Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Road to Final


__ADS_3

Setelah Aro kembali dari dunia nyata, Archie juga keluar dari ruang operatornya. Hasil poin pun sudah keluar. Mereka mendapatkan poin yang cukup tinggi, dan juga, mereka menjadi peserta terakhir Demo Stage.


Archie cukup puas dengan hasilnya, begitu pula dengan Aro. Pertama kalinya mereka menjadi partner, dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Skor mereka memang tinggi, tetapi belum tentu dengan peringkatnya.


Mereka pun memasuki arena monitoring. Semua orang disana, melirik ke arah mereka berdua. Archie jadi merasa cukup gugup, tetapi tidak dengan Aro. Lalu dua orang itu duduk di kursi mereka masing-masing.


“Saya tidak menyangka, kamu hebat juga waktu jadi operator,” ucap Aro.


“Tidak perlu menghibur saya, Kak. Saya masih belum ada apa-apanya. Apalagi kita baru pertama kali kayak begini,” jawab Archie.


“Lho? Siapa yang menghibur? Saya ngomong apa adanya kok," jawab Aro dengan nada yang terkesan tidak suka.


“Tapi kan, Kak Aro sendiri juga udah ahli. Tanpa saya pun juga bisa tanding sendirian.”


Aro tersenyum kecut, banyak berkata padanya demikian termasuk partnernya sendiri.


“Kalau tidak ada kamu juga, ya saya juga tidak bisa lewatin misi tadi. Saya malah merasa lebih senang sewaktu ada operator. Baru terasa kalau saya tidak sendirian,” jawab Aro.


“Terima kasih ya, kamu mau jadi operator saya,” lanjutnya sambil tersenyum ke arah Archie.


Mendadak, Archie menjadi tersipu malu dan salah tingkah. Baru kali ini ia mulai merasa bangga dengan dirinya sendiri. Ia juga merasa lebih berguna dan bermanfaat bagi orang lain.


***


Pengunguman peringkat pun tiba. Archie merasa semakin gelisah, karena takut mengecewakan Aro juga. Karena penilaian juga berdasakan kerjasama antar partner.


Nama-nama setiap tim mulai bermunculan di layar besar dalam arena monitoring Sierra Academy. Semua nama diumumkan dari yang terendah, sampai yang tertinggi. Archie menutup matanya karena takut dengan hasilnya.


Beberapa lama kemudian, ia mendengar suara Aro yang memanggilnya dengan lembut. “Archie, coba lihat!” ujar Aro.


Lalu Archie melihat ke arah layar, yang dilihat adalah namanya dan Aro berada di urutan pertama. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menoleh ke arah Aro yang terlihat tersenyum dengan sangat lebar. Senyuman yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


“Kita menang? Maksudnya, kita yang ada diurutan teratas?” tanya Archie.


“Iya, kita menang. Kita yang ada diurutan teratas,” jawab Aro.


Ingin rasanya Archie melompat dan memeluk seniornya itu. Tetapi ia tahu malu. Perempuan itu hanya ingin menangis, karena terharu dengan hasilnya. Bertahun-tahun tergabung sebagai peserta pelatihan, belum pernah ia merasa se-bahagia ini.


Lalu, hari esok setelah pengunguman itu, Archie mendapatkan panggilan dari Dairen. Ia masuk ke dalam ruangannya, ditemani oleh Aro. Dirinya mendapatkan lisensi resmi untuk menjadi operator.


“Kamu memang pantas mendapatkannya. Saya tidak menyangka, kalau The Waves baru membuka divisi operator VEG lagi belakangan ini. Tetapi sudah punya unggulan seperti kamu,” ucap Dairen.


“Terima kasih, Pak. Saya akan menjaga lisensi dan status ini dengan baik,” jawab Archie dengan sopan. Aro yang berada disebelahnya hanya tersenyum tipis.


***


Hari itu juga, setelah resmi mendapatkan status Operator VEG, Aro dan Archie keluar dari Sierra Academy. Mereka langsung kembali ke The Waves. Untuk keluar dari Pulau Sierra, mereka harus menaiki kapal.


