Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Training


__ADS_3

Latihan dimulai dengan menembak. Ketiga Calon peserta tahun ini sudah memiliki kemampuan dalam hal tembak-menembak dengan senjata yang mereka pilih dari awal masuk sebagai anggota tim.


Liam sedari awal masuk sebagai anggota The Waves memilih softgun sebagai senjata utamanya, tetapi untuk pertandingan tahun lalu, saat di Grade B menggunakan dua gadget sebagai senjata cadangannya. Ann memilih untuk menggunakan handgun setiap pertandingannya karena menurutnya mudah untuk digunakan.


Sedangkan Archie, walaupun ia belum pernah bertanding di kelas tinggi, ia sudah memiliki senjata yang dipilihnya berupa panah. Karena sewaktu kecil ia pernah mengikuti pelatihan panahan di tingkat kota walaupun dipaksa ayahnya, dan pada akhirnya terhenti karena ia lebih memilih masuk The Waves.


Aro sudah menyiapkan beberapa papan bidik digital yang berbeda jenisnya di tengah lapangan. Ia juga terlihat menyiapkan berbagai tangki dan kursi yang entah untuk apa semua itu digunakan. Archie masih memilih beberapa anak panah yang akan digunakan. Ketika itu dirinya bersebelahan dengan Ann yang juga sedang memilih senjatanya.


Teringat dengan yang dikatakan Ann tadi kalau senjatanya dulu memiliki kekurangan komponen, membuat Archie berpikir senjata apa yang sebenarnya Ann gunakan tahun lalu. Tetapi ia mengalihkan pikiran itu dan kembali fokus dengan busur panah yang ia pilih.


Ketiga peserta itu sekarang berdiri di tengah lapangan dengan Aro yang berada dihadapan mereka. Papan bidik itu terlihat cukup jauh dari jangkauan.


“Untuk sekarang, saya minta kalian menembak ke arah sana. Tidak peduli sebanyak apa amunisi atau panah yang kalian pakai, semua harus sampai ke papan bidik di depan,” ucapnya.


“Baik, Kak,” jawab mereka bertiga.


Mereka lalu menembakkan senjata ke arah papan bidik itu. Suara tembakan terdengar beruntun, suara panah yang menembus angin juga menghiasi ramainya lapangan belakang The Waves yang hanya diisi oleh empat orang itu.


Dua jam berlalu, ketiga orang itu masih berlatih menembak papan bidik digital itu.


Papan digital itu memang meninggalkan banyak bekas, tetapi karena teknologi yang sudah canggih, tidak ada amunisi atau pun anak panah yang menancap disana. Seakan tertelan dalam papan bidik itu.


“Eh, habis,” ucap Ann. Amunisinya sudah mulai habis lalu saat Ann ingin kembali ke tempat pengisian amunisi, ternyata sudah ada Aro di belakangnya, memberikan senjata yang sama seperti Ann pilih dengan isi yang lebih banyak.


“Seperti yang saya katakan tadi, siapkan lebih dari satu senjata agar mengefisienkan waktu. Itu juga untuk diri kamu sendiri,” ucap Aro dengan suara seraknya.


“Baik, Kak, terima kasih. Maaf merepotkan,” jawab Ann sambil menerima senjata yang diberikan oleh Aro.


Ann kembali menembakkan senjatanya ke arah papan bidik yang berada cukup jauh dari hadapannya itu. Liam bahkan sudah mengganti isi senjata berkali-kali. Sedangkan Archie, karena jumlah anak panah yang dibawanya cukup banyak, ia masih belum kehabisan anak panah. Mereka bertiga mulai terlihat kelelahan bahkan tangan Archie sudah mulai terlihat lecet.


“Baik semuanya, istirahat sebentar,” ucap Aro. Mereka bertiga pun menurunkan senjata mereka untuk mengistirahatkan tangan.


“Archie, urus tanganmu. Kamu disini sudah banyak luka, bagaimana kalau nanti di VEG? Mungkin bisa lebih parah. Cari tau caranya untuk meminimalisir luka dibagian tanganmu,” saran Aro yang dibalas anggukan oleh Archie.


