
Hari kedua babak semifinal pun dimulai. Aro dan Ann menunggu di ruangan yang terpisah.
Sedangkan Liam, dia sudah meminta tolong kepada Alpha untuk duduk di kursi penonton.
Dan saat ini, laki-laki itu duduk dikursi barisan depan. Ia duduk disebelah Zack, Joyce, dan Delaney. Mereka bertiga merasa canggung lagi seperti kemarin. Sambil menunggu, Liam mengenakan headset untuk mendengarkan lagu.
“Sekarang rasanya beda banget ya, tiap kita mau nonton pertandingan. Mau teriak-teriak waktu nonton, tapi malu,” bisik Zack kepada mereka berdua.
“Iya bener, tapi seneng juga sih. Soalnya sebelahan sama senior yang levelnya ga kaleng-kaleng. Mana tahu, nanti kecipratan rejeki bisa kayak mereka,” balas Delaney.
“Iya, daripada banyak canggungnya, lebih banyak rasa senengnya sih. Soalnya sebelahan sama Kak Liam sama Kak Aro yang ganteng itu, hihi,” ujar Joyce.
Zack dan Delaney melototi Joyce yang tersipu di tengah mereka. Joyce hanya meringis.
“Inget, Kak Liam dah punya pacar, levelnya Kak Ann, mana mau dia sama kamu,” bisik Zack. Joyce menyipitkan matanya ke arah Zack.
Tanpa mereka sadari, sebenarnya Liam dengar semuanya. Volume suara mereka lebih besar daripada suara lagu yang ia dengarkan. Liam sedikit melirik mereka sambil tersenyum, dalam hati ia juga berharap, ketiga orang disebelahnya ini bisa mengikuti VEG suatu hari nanti.
“Selamat Datang pemirsa di babak semifinal Virtual Evo Game, hari kedua. Kembali lagi bersama kami, Revo dan Daniel,” ucap Revo.
“Benar sekali, kali ini kita akan menyaksikan pertandingan antara Aro dan Ann. Seperti yang kita ketahui, mereka berdua berasal dari tim yang sama, yaitu The Waves,” tambah Daniel.
“Betul sekali Bung Daniel, sepertinya kali ini kita akan melihat perang saudara. Tetapi, ada yang lebih seru kali ini. Keduanya tidak menggunakan operator.”
***
Saat ini, Aro dan Ann sudah berada di depan ruangan Evopass. Keduanya saling terdiam dan tidak mengatakan apa-apa. Aro berdiri disamping Ann.
Lelaki itu menggerakkan pergelangan kakinya agar tidak terlalu tegang. Saat baru bangun tidur, Aro langsung memasang pelindung kakinya agar meminimalisir terjadinya cedera, seperti saran dari kakaknya.
Ia sudah membuang keraguannya, karena baginya, pertandingan tetaplah pertandingan.
Begitu pula dengan pemikiran Ann saat ini. Melihat seniornya yang terlihat sudah siap menghadapinya, Ann mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. Melihat kartu itu, menambahkan keyakinan dalam dirinya.
“Kita mulai sekarang, Ann,” ujar Aro yang masih sambil menatap ruang Evopass. Dibalas anggukan oleh Ann.
Mereka masuk ke dalam ruangan, dan mulai memasuki mesin yang berbeda. Lalu secara perlahan, tubuh mereka menghilang dari mesin. Kini, keduanya muncul di dalam dunia Virtual Evo Game.
***
Perlahan, tubuh mereka muncul di zona semifinal. Aro berada di daerah selatan, sedangkan Ann berada di utara. Aro memiliki rencana untuk meretas terlebih dahulu beberapa pertahanan Ann.
Ia memerintahkan beberapa robot untuk menjaganya saat peretasan. Lalu Aro berlari ke salah satu sistem pertahanan milik Ann, saat pasukannya belum terlihat.