“Perasaan naik kapal dari demo stage kemarin belum hilang,” ujar Aro saat mereka berdua sudah berada di dalam kapal tersebut.


“Kalau bukan karena ke Sierra Academy, mungkin aku tidak akan pernah naik kapal,” gumam Archie yang didengar oleh Aro.


“Kamu mabuk laut?” tanya Aro.


“Agak sedikit sih, Kak. But, it's okay, lagian sebentar lagi juga sampai,” jawab Archie.


Archie memilih memakan berbagai kudapan untuk mengalihkan rasa mualnya. Kapal yang mereka tumpangi memang lebih cepat daripada kapal yang Aro naiki di demo stage saat itu. Sehingga, waktu yang ditempuh untuk sampai ke seberang pulau menjadi lebih cepat.


Saat sampai di dermaga, mereka berdua langsung bergegas membawa kopernya. Alpha sudah menunggu mereka di pelabuhan, dan langsung menyambut mereka setelah melihat keduanya berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Mereka menaiki mobil untuk sampai ke gedung The Waves. Tempat yang sebenarnya Archie rindukan. Saat perjalanan, mereka bertiga saling berbincang-bincang.


“Karena adanya kabar kamu sudah dapat lisensi, kemarin juga langsung banyak yang minat jadi operator. Banyak yang langsung bilang ke saya, apalagi yang anak-anak baru, mau jadi seperti kamu katanya,” ujar Alpha.


“Beneran, Pak?” tanya Archie.


“Iya beneran. Maaf-maaf ya Archie, waktu diumumkan kamu bakal jadi operator pertama diangkatan yang sekarang, banyak yang meragukan kamu,” ucap Alpha.


Archie tidak merasa tersinggung, karena dirinya merasa kalau ada diposisi mereka pun, ia akan berpikiran yang sama. Ia hanya diam mendengar cerita dari Alpha yang ia duga mengarah kemana.


“Tapi kemarin, waktu tahu kalau kamu dapat lisensi operator dengan waktu singkat, langsung banyak yang menarik kata-katanya. Selamat ya Archie, sudah jadi pelopor operator baru di The Waves,” lanjut Alpha.


Archie berterima kasih dan hanya tersipu malu. Ia berusaha tidak meninggikan hatinya, karena ia merasa semua ini hanya kebetulan dan waktu yang berjalan dengan cepat.


Mobil terus melaju untuk sampai ke The Waves hingga malam hari, karena jalanan yang padat, Archie tertidur di dalam mobil itu. Sedangkan Aro, asyik melihat jalanan. Laki-laki itu menyalakan ponselnya.


Ia melihat-lihat foto saat dirinya pertama kali datang ke Vex Building sebagai penonton pertandingan VEG bersama kakaknya, Prichilla.


Lalu beralih ke foto lainnya, terlihat ia saat itu menonton pertandingan kakaknya yang sudah resmi menjadi anggota The Waves dengan nama panggungnya, Yellow Bunny. Aro juga melihat foto dengan kakaknya sebelum mereka berpisah di bandara.


Aro kembali membuka galeri fotonya, terlihat foto kartu tanda pengenalnya, foto saat pertama kali ia menggunakan seragam The Waves dan berdiri di depan gedung, dan gambar sketsa avatarnya.


Ia tersenyum dengan sendirinya. Aro bukan orang yang suka berfoto, tetapi ia merasa bersyukur karena banyak foto yang ada di ponselnya.


Walaupun semua foto diwaktu itu, bukan karena keinginan sendiri. Tetapi karena lebih banyak dipaksa oleh Prichilla untuk mengirimkan foto kepadanya, untuk saling bertukar kabar, seperti “Ih Aro, cepetan kirim foto karu tanda pengenal kamu,” atau “Kamu udah foto di depan gedung belum?” ada juga seperti “Mana sketsa avatar kamu? Mau aku komenin,” dan juga lainnya. Aro jadi lebih banyak mengenang masa lalunya itu.


Dunia memang penuh dengan kejutan. Batin Aro lalu mematikan ponselnya.


