Mereka berhenti untuk duduk di kursi pinggir lapangan.


"Saya ingat waktu itu, saya mau ke kantin karena lapar. Tapi karena lapangan ini tiba-tiba jadi arena simulasi, saya malah jadi lupa sama rasa lapar. Malah jadinya lari kesini, hehe,” kekeh Archie.


“Waktu latihan saya itu ya?” tanya Aro. “Iya, saya lihat waktu kamu latihan sendiri itu. Waktu itu kita hanya sebatas senior sama junior aja. Saya ngga nyangka, ternyata kita malah jadi partner di pertandingan,” mereka tertawa.


***


Lapangan Utama The Waves


Archie dan Aro saling berbincang santai, sampai pada akhirnya, ada sebuah pernyataan penting yang disampaikan oleh Aro.


“Jadi, kita bakal ikut pertandingan beregu? Tahun depan? Saya yang jadi operatornya?” tanya Archie yang terkejut saat mendengar pernyataan Aro, dan Aro hanya mengangguk sambil tersenyum.


Hal yang dikatakan oleh Aro itu wajar saja membuat Archie terkejut, karena Archie belum mendengar lagi kabar The Waves untuk mengikuti pertandingan beregu, setelah kekalahan telak pada era Zaoline dan Yellow Bunny delapan tahun lalu, dan kegagalan tim tahun lalu dari babak kualifikasi yang pada akhirnya, Group ini lebih berfokus pada pertandingan individual. Kali ini, The Waves akan mengikuti pertandingan beregu lagi.


Hal tersebut dipilih oleh Aro bukan tanpa alasan. Notional poin dari beberapa anggota The Waves sudah meningkat drastis. Sehingga, mereka seharusnya sudah bisa untuk mengikuti pertandingan beregu.


 “Iya, dan kita butuh beberapa orang lagi.”


 “Tiga orang lagi ya? Em…” gumam Archie sambil berpikir. Ia memikirkan beberapa orang yang dari segi peringkat, sedang meningkat. Begitupula dengan gaya permainan. Ada beberapa orang dekat yang menarik perhatiannya, tetapi Archie tidak berani mengungkapkannya.


 “Tidak perlu takut mengatakannya. Lagipula, saya tahu kamu akan merekomendasikan siapa,” jawab Aro sambil menaikkan alis sebelah kirinya.


 Ini senior, kayaknya memang bisa baca pikiran, ya. Batin Archie.


“Tapi, apa ngga masalah? Peringkat mereka kurang lebih, sama kayak saya dulu,” jawab Archie.


“Mantan operator kayak Pak Kelvin aja berani merekomendasikan kamu jadi pemain. Kalau kamu merasa mereka punya potensi, kenapa ngga?” ujar Aro.


Archie menghembuskan napasnya. Ia sedikit gugup saat ini.


***

__ADS_1


__ADS_2