Sementara itu dari sisi Utara, Ann melihat Aro secara samar-samar dari jauh, dan langsung berlari dengan pasukannya ke arah sistemnya itu. Salah satu drone milik Aro menyadari adanya pergerakan lawan.
Beberapa drone langsung bergerak ke arah Ann dan bala bantuannya. Tiga buah drone menembak ke arah Ann dan sebuah robot melindunginya. Lalu robot tersebut mati.
Saat robotnya hilang, Ann langsung menembak ke arah tiga drone tersebut. Tembakannya mengenai salah satu drone. Setelah itu, Ann langsung berlari bersembuyi di sebuah batu besar dekat sistem pertahanannya yang sedang berusaha diretas oleh Aro.
Dari persembunyiannya dengan sebuah robot, ia melihat Aro yang sendirian, sedang fokus dengan kode-kode peretasan. Ann langsung mengeluarkan pistolnya, dan membidik Aro dari jauh. Sebuah tembakan mengarah pada Aro.
Insting Aro terlalu kuat, tangan kanannya langsung mengeluarkan pedangnya dari punggung dengan cepat untuk menangkis tembakan dari Ann. Sedangkan tangan kirinya masih bermain dengan layar jendela digital.
__ADS_1
“Kamu terlalu terburu-buru, Ann,” ucap Aro pelan, sambil berusaha menyelesaikan peretasannya.
Ann semakin panik saat melihat banyak robot dari kubu Aro yang berlari kearahnya. Beberapa tembakan mengenai tubuhnya. Saat ini ada dua pilihan untuknya, tetap menyerang, atau mundur kebelakang.
Lalu ia memilih untuk terus maju ke depan, dan menghadapi robot-robot itu. Perempuan itu langsung berlari sambil mengisi amunisi di dalam pistolnya dengan cepat.
Beberapa tembakan Ann lontarkan berkali-kali ke arah robot-robot itu. Aro yang sudah selesai meretas semua sistem pertahanan lawannya itu, langsung mengambil tindakan cepat bergabung dengan bala bantuannya.
Suara ledakan terjadi, Ann menoleh ke arah belakang. Bala bantuannya banyak yang sudah mati, sedangkan ia belum sama sekali meretas sistem pertahanan Aro. Perasaan Ann semakin berantakan, sambil memegang bahunya, ia terus berlari.
Tiba-tiba sebuah pedang melesat ke arahnya, Ann langsung menghindarinya dengan cepat dan bersembunyi di belakang batu yang tidak terlalu besar, tubuh kecilnya memudahkan ia untuk menyelinap.
“Kak Aro mulai nyerang, aku harus gimana? Dia nyerang dengan mudah, sementara aku ngos-ngosan,” tuturnya yang mulai terlihat panik. Ia mengatur napasnya berkali-kali.
Dari persembunyiannya, Ann melihat seniornya itu yang sedang mengambil pedangnya yang tertancap di tanah. Perempuan itu berusaha membungkam mulutnya agar Aro tidak menyadari kehadirannya.
“Cepat juga dia larinya,” ucap Aro, lalu ia berlari sendirian ke arah sistem Ann yang lainnya.
Tiba-tiba, Aro tertembak oleh robot yang menjaga sistem tersebut. Laki-laki itu langsung menghajar habis robot tersebut dengan pedangnya.
Ann punya pilihan lain saat ini, ia juga harus meretas sistem pertahanan Aro sambil mengisi kembali tenaganya. Ia melihat sistem pertahanan Aro, tidak ada siapapun yang menjaganya.
“Kesempatan,” ujar Ann sambil berlari cepat ke arah sistem.
Dengan keahliannya, ia meretas pertahanan Aro dengan tenang dan cepat, lalu berlari menghampiri sistem lainnya. Kemampuan Ann sangat berguna saat ini. Beberapa simpul kode sudah ia pakai, hingga akhirnya ia berhasil meretas beberapa sistem pertahanan Aro.
