Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Ann


__ADS_3

Pertandingan Virtual Evo Game dilanjutkan. Aro tampil diurutan ke 12. Poinnya melebihi hasil Liam sebelumnya, sehingga berhasil mendapatkan peringkat pertama di klasemen sementara.


“Ia tampil dengan sangat baik, pengelolaan datanya terlihat sangat rapih dan tidak tertebak,” komentar Revo.


“Data tersebut terlihat cukup sulit untuk diatasi sendiri tanpa operator, tetapi Aro berhasil memecahkannya,” lanjut Daniel.


“Aro benar-benar kembali dengan keadaan yang sangat prima ya, Bung Daniel. Kita lihat nanti apakah ia berhasil bertahan sampai ke babak semifinal?”


Liam yang melihatnya tidak terkejut.


“Peringkat Kak Aro emang turun, tapi kemampuannya bener-bener ga berubah. Selalu kuat,” ucap Liam saat mengetahui hasilnya. Ann melihat raut wajah Liam yang kagum dengan seniornya itu.


“Kamu gapapa?” tanya Ann.


“Gapapa, kenapa emang?” jawab Liam.


“Peringkatmu kesalip.”


“Yea… that’s how competition works. Sedikit kecewa, tapi gapapa, semoga aja masih punya tempat buat sampai semifinal.”


Vinn yang tampil di urutan ke 13 tampil lebih baik dan mengejutkan. Ia berada di posisi pertama. Ketiga peserta dari The Waves tersebut menyaksikannya, dengan Aro yang tersenyum menyeringai saat melihatnya.


Archie kembali ke ruangan tunggu The Waves tersebut. Ia sudah tahu hasil sementara ini. Saat membuka pintu, terlihat Ann yang sedang bersiap diberi beberapa wejangan oleh Aro karena sebentar lagi ia akan tampil.


Menyadari pintu ruangan yang terbuka, ketiga orang di dalamnya melihat ke arah luar. “Archie?” tanya mereka serempak.


Archie membalas mereka dengan tersenyum, sambil masuk membawa tiga botol air mineral untuk mereka.


“Kamu abis darimana?” tanya Ann.


“Oh, anu. Tadi abis ngobrol sama Pak Kelvin di luar, terus sekalian beli minum,” jawab Archie.


Aro tahu apa maksud Archie yang sebenarnya ia keluar untuk menenangkan diri. Hanya saja ia tidak tahu, kalau yang dikatakan Archie untuk berbicara dengan Kelvin itu memang benar.


Aro menatap Archie dengan datar. Menyadari dirinya dilihat oleh seniornya itu, Archie hanya bisa menunduk, berharap Aro tidak berpikir kalau ia habis menangis tadi.


“Permisi, untuk Ann dimohon segera ke ruang Evopass ya,” ucap salah satu kru VEG.


“Baik, Kak,” jawab Ann. “Aku pergi dulu, ya,” kata Ann yang dibalas anggukan mereka bertiga.


“Goodluck!” ucap Liam sambil tersenyum ke arah Ann.


Ann langsung pergi ke ruang Evopass. Ia tidak akan meninggalkan penyesalan lagi untuk kedua kalinya.


***


Virtual Evo Game, Outbond Zone


Ann terkejut karena saat keluar dari portal, ia langsung berdiri di atas jembatan goyang. Tubuhnya bergetar hebat saat di atas sana.


“Kak Ann di Zona Outbound?!” pekik Archie yang terkejut melihatnya.


Ann berusaha membuat tubuhnya lebih stabil dengan menenangkan dirinya. Ia kembali mengingat latihan keseimbangan yang Aro berikan saat masa pelatihan. Dirinya melihat seberang jembatan, ada tempat mendarat di sana.


Perlahan namun pasti, ia melangkahi kayu-kayu di jembatan tersebut. Sambil memegangi tali-tali dari jembatan itu, ia berjalan dengan tenang. Nampaknya semua berjalan lancar.


“Tenang, Ann. Tenang, tenang, tenang,” gumamnya.


Ia terus menguatkan mentalnya, sedikit lagi sampai di ujung jembatan. Tetapi, bukan Virtual Evo Game namanya kalau tidak ada tantangan yang mendadak hadir.


