
Suasana di dalam Vex Building menjadi lebih hening karena Archie gagal dengan keadaan yang cukup tragis. Tetapi semua orang masih mengapresiasi dan memberikan tepuk tangan untuknya.
Archie melihat jumlah poin hasil akhir yang ia raih di layar saat keluar dari ruang Evopass.
Hasilnya menunjukkan angka 178.093 poin dan berada di peringkat kesepuluh, alias peringkat terbawah. Semua orang terkejut saat melihatnya. Jumlah tersebut merupakan perolehan poin terendah untuk Archie selama beberapa bulan ini.
“Hasil sudah keluar pemirsa, sayang sekali Archie belum berhasil untuk menyelesaikan misi, dan saat ini berada di posisi peringkat kesepuluh,” ucap Revo.
“Sayang sekali Bung Revo, bisa dikatakan Archie hampir lolos dari kepungan Kelompok Herzix tadi,” jawab Daniel yang berakhir dengan perbincangan antar mereka berdua.
Archie menghela napasnya berat. Namun tetap berusaha tegar dengan hasil yang ia dapatkan. Ia enggan masuk ke dalam ruangan peserta The Waves, lalu melangkahkan kakinya ke luar gedung.
Di belakang gedung ada sebuah ruang terbuka hijau. Tempat yang sesuai untuk Archie menenangkan diri. Ia duduk di salah satu kursi besi pinggir taman, dan melamun disana.
“Kenapa gagal lagi ya?”
Kata-kata itu Archie ucapkan sambil melihat pemandangan di depannya. Air matanya menetes lagi, ia menggigit mulutnya. Dirinya mulai terisak, masih tidak percaya dengan yang ia alami tadi, dan masih mencerna semua yang dirasakannya.
“Bahkan aku belum pakai gadget baruku disana,” gumamnya sambil terisak.
__ADS_1
Tangisannya pecah lagi. Archie hanya ingin menangis saat itu. Sebagai perempuan berusia 18 tahun, dipercayakan oleh banyak orang untuk ikut kompetisi, namun belum sempat menunjukkan kemampuannya sebaik mungkin.
“Aku tahu aku terlambat memulai, tapi aku tidak jadi yang terbelakang lagi untuk kesekian kalinya,” ucapnya sambil mengepal kedua tangannya.
Menyesal. Hanya itu yang Archie rasakan.
“Kamu menyesal karena sudah ikut VEG, kah?”
Mendengar suara yang ia kenal itu, Archie langsung menoleh dengan cepat. Matanya terbelalak saat melihat pria itu sudah duduk di sebelahnya sambil tersenyum.
“Pak Kelvin? Bapak dari kapan di sini?” tanya Archie yang masih terkejut.
Kelvin melihat taman hijau di hadapannya itu. Ia menarik napasnya dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia tersenyum tipis saat melihat seekor kucing sedang bermanja di kakinya.
Archie yang melihat kucing itu langsung menggendongnya. Takut kalau hal itu membuat bos-nya itu tidak nyaman. “Tidak apa-apa kok, saya juga suka kucing,” mendengar katanya membuat Archie sedikit lega.
“Saya selalu berkomitmen untuk memperlakukan semua anggota The Waves dengan adil. Kalau orang tersebut punya potensi, saya akan memilihnya,” kata Kelvin.
“Sebenarnya, kamu mengingatkan saya dengan Aro. Dia juga bukan dari Group unggulan. Tetapi saya memilihnya, karena saya rasa dia punya potensi. Sama seperti saya memilih kamu,” Archie terperangah saat mendengarnya.
__ADS_1
“Dia punya potensi yang kuat, sama seperti kakaknya dulu. Saya tidak menyesal memilihnya, karena ternyata dia lebih kuat dari yang saya kira. Begitupun dengan kamu, saya tidak menyesal karena telah memilih kamu,” lanjut Kelvin.
“Tapi, saya kan gagal tadi. Lagi pula, record saya selama ini juga terkesan sangat buruk. Kenapa bapak memilih saya? Kalau Kak Aro kan, dia udah mengatakan dari awal kalau dia mampu, dan itu terbukti. Tapi kan saya ngga, Pak,” jawab Archie sambil menahan tangisannya.
Aku gamau ngomong sambil nangis, rasanya tercekat. Batin Archie.
“Kamu tadi bilang belum sempat pakai gadget baru, kan?” tanya Kelvin, Archie mengangguk.
“Berarti saya tidak salah pilih dong?” Lanjutnya.
“Maksudnya apa, Pak?” tanya Archie sambil mengerutkan dahi.
“Kamu bisa jadi peserta VEG, dan kamu juga bisa jadi apa yang kamu mau. Kamu ingat dengan pertemuan kita sewaktu kamu selesai latihan?”
Mendengar hal itu, ia baru menyadari sesuatu.
Melihat Kelvin yang tersenyum ke arahnya, ia tahu apa maksudnya. Ia mulai mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Ia mengeluarkan kartu tanda pengenal miliknya dari tas kecilnya dengan kode bar di belakangnya.
“Saya punya rencana untuk kamu. Mau mendengarkannya?” Archie mengangguk, lalu mereka mulai membicarakan sesuatu.
__ADS_1
***