Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Demo Stage


__ADS_3

Aro dan Archie mulai berbagi strategi dan rencana. Tentu saja, mereka juga sudah mulai berlatih. Archie mulai memperkenalkan beberapa gadget buatannya kepada Aro. Laki-laki itu terlihat menyukainya.


“Seandainya waktu pertandingan kamu pakai. Ini semua keren sekali, saya masih belum menyangka. Baru sekelas calon operator saja gadgetnya sudah selevel ini, apalagi kalau sudah jadi operator,” ujar Aro, ia memuji Archie dengan tulus.


Archie tersipu malu, bagaimana pun ia masih mengagumi rekannya itu. Senior, rekan, dan juga rivalnya. Dan sekarang mereka menjadi partner untuk setiap pertandingan kedepannya.


Waktu latihan mereka hanya sekitar dua pekan. Beberapa orang calon operator lainnya juga sudah memiliki partner pemain VEG, dan sisanya memilih bersama kecerdasan buatan lainnya.


Semua proses latihan Aro dan Archie berjalan dengan lancar. Mereka sudah saling memahami, baik dari gaya permainan Aro, ataupun arahan dari Archie.


Terbesit keinginan Archie untuk memberikan program dadakannya waktu itu. Namun ia mengurungkan niatnya. Karena saat diuji coba, ternyata masih ada beberapa komponen yang kurang.


***


Beberapa hari kemudian, hari tes Demo Stage pun tiba. Tes kali ini seperti biasanya, akan disaksikan oleh pemain dan calon operator lainnya. Para pemain VEG yang diizinkan untuk membantu adalah, mereka yang belum memiliki operator.


Aro masih menjadi pusat perhatian. Tetapi ia mengabaikannya, karena niat awalnya adalah untuk latihan dan membantu Archie mendapatkan lisensi operator secepatnya, agar status Archie bisa menjadi operator resmi. Bukan untuk menjadi pusat perhatian.


Giliran mereka untuk tes Demo Stage pun tiba. Sama seperti pertandingan di babak individual Top 15 dan tes simulasi di The Waves, mereka akan bertanding di dunia simulasi Virtual Evo Game.


Archie sudah berada di posisinya, di dalam ruangan operator. Mengaktifkan komputer lalu mengenakan headsetnya yang sudah dilengkapi dengan mikrofon. Terlihat seperti seorang gamer.


Ia meletakkan kartu tanda pengenalnya di atas mesin scanner, untuk memindai data-data dalam kode bar dari kartunya itu.


Lalu, semua data-data yang diperlukan pun muncul di layar komputernya. Aro masih berdiri di depan ruangan Evopass. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Kakinya sudah terasa lebih baik, namun Aro harus tetap berhati-hati.


***


Virtual Evo Game, Demo Stage


Tubuh Aro muncul di dalam dunia Virtual Evo Game, lalu ia terheran dan berkata, “Hah?” begitu pula dengan Archie yang melihatnya di layar komputer. Ia merasa tidak asing dengan tempat yang dipijak oleh Aro itu.


“Archie, apa kamu punya pemikiran yang sama?” tanya Aro.


“Iya, Kak, aku merasa tidak asing sama tempat itu,” jawab Archie.


“Itu bukannya, Pulau Sierra?” tanya Archie.


Aro mulai melihat-lihat sekitarnya dari tempat ia berdiri. Benar-benar mirip seperti Pulau Sierra. Hanya saja, tempat ini adalah bentuk virtualnya.


Pulau itu terlihat kosong, dan tetap canggih seperti aslinya. Layar hologram mulai muncul dihadapan Aro, yang berisikan misi yang perlu ia selesaikan, seperti biasanya. Begitu pula dengan Archie, misi tersebut terlihat di layar komputernya.


“Terdapat pintu raksasa di ujung pulau. Temukan kuncinya di pelabuhan, lalu bukalah pintu itu. Waktu terbatas, hanya dua jam,” ucap Aro saat membacanya.


“Hah? Apa? Hanya dua jam?” tanya Archie penuh kekhawatiran.


Ia mengetahui beberapa jam sebelum tes berlangsung, kalau Aro baru saja sembuh dari cederanya. Tetapi, Aro bersikukuh memilih untuk mengikuti tes kali ini. Keputusannya mutlak, tidak bisa ditolak.


Archie berpikir sejenak, tetapi Aro sudah mulai bergerak. Karena perhitungan mundur sudah dimulai.


“Archie, tolong cari tahu titik lokasi pelabuhan itu. Seberapa jauh dari tempat saya sekarang,” pinta Aro sambil berlari.