Tiga buah drone terbang di atas Ann. Ia melihat ke atasnya, sambil berusaha melepas salah satu tangannya dari pegangan untuk menggunakan senjata. Ia mulai menembak ke arah tiga drone itu.


“DOR! DOR! DOR!” tiga buah tembakan Ann keluarkan dan mengenai salah satu drone. Tetapi sayangnya, dua drone lainnya menghindar lebih cepat.


“Aduh!” pekik Ann. Salah satu drone menembak kaki Ann sebanyak dua kali, yang membuatnya harus bertahan di jembatan menggunakan lututnya. Ia kehilangan 20 poin nyawanya.


Ann memaksa dirinya untuk berdiri, dengan tenaganya yang tersisa ia melangkah lebih cepat untuk sampai ke seberang jembatan. Setelah sampai, ia langsung mengganti senjata dan membidik kedua drone tersebut.

__ADS_1


Ia menembak berkali-kali, dan berhasil mengenai kedua drone tersebut sekaligus. Ann menghembuskan napasnya lega.


“Waw, tembakan beruntun dari Ann berhasil mengenai dua drone itu. Tetapi, Ann harus lebih berhati-hati karena baru di awal permainan, ia sudah kehilangan 20 poin nyawanya,” tutur Daniel yang menyaksikannya.


Setelah sampai di tiang tantangan, ia melihat jendela digital muncul tiba-tiba di hadapannya. Ann mulai membaca misinya.


“Selesaikan semua wahana dari Zona Outbound sepanjang 10 KM, lalu retas pertahanan VEG di ujung wahana.”


“Yang bener aja? 10 KM?!” pekik Ann yang tidak percaya saat membacanya.


“Gila dah, satu kilo aja dah tepar kayaknya,” kata Liam yang mendengarnya.


Ann menelan ludahnya, rasa pusing menghajar kepalanya. Ia harus menyelesaikan semua wahana ini sepanjang 10 KM, hampir semuanya menggantung, dan Ann takut ketinggian.


Ia tidak masalah untuk berdiri di atas tangki, hanya saja untuk outbound, belum cukup yakin.


Ann melihat di hadapannya ada Sky Bike. Ia memakai sabuk pengaman dan helm, lalu menaiki sepeda yang harus dikayuh di atas tali yang mengambang.


“Ya Tuhan, tolong lindungi aku,” ujar Ann sambil menaiki sepeda itu.


Sepeda itu mulai ia kayuh, Ann berusaha untuk tidak melihat kebawah. Ia mengayuh dengan cukup cepat karena takut ketinggian. Tetapi di tengah-tengah perjalanan, kayuhannya berhenti saat Ann melihat sesuatu.


“Kenapa kalian selalu datang disaat yang benar-benar menyulitkan, sih?” gerutu Ann.


Dua buah drone terbang kesana kemari sambil menghujani banyak tembakan untuk Ann. Kedua drone itu memberikan tembakan dengan jumlah yang sangat banyak lewat bawah mesinnya.


Ann langsung mengayuh kembali sepeda itu dengan cepat, untuk menghindari hujan amunisi dari kedua drone tersebut. Ia melupakan rasa takutnya. Sambil mengayuh, Ann kembali mengeluarkan handgun andalannya.


Puluhan tembakan Ann keluarkan tanpa ampun, sambil mengarahkan tangannya ke atas. Tembakannya tepat mengenai salah satu drone di atas kepalanya.


“Uwaaaahhhh, Kak Ann keren!” ujar Zack saat melihatnya.


“ANN SEMANGAATTT!!!” teriak para penggemarnya, walaupun mereka tahu kalau teriakannya tidak terdengar oleh Ann yang berada di dunia virtual itu.


Ann masih terus mengayuh, langkahnya lebih cepat daripada satu drone yang tersisa itu. Ann berhenti lalu berdiri di atas pedal sepeda, mengeluarkan tembakannya, lalu tembakan itu berada di belakang punggungnya, mengarah pada drone itu.


“DOR!” tembakan itu berhasil mengenai satu drone yang tersisa. Ann menghembuskan napasnya lega.