Beberapa jam kemudian, mobil mereka sampai di gedung The Waves. Mobil yang terparkir, cukup untuk membangunkan Archie yang tertidur dengan pulas. Aro dan Archie turun dari mobil, lalu mengambil koper mereka dari bagasi.


Setelah mengeluarkan koper, Alpha pergi meninggalkan mereka di depan gedung asrama. Archie sudah cukup lama merindukan tempat itu. Ia merasa, The Waves adalah rumah keduanya.


Archie merasa linglung, lalu menoleh ke kanan dan kirinya karena bingung harus merespon seperti apa. Lalu berakhir dengan membungkuk juga seperti Aro sambil berkata, “Se… selamat datang kembali juga, kak.”


Aro kembali kepada posisi semula. Ia tertawa melihat Archie yang salah tingkah, yang ditertawakan hanya merasa malu.


“Archie, saya boleh minta tolong?” tanya Aro.


“Minta tolong apa ya, Kak?”


“Tolong jangan panggil saya kakak lagi. Kita sudah jadi partner sekarang.”


“Tapi, bukannya itu tidak sopan ya? Saya tidak enak kalau panggil nama begitu.”


Aro mendengus lalu berkata, “Archie, tolong ya? Saya tahu kamu juga bicara non formal. Tidak masalah kalau kamu mau bicara seperti itu, malah saya jadi merasa dekat dengan kamu, jika kamu seperti itu,” pinta Aro dengan wajahnya yang terlihat penuh harap.


Archie menimbang-nimbang lagi, ia dan Aro selisih empat tahun. Seharusnya tidak ada masalah karena mereka cukup sepantaran.


“Baiklah, Kak. Eh? Aro,” saat memanggil nama Aro, nada suara Archie menjadi sedikit lebih pelan. Sepertinya ia harus membiasakan diri. Aro hanya tersenyum tipis.


“Mohon bantuannya Archie, untuk karir saya di VEG kedepannya,” Aro mengulurkan tangan sebelah tangannya. Mengajak Archie untuk berjabat tangan. Seperti pertanda kesepakatan antar keduanya akan segera terlaksana.


Archie membalas uluran tangan tersebut. Ia mengangguk seraya berkata, “Mohon bantuannya juga.”


***


Archie melangkah ke kamar asramanya, ia sudah merindukan kamarnya itu. Saat berjalan di koridor, tiba-tiba pintu kamar asrama sebelah ruangan Archie terbuka. Seseorang menoleh ke arahnya terkejut.


“Delaney?” tanya Archie.

__ADS_1


Delaney langsung berlari ke arahnya lalu memeluk Archie dengan kegirangan. “Ya ampun, Archie aku kangen,” ujarnya. Archie membalas,


“Sama, aku juga kangen.”


Delaney melihat koper bawaan Archie, lalu membantu membawakannya. Mereka berdua masuk ke dalam kamar Archie yang sudah ditinggal kurang lebih sekitar satu bulan yang lalu.


Delaney duduk di kursi lantai milik Archie. Lalu pemilik kamar itu menyiapkan minuman untuk mereka berdua. Awalnya Delaney menolak karena tidak enakan, tetapi Archie memaksa untuk membuatnya. Setelah itu, mereka saling berbincang-bincang.


“Eh, kamu tahu ngga kalau waktu babak semifinal di hari pertama, Kak Aro sama Kak Ann duduk di kursi penonton?” tanya Delaney.


“Masa sih?” kata Archie. Delaney menjawab, “Iya, mereka beneran duduk di sebelah aku, Zack, sama Joyce. Terus pas hari kedua, Kak Liam yang duduk sebelah kita bertiga.”


“Terus perasaan kalian gimana?”


“Ih, jujur kita seneng banget sih. Cuma, jadinya canggung banget. Kita mau jerit-jerit tapi malu. Kita jadi tahu perasaan kamu gimana waktu dinobatin jadi peserta VEG.”


Archie tertawa lepas saat mendengarnya. Merasa lucu saat membayangkan wajah canggung mereka bertiga saat menonton pertandingan. Biasanya mereka bertiga terlihat merasa gemas dan teriak-teriak saat pertandingan berlangsung. Bahkan sampai pukul-pukul kursi.