Dengan cepat, Archie mencari titik lokasi yang Aro maksud. Jarak, posisi, dan prakiraan waktu muncul di layar komputernya. Hal itu membuatnya semakin mengkhawatirkan Aro.


“Kak, dari posisi perlu berjalan ke arah Utara aja. Tapi, jauh banget kak. Sekitar 30 kilometer.”


“Kalau cuma sambil lari, selama satu jam, saya perlu ribuan langkah per menitnya. Itu tidak mungkin. Apa kamu punya opsi lain?” tanya Aro yang masih terus berlari.


Archie berpikir keras, ia berusaha mencari cara yang lebih cepat untuk Aro tempuh. Ia mengotak-ngatik keyboardnya. Ingin rasanya ia menggunakan programnya itu, hanya saja takut terlalu beresiko.


Terbesit pemikiran di kepalanya. Di dunia virtual yang kosong itu, pastinya tidak ada orang. Ia mencari sebuah tempat dari layar komputernya. Ketemu, Archie langsung mengabari Aro.


“Kak Aro, coba ke daerah tikungan kanan dulu dari posisi sekarang. Disitu ada rental mobil.”


“Hah? Untuk apa ke rental mobil?”

__ADS_1


“Kalau naik mobil, pasti lebih cepat kan? Lagian di pulau itu kan kosong, tidak ada orang. Pakai saja mobil di sana,” ujarnya.


Aro tertawa karena hal tersebut tidak terpikirkan olehnya. Ia terus berlari ke arah yang diberitahu oleh Archie, dan benar saja, ada sebuah rental mobil disana.


Hanya saja, dugaan Archie sedikit meleset. Ada yang menjaga rental mobil tersebut. Tentu saja bukan manusia, tetapi beberapa robot besar yang memegang senapan di tangan mereka. Robot yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Aro tengah bersembunyi di belakang bangunan. Archie menjadi sedikit khawatir, ia menjadi meragukan dirinya sendiri. Apakah opsi yang diberikannya itu sudah cukup tepat? Ia malah merasa membahayakan Aro.


“Untuk ini, serahkan saja pada saya,” ujar Aro dengan suara nada rendahnya. Mendadak, Archie merasa bulu kuduknya berdiri. Suara Aro tersebut terasa mematikan baginya.


Aro langsung mengeluarkan pedangnya, dan langsung berlari untuk menyerang beberapa robot disana. Archie juga sudah bersiap, menyiapkan beberapa gadget yang ia butuhkan untuk membantu Aro.


Tetapi, Archie merasa sangat payah. Ia malah terpesona dengan Aro sewaktu melihatnya menghabisi robot-robot itu dengan mudah. Suara sembilah pedang sangat terdengar nyaring ditelinganya.


Sepertinya ini orang nemang tak butuh operator, ya? Jagonya keterlaluan. Batin Archie.


Tetapi, mata Archie menangkap sesuatu. Sensor komputernya merasakan adanya sebuah amunisi yang akan menghampiri Aro. Tembakan itu berasal dari amunisi salah satu robot yang terhempas.


Sontak, Archie mengetik di keyboard dengan cepat untuk mengeluarkan salah satu gadgetnya, dan menekan tombol enter.


Bunyi ledakan besar terdengar dengan jelas. Archie menutup wajahnya dengan tangan. Berharap ia tidak terlambat dalam bertindak. Ia tidak mendengar suara apapun setelah itu.


Perlahan, ia berusaha membuka mulutnya, dengan wajah yang masih tertutup dan tangan yang gemetar. “Kak Aro?”


“Nice timing, Archie,” jawab Aro. Sontak, Archie langsung membuka wajahnya. Sebuah bola berwarna biru melindungi Aro dari tembakan amunisi tersebut. Perempuan itu menghembuskan napasnya dengan lega.


Aro sudah menumbangkan banyak robot di rental mobil tersebut. Ia langsung menaiki salah satu mobil, dan tidak memerlukan kunci karena mobil tersebut hanya memerlukan kode untuk digunakan.


Archie sudah meretas kode tersebut, agar Aro bisa mendapatkan akses mengendarai kendaraan canggih itu.


“Berapa waktu lagi yang tersisa?” tanya Aro saat sudah duduk di dalam mobil.


“Sekitar satu setengah jam, kak,” jawab Archie dan Aro mengangguk. Seharusnya, sisa waktu tersebut masih cukup untuk mereka. Aro langsung menancap gas dan pergi dari rental mobil itu.