“Liam, kamu sudah terlihat cukup menikmati yang kamu kerjakan tadi. Walaupun sekarang kamu terlihat lebih sabar, tapi tembakanmu tadi tidak sampai setengah yang mengenai pusat papan target,” lanjut Aro.


Ketiga orang itu terkejut mendengarnya terutama Liam yang mengira dirinya sudah lebih baik, ternyata masih belum cukup baik dalam menembak di papan target itu. Ann dan Archie saling berpandangan, mereka juga tidak menyangka karena Liam terlihat sangat fokus saat latihan. Keempatnya terdiam saat itu, terutama Liam yang sedikit merasa kesal.


Aro terlihat menepuk pundak Liam sambil berkata, “Coba lagi. Ini masih latihan pertama,” lalu meninggalkan mereka yang sedang beristirahat.


Liam menghembuskan napasnya perlahan. Hari sudah mulai terlihat sore, Liam berbaring di pinggir lapangan. Ann mengambil beberapa makanan dan minuman untuk kembali mengisi tenaga mereka bertiga. Archie sudah mengambil beberapa peralatan P3K untuk menyembuhkan luka dan membalutkan perban pada tangannya.


***

__ADS_1


Mereka bertiga berada di tengah lapangan sambil berbincang-bicang. Archie masih belum menyangka bisa berbicara dengan orang-orang yang diperhitungkan di The Waves ini. Beberapa jam setelah mereka beristirahat di lapangan, tiba-tiba terlihat beberapa orang yang mengangkat tangki-tangki besar lalu dibaringkan di seberang papan target yang sudah diprogram untuk bersih dari bekas tembakan.


Sepertinya orang-orang itu disuruh oleh Aro. Tangki-tangki itu terlihat tidak stabil berdiri. Mungkin tangki itu sudah lama. Melihat tangki-tangki itu bergerak sedikit dan juga tidak stabil saat dibaringkan, Ann teringat sesuatu.


“Latihan keseimbangan,” ucapnya.


Liam dan Archie menoleh ke arah Ann. Lalu Ann menambahkan, “Kak Aro pernah latihan keseimbangan buat tanding dua tahun lalu. Kita anggota yang lain cuma ngelihatin dari jauh karena dia latihan sendiri.”


“Eh iya, dulu pas aku dilatih sama kak Aro juga pernah latihan keseimbangan. Bukan pakai tangki, tapi pakai roda yang berdiri gitu,” jawab Liam.


“Kakak berdiri di atas roda gitu sambil nembak papan target?” tanya Archie yang ternyata dibalas anggukan oleh Liam.


“Kayaknya sekarang bakal lebih menantang,” lanjut Liam sambil melihat orang-orang itu mengatur beberapa tangki besar.


Mereka bertiga saat ini kembali ke tengah lapangan. Hari sudah gelap dan malam sudah datang. Keempat Calon peserta VEG itu masih berada di luar gedung untuk latihan. Beberapa anggota The Waves lainnya melihat mereka dari jendela gedung tengah.


“Kalau udah jadi Calon peserta, pasti capeknya ga karuan ya,” ujar Joyce.


“Jelas lah, namanya juga lagi berjuang. Bawa nama harga diri soalnya,” jawab Zack.


***


Aro memulai kembali latihan untuk mereka bertiga. Tangan Archie sudah lebih baik sekarang, walaupun dengan balutan perban. Liam dan Ann sudah merasa memiliki cukup tenaga setelah makan tadi.


“Sepertinya kalian sudah tahu, latihan seperti apa untuk saat ini,” ujar Aro.


Aro tersenyum mendengarnya. Ternyata orang yang pernah diajarkannya juga masih mengingat pelatihan apa saja yang pernah ia pakai. Di depan mereka sudah ada tangki-tangki besar yang dibaringkan, tetapi terlihat sangat tidak stabil.


“Kalian tahu film 3 Srikandi?” tanya Aro.


Liam dan Ann menggeleng, tetapi Archie mengangguk. Aro tersenyum kecut, “Sepertinya hanya Archie yang tahu. Melihat tangki-tangki ini, apa yang kamu pikirkan?” tanya Aro kepada Archie.


