
Setelah pengunguman peserta VEG dari The Waves tahun ini sudah diumumkan, semua orang kembali ke asrama pelatihan mereka masing-masing. Archie kembali masuk ke kamarnya, ia langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Ia merasa setelah ini kehidupannya akan benar-benar berubah.
Aku harus bagaimana sekarang? Gumamnya sedari tadi. Ia masih belum menyangka dirinya akan secepat ini mengikuti VEG, kompetisi yang ia idam-idamkan dari dulu.
“Aku sudah menunggu hal ini bertahun-tahun, tapi kenapa sekarang malah takut ya?” ucapnya sambil melihat kertas yang ia tempel di dinding sebelah ranjangnya, bertuliskan One day, I will join VEG! I promise.
Sementara itu di kamar asrama anggota laki-laki…
Aro membuka pintu kamarnya yang sudah lama tidak ia datangi. Kamar itu masih belum berubah, bahkan peralatan digital dan juga barang-barang untuknya latihan dan bertanding masih tersusun rapih di atas meja. Dua tahun yang lalu, ia meninggalkan kamar itu untuk pengobatan cedera dan pelatihan pribadi untuk dirinya sendiri. Ia meminta agar kamarnya hanya dibersihkan saja jika ada debu. Tanpa mengubah semua posisi barang di kamarnya.
“Lama tidak bertemu,” ucapnya pada kamarnya.
Aro duduk di kasur seraya menyelonjorkan kakinya. Ia meraba bagian betisnya yang dua tahun lalu masih cedera. Ia merasa yakin, tapi juga merasa takut. Kejadian dua tahun lalu, ia mengalami kekalahan karena mendapatkan tembakan dari sebuah robot yang ternyata pelurunya menyerang bagian betisnya itu.
Saat itu semua orang berpikir mungkin, saat keluar dari VEG dan kembali ke dunia nyata, keadaan kakinya akan baik-baik saja. Tetapi ternyata tidak. Setelah keluar dari ruangan Evopass, Aro terjatuh dan tidak bisa berjalan, sehingga pihak medis membawanya menggunakan kursi roda.
Tetapi semua itu sudah berlalu, walaupun ia merasa kedepannya akan lebih sulit, Aro tetap berusaha yakin dengan dirinya sendiri. Tentunya ia akan berusaha menjadi ketua Group yang baik untuk ketiga peserta lainnya.
Terakhir kali ia bertanding dua tahun lalu untuk kategori pertandingan individu, dari tim The Waves, hanya dirinya yang sampai ke babak semifinal.
***
Aro menyalakan monitornya yang terletak di meja kamarnya. Ia melihat profil dari ketiga peserta yang akan ikut dengannya untuk seleksi 15 besar. Ia melihat rekaman pertandingan Liam di tahun lalu dan berusaha menganalisis pergerakannya. Aro pernah menjadi mentor sebaya untuk Liam beberapa tahun yang lalu.
Ia mencatat beberapa hal di buku catatannya. Kelebihan dan kekurangan saat Liam bertanding di tahun lalu, dianalisis dengan sangat teliti oleh Aro. Hari sudah semakin larut, tetapi ia masih belum tidur dan melihat rekam status kedua peserta lainnya.
__ADS_1
Ann mengikuti VEG dua tahun yang lalu, sama sepertinya. Hanya saja langkahnya terhenti di babak penyeleksian 15 besar. Kemampuan Ann pada bagian pengolahan data saat itu cukup baik. Data-data yang dimasukkan cukup akurat untuk membuka berbagai macam tantangan saat itu. Hanya saja, saat pengunguman 15 besar, langkahnya terhenti.
Tetapi beberapa hari kemudian, kemampuan Ann tergolong sangat diperhitungkan. Salah satu peserta peringkat 15 besar mengundurkan diri, sehingga Ann bisa mengikuti pertandingan. Dalam tes simulasi dari The Waves dan hasil pertandingannya di Grade B, ternyata membawa peringkatnya untuk lolos tahap seleksi. Ann diikutkan dalam VEG tahun itu, namun mengundurkan diri karena kesalahan teknis. Nampaknya hal tersebutlah yang terjadi juga pada peserta sebelumnya yang mengundurkan diri tersebut.