Hacked. Ann mengepal kedua tangannya seraya berkata “akhirnya.”
Sementara itu, Aro menghabisi banyak sekali robot dan drone milik Ann. Sebenarnya hal ini hanya bertujuan untuk melatih dirinya bergerak lebih leluasa saat menggunakan pelindung kaki.
Ann dengan cepat, kembali meretas pertahanan.
Satu masalah lagi, dia akan berhasil. Lalu, tanpa sadar tubuhnya terkena sebuah tembakan hingga dirinya terpental, sebelum sistem tersebut berhasil ia retas.
“Laser?” gumam Ann, ia menoleh ke arah sistem pertahanan. Terlihat Aro dengan wajah datar meluruskan tangan kirinya.
“Sorry, Ann,” gumam Aro pelan.
Ann langsung terbangun memperbaiki posisinya. Menyiapkan senjatanya dan menodongkan pistol ke arah Aro tanpa rasa takut. Ia menekan bagian pelatuk untuk melontarkan amunisi.
“Lah? Kok?” Ann menekan pelatuk berkali-kali tetapi tidak ada satupun amunisi yang keluar.
Aro hanya terdiam lalu menghela napasnya. Sebenarnya ia menunggu serangan dari Ann, untuk mengetahui perkembangannya dalam teknik menyerang. Ann langsung mengganti senjata dengan pistol lainnya.
“Ayo, lanjutkan,” ujar Aro dengan posisi bersiap.
Sebuah tembakan laser mengenai tangan perempuan itu. Pistol Ann terlepas dari pegangannya. Ann mulai panik, hanya tersisa 20 poin nyawa untuk dirinya. Dua kali serangan lagi, dirinya akan tamat.
Ann berlari kebelakang ke arah pistolnya yang terpental, seraya mengawasi Aro yang ekspresinya tidak terbaca. Setelah mengambil senjatanya itu, Ann langsung menembak ke arah Aro.
Tembakan itu berhasil dihindari oleh Aro. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, seakan tidak puas. Ia berlari ke arah Ann, sedangkan perempuan itu kembali melontarkan tembakan tanpa ada perlindungan diri.
“Kamu di semifinal sekarang. Segini level kamu, Ann?” ujar Aro dengan nada sedikit berteriak. Ia sengaja memprovokasi untuk memancing emosi Ann, agar lebih agresif dalam menyerang.
__ADS_1
Ann sudah terlihat kelelahan, tetapi degup jantungnya masih berpacu dengan kencang, dan mentalnya sudah semakin kuat. Ia melihat lawannya itu melempar pedang dan sarung tangannya ke arah belakang. Perempuan itu menebak-nebak apa yang ingin dilakukan oleh Aro.
“Serang saya sekarang!"
Mata Ann membulat, ia paham apa maksudnya. Aro ingin menghadapinya dengan tangan kosong. Baginya, ini cukup tidak adil. Ia juga melakukan hal yang sama.
Aro hanya mengangkat sedikit sebelah ujung bibirnya. Akhirnya ia merasa pertandingan kali ini menjadi cukup menarik. Ia tahu, kalau Ann bukan orang yang mudah menyerah.
***
Beberapa bala bantuan yang tersisa, berada di belakang tubuh mereka masing-masing. Terlihat seperti menunggu komando dari ketua mereka. Keadaan kali ini, benar-benar terlihat seperti perang saudara.
Ann menghembuskan napasnya, ia mengendikkan kepalanya memberi isyarat kepada semua bala bantuannya untuk menyerang Aro. Robot dan drone milik Ann mulai bergerak dan berlarian ke arah Aro.
Aro menaiki bahu salah satu robotnya, sama seperti yang pernah Liam lakukan. “Serang sekarang!”
Pecahlah pertandingan kali ini. Aro melompat ke arah sebuah drone lalu menendangnya dengan keras. Lalu drone itu terhuyung dan menabrak beberapa drone lainnya hingga menyebabkan ledakan.
