Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Operator


__ADS_3

Setelah pertandingan individual selesai diadakan untuk peserta 15 besar. Kini semua peserta sudah kembali ke perusahaan mereka masing-masing. Begitu pula dengan keempat peserta dari The Waves.


Hasil sudah menunjukkan empat orang akan melaju di babak semifinal. Keempatnya saat ini menjadi perbincangan hangat bagi pencinta Virtual Evo Game.


Bukan hanya mereka saja yang menjadi perbincangan. Tetapi peserta lainnya pun juga. Tidak hanya perbincangan yang positif, tetapi yang negatif pun banyak.


@StagnanHope: Sayang banget Halfie beda tipis poinnya sama Ann. Mungkin kalau Halfie ga tampil pertama, bisa nembus semifinal.


@DenisFan: Aro bener-bener comeback stronger.


@Sassie: Liam keren woy, bisa bertahan di empat besar padahal tampil di awal-awal.


@Weldo: Aro pas tarung sama drone bener-bener gaada ampun.


@SaltedEgg: Yaampun Archie, apa kamu ga malu temen-temen satu perusahaanmu lolos semua ke semifinal, eh kamunya peringkat terakhir, Hahahah.


Archie yang membaca komentar terakhir hanya tersenyum kecut. Ia tidak butuh kata-kata penyemangat saat ini, karena ada hal yang harus dikerjakan. Walaupun masih sedikit geram dengan komentar warganet.


Hari kedua setelah babak 15 besar usai, Archie masih mengotak-ngatik programnya sampai malam hari. Semua ia kerjakan karena hal yang disarankan oleh Kelvin selaku pimpinannya.


Malam itu, seusai menyelesaikan programnya, Archie mendapatkan telepon. Ia langsung mengangkat telepon itu tanpa basa-basi dan tanpa melihat nama siapa yang meneleponnya.


“Halo?”


“Meli? Ini Ayah,” Archie yang mendengar bahwa ayahnya yang meneleponnya itu tersontak dan langsung berdiri dari kursinya.


Setelah meneguk salivanya, Archie langsung membalas ayahnya. “Ada apa, ayah? Tumben nelepon.”


“Kamu gapapa?” ujar ayahnya. Mendengar ayahnya mengatakan itu, hatinya luluh. Seakan ayahnya tahu kalau anaknya sedang tidak baik-baik saja seusai pertandingan.


“Iya Ayah, aku gapapa. Cuma agak sedih aja sama hasilnya,” jawab Archie.


Setelah itu mereka berbincang-bincang karena sudah lama mereka tidak saling berbagi kabar. Ibu Archie sudah tidak ada sejak Archie berusia 15 tahun, lalu ayahnya memutuskan untuk bekerja diluar kota.


Disaat usia 15 tahun itulah ia mendaftar menjadi anggota The Waves. Melewati berbagai macam tes kelayakan menjadi ‘prajurit’ Virtual Evo Game. Archie tidak menduga kalau bisa lolos, walaupun berada diperingkat terbelakang.


Beberapa jam mereka berdua bertelepon hingga hari sudah sangat larut. Mereka menyudahi perbincangan dan Archie mulai beristirahat.


***


Keesokan harinya…


Pertandingan semifinal akan berlangsung dalam sebulan lagi. Memang cukup lama untuk menunggu, tetapi memang itu waktu yang cukup untuk mempersiapkan semuanya. Baik peserta, operator, ataupun pihak panitia.


Saat ini Archie berada di kantor utama The Waves. Tentunya ada Kelvin di sana. Archie mendemokan program yang ia buat di depan Kelvin. Pimpinan The Waves itu tersenyum bangga setelah Archie menyelesaikan presentasinya.


“Saya tertarik dengan semua yang kamu tunjukkan, dan saya juga setuju untuk kamu menggunakannya nanti. Kamu juga sangat mengerti tim,” ujar Kelvin.


“Bagaimana? Kamu sudah memikirkannya?” lanjutnya.


Archie sudah menimbang hal yang ditawarkan oleh Kelvin di ruang operator di dalam arena monitoring dan taman luar Vex Building saat itu.