Terakhir, Aro melihat profil dari peserta terakhir, Archie. Saat membuka rekor status peringkatnya, Aro benar-benar terkejut. Semua peringkat Archie tidak ada yang stabil. Seperti yang dikatakan Archie saat pidato tadi, bahkan ia pernah berada di peringkat paling akhir. Pertandingannya pada Grade B juga tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan.
“Kenapa Pak Kelvin milih dia? Kemampuannya dan peringkatnya juga jauh dari kata tinggi. Memangnya anak satu ini punya orang dalam kah?” ucap Aro sambil memakan cemilannya.
“Tapi anak ini juga dari keluarga biasanya aja, sepertinya juga tidak ada orang dalamnya,” lanjutnya lagi.
Ia melihat jam di dinding kamarnya. Hari pun sudah hampir berganti, Aro memilih untuk beristirahat kali ini. Ia harus berkumpul dan latihan dengan ketiga peserta itu esok hari.
***
Alarm di kamar 205 berbunyi, Archie sebagai penghuni kamar itu pun menekan tombol off. Ia langsung segera bersiap dengan pakaian khas The Waves untuk latihan. Archie terlihat seperti orang yang kurang tidur, karena memang ia tidak bisa tidur selama semalaman itu.
Setelah selesai bersiap, Archie keluar dari kamarnya dan duduk di ruang tunggu. Hari ini ada pelatihan dengan peserta lainnya, ia mendapatkan pesan seperti itu dari Alpha lewat ponselnya.
Tempat itu masih sepi, hanya Archie seorang yang duduk di sana. Kekhawatiran masih memenuhi pikirannya, sampai beberapa anggota The Waves melewati ruang tunggu itu dan menyapanya.
“Hei Archie!” ucap Delaney yang tidak sengaja melihat Archie di ruang tunggu.
“Oh, hai.”
“Kenapa tunggu di sini? Tumben sekali, biasanya kan kamu bangun siang,” ucap Delaney dengan keheranan.
__ADS_1
“Tidak perlu terlalu jujur, nanti kedengeran peserta lain,” bisik Archie.
“Oh… kamu lagi nungguin yang lain ya?” tanya Delaney yang dibalas anggukan oleh Archie.
“Yaudah, semangat ya buat latihannya! Kamu harapan anak-anak Group F tau, salah satunya aku.”
Archie kembali mengangguk sambil tersenyum, lalu Delaney meninggalkan Archie di ruang tunggu itu. Archie berasal dari Group F The Waves yang berisikan anggota yang berasal dari peringkat 31-40 nasional. Bisa dikatakan cukup sulit untuk bisa menembus pertandingan kelas besar di VEG.
Peringkat Delaney lebih tinggi dari Archie, ia berada di peringkat 32. Namun Archie masih tetap bingung, mengapa yang dipilih adalah dirinya sendiri. Tak lama kemudian, Archie melihat Liam dari kejauhan yang berjalan ke arahnya.
Liam yang melihat Archie tersenyum menyapanya. Archie membalas senyuman itu dengan sedikit canggung.
“Yo, pagi peserta baru,” ucapnya dengan tatapan yang sedikit usil.
“Eh, Pagi, Kak.”
“Kita nunggu Ann dulu sebentar, nanti langsung ke depan gedung. Katanya Kak Aro nunggu di sana nanti,” kata Liam.
“Oh, siap, Kak,” jawab Archie yang berusaha menjawab se sopan mungkin.
Di The Waves, dari juniornya berusaha se sopan mungkin kepada seniornya. Memang ada kelas antara senior dan juniornya, hanya saja tidak ada yang namanya senioritas atau gila hormat dari kedua jenjang ini. Archie dan Liam saling berbincang sambil menunggu Ann. Beberapa menit kemudian yang ditunggu pun datang. Ann yang terlihat lari-lari dari kejauhan terlihat kelelahan.
“Aduh ya ampun, maaf ya jadi nunggu,” ucapnya setelah sampai di ruang tunggu.
“Gapapa, Kak,” jawab Archie.
__ADS_1
“Ayo langsung aja ke lapangan, takutnya Kak Aro udah nungguin,” ucap Liam.
***