
Babak semifinal telah usai diadakan. Vinn dan Aro lolos ke babak final. Mereka berdua kini menjadi headline berita dimana-mana, seperti Pertandingan Klasik Dua Unggulan Utama. Sementara hasil peringkat akhir dari babak semifinal tidak ada perubahan.
Vinn masih mengokohkan namanya di peringkat pertama, dengan Aro dibawahnya. Liam di peringkat ketiga, dan Ann berada di peringkat keempat. Kini, Vinn dan Aro mendapat jatah istirahat.
Terutama Aro yang harus melakukan perawatan ringan untuk kakinya. Walaupun cedera, ia tetap percaya diri bisa mengikuti babak final.
Saat ini, ia masih beristirahat di kamar asramanya. Kelvin memintanya untuk istirahat lebih teratur karena khawatir dengan kondisinya. Padahal, Aro sendiri sering memikirkan strategi untuk babak final di kamarnya.
Dan juga, memikirkan Archie yang masih mengikuti pelatihan operator. Ia jadi teringat dengan pengunguman dari Alpha, beberapa hari yang lalu.
***
Setelah babak semifinal usai, Alpha mengumpulkan seluruh anggota The Waves di aula besar untuk sebuah pengunguman.
Bahwa The Waves akan membuka divisi operator kembali, dengan Archie sebagai operator pertama di angkatan yang baru, dan berpasangan dengan Aro. Semua orang saat itu banyak yang terkejut.
Tentunya banyak yang pro dan kontra dengan pengunguman tersebut. Terlebih lagi, eksistensi Archie yang dipertanyakan banyak orang.
“Bukannya ngerendahin Archie sih, tapi masa iya dipasangin sama Aro? Apalagi yang kejadian kemarin dia gagal di VEG. Kayak dia di anak emaskan banget,” bisik seseorang kepada teman yang duduk disampingnya.
“Iya, kayak gaada orang lain aja yang lebih pantas,” jawab temannya.
Bukan hanya anggota The Waves yang lainnya, tetapi Liam dan Ann juga mempertanyakan hal itu. Mereka berdua membicarakan hal tersebut di kantin dalam gedung perusahaan.
“Kamu yakin ga, waktu Archie diumumin jadi operator? Apalagi operator pertama setelah beberapa tahun,” tanya Ann.
__ADS_1
“Em, gimana ya? Aku sendiri ga mempermasalahkan sih kalau dia mau jadi operator,” jawab Liam.
“Aku juga ga masalah kalau dia jadi operator pertama untuk angkatan baru. Cuman ya gitu, kalau dipasangin sama Kak Aro, aku agak ragu,” lanjutnya.
Ann mendekatkan wajahnya ke arah Liam, lalu berbisik. “Waktu latihan aja dia keliatan kurang, pas tanding begitu juga. Aku sendiri juga heran kenapa Pak Kelvin bisa milih dia.”
“Kamu kenapa jadi julid deh?” tanya Liam, lalu menenggak kopinya.
“Ih, aku bukan julid. Semoga aja dugaan aku salah,” jawab Ann.
Aro yang sedang mengenakan jaket almamater dengan hoodie, tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Ia memunggungi, pendengaran laki-laki itu cukup tajam. Aro hanya tersenyum getir, lalu meminum cokelat panasnya.
Ia juga pernah diragukan oleh banyak orang saat baru memasuki The Waves. Tapi, siapa yang menyangka bahwa orang yang mereka ragukan itu, sekarang berada di peringkat atas. Seperti yang sering orang katakan: Kelvin memang tidak pernah salah dalam mencari pemain unggulan.
Aro meletakkan gelasnya, lalu membuka hoodienya.
Sontak Ann dan Liam membulatkan kedua matanya karena terkejut, menyadari siapa orang yang berada dibelakang mereka.
“Kak Aro?” bisik Ann. Liam mengangguk.
Aro berdiri dari kursinya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang terdiam. Ann menutup mulutnya, sedangkan Liam berpaling ke arah lain. Ia melihat Aro yang sudah berjalan keluar dari kantin.
“Kayaknya, emang kita harus hati-hati kalau ngomong. Selain didengar sama Tuhan, didengar juga sama Kak Aro,” ujarnya.
Ann mengangguk cepat menyetujui kata Liam, tangannya masih menutupi mulutnya. Seakan malu dengan seniornya itu.
__ADS_1
“Semoga ga dilaporin ke Pak Kelvin, soalnya aku malu banget,” tutur Ann.
"Sama, aku juga,” jawab Liam.
***
Aro sudah merasa lebih baik saat ini. Cederanya sudah cukup pulih. Dari kursi kamarnya, ia mengetik salah satu nomor untuk menelepon seseorang. Nama Kelvin terlihat disana.
“Halo? Ada apa, Aro?”
“Halo, Pak. Saya mau keluar gedung, boleh?” tanya Aro. Ia merasa sudah cukup terisolasi dengan perawatannya.
“Lho? Keadaan kamu bagaimana?” tanya Kelvin.
“Saya sudah lebih baik, Pak.”
“Memangnya, kamu mau pergi kemana?”
Lalu Aro menjelaskan kemana ia ingin pergi. Kelvin menimbang-nimbang, berpikir apakah menyetujuinya atau tidak.
“Saya mohon, Pak. Ini juga bukan untuk diri saya sendiri saja,” ucapnya.
Kelvin menghela napasnya. “Ok, kamu boleh pergi. Tapi, kamu harus jaga kondisi kamu.”
Aro mengiyakan perintah dari Kelvin. Ia terlihat cukup senang, hanya saja tidak terlalu terlihat kalau dirinya merasa antusias. Laki-laki yang bernama Aromika Evan itu langsung mengemas beberapa pakaian dan menyiapkan kopernya.
__ADS_1
***