__ADS_1


***


“Kalau seandainya di The Waves ada yang jadi operator, mungkin aku bisa belajar jadi operator aja,” ucapnya sambil merevisi kembali proyeknya.


“Kamu mau coba?” ucap seseorang di belakangnya. Archie terkejut saat mendengarnya, seluruh tubuhnya menegang.


Di The Waves gaada hantu kan, ya? Batinnya, sambil perlahan menoleh kebelakang, dan ia terkejut melihat siapa orang itu.


“Pak Kelvin?” sontak, Archie langsung berdiri agar tetap sopan dengan pimpinannya itu.


Kelvin hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. Archie bingung, mengapa pimpinannya itu berada di ruangan operator?


“Tadi kamu bilang, mau jadi operator? Saya bisa bantu kamu. The Waves sepertinya memang harus punya divisi operator,” ucapnya.


Archie terdiam dan berusaha mencerna kembali apa yang dikatakan oleh Kelvin. Ia menangkap maksudnya adalah, dirinya bisa menjadi operator. Tetapi, perempuan itu merasa terlalu cepat untuk menjadi operator.


“Tapi Pak, kalau untuk sekarang apakah tidak terlalu mendadak? Maksudnya, saya masih berstatus sebagai Calon peserta asal Group F, Pak.”


“Memangnya kenapa kalau kamu dari Group F? Bukannya sekarang kamu anggota Group B? Saya merasa kamu mampu menjadi keduanya. Pemain dan operator untuk orang lain,” jawab Kelvin.


Mulut Archie terbuka lebar, karena tidak menyangka akan mendengar hal itu langsung dari Kelvin.


“Kamu bisa ikut pelatihan operator secepatnya. Tenang saja, semuanya akan saya urus. Lagipula, sudah lama sekali The Waves tidak memiliki operator,” lanjut Kelvin. Dahi Archie berkerut tidak mengerti.


“Maksud bapak, dulu The Waves punya divisi operator kah?” tanyanya pelan.


Kelvin tertawa. “Operator angkatan pertama ada di sini sekarang,” jawab Kelvin.


“Bapak dulu operator?” tanya Archie yang tidak percaya dengan apa yang ia sadari.


Kelvin mengangguk. “Iya, saya dulu operator untuk pendiri The Waves. Zaoline.”


Archie menutup mulutnya yang terbuka sangat lebar. Ia tahu kalau Zaoline pendiri sekaligus anggota dari The Waves, dan mengikuti pertandingan Virtual Evo Game beberapa tahun yang lalu.


Tetapi ia tidak tahu kalau Kelvin lah operator dari Zaoline saat itu. Keadaan saat itu membuat Archie menjadi sangat kikuk.


“Saya menjadi operatornya dari awal Zaoline ikut pertandingan. Semenjak kemundurannya dari Virtual Evo Game, dia meminta saya untuk memimpin disini sekarang. Tetapi, divisi operator kekurangan orang saat itu. Jadinya, Zao membubarkan divisi ini sebelum ia pamit,” jelas Kelvin.


Archie teringat pidato Zaoline saat memutuskan mundur dari The Waves dan VEG. Dirinya juga teringat saat nama Kelvin disebut-sebut menjadi pengganti Zaoline menjadi pemimpin The Waves, dan Archie juga menjadi anggota The Waves dimasa kepemimpinan Kelvin.


“Setelah pertandingan kamu selesai, kamu bisa ikut pelatihan operator di tempat saya berlatih dulu. Kamu bisa menjadi operator untuk siapapun nanti,” ucap Kelvin.


Archie berpikir, ia ingin menjadi operator siapa. Sedangkan rekan-rekan yang bertanding dengannya, sepertinya tidak terlalu membutuhkan peran operator. Mengingat kemampuan mereka sudah sangat lihai.


Tetapi mengingat Aro yang membantu Liam membuatnya berpikir, terkadang orang hebat pun juga butuh bantuan orang lain. Dirinya juga berpikir, kalau menjadi operator membuatnya jadi lebih berguna.