Jeritan Archie itu membuat Aro dan Liam yang di sebelahnya langsung menoleh dan menatap datar ke arahnya. Orang yang dilihat hanya membalas dengan cengirannya yang khas.


Kembali lagi dengan Ann yang masih sekuat tenaga mengayuh sepedanya. Sampai pada akhirnya, ia tiba di tiang garis akhir dari sky bike dan turun dari sepedanya. Ann mengatur napasnya berkali-kali setelah tiba di sana.


“Inihh… bakal jadihh... zona yang paling aku bencihh… di VEG,” tutur Ann dengan napas yang terengah-engah.


Lalu perempuan yang avatarnya mengenakan jaket, dengan hoodie berwarna abu-abu muda dengan kaus warna putih itu turun dari tiang tersebut. Yang ia lihat sekarang adalah, sebuah sungai yang harus disebrangi menggunakan wahana spider web.


Ia harus berjalan seperti laba-laba di jaringnya. Lalu melanjutkan wahana flying fox sejauh 5 KM untuk melanjutkan misi peretasan. Ann harus berhati-hati agar ia tidak jatuh di sungai tersebut. Jika terjatuh, artinya harus berenang sampai ke ujung sungai.


“Flying fox 5 KM? Wow. Ok,” gumam Ann.


Perempuan itu memasang sabuk pengaman lalu merayap di wahana jaring laba-laba. Hal ini cukup mudah baginya, hanya saja ia tidak berani lihat kebawah. Kakinya hampir tergelincir, tetapi untungnya Ann masih bisa bertahan.


Sabar Ann, sebentar lagi kamu main terbang-terbangan. Batin Ann.


Tiang garis akhir dari wahana itu adalah sebuah pohon dengan daun yang cukup lebat. Kayunya terlihat sangat kokoh, dan Ann mendarat di sana. Ann tidak melepas sabuk pengamannya, karena tetap memakainya untuk menggunakan flying fox.


“UWAAAAAAHHHH!!!” Ann menjerit keras saat terbang menggunakan flying fox. Matanya selalu terpejam. Tetapi memberanikan diri membuka matanya. Perempuan itu ternyata menikmati flying fox yang bergerak cepat sambil melihat pegunungan dihadapannya.


Namun, kenikmatannya tidak bertahan lama. Saat melihat pemandangan dihadapannya, Ann ditembak dari belakang oleh sebuah robot yang juga menggunakan flying fox itu.


“Robot pun pakai flying fox?” gerutu Ann sambil ketakutan.


Ann terus berayun-ayun di wahana itu untuk menghindari semua tembakan. Mengatur senjata sambil berayun di atas udara tentunya bukan perkara mudah. Perempuan itu membalikkan tubuhnya ke arah robot tersebut.


Ia melontarkan tembakan berkali-kali, namun tidak ada yang berhasil mengenai robot itu.


Tersisa satu kilometer lagi untuk Ann tiba di ujung sungai. Ingin menuntaskan robot itu secepatnya, ternyata amunisi senjatanya telah habis.

__ADS_1


Ann mengeluarkan satu senjata cadangannya lagi, seperti yang disarankan oleh Aro. Namun saat menyiapkan senjata itu, dirinya tertembak lagi dan senjatanya terjatuh ke sungai.


Poin nyawa Ann terus berkurang. Dirinya terlihat oleng, sambil memegang tali pengaman yang mengayunkan tubuhnya. Tiba-tiba robot itu menembak tali pengaman yang dipegang oleh Ann. Lalu perempuan itu terjatuh.


BYURRRR… Ann jatuh ke dalam sungai, kepalanya muncul dipermukaan.


***


“Kamu bisa selesaikan ini, Ann,” lalu ia berusaha berenang sejauh satu kilometer untuk sampai di ujung sungai.


Semuanya nampak baik-baik saja. Dengan tenaga dan poin nyawa yang tersisa, Ann menguatkan kekuatan kakinya untuk terus berenang. Ia memilih menggunakan gaya katak agar pernapasannya lebih teratur.


Saat sedikit lagi sampai ditujuan, Ann berhenti ditengah jalan karena kelelahan. Tetapi, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang mengikutinya di belakang. Ann menoleh kebelakang.


“BUAYA!” pekik Ann lalu langsung mempercepat gerakan renangnya untuk menghindari kejaran buaya.