Archie berpikir kata-kata apa yang harus ia lontarkan. Lalu ia mulai memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan itu.


“Ada salah satu adegan, para tokoh disuruh latihan berdiri dengan stabil di atas tangki untuk latihan memanah,” jawab Archie dengan berusaha tidak membocorkan seluruh isi filmnya.


Archie menebak kalau mereka akan berdiri di atas sana.


“Benar, dan memang itu yang akan kita lakukan,” jawab Aro.


Ketiga anak didikan Aro itu saling berpandangan, Archie menghembuskan napasnya karena ia tahu hal itu tidak mudah. Melihat filmnya saja ia sudah deg-degan, apalagi ia akan melakukan hal yang sama.


Kepala Ann mendadak kosong saat mendengarnya. Liam yang pernah melakukan latihan seperti itu merasa sedikit panik karena ia tahu, tangki-tangki itu jauh lebih tipis dan lebih tidak stabil dari roda yang pernah ia injak.

__ADS_1


“Baik, kita mulai saja. Hari mulai malam, saya harap dengan tenaga kalian yang tersisa, kita bisa menyelesaikan latihan hari ini dengan baik,” kata Aro.


“Baik, Kak,” jawab mereka bertiga.


Mau tidak mau, mereka bertiga bersusah payah berdiri di atas tangki besar itu dengan membawa senjata yang mereka pakai. Berdiri dengan stabil tentu bukan perkara yang mudah. Ann jatuh berkali-kali dari sana, namun mencobanya lagi.


Liam sudah mulai bisa berdiri dengan stabil sedangkan Archie, seluruh tubuhnya bergetar. Tetapi Archie tetap berusaha bisa berdiri dengan stabil di atas tangki.


“Sekarang, mulai tembak papan-papan target itu!” perintah Aro.


Suara tembakan kembali terdengar. Amunisi yang dilontarkan oleh Ann banyak yang meleset, Liam berusaha sangat keras sampai akhirnya beberapa tembakan mengenai papan target walaupun belum ada yang mengenai tengah papan target.


“Ann, lebih hati-hati. Kalau kamu seperti ini di dalam VEG, amunisi senjatamu bisa meleset mengenai diri sendiri,” ucap Aro sambil sedikit berteriak.


Ketika yang lain sudah mulai menembak, Archie masih kewalahan untuk berdiri dengan stabil di atas tangki. Aro menghela napas berkali-kali saat melihatnya. Archie benar-benar kesulitan untuk berdiri dengan stabil.


Tangki yang diinjak Archie mulai bergoyang dan bergerak mundur ke belakang lapangan yang merupakan sungai.


“Lho lho lho? Ini gimana? Eh aduh,” gerutu Archie. Tiba-tiba…


BYURRRRR, Archie tercebur ke dalam sungai. “YA TUHAAAANNN!” teriak Archie yang muncul ke tepi sungai dengan keadaan basah.


Liam dan Ann langsung turun dari atas tangki, mereka dan Aro mulai berlari menghampirinya. Terlihat Archie yang menggerutu kesal. Di hari pertamanya ini sudah sangat melelahkan, basah kuyup karena tercebur pula.


“Archie kamu gapapa?” tanya Aro.


“Iya, Kak, saya gapaphaaaa HATCHIM!” Archie bersin karena kedinginan.


“Pfttt… HAHAHAHAHAHA,” tawa Liam terdengar jelas di pinggir sungai itu.


Ann menahan tawanya, tidak disangka Aro juga ingin tertawa tetapi ia tahan karena merasa kasihan melihat Archie.


“Ih kalian kok ketawa?” tanya Archie.


“Lagian kamu kenapa kok bisa kecebur? Hahaha,” tanya Liam yang masih tidak bisa menahan tawanya.


“Gatau tuh, tangkinya susah diinjek,” jawab Archie sambil cemberut.


“Yaudah yaudah, kamu bawa handuk tidak?” tanya Aro.


“Bawa, Kak, tapi ada di tas deket lapangan,” jawab Archie.


“Ann, tolong ambilkan ya,” perintah Aro.

__ADS_1


“Iya, Kak,” lalu Ann menuju ke lapangan mengambil tas milik Archie.


***


__ADS_2