***


Dari samping, Aro melihat ada kapal, tandanya dirinya akan segera sampai di pelabuhan. Waktu terus berjalan, dan akhirnya Aro tiba di pelabuhan. Ia memarkirkan kendaraannya sembarangan.


Memang tidak ada orang di pelabuhan itu, tetapi Aro memilih untuk berlari. Karena menurutnya itu lebih efektif dibandingkan harus membawa mesin gerak itu. Sedangkan Archie terlihat mencari sesuatu.


“Archie, kemana saya harus pergi?”


“Ke kapal, Kak, di komputer kelihatan warnanya putih. Disini informasinya kunci bisa ditemukan di dalam kapal,” jawab Archie.


“Bagaimana dengan ujung pulaunya?”


“Ujung pulau bisa dicapai pakai kapal itu.”


“Jadi, saya harus cari kunci dan mengendarai kapalnya?” tanya Aro sambil berlari, saat melihat kapal putih di dekat dermaga.


Archie terdiam, tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Dirinya kembali mencari jawaban dengan cepat dan cermat. Lalu ia berkata, “Kak Aro cari kunci saja. Untuk penggerak kapalnya, gausah khawatir.”


Aro berlari dengan cepat ke arah dermaga, lalu memasuki kapal, tiba-tiba saja pintu kapal tersebut tertutup. Ia berlari dan berusaha mencari kuncinya.


“Saya sudah di dalam. Kuncinya seperti apa dan ada di mana?”


“Ada dibagian anjungan kak, tapi disini tidak ada info bentuk kuncinya bagaimana,” jawab Archie.


Waktu yang tersisa hanya sekitar 45 menit. Aro harus cepat bergerak ke bagian anjungan kapal untuk mencari kunci. Tiba-tiba saja kapal tersebut bergerak. Langkah Aro hampir saja terguncang.


“Kak Aro? Are you okay?”


“Yea, I’m okay. Kamu yang menggerakkan kapal ini?”


“Iya, Kak. Di kapalnya ada akses pengendalian dari komputer operator. Hati-hati, banyak drone dibagian anjungan,” kata Archie.

__ADS_1


Aro tidak menjawab, ia langsung berlari ke arah anjungan setelah kapal bergerak dengan stabil. Benar kata Archie, banyak drone yang menjaga di anjungan. Aro melihat, mereka menjaga sebuah kotak yang terlihat seperti kotak harta karun.


Ia berusaha menarik perhatian pesawat-pesawat kecil tersebut dari persembunyiannya. Lelaki itu membidik salah satu drone dengan tembakan lasernya. Lontaran tembakan dikeluarkan, mengenai drone tersebut.


Sontak saja, drone-drone lain menyadari hal itu dan mencari sumber tembakan tersebut. Aro memang memancing perhatian mereka agar segera menemukannya. Benar saja, strateginya berhasil. Kumpulan drone itu mengelilinginya.


Namun, Aro masih sempat juga merenggangkan tangannya sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, lalu membenarkan posisi headphonenya. Archie hanya bisa menggeleng, terkadang ia sendiri juga bingung dengan gestur seniornya itu.


Aro mengeluarkan sembilah pedangnya, bersiap untuk menyerang. Ia langsung melompat ke arah sebuah drone, lalu langsung membelah drone tersebut menjadi dua bagian. Tubuhnya masih berada di udara dan kaki sebelah kirinya diangkat ke atas.


Ia menjatuhkan kaki kirinya dengan keras pada bagian atas sebuah drone, sehingga membuat mesin itu terhuyung. Aro kini terjatuh dengan keadaan split, lalu berdiri dengan cepat.


Pedang laki-laki itu kini berada di depannya, ia memegang benda tersebut dengan kedua tangannya. Aro memejamkan mata, seolah sedang mengumpulkan energi. Beberapa drone yang tersisa kembali menuju ke arahnya.


Tembakan-tembakan pun dikeluarkan oleh para drone. Semua tembakan itu berhasil Aro hindari dengan menepisnya menggunakan pedang. Ia memutar-mutarkan senjata tajam itu untuk melindungi dirinya.


Ia melompat ke bagian atas sebuah drone, lalu berguling depan di udara dan menancapkan pedangnya, Aro terjatuh dengan keadaan kaki kirinya tertekuk untuk menopang tubuhnya, dan kaki kanan yang terlipat.


Drone tersebut meledak, dan ledakannya mengenai drone-drone lainnya. Pedangnya melayang diudara, lalu dengan cepat ia meraihnya. Aro berhasil mengalahkan mereka semua dengan posisi akhir yang terlihat sempurna.