Ann menyerang sebuah robot, lalu berayun di lengan robot itu sampai menjatuhkan tubuh besi itu. Perempuan itu terlihat menggunakan lengan robot, dan melancarkan beberapa tembakan menggunakan bagian tubuh robot tersebut ke arah drone milik Aro yang berterbangan.
Hingga akhirnya, perempuan dengan nama asli Veline Alanne itu mematahkan lengan robot tersebut. Dan robot tersebut pun mati. Ia berlari membawa lengan robot itu dan berteriak seperti kesetanan sambil melancarkan beberapa tembakan yang tak tentu arah.
“Boleh juga,” ujar Aro, lalu memandang langit dan melihat drone kubunya bergerak.
Sebuah drone berhasil menghindari tembakan brutal dari Ann, drone tersebut menembak ke arah Ann dan mengenainya. Sisa 10 poin nyawa, dan Ann memegangi bahunya yang terkena tembakan itu. Ann mengumpat, ia langsung menembak drone tersebut dengan lengan robot yang dibawanya.
Sementara itu, Aro melompat ke arah sebuah robot milik Ann sambil menyikut lehernya. Dan lelaki itu berhasil membelah leher robot tersebut dari bagian tubuhnya. Setelah itu, Aro terjatuh sambil mengatur napasnya.
“DOR!” sebuah tembakan mengenai perut Aro. Laki-laki itu menoleh, Ann yang menyerangnya. Tersisa 40 poin nyawa untuknya.
“Saya pernah bilang kalau saya tidak akan kalah, kan?” kata Ann sambil tersenyum sinis.
“Kamu juga pernah bilang, jangan pedulikan kalau kamu perempuan,” jawab Aro yang masih memegangi perutnya. “Dan saya juga tidak akan mengalah dengan siapapun saat pertandingan,” lanjut Aro sambil berdiri, bersiap dengan posisinya.
Ann mulai menyerang Aro dengan lontaran tembakan dari lengan robot itu. Ia berteriak berkali-kali saat mengetahui semua tembakannya tidak ada yang mengenai lawan. Ann melihat sekeliling, tidak ada Aro dihadapannya. Dan perempuan itu tidak sadar, bahwa Aro ada dibelakangnya sedang memperbaiki posisi headsetnya dengan tenang. Lalu menyerang Ann dengan tendangan sabetan.
Ann terhuyung lalu terjatuh dengan posisi duduk, dan tidak ada poin nyawa yang tersisa untuknya. Lalu perlahan, tubuhnya menghilang. Aro menghembuskan napas lalu meraba kakinya.
Ia memenangkan babak semifinal.
***
Sebuah mesin di ruangan Evopass sudah sangat berasap. Terlihat seorang perempuan yang terduduk di dalam mesin itu. Samar-samar ia melihat seorang lelaki yang membantunya berdiri.
“Ann, kamu gapapa?” ucap laki-laki itu. Suaranya sangat Ann kenali. Ia langsung memeluk orang itu. “Liam, aku…” jawab Ann dengan napas tersengal.
“It's okay, Ann, kita udah sama-sama sampai semifinal. Kita coba lagi nanti, ya?” tuturnya sambil menepuk-nepuk bahu Ann, berusaha menenangkan perempuan itu.
Mesin lainnya juga mulai berasap, lalu pintu mesin itu terbuka. Terlihat Aro yang terduduk sambil meraba kakinya. Liam dan Ann yang sudah saling melepas pelukan, melihat Aro dengan tersenyum.
Aro hanya sedikit mengangguk untuk membalasnya. Ia berdiri lalu keluar dari mesin, dan berjalan ke arah mereka.
“Sorry, Ann,” ucapnya.
__ADS_1
Ann menggeleng. “Kan pertandingan, Kak,” mendengar jawaban itu membuat Aro merasa lega. Ia tersenyum ke arah mereka berdua.
***