Delaney juga bercerita tentang Aro yang duduk disebelahnya saat itu. Ia menceritakan apa yang Aro katakan untuk tidak memberitahukan siapapun tentang Archie yang akan menjadi operator.


Lalu semenjak Alpha mengungumkan pembukaan divisi operator, Delaney tahu apa maksudnya. Aro ingin Archie tidak tersinggung dengan tanggapan orang-orang disekitarnya. Archie hanya mengangguk, karena sudah mengetahui ceritanya dari Alpha.


“Kak Aro perhatian tuh, sama kamu,” ujarnya.


“Ngga kali, kebetulan aja. Kalaupun beneran, kayaknya dia juga cuma mau jaga mental aku aja, biar ngga goyah waktu nanti jadi operator di babak final,” jawab Archie.


Mereka berbincang-bincang hingga mulai berganti hari. Delaney kembali ke kamarnya, dan Archie beristirahat.


***


Hari menuju babak final sudah semakin dekat. Kelvin selaku pemimpin The Waves menghadiri konferensi pers untuk mengumumkan pembukaan divisi operator bagi The Waves.


Ia mengumumkan kalau di The Waves, seorang operator juga bisa menjadi pemain dari Virtual Evo Game, dengan Archie sebagai contohnya. Kelvin juga membuka kembali perekrutan anggota The Waves yang baru, setelah babak final nanti.


Bukan hanya Kelvin yang hadir disana, Aro juga hadir untuk mengumumkan tentang Archie yang akan menjadi operatornya. Sebelum ini, seluruh anggota The Waves memang sudah mengetahuinya.


Kelvin meminta semua anggota merahasiakannya sebelum ia sendiri yang mengumumkan. Baginya, saat konferensi pers inilah waktu yang tepat. Karena sebentar lagi juga akan ada babak final, dan tentunya pertandingan akan menjadi lebih menarik.


Media-media pun sudah mulai memberitakan hal ini kemana-mana. Untuk para penonton VEG, tentunya final kali ini akan menjadi lebih adil. Karena kedua finalis sudah memiliki partner masing-masing.


Aro dan Archie juga semakin menambahkan waktu latihan mereka. Archie juga sudah memperbaiki data program-programnya agar bisa dan aman digunakan untuk Aro saat pertandingan nanti.


Archie juga sudah terbiasa memanggil partnernya itu dengan hanya memanggil namanya. Awalnya Liam dan Ann terkejut saat mendengarnya, tetapi saat mengetahui alasan Archie kalau Aro yang memintanya, mereka tidak mempermasalahkannya.


***


Hari sebelum pertandingan babak final, seorang perempuan menghampiri kantor utama The Waves. Wajahnya terlihat sangat antusias saat bertemu dengan Kelvin di sana. Seakan bertemu dengan orang yang sudah lama tidak ia temui.


Ada seorang laki-laki lain juga yang berada di dalam sana, tengah meneguk secangkir kopinya. Dua orang besar yang sangat perempuan itu kagumi.


“Kamu tahu, dia berkembang dengan sangat pesat. Dia juga menjadi lebih terbuka dengan orang lain,” kata Kelvin kepada perempuan itu.


“Saya tahu kalau dia tidak pernah meninggalkan niat awalnya. Saya juga terkejut kalau dia punya operator saat ini,” jawab perempuan itu.


“Aro memang seperti Anda, punya jiwa-jiwa ambisius,” ujar Kelvin kepada laki-laki yang ada di dekatnya itu. “Dia lebih ambisius daripada saya. Tetapi, dia orang yang punya pemikiran yang matang. The Waves memang menjadi lebih hebat dengan kehadirannya,” jawab laki-laki itu.


“Dan karena perempuan 18 tahun itu, saya benar-benar berterima kasih dengannya karena menghidupkan kembali divisi operator di sini,” lanjut laki-laki itu.


Ketiganya memandang wajah Aro dan Archie yang muncul di layar hologram.

__ADS_1


***


__ADS_2