“Wow,” gumam Archie. Ia sudah sering melihat Aro seperti itu. Namun, tetap saja ia merasa takjub.


***


Waktu tersisa 33 menit. Setelah menghajar semua drone itu, Aro langsung menghampiri kotak yang dilindungi mesin terbang tadi. Sewaktu melihat kotak tersebut dari dekat, ternyata tidak becahaya. Sinar tersebut hanya berasal dari pantulan cahaya.


Tetapi kotak tersebut terkunci.


“Apa kita harus dapatkan kunci pintu dari membuka kunci kotak ini?” tanya Aro sambil mengernyitkan dahinya.


Namun ternyata, komputer Archie memang mendapati ada sebuah kunci dari kotak tersebut. Ia langsung mengabari Aro tentang itu. Lalu keduanya berpikir cara membuka kotak tersebut.


Tiba-tiba, layar jendela digital kembali muncul. Aro berkata, “Pantas saja disembunyikan,” lalu ia kembali lagi melakukan pengkodean. Tetapi kali ini dibantu oleh Archie, hanya saja kode kali ini terasa lebih sulit dari biasanya.


“Kak, sebentar lagi kapalnya sampai di ujung pulau. Waktu tinggal 25 menit tapi kita belum selesai,” ujar Archie yang terdengar panik.


“Tenang Archie, sebentar lagi selesai. Saya butuh tiga simpul dari kamu. Apa kamu punya simpul modifikasi?” tanya Aro.


“Ada, Kak. Sebentar, langsung saya kirim,” lalu Archie mengirimkan simpul hasil modifikasinya ke layar jendela digital milik Aro.


Hacked. Keduanya dapat bernapas dengan lega. Aro langsung membuka kotak tersebut, dan benar saja, ada sebuah kunci di sana. Setelah mengambil kunci tersebut, Aro langsung menuju ke haluan kapal.


Kapal tersebut berhenti di sebuah dermaga. Aro langsung melompat dari sana, dan yang ia lihat memang ujung dari sebuah pulau, lebih tepatnya ujung dari Pulau Sierra. Laki-laki itu langsung bergegas keluar dari dermaga untuk menuju ke pintu yang dimaksud.


Archie memberitahukan kordinat dari pintu besar tersebut. Ternyata Aro harus memanjat tebing terlebih dahulu, ia belum nampak kelelahan. Laki-laki itu langsung memanjat tebing tersebut tanpa alat pengaman sama sekali.


Walaupun tanpa alat pengaman, Archie sudah meng-upgrade sarung tangan Aro agar cengkramannya menjadi lebih kuat. Pelindung kaki yang sudah Aro pakai juga cukup melindunginya. Dan waktu hanya tersisa hanya lima menit saja.


Aro memanjat dengan cepat. Lalu tibalah ia di ujung tebing tersebut. Keringatnya bercucuran deras, tetapi wajahnya tidak nampak kelelahan sama sekali. Yang berada dihadapannya kini adalah sebuah pintu besar.


Ia menyeka keringatnya, lalu menghampiri pintu tersebut dengan cepat. Waktu mulai berkurang dengan cepat. Ternyata ada layar jendela digital lagi, dan Aro diminta untuk meletakkan kunci tersebut di layar itu.


Sebuah kode pemograman harus ia retas lagi. Aro dan Archie langsung berkolaborasi dengan cepat dan tepat. Waktu hanya tersisa satu menit lagi. Degup jantung mereka berdua semakin berpacu cepat.


3… 2… 1… Hacked.


Aro meletakkan telapak tangannya dengan tepat waktu. Mereka berdua berhasil menyelesaikan misi di demo stage. Lalu pintu besar itu terbuka, dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang.


“Ada apa di dalamnya?” tanya Aro kepada Archie.


“Entahlah, Kak. Tidak ada petunjuk apapun disini.”


“Tapi kok, kayak portal ya?”


Archie jadi ikut berpikir, belum sempat ia menanggapinya, Aro sudah masuk ke dalam pintu itu. Lalu saat Aro sudah masuk, pintu tersebut menghilang. Archie menjadi panik, ia memanggil Aro berkali-kali karena khawatir.

__ADS_1


“Saya tidak apa-apa, Archie. Ternyata pintu itu memang portal buat kembali ke dunia nyata,” jawab Aro yang ternyata, sudah muncul di salah satu mesin ruang Evopass. Archie menghembuskan napasnya lega.


***


__ADS_2