“Pak, kalau saya jadi operator dari Kak Aro, boleh?”


Pertanyaan Archie saat itu membuat Kelvin sedikit terkejut. Kelvin menatapnya heran, karena ia mengetahui seberapa hebatnya Aro bahkan bertanding tanpa bantuan operator sama sekali.


“Kamu yakin?”

__ADS_1


Archie mengangguk dengan mantap. Semenjak saat itu, setelah berlatih untuk VEG, perempuan itu sering datang ke laboratorium operator. Terkadang juga ia sering bertanya dengan Delaney, apa saja yang ia butuhkan kalau bertanding.


Perempuan itu terlihat cukup tekun berlatih menjadi operator dan juga peserta VEG. Tetapi, semenjak kalah dari pertandingannya di babak 15 besar membuatnya berpikir tidak cukup layak melakukan semuanya.


Ia merenung di luar Vex Building saat itu, tidak menyangka kalau Kelvin mendengar gerutuannya. Mendengar kata-kata kalau ia bisa menjadi apapun, membuatnya menjadi lebih berani lagi.


“Saya punya rencana untuk kamu. Mau mendengarkannya?” Archie mengangguk, lalu mereka mulai membicarakan sesuatu. Saat itu Kelvin teringat kalau Archie ingin menjadi operator untuk Aro.


Kelvin menawarkannya pelatihan khusus untuk Archie menjadi operator, di tempatnya dulu berlatih sebelum pindah ke The Waves. Pimpinannya itu belum mengabari Aro apapun tentang rencananya memasangkan Aro dan Archie.


“Kamu bisa berlatih dulu di sana. Bagaimana? Kamu mau?” tawar Kelvin.


“Tapi Pak, saya masih bisa jadi pemain, kan?”


“Seperti yang saya katakan tadi, kamu bisa jadi apapun.”


***


“Bagaimana? Kamu sudah memikirkannya?” lanjutnya.


Archie sudah menimbang hal yang ditawarkan oleh Kelvin di ruang operator di dalam arena monitoring dan taman luar Vex Building saat itu.


“Iya, Pak. Saya mau ikut pelatihannya,” jawab Archie.


Kelvin mengangguk. “Oke, kamu bisa ikut pelatihan mulai besok di sana. Saya akan mengabari Aro untuk dipasangkan dengan kamu kalau dia bisa sampai babak final,”


“Tapi, Pak? Bagaimana dengan pertandingan mereka bertiga di semifinal? Saya tidak bisa membantu mereka sama sekali karena harus pelatihan,” Tanya Archie.


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka.”


Archie mengangguk mengerti. “Baik, Pak.”


Malam itu, ia mempersiapkan semuanya. Ia sudah mengabari Delaney kalau ia akan berangkat, dan Delaney juga sudah mengetahuinya karena Archie sendiri yang cerita. Dirinya tidak berpamitan dengan Aro, Liam, dan Ann karena takut mengganggu ketiga seniornya itu.


Paginya, Archie sudah keluar kamar. Ia langsung berjalan ke arah pintu keluar gedung. Dari kejauhan, terlihat Aro yang menyenderkan bahunya di tembok melihat langkah Archie ke luar gedung.


Aro teringat saat malam kemarin, ia dipanggil oleh Kelvin.


“Saya tahu mengapa Anda memanggil saya. Tentang Archie, bukan?” tanya Aro.


“Darimana kamu tahu? Bahkan saya belum membicarakannya,” jawab Kelvin.


“Seperti yang saya katakan saat itu. Saya tahu mengapa Anda memilihnya untuk bertanding,” kata Aro. Kelvin terdiam sambil menatapnya.


“Baiklah. Bagaimana? Kamu mau dipasangkan dengan Archie?”


Aro terdiam, lalu menghembuskan napasnya. “Setelah saya berlatih dengannya beberapa bulan ini, melihat semua potensinya walaupun tersembunyi. Iya, saya mau.”


Aro sambil tersenyum tipis saat melihat Archie yang sudah menaiki mobil untuk ke tempat pelatihannya.


***

__ADS_1


__ADS_2