Dirinya mengubah gaya renang menjadi gaya bebas. Degup jantung Ann berpacu dengan cepat, tidak mungkin dirinya mau dimakan oleh buaya walaupun itu sebuah kecerdasan buatan.


Perempuan 20 tahun itu tiba di ujung sungai dan langsung naik ke permukaan. Buaya tersebut nampaknya takut untuk naik, sehingga langsung menjauh dari ujung sungai tersebut. Ann bernapas dengan lega. Begitupun dengan orang-orang yang menontonnya di dunia nyata.


“Sebenarnya, ini Virtual Evo Game, atau Survival Game, sih?” gerutu Ann sambil mengibas-ngibas rambutnya agar cepat kering. “Untung aja bisa berenang,” lanjutnya.


“Kayaknya Zombie Game, sih,” jawab Liam saat melihat Ann yang berada di dunia Virtual Evo Game.


“Kok Zombie? Kan gaada zombienya,” tutur


Archie yang membalas kata-kata Liam.


“Ya anggap aja itu buaya kayak zombie, untung Ann ga digigit. Ntar kalau jadi buaya juga gimana?”


“Lah emang kalau digigit buaya, bisa jadi buaya juga?”


“Ih Archie, apa kamu terlalu stres sampai gatau kalau aku lagi bercanda?” jawab Liam dengan nada tak sabaran. Archie hanya menyengir, sedangkan Aro hanya melihat tingkah kedua adik tingkatnya itu sambil menggelengkan kepalanya, dan sedikit tertawa.


***


Ann yang sudah lebih baik, kini menyusuri hutan dipinggir sungai. “Yaampun, ujung Zona Outbound ini tuh di mana? Kok kayak zona hutan?” gerutu Ann.


Saat ia melihat salah satu pohon, langkahnya terhenti. Ia melihat sebuah jendela digital di dekat pohon itu. Matanya berbinar dan langsung berlari kearah sana. Kode-kode di dalam jendela digital mulai bermunculan.


Dirinya langsung bersemangat untuk mengelola kode-kode tersebut. Jari-jarinya tidak berhenti memindahkan berbagai macam kode hingga membentuk sebuah simpul. Belasan data sudah Ann selesaikan.


Hacked. Mata Ann mulai berkaca-kaca. Lalu ia meletakkan telapak tangannya di jendela digital tersebut. Misi Selesai!


“YEAAAYYY SELESAI!” jerit Ann dengan tangan ke atas karena kegirangan.


“Akhirnya Kak Ann bisa selesaiin misi, huhuhu,” kata Zack dari kursi penonton yang melihat Ann sambil menangis.


“Lah? Kamu nangis?” tanya Joyce.


“Iya, soalnya terharu. Kak Ann pernah ikut tapi ngundurin diri. Akhirnya penyesalannya terbalas, huhuhu,” jawab Zack yang menyeka air matanya.


Sebuah portal muncul dihadapan Ann, dan ia memasuki portal tersebut. Kini dirinya kembali ke dunia nyata, lewat ruangan Evopass dengan wajah yang sumringah. Hasil poin Ann menunjukkan dirinya berada di peringkat keempat.


Seluruh penonton bertepuk tangan untuk Ann, terutama penggemarnya. Hasil akhir itu membuat Vinn, Aro, Liam, dan Ann sudah mendapatkan kepastian, mereka mendapatkan tiket untuk sampai ke semifinal.


Hasil peringkat akhir telah keluar:


Peringkat pertama: Vinn 786.215 poin.


Peringkat kedua: Aro 783.967 poin.


Peringkat ketiga: Liam 548.677 poin


Peringkat keempat: Ann 548.224 poin


“Sudah dipastikan dari kita bertiga, ada yang akan saling berhadapan di semifinal,” ucap Aro sambil menatap Liam di sebelahnya. Liam mengangguk antusias.

__ADS_1


Jujur, aku iri. Batin Archie. Dirinya merasa miris karena melihat namanya berada diposisi terakhir. Archie berusaha mengontrol perasaannya, ia tidak boleh menghancurkan suasana bahagia dari ketiga seniornya karena berhasil sampai ke babak semifinal.


***